Tren selalu berputar dan tak pernah gagal menginspirasi setiap penikmat mode. Meski demikian, tantangan terbesar seorang desainer tetap sama: menentukan ide dan mewujudkan ide yang otentik ke dalam sebuah busana siap pakai.

Seluruh calon peserta LPM 2017 yang hadir dari Universitas Maranatha, Telkom, dan STDI Bandung tampak antusias menyimak beberapa tip dari Deden Siswanto, Irna Mutiara, Malik Mustaram, Neeta R. Aildasani selaku Founder of Mosso, Rima Insania dan Attina selaku pemilik brand Pinx, dan Septrina Rams Chhetri, Creative Director of Vlinder agar desainer muda Indonesia dapat terus bersaing, mengolah ide kreatif, dan terhindar dari plagiarisme.
 
Berikut adalah beberapa hal yang perlu diperhatikan bagi para desainer muda:

1. Pastikan Niat

Menjadi seorang desainer tidaklah seglamor yang Anda kira. “Tanyakan dalam diri sendiri, apakah menjadi seorang desainer benar-benar berasal dari hati, sekedar ikut-ikutan, atau sebagai peluang bisnis yang menjanjikan?” tegas Deden Siswanto.
 
Jika menjadi desainer berasal dari panggilan jiwa, Anda akan berjuang sekuat tenaga. Sangat berbeda jika alasan untuk menjadi seorang desainer berasal dari pihak luar, karena pada dasarnya keinginan tersebut bukan dari keinginan Anda “Anda harus dapat menemukan motivasi yang kuat untuk berjuang dan ‘menjejakkan kaki’ di tanah, karena menjadi seorang desainer tidaklah mudah. Temukan motivasi Anda atau tinggalkan profesi ini, ” ujar Deden
 
Untuk menjadi seorang desainer yang sukses, berlombalah menjadi yang terbaik. Teguhkan niat dengan menimba ilmu dan jangan buang waktu.
 
2. Perkuat Ilmu

Seorang desainer sebaiknya mimiliki kemampuan mekanis, menggunting dan menjahit. Jangan hanya mengandalkan kemampuan otodidak. Anda harus mempelajari teori dan teknik desain yang hanya dapat diperoleh di sekolah khusus fashion.

Kemampuan ini tidak diperoleh karena bakat namun memerlukan banyak latihan. Jika belum memiliki dana dalam jumlah besar, cobalah mengikuti kursus jahit untuk mempelajari pola dasar, teori warna, hingga sifat dasar bahan. Agar lebih memaksimalkan pengetahuan teknis, tak ada salahnya Anda magang di salah satu perusahaan atau desainer senior. “Meski demikian, jangan berkecil hati jika Anda diminta melakukan pekerjaan kecil atau kasar. Cobalah melihat dari sisi baiknya yaitu relasi dan jejaring baru,” ujar Irna Mutiara.
 
3. Terus Belajar

Selain memperdalam pola dasar desain, tak ada salahnya Anda pun mempelajari berbagai desain yang sudah dibuat oleh para desainer ternama. Meski demikian, jangan hanya sekedar mempelajari konsep busana. Anda perlu ‘membedahnya’ lebih dalam. Pelajari latar belakang budaya, latar belakang pendidikan, teknik mengolah kain, hingga inspirasi mereka. Dengan demikian, Anda pun dapat termotivasi untuk menemukan inspirasi.
 
 

 
4. Bidang Fashion pun Beragam. Tentukan Minat Anda!

 “Ada empat bidang dalam dunia fashion yaitu, haute couture, ready-to-wear, leisure gear, dan mass market yang diturunkan dalam busana wanita, busana pria, anak-anak, aksesori, pakaian olahraga, dan sebagainya,” ungkap Rima Insania selaku pemilik Pinx The Label. Berusahalah untuk fokus pada satu bidang karena setiap sub bidang memiliki tingkat kesulitan yang beragam. Boleh saja memilih 2 hingga 3 sub bidang, namun pastikan Anda tetap memahami core desain fashion Anda.
 
