Foto: Shutterstock

 
Sudah 4 tahun Petra Raka, yang akrab dipanggil Raka ini menduda, setelah berpisah dari mantan istrinya yang kini sudah memiliki keluarga baru. Kedua putri dan putra Raka yang kini berusia 11 dan 8 tahun pun diputuskan ikut dengannya.
 
Selama ini ia melihat teman-temannya menjadi ibu tunggal, namun ia tak pernah membayangkan dirinya akan menjadi ayah tunggal. “Jujur saja, anak-anak dekat dengan ibunya. Ketika akhirnya menjadi orang tua tunggal, saya berusaha keras membangun kedekatan dengan anak-anak,” kenangnya.
 
Diakui Raka bahwa ia sempat arogan dengan mengatakan bahwa bisa mengurus anak-anaknya sendiri tanpa bantuan orang lain. Tapi ternyata, tidak semudah apa yang diucapkan. “Apalagi anak perempuan pertama saya sudah mulai beranjak remaja, ada perubahan biologis yang susah saya jelaskan kepadanya. Pada akhirnya saya meminta bantuan ibu saya untuk menjelaskan dan bagaimana menghadapi hal-hal tersebut,” ceritanya.
 
Sang neneklah yang menjelaskan kepada putrid pertamanya tentang menstruasi, pertumbuhan payudara, dan sebagainya. “Rasanya aneh jika hal tersebut dijelaskan oleh saya sebagai ayah. Seharusnya memang perbincangan tersebut dilakukan oleh sesama wanita, ‘kan? Beruntung ibu saya bisa membantu,” tambahnya. 
 
Di sisi lain, timbul kekhawatiran anak-anak akan kehilangan figur ibu. Sampai kapan ia harus mengandalkan nenek sebagai pengganti figur ibu? Tak jarang ia berpikir untuk membangun pernikahan baru, tapi ternyata tak mudah.
 
“Bukan karena tak ingin, tapi karena tak siap apakah orang baru ini bisa menerima kehadiran dua anak saya. Atau apakah anak-anak saya bisa menerima dia,” tutur Raka, cemas.  

Kekhawatirannya bukan tanpa alasan. Ia pernah beberapa kali mencoba mengenalkan teman wanita kepada anak-anaknya, tapi selalu berujung tak baik. Menurutnya, anak-anak tak cukup menyambut baik kehadiran orang baru yang dekat dengan Raka. “Mungkin anak-anak khawatir saya akan pergi meninggalkan mereka, jika ada wanita lain. Saya mengerti perasaan mereka,” ujar Raka, memaklumi.
 
Raka yang kini sedang dekat dengan seorang wanita pun memilih untuk lebih hati-hati. Ia tak mau salah mengambil langkah yang membuat anak-anak merasa sakit hati. “Saya akan menunggu sampai mereka siap dengan kehadiran orang baru. Jadi, sekarang saya tidak pernah lagi mengenalkan wanita ini kepada mereka,” papar Raka.
 
 

 
Kendati bukan hal yang mudah, Raka mengakui, ada beberapa hal yang ia syukuri setelah menjadi ayah tunggal. “Dulu waktu kecil, saya tidak dekat dengan ayah saya. Ketika saya jadi ayah, awalnya saya juga tidak dekat dengan anak-anak. Siapa sangka, saya kini justru jadi sangat dekat dengan anak-anak, hal yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya ketika dulu saya mulai memutuskan berkeluarga,” ujar Raka, bersyukur.
 
Ia mengaku jadi banyak membaca artikel tentang parenting untuk membantunya memahami mengasuh kedua anaknya. Walau diakuinya di masa depan pasti akan terasa lebih menantang, mengingat anak-anaknya akan menjadi remaja, Raka selalu siaga menjadi ayah yang siap dan akrab bagi putra dan putrinya.
 
Pesan Anna Surti Ariani, S.Psi., M.Si,Klinik Terpadu Fakultas Psikologi Universitas Indonesia:
 
Membangun hubungan percintaan yang baru dengan orang lain jadi salah satu tantangan bagi orang tua tunggal. Selalu timbul kekhawatiran bahwa anak tidak akan menerima kehadiran orang baru ini, yang akan menggantikan ayah atau ibu kandung mereka.
 
Menurut Nina, penting bagi para orang tua tunggal menunggu momen yang tepat untuk mengenalkan orang baru kepada anak-anak. Jika anak masih kecil, tidak perlu langsung dikenalkan. Mantapkan dulu hubungannya tanpa harus melibatkan anak. Jika hubungan sudah lebih mantap dan yakin, barulah anak diperkenalkan dan berinteraksi langsung dengan orang tersebut.
 
“Saya sering menemukan, banyak orang yang hubungannya belum mantap-mantap amat, tapi sudah dikenalkan dengan anak. Hal yang terjadi adalah, baru berhubungan, sudah putus, dan terus berulang. Ini akan jadi membingungkan untuk si anak. Saran saya, jalin dulu hubungan tanpa harus melibatkan anak. Kalau memang sudah mantap, baru anak dilibatkan,” saran Nina.
 
Ia pun mengingatkan bahwa hubungan remarriage membutuhkan persiapan yang lebih panjang karena ada lebih banyak variabel yang dipertimbangkan dibandingkan pernikahan pertama. Salah satunya adalah kesiapan mental anak dalam menerima kehadiran orang baru.
 
“Jangan terburu-buru. Tunggu hingga anak memiliki mental yang lebih siap,” tambahnya. (f)

Baca Juga:

Jangan Unggah 3 Hal Ini di Medsos Jika Tak Ingin Rumah Tangga Anda Retak
Bersahabat dengan Mantan Pasangan
Selain Fisik, Perhatikan Juga Perkembangan Mental Remaja