
Foto: Shutterstock
Stereotip bahwa wanita berperan lebih di ranah domestik memang masih berakar di masyarakat. Namun kini, tak sedikit pria masa kini yang memiliki kesadaran tentang persamaan gender dalam berbagai relasi
dari keluarga, lingkungan kerja, pergaulan, hingga interaksi sosial. Karena sikap dan cara pandang yang adil, setara dan antikekerasan, bisa terwujud jika ada keterlibatan penuh pria di dalamnya, dan semua itu harus dimulai dari lingkungan keluarga.
Seperti tiga pria berikut ini yang tanpa ragu berbagi peran domestik demi memberi kesempatan kepada pasangannya untuk meraih sukses.
1/ LV Vaidyanathan, Country Manager P&G Indonesia: Nilai Setara di Kantor dan Keluarga
Menurut saya, tidak ada pekerjaan rumah tangga yang spesifik yang hanya bisa dilakukan oleh pria atau wanita saja. Pada dasarnya semua pekerjaan rumah tangga bisa dilakukan baik\ oleh pria maupun wanita. Itu sebabnya dalam menjalankan hubungan dengan istri di rumah, kami sejak awal setuju untuk melakukannya semua pekerjaan rumah tangga bersama. Misalnya, istri saya bisa mengganti lampu di rumah, sama seperti saya yang bisa mengganti popok anak kami. Hal lainnya, saya dan istri juga sama-sama bisa menyetir dan memasak.
Memang ada beberapa peran yang kami bagi misalnya seperti memasak yang lebih banyak dilakukan istri. Tapi, ada pula yang kami lakukan bersama seperti mencuci baju. Yang pasti, dalam keluarga kami batasan peran gender itu terlihat samar antara apa yang bisa saya atau istri lakukan, karena untuk melakukan pekerjaan domestik kami berdua sama-sama bisa melakukannya.
Gaya hidup setara ini juga kami coba tularkan kepada kedua putra kami. Terutama, kami sangat berusaha menanamkan nilai-nilai hormat pada wanita. Caranya adalah dengan menunjukan bagaimana cara saya memperlakukan istri, ibu, ibu mertua atau anggota keluarga wanita lainnya. Ketika kami menerapkan gaya hidup setara ini, kami juga ingin anak-anak memahaminya dengan cara melihatnya langsung, bukan hanya dari kata-kata semata.

Foto: Dok. Pribadi
Saya cukup beruntung karena hidup berpindah-pindah negara, sehingga tidak mengalami tekanan dari komunitas dan masyarakat sekitar tentang bagaimana menjalankan gaya hidup setara dalam keluarga, di budaya yang cenderung masih patriarkal. Karena seharusnya, pria zaman sekarang turut mendukung pemberdayaan wanita dalam berbagai macam hal.
Mulai dari memberikan edukasi yang tepat bagi anak perempuan, menciptakan lingkungan yang dapat mendukung kemajuan para wanita hingga membuat kebijakan yang dapat memberdayakan mereka. Karena memang tak dapat dipungkiri, pria punya peran yang besar dalam langkah-langkah pemberdayaan wanita.
Bekerja di P&G, saya berada dalam ekosistem yang mendukung pemberdayaan perempuan. Inilah yang juga dilakukan oleh P&G dalam mengembangkan talenta para karyawannya. Di Indonesia misalnya, 50 persen
posisi manager menengah diisi oleh wanita. Kami tak membeda-bedakan antara karyawan wanita dan pria. Ini jugalah yang akhirnya melahirkan program We See Equal oleh perusahaan sebagai upaya mendukung salah satu pilar perusahaan, gender equality.
Untuk mendukung program tersebut, ada kebijakan perusahaan yang memberikan fleksibilitas jam kerja bagi karyawan. Karyawan bebas masuk jam kerja setiap hari, termasuk pilihan bekerja dari rumah (work from home) selama dua hari dalam seminggu. Kebijakan ini diterapkan, karena memang terkadang karyawan wanita yang juga berperan sebagai ibu kerap dihadapkan pada situasi yang mengharuskan mereka memprioritaskan anak atau keluarga di rumah seperti ketika anak sakit atau urusan sekolah. Dengan demikian, mereka bisa bekerja profesional sekaligus mengurus anak di rumah.