5. Kenali Pesaing Anda
 
Industri mode merupakan salah satu industri yang memiliki persaingan ketat. Agar dapat terus bertahan, Anda tak cukup hanya dengan memahami kebutuhan konsumen. Anda perlu mempelajari produk yang dijual oleh pesaing Anda. “Tak ada salahnya Anda pun melakukan research untuk mengetahui ‘manuver’ yang dilakukan oleh brand atau desainer lain,” ujar Attina yang juga pemilik Pinx The Label.
 
6. Siapkan Diri Untuk Terjun Optimal
 
Terjun di industri mode tidak hanya sebatas mempelajari sketsa atau teknik jahit. Anda harus siap bekerja keras dan mempelajari kemampuan lain yang tak kasat mata seperti komunikasi, beradaptasi dengan berbagai pihak, serta mempelajari mata rantai yang saling terkait dalam dunia mode seperti jurnalis fashion, pemain retail, bahkan fashion stylist. “Dengan mempelajari seluruh peran mereka, Anda akan memiliki pemahaman yang utuh terhadap industri fashion,”saran Neeta R. Aildasani, founder of Mozzo.
 
7. Inspirasi Tanpa Batas
 
Inspirasi desain dapat berasal dari mana pun. Anda dapat mencari inspirasi dari berbagai perhelatan rumah mode di kota besar mode dunia, majalah mode, street style, budaya suatu daerah, hingga lukisan. “Jangan takut bermain ke suatu tempat yang sama sekali berbeda dan biarkan pikiran serta jemari Anda menggoreskan desain secara liar. Dari situ, Anda akan melihat intisarinya,” Ujar Malik Mustaram
 
 

8. Batasi Diri
 
Tren dan inspirasi desain dapat datang dari manapun dan selalu berputar sepanjang waktu. Tak heran rasanya jika rancangan sebuah busana seorang desainer pun memiliki unsur kemiripan desain dengan desainer lainnya. “Terinspirasi boleh saja, asalkan Anda tahu batasnya dan tidak menjiplak,”ujar Deden Siswanto.
 
Sebuah desain busana dapat dipertanyakan orisinalitasnya apabila dinilai terlalu banyak kesamaan dari segi potongan, detail, hingga styling.
 
Tidak ada patokan yang jelas untuk menjelaskan seorang desainer telah menjiplak sebuah karya atau tidak. Karena, batasan antara terinspirasi dan mencontek ada pada wilayah abu-abu. Namun bukan berarti tidak bisa dibedakan.
 
Jika Anda terinspirasi pada sebuah busana, Anda tidak akan mewujudkannya dalam bentuk dan rupa yang sama sekali beda.
 
9. Perkuat Jaringan
 
Ini berlaku untuk semua bidang pekerjaan. Bagi desainer fashion, kedekatan terhadap klien, awak media, fashion stylistpublic figure, buyer, supplier, dan sesama desainer menjadi bagian yang perlu diperhatikan. “Dari pendekatan tersebut, Anda pun dapat mengenal berbagai klien baru atau malah selebriti yang dapat menjadi media promosi Anda,” imbuh Septrina yang sangat aktif di media sosial.

10. Desainer yang Berciri Khas

Sebuah koleksi yang berhasil memikat penikmat mode adalah koleksi dengan desain yang tak terlupakan dan dapat menjadi ciri khas seorang desainer. Konsumen dapat mengetahui dengan mudah sebuah koleksi busana hanya dengan melihat pola dan desain, tanpa perlu melihat labelnya.

Dalam hal ini Anda dapat mencontoh keberhasilan Calvin Klein yang sarat dengan potongan clean dan Issey Miyake dengan pleats-nya. Sedangkan pada  desainer Indonesia Anda dapat melirik Edward Hutabarat dengan wastra Indonesia dalam siluet busana resort look atau Lulu Lutfi Labibi yang terkenal model tumpuk, bersiluet Jepang, dan kain luriknya.