Foto: Dok. Freepik
Salah satu tren baru muncul di tengah PSBB yang masih belum berakhir ini, adalah aksen tie dye! Berawal dengan bosannya para pekerja kreatif di rumah dan adanya kebutuhan untuk waist-up dressing kini banyak sekali atribut mode hasil teknik pewarnaan tie dye berseliweran di media sosial.
Kenalan dengan tie dye
Tie dye adalah sebuah teknik mewarnai dan membuat motif pada kain yang paling kuno. Teknik tie dye telah dipakai sejak ribuan tahun lalu sampai dengan sekarang. Tie dye bersifat universal, namun di setiap wilayah memiliki nama-nama berbeda. Di Indonesia misalnya ada pelangi Cindo atau jumput pelangi di Palembang, kain jumput tritik di Jawa, Sasirangan di Kalimantan dan sebagainya.
Sesungguhnya, yang membedakan tie dye di berbagai daerah ini adalah motif dengan makna filosofi yang terkandung di dalamnya. Misalnya, Palembang memiliki beberapa motif, seperti motif tombak yang melambangkan kekuatan prajurit kerajaan Sriwijaya, motif titik tujuh melambangkan 7 raja besar pada kerajaan Sriwijaya, motif cucung (terong) melambangkan kemakmuran dalam pertanian, dan masih banyak lagi.
Jenis-jenis pewarnaan tie dye
Sebagai teknik pewarnaan, tie dye memiliki beberapa cara pewarnaan yang berbeda-beda tergantung hasil yang diinginkan.
Shibori
Teknik kuno dari jepang ini dibuat dengan membuat lipatan dan simpul dengan benang sehingga dapat menghasilkan motif sama yang berulang.
Ombré
Ombré yang juga berarti bayangan atau gradasi halus, dapat dibuat dengan mencelupkan sebagian material ke dalam cairan pewarna lalu didiamkan sehingga perlahan warna naik akan ke kain dengan asas kapilaritas dan menimbulkan efek gradasi cantik.
Spiral
Paling umum, di lakukan dengan teknik plintiran pada kain sehingga menimbulkan corak spiral.
Stripe
Dilakukan dengan melipat kain lalu menambahkan ikatan pada kain untuk menahan pewarna dan menciptakan garis-garis putih pada media yang diinginkan.
Jumputan sendiri menggunakan keempat teknik diatas, dengan mencubit dan mengikat area yang ingin ditutupi agar tidak terkena pewarna.
Lihat laman selanjutnya untuk membaca lebih lanjut.
Foto: Dok. Freepik
Bahan-bahan melakukan pewarnaan tie dye sendiri di rumah
Setelah mengenal tie dye dan berbagai tekniknya, kenapa Anda tidak mencobanya sendiri di sela kegiatan di rumah?
Femina menanyakan kepada Bian Brillianto, seorang perancang mode dan perajin kain jumputan Palembang, untuk cara mudah melakukan teknik jumput sendiri di rumah. Mau coba? Ini dia tipnya!
Bahan yang dibutuhkan :
1. Pewarna kain kimiawi.
2. Kain serat alami (katun, sutra, atau linen).
3. Media pengikat (karet gelang atau tali raffia).
4. Kelereng
5. Ember yang cukup besar untuk mencelup dan membilas kain.
6. Air mengalir untuk membilas kain setelah pewarnaan.
7. Sarung tangan agar pewarna tidak merusak dan meninggalkan residu
warna di kulit.
Untuk proses tie dye, kain dari serat alam seperti sutra, katun, dan linen paling tepat digunakan. Hal ini karena kain dengan serat alam memiliki daya serap yang baik dibandingkan dengan material dengan campuran polyester.
Media pengikat pun tidak memiliki aturan baku. Karet gelang ataupun tali (atau keduanya) bisa digunakan, tergantung hasil akhir yang diinginkan. Kelereng pun digunakan untuk membuat hasil pewarnaan bentuk bulat agar lebih rapih dan terbentuk cantik.
Saat pembilasan, ada baiknya Anda membaca petunjuk penggunaan pewarna yang Anda beli. Ada beberapa produk yang membutuhkan air panas, dan ada pula yang membutuhkan air dingin untuk dapat mengeluarkan warna secara sempurna, begitu pula saat pembilasan.
Lihat laman selanjutnya untuk membaca lebih lanjut.