Selain itu, bagi karyawan P&G juga tersedia layanan pengasuhan anak di kantor. Ada tenaga profesional yang akan menjaga anak-anak selama orang tua mereka bekerja. Kami juga memiliki kegiatan internal Lean
in Circle, yang bertujuan agar antar sesama karyawan wanita saling mendukung satu sama lain. Dalam kegiatan ini, salah satu pemimpin wanita kami akan berbagi cerita dan pengalaman dalam menghadapi tantangan berkarier. Inspirasi-inspirasi inilah yang membantu karyawan wanita lainnya ketika menjumpai ragam rintangan dan saling mendukung.
Lebih dari itu, dalam lingkungan kerja kami juga memastikan untuk tidak ada diskriminasi gender dalam berbagai level. Baik itu saat rekrutmen, pelatihan, promosi, perencanaan, dan lain sebagainya. Kami melihat kesetaraan dengan tidak melihat suatu peran dalam pekerjaan hanya berdasarkan gendernya saja. Di mata saya, kapabilitas seseorang tidak dilihat dari gendernya. Apa yang pria bisa lakukan, wanita juga bisa melakukannya. Begitu pula sebaliknya.
Selanjutnya: 2/ Sogi Indra Duaja, Penyiar Radio: Hubungan Kasual yang Sejajar
2/ Sogi Indra Duaja, Penyiar Radio: Hubungan Kasual yang Sejajar
Menjalani hubungan yang ‘setara’ bukan hal baru dalam hubungan saya dengan istri, Iestikomah Mattjik. Bahkan sejak awal kami pacaran di bangku kuliah, saya tidak pernah merasa bahwa saya harus lebih tinggi posisinya dibanding Iis atau lainnya. Hal tersebut juga kami terapkan untuk urusan domestik.
Bukan hal yang tabu bagi saya untuk mengurus berbagai hal rumah tangga. Mulai dari bersih-bersih rumah, belanja ke pasar, antar jemput anak, ajarin anak belajar hingga gantian ke acara pertemuan orang tua di sekolah anak. Tidak ada pembagian bahwa ini harus dikerjakan oleh suami, atau ini harus dikerjakan oleh istri.
Alih-alih menyebutnya sebuah hubungan yang setara, saya lebih suka jika ini disebutnya hubungan yang fleksibel. Dalam arti, apa yang bisa saya kerjakan ya saya kerjakan, begitu juga dengan istri, tanpa harus bergesekan dengan peran gender. Secara natural kami menjalani hubungan fleksibel seperti ini karena memang sudah biasa melakukannya sejak awal berpacaran.
Di sisi lain, saya juga tahu bahwa istri saya sangat tidak betah untuk diam. Bahkan dari zaman kuliah dia sudah bekerja. Maka ketika kami menikah, dia ingin bekerja, bukanlah sebuah masalah. Saya juga tak segan membantu Iis memberikan masukan untuk pekerjaannya. Malah saya sangat menanti-nanti kapan istri saya bisa naik ke jenjang berikutnya, karena ini sudah masuk tahun ke-15 sebagai communication officer di salah satu perusahaan minyak dan gas.
Saya pasti sangat senang jika bisa melihat lis meraih karier setinggi-tingginya, sesuai seperti apa yang dia impikan. Melihat kebahagiaan ketika dia achieve sesuatu di lingkungan pekerjaan, juga menjadi kebahagiaan buat saya. Karena ketika dia sukses, maka saya juga ikut bangga karena punya istri yang sukses.
Kadang, karena penghasilan saya sangat bergantung pada proyek yang sedang dikerjakan, maka dalam beberapa kondisi tertentu saya harus bergantung pada Iis. Saya tak lantas merasa malu, karena toh ketika Iis butuh dukungan finansial lebih, saya juga siap membantu. Tidak ada merasa tersaingi atau ego yang tersakiti.

