
Foto: 123RF
Pria yang bisa memasak ternyata lebih menggemaskan. Ia tidak hanya membuat pasangannya merasa dicintai, tetapi juga dihargai. Dari tiap racikan yang disertai dengan bumbu cinta, kepiawaian mereka seperti magnet yang membuat para istri selalu betah di rumah.
BERUNTUNG DIMASAKI
Saya, Betrina Larobu (36), termasuk orang yang beruntung, suami saya, Lincoln Hibbert, senang terjun ke dapur. Bahagia rasanya diperlakukan superspesial tiap kali dimasaki olehnya. Tidak hanya memasak, ia juga mengajari saya banyak hal tentang dunia kuliner, termasuk gaya hidup makan yang sehat.
Undangan makan malam pertama saya dan dia, 14 tahun lalu, dibuka dengan pertunjukan di dapurnya yang penuh asap. Sembari menonton gerakannya mengiris tiap bahan, ia bertanya tentang tingkat kematangan steak yang saya inginkan.
Dengan mantap saya menjawab, “Well done (matang).” Ia pun mengiyakan permintaan saya tanpa berkomentar. Namun, saat kami bersantap, ia mengatakan bahwa kualitas daging yang dimasak sangat bagus, jadi sayang kalau dipanaskan sampai matang karena akan menjadi kering. Dari situlah saya mendapatkan ilmu memasak baru. Tiga tahun masa pacaran kami berlalu dengan kejutan varian menu yang dibuatnya. Mulai dari beragam olahan steak, menu oriental Chinese food, menu Asia lainnya, seperti Thai food, Japanese food, serta Indian food, hingga ke masakan Italia dan Timur Tengah.
Ia memang memanjakan saya dengan hasil kreativitasnya di dapur, meskipun profesinya adalah guru. Keromantisannya pun ditunjukkan melalui aroma bumbu, penyajian, serta cita rasa yang menggoda. Tapi, tiap kali saya bertanya apa bumbunya, jawabannya selalu, “Cinta.” Saya pun nyengir sambil tersipu malu. Memang, sih, apa pun yang dikerjakan tanpa cinta akan terasa ada yang kurang. Termasuk masakan! Akhirnya, gairahnya memasaklah yang membuat saya jatuh hati. Salah satu kriteria saya memilih calon suami yang pintar masak akhirnya pun terpenuhi. He… he… he….
Saat ia meminta restu kepada orang tua saya, ia menjawab kekhawatiran mama saya yang mengatakan bahwa saya tidak bisa masak. Menurutnya, tidak ada masalah jika ia yang masak sementara saya tinggal makan. Kemantapan jawabannya itu pun membuat suasana tegang menjadi cair dengan tawa kami. Kini, setelah 11 tahun berumah tangga, ia tidak meninggalkan hobi memasaknya ini. Tiap saya pulang kerja, masakan selalu sudah tersedia di meja. Kulkas dan lemari makanan pun selalu penuh. Dia pula yang mengatur isi dapur agar kami sekeluarga selalu sehat dan kenyang.
Keberuntungan punya suami pintar memasak ini ternyata tidak hanya milik saya. Dari Palembang, Shinta Desiyana (33) juga merasa diistimewakan oleh suaminya, Muhammad Kurniawan (36), yang sangat menyukai pekerjaan rumah tangga. Mulai dari urusan bersih-bersih rumah hingga urusan dapur. Menurut Shinta, kalau suami sudah di dapur, lebih baik ia tak ikut campur, karena justru akan mengganggu.
Sebenarnya, pengambilalihan kekuasaan di dapur ini sudah dimulai sejak pacaran, sekitar 15 tahun lalu. Ibu dua anak merangkap dosen di Universitas Sriwijaya ini mengaku bahwa suaminya jago masak dan selalu punya minat besar pada dunia ini. Sampai suatu kali suaminya sempat terpikir untuk sekolah lagi di jurusan memasak dan bekerja sebagai chef. Tetapi sayang, tidak jadi.
Sekarang, di tengah kesibukan bekerja sebagai marketing otomotif, suaminya tetap tak segan memasak, jika ada waktu luang. Mulai dari meracik masakan tradisional khas Palembang, seperti kue srikaya, pindang ikan, atau celimpungan, hingga menu Barat.
Untuk mengesankan istri dan anak-anaknya, sang suami juga rajin menambah referensi memasak dengan belajar langsung dari orang terdekat, membaca buku resep, serta mencari tahu lewat internet tentang menu-menu baru dan melakukan uji coba di rumah. Bahkan, di hari spesialnya, Shinta juga pernah dikejutkan dengan brownies yang dibuat suami.
