Dok. Pexels



Menurut data Kementerian Agama RI, jumlah perceraian terus bertambah hingga belasan ribu gugatan cerai tiap dua tahunan. Bahkan baru-baru ini, pemerintah menerapkan kebijakan bimbingan pranikah untuk mendapatkan sertifikasi pernikahan, yang konon dilakukan untuk menekan angka perceraian. 

Namun sebenarnya seperti apa pandangan kita terhadap perceraian?

Menurut survei Femina terhadap 920 responden (April, 2020), sekitar 37 persen gen x dan 48 persen milenial menganggap bahwa perceraian akan menimbulkan luka dan trauma buat anak, 32 persen milenial dan 44 persen gen x menilai bahwa jika sudah tidak ada keharmonisan dalam hubungan suami istri sebaiknya pasangan bercerai dan 11 persen gen x dan 14 persen milenial mengatakan bahwa bercerai adalah hal yang tabu untuk mereka.

Berdasarkan pengamatannya, Roslina Verauli, M.Psi, psikolog keluarga dan pasangan, menilai bahwa toleransi masyarakat terhadap perceraian memang semakin besar. 

“Ketika di lingkungan orang tersebut sudah ada yang bercerai, maka toleransi terhadap perceraian juga semakin besar. Selain itu, saat ini wanita makin independen secara finansial, tidak lagi bergantung pada suami dan punya pemahaman bahwa bercerai tapi bahagia itu lebih baik daripada bertahan dalam pernikahan yang runyam. Mereka lebih memilih untuk hidup sendiri dan bahagia,” jelasnya.

Berbeda dengan beberapa dekade lalu, dimana kebanyakan istri tidak bekerja, yang menurut Verauli mereka menelan bulat-bulan masalah pernikahan karena ketergantungan secara finansial dengan pasangan. 

“Karena dulu masih kental budaya malu (shame culture). Jadi terserah pasangan ngapain aja, asal jangan sampai cerai. Dulu cerai kan dianggap momok memalukan bagi keluarga,” tambahnya.

Menurut pengamatan Verauli, perceraian sebenarnya lebih banyak terjadi pada mereka yang masuk dalam gen x. Hal ini terlihat dari hasil cross data survei Femina yang menunjukkan bahwa pandangan jika sudah tidak ada keharmonisan dalam hubungan suami istri sebaiknya pasangan bercerai lebih besar bagi gen x (44 persen) daripada milenial (32 persen).

“Ketika masuk ke usia 40an, individu melakukan ulasan pada hidupnya, apakah ini yang kehidupan yang mereka inginkan. Saya menduga gen x lebih toleransi terhadap perceraian karena mereka mulai merasakan ketidakbahagiaan dalam pernikahannya,” tambahnya.

Ada banyak penyebab terjadinya perceraian. Namun yang mendominasi disebabkan oleh hadirnya orang ketiga (83 persen milenial, 79 persen gen x) dan kekerasan dalam rumah tangga (82 persen milenial, 78 persen gen x). Selebihnya karena mereka merasa tidak nyaman dengan pasangan, tidak mempercayai pasangan, karena pasangan sering mengkritik atau menghina, pasangan yang berbohong tentang kondisi keuangan hingga tidak puas dalam hubungan seks.


Lanjut ke halaman berikutnya.


BACA JUGA :
RUU Ketahanan Keluarga Menuai Kontroversi
Ini Dampak Buruk Memberikan Citra Negatif tentang Mantan Pasangan Kepada Anak
Bangkit Setelah Perceraian Menyakitkan


 
 



Dok. Pexels



Jika dirunut ke akarnya, menurut Verauli, perceraian terjadi karena individu-individu tersebut punya masalah komunikasi dengan pasangan. Bukan karena mereka tidak handal dalam berkomunikasi, tapi tidak adanya waktu yang memadai sebagai pasangan untuk berkumpul.

Verauli melihat bahwa hal ini erat kaitannya dengan semakin panjangnya waktu yang dihabiskan masyarakat era kini untuk mengembangkan karier, membuat tak ada lagi waktu untuk cinta (no time for love). 

“Tidak ada lagi waktu intimate, mendampingi pasangan, apalagi untuk komunikasi. Bahkan untuk beberapa kasus yang saya temui, mereka justru menghindari komunikasi yang mendalam dengan pasangan,” jelasnya lagi.

Hal ini sejalan dengan temuan Femina yang mengatakan bahwa 91 persen milenial dan 87 persen gen x menilai kunci pernikahan yang harmonis adalah komunikasi yang terbuka dan jujur. Namun di satu sisi juga, berkomunikasi dengan pasangan jadi tantangan bagi 54 persen gen x dan 44 persen milenial.

Menurut Verauli banyak pasangan yang sukar menyampaikan keluhan, kritik, masukan atau kebutuhannya. “Karena cara yang cenderung dipakai adalah pola agresif (menyerang) atau justru tidak dibahas sama sekali dan diam saja,” paparnya. 

Ketika keluhan tidak terungkapkan, masing-masing pasangan jadi menyimpan kemarahan dan bisa jadi api dalam sekam di pernikahan. Selain itu juga banyak pasangan yang gagal untuk ekspresif menyatakan cinta. 

“Cinta tidak harus selalu mengatakan aku sayang kamu, namun tindakan-tindakan mencintai itu harus ada. Sayangnya seringkali kita justru menunjukkan aksi-aksi yang tidak mencintai, yaitu abai,” jelasnya. 

Verauli mencontohkan bahwa salah satu tindakan abai adalah ketika pasangan berada di sisinya, ia malah lebih memilih untuk fokus pada gawainya. 

Komunikasi menjadi sesuatu yang sangat esensial dalam sebuah pernikahan. Karena itu, menurut Verauli pasangan perlu memiliki komunikasi yang mendalam. Sehingga ketika terjadi konflik dalam pernikahan, bisa terselesaikan karena adanya komunikasi yang baik antar pasangan. 

Verauli menekankan bahwa konflik dalam pernikahan menunjukkan bahwa pernikahan itu sehat. 

“Namun pastikan konflik tersebut terselesaikan. Karena pernikahan yang tidak bahagia terjadi akibat konflik yang tidak selesai ditangani atau bahkan justru dihindari. Yang perlu dilakukan adalah belajar berkomunikasi dan mengelola konflik. Dua kemampuan basic ini jadi penting,” ujarnya. (f)



BACA JUGA :
RUU Ketahanan Keluarga Menuai Kontroversi
Ini Dampak Buruk Memberikan Citra Negatif tentang Mantan Pasangan Kepada Anak
Bangkit Setelah Perceraian Menyakitkan