Foto: Dok. Freepik
Langkah pembuatan tie dye di rumah
Setelah mengenal bahan-bahan dan tekniknya, simak langkah-langkah dari Femina ini untuk memberi nafas baru pada koleksi kaos ataupun kemeja berbahan katun, linen, ataupun sutra.
- Letakan kaos, kain, atau kemeja di atas bidang datar yang rata seperti meja besar.
- Ambil (jumput) dan tarik bagian dari baju yang diinginkan untuk dibuat motif tie dye.
- Putar hingga membentuk spiral
- Ikat kaos yg sudah di bentuk spiral dengan tali atau karet saling agar terikat kuat dan pewarna masuk di bagian yang diinginkan dan sebaiknya.
- Basahkan kain yang telah diikat, lalu peras hingga kondisi lembab sebelum dicelup.
- Tuangkan cairan pewarna pada bagian yang diinginkan, Anda dapat menggunakan teknik Ombré, teknik semprot, ataupun mencelupkan seluruh ikatan untuk mendapatkan satu warna sama yang merata.
- Angkat dari cairan pewarna dan diamkan kain selama 6-8 jam, jauhkan dari sinar matahari langsung dan biarkan tetap lembap.
- Setelah warna meresap selama 8 jam, bilas dengan air mengalir hingga air bilasan benar-benar jernih.
- Jemur di tempat teduh masih dalam kondisi terikat.
- Setelah kain kering, Anda dapat membuka ikatan yang ada dan kembali menjemurnya agar pewarna yang masih tersisa tidak kembali menyebar.
- Bilas sekali lagi dan jemur hingga kering.
Menjemur di bawah matahari langsung ataupun tempat teduh dapat menghasilkan hasil akhir warna yang berbeda. Biasanya, saat menjemur di bawah sinar matahari langsung, warna yang dihasilkan tampak lebih terang, sementara bila dijemur di tempat yang teduh akan lebih lembut.
Brilianto selaku perajin yang memproduksi banyak kain jumputan Palembang mengatakan bahwa tidak ada standar baku hasil akhir akan seperti apa. Anda baru bisa melihat hasil akhirnya saat nanti kain sudah kering dan ikatan dibuka.
Lihat laman selanjutnya untuk membaca lebih lanjut.
Foto: Dok. Brilianto
Menggunakan pewarna alami
Sebenarnya, Anda juga dapat menggunakan pewarna alam, namun proses yang dilakukan memang lebih panjang dan rumit. Bila pewarna kimia dapat langsung Anda beli di marketplace dengan berbagai pilihan warna, pewarna alam harus melalui proses ekstraksi yang memakan waktu.
Banyak bahan alami yang dapat Anda gunakan seperti kayu secang, kulit alpukat, kayu tinggi, daun ketapang, ataupun tanaman indigo, yang harus direbus dalam jangka waktu lama agar warna alami dapat tertarik keluar. Warna yang dihasilkan pun cenderung bernuansa lembut.
Beda paling utama antara pewarnaan alami dengan kimiawi adalah adanya proses fixation pada proses pewarnaan alami. Proses fixation bertujuan untuk mengunci pewarna di dalam serat kain agar warna tidak mudah luntur. Caranya mudah, cukup campurkan 10 liter air di dalam ember dengan kapur atau tawas sebanyak 1 kilogram, aduk hingga rata, dan celupkan kain Anda untuk hasil yang maksimal.
Untuk menjaga warna tie dye, pencucian baju tie dye pewarna alami juga berbeda, Agar kualitas warna tetap terjaga ada baiknya Anda menggunakan pelembut cucian saja saat mencuci material tie dye dengan pewarnaan alamiah. Jangan gunakan deterjen. Sebaliknya bila menggunakan pewarna kimia, seharusnya cukup aman untuk dicuci menggunakan deterjen.
Bagi Brilianto, tidak ada aturan baku untuk membuat tie dye. Lakukan eksperimen sebanyak mungkin dengan kain dan aneka pewarna untuk hasil yang dinginkan. Setiap hasil tie dye Anda merupakan hasil istimewa yang tidak akan dapat berulang dan sama persis.
“Jangan patah semangat jika gagal! Coba lagi, lagi, lagi, dan lagi!” pesan Brilianto. Siap mencoba bikin tie dye sendiri di rumah? Stay safe, stay healthy! (f)
Baca Juga
Soda Kue, Rahasia Mencuci Kain Batik
Bersihkan Perhiasan Sendiri Di Rumah Ala Ririn Ekawati