Totalitas dan dedikasi suami di dapur membuat Shinta tidak pernah khawatir bila harus meninggalkan rumah dan anak-anak karena urusan pekerjaan. Ia pun sadar bahwa memasak ternyata juga membuat suami merasa seperti ‘superhero’ yang mampu memenangkan hati istri dan anak-anaknya.
Suami yang bisa memasak membuat Shinta tidak merasa direpotkan. Saat suami berada sendiri di rumah, bersama anak-anak, atau bahkan ketika lagi sakit pun, suami dengan senang hati memasak untuknya sendiri, anak-anak, atau bahkan membuat makanan untuk dirinya agar cepat sembuh. Bahkan, ketika suami pulang larut malam pun, ia hanya membangunkan Shinta untuk menemaninya makan hasil masakannya.
Kelihaian suaminya di dapur membuat Shinta jadi tahu tentang resep dan trik menciptakan masakan lebih enak dan lezat. Anak-anak pun bangga bercerita kepada orang lain bahwa yang memasak adalah ayahnya dan rasanya enak.
EMANSIPASI WANITA
Kalau disuruh memilih antara memasak dan membersihkan rumah, saya selalu pilih yang kedua. Alasannya sederhana: memasak bukan minat saya. Teringat waktu kecil, Mama sering memanggil saya untuk mendekat saat ia sedang berkutat di dapur. Di saat jemarinya sibuk mengiris bawang, wejangan-wejangan agar saya bisa terampil seperti dirinya turut menggema berbarengan dengan suara gorengan di wajan.
Herannya, saya tetap saja lebih memilih mengepel, mengelap, atau menata rumah. Buat saya, proses memasak membutuhkan waktu panjang, dan hanya dibutuhkan hitungan menit saja untuk menikmati masakan yang sudah jadi. Sementara, rumah rapi bisa menghadirkan sensasi yang bisa lebih lama dinikmati.
Bagi saya saat itu, tidak bisa memasak bukan sebuah perkara besar yang harus dikhawatirkan. Saya tidak peduli, meskipun waktu itu masih kental pemikiran bahwa wanita harus pandai memasak, jika ingin menjadi calon istri dan ibu yang baik di masa depan. Beruntung saya bertemu pria Australia yang bisa ‘berfungsi ganda’, yang tidak saja memakai kemeja, tetapi juga bersedia mengencangkan celemek di pinggangnya. Ha… ha… ha….
Menurut suami, tidak ada aturan yang memetakan peran pria dan wanita saat di rumah. Apalagi sejak kecil ia sudah terbiasa melihat kedua orang tuanya saling berbagi tugas. Baik berbelanja, mengurus dapur, anak, kebun, menyetir, mengantar sekolah, bekerja, dan lainnya.
Karena tidak ada asisten rumah tangga, semua dikerjakan sendiri. Proses itulah yang akhirnya mendidiknya mandiri dan membuatnya menjadi pria yang ‘matang’ dalam segala urusan, termasuk urusan rumah tangga kami. Karena intensitas waktu saya di rumah yang lebih sedikit dibandingkan dirinya, akhirnya tanpa diminta ia selalu sigap mengatur segala keperluan rumah. Mulai dari menentukan bahan belanjaan, menu yang harus dimasak, menemani anak belajar, hingga menyempatkan menunggu saya pulang kantor demi bisa makan malam bersama.
Sikapnya terhadap wanita yang ditunjukkannya kepada saya juga dirasakan Shinta dari suaminya. Tidak pernah ada perjanjian apa pun, bahkan sebelum menikah, untuk berbagi peran. Shinta mengaku awalnya merasa takut nantinya tidak mampu menjadi istri yang baik karena kurang pandai di dapur. Namun, setelah menikah, kepanikannya itu langsung hilang tiap kali melihat sang suami sibuk di dapur. Tanpa ada ART pun, meski sudah punya anak, melakukan pekerjaan rumah tangga terasa ringan saja karena suaminya ikut membantu, mulai dari mencuci piring, mengelap meja, hingga mengepel lantai sehabis memasak.
Suaminya juga tidak sungkan berbelanja di pasar tradisional. Dengan begitu, ia jadi lebih tahu harga kebutuhan dapur. Bagi Shinta, suami yang terampil di dapur adalah sosok yang istimewa. Ia sangat terlihat ‘laki-laki’ karena mau melakukannya untuk orang-orang yang dicintainya. Hal inilah yang membuat Shinta tambah mencintai suaminya. Dalam berumah tangga, suami dan istri memang sudah sepantasnya memahami peran masing-masing serta saling menutupi kekurangan pasangannya. Pada akhirnya rumah tangga akan terasa menyenangkan dan istri serta anak akan rindu untuk selalu berada di rumah.(f)