Foto: Dok. Pribadi
Bentuk dukungan lainnya juga saya lakukan ketika istri sedang hamil, saya ikut belajar untuk mempersiapkan rencana memberikan ASI eksklusif kepada anak-anak kami. Bahkan saya sampai ikut komunitas Ayah ASI sebagai bentuk keseriusan saya mendukung langkah istri. Namun memang, langkah saya ini ternyata ditanggapi beragam, ada yang merasa aneh kenapa saya mau terlibat dalam hal-hal ‘urusan wanita’, tapi ada juga yang menganggap bahwa saya hanya sekadar pencitraan sebagai seorang selebritas.
Tapi saya tidak mengelak bahwa itu juga langkah pencitraan, karena saya ingin mencitrakan diri saya sebagai ayah dan suami yang mendukung istrinya untuk memberikan ASI eksklusif untuk anak-anaknya. Karena sebenarnya menjadi Ayah ASI juga turut mempererat bonding saya dengan istri dan anak-anak. Tentu kesetaraan gender terjadi dalam kegiatan Ayah ASI. Selama ini kita pikir bahwa dengan memberikan ASI dan
memperkuat bonding dengan anak itu hanya tugas wanita, padahal ini salah besar.
Menurut saya, ketidaksetaraan gender terjadi karena budaya kita masih menganut patriarkal. Dan kami cukup beruntung tumbuh di lingkungan dengan budaya yang mengindahkan kesetaraan itu. Di dalam rumah tangga, kami berusaha sebisa mungkin menolak budaya yang menyebabkan gesekan gender. Salah satunya adalah dengan membiasakan anak-anak, Sam Ahsan Ogitomo (8) dan Mindy Fathina (6) melihat bahwa antara pria dan wanita itu sama hebatnya, sama-sama berhak mendapatkan kesempatan apa pun di luar sana.
Sebenarnya tak ada trik khusus untuk mengajarkan mereka tentang hal itu, hanya saja semoga apa yang saya dan Iis terapkan di rumah cukup baik untuk dijadikan panutan tentang bagaimana seharusnya kesetaraan
gender terjadi. Kadang, ketika saya menjalani gaya hidup yang ‘setara’ dengan istri, ada saja orang yang komentar bahwa seharusnya tidak seperti itu menjalankan sebuah relasi suami-istri.
Mereka bilang ‘suami itu harus memimpin, lebih berwibawa dibandingkan istri dan lain sebagainya’. Hal yang bisa saya lakukan hanya tersenyum dan saya tidak merasa terganggu dengan hal ini. Karena toh saya justru merasa bahagia menjalani kehidupan yang seperti ini.
Selanjutnya: 3/ Sentot Joko, Pengusaha/Komisaris 3 Perusahaan: Jadi Saling Mengisi
3/ Sentot Joko, Pengusaha/Komisaris 3 Perusahaan: Jadi Saling Mengisi
Seorang istri perlu mandiri secara finansial, karena jika terjadi sesuatu terhadap suaminya, maka ia akan sanggup membesarkan anak-anaknya tanpa harus meminta belas kasihan dari orang lain. Prinsip inilah yang sejak awal saya terapkan saat menikah dengan Anne Sri Arti, dua puluh lima tahun lalu.
Ketika beberapa tahun lalu istri memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya di perusahaan perbankan dan memilih untuk memulai usaha sendiri, saya mendukungnya. Apalagi saat itu, usahanya yang bergerak di bidang pengolahan susu murni tidak semata-mata untuk memenuhi kebutuhan keluarga, tapi juga membantu para peternak sapi di lingkungan tempat tinggal kami di Sukabumi.
Selama kegiatan tersebut positif kenapa harus dihambat? Apalagi itu kegiatan yang memberikan dampak positif dan luas untuk masyarakat banyak.
Meski begitu, membangun bisnis bukan hal mudah. Saya melihat bagaimana istri saya jatuh bangun dalam bisnis ini. Walaupun awalnya saya tidak terlibat langsung, akhirnya saya juga turut ikut dalam bisnis yang berada di bawah PT Makmur Agro Satwa. Istri yang memegang kendali usaha terutama dalam hal pemasaran, sedangkan saya membantu dalam bidang produksi. Kolaborasi ini yang menurut saya pada akhirnya membawa perusahaan terus berkembang.
Ya, saya akui, selama menjalani relasi kami, ada yang pro tapi tak sedikit juga yang kontra. Mungkin karena melihat istri saya yang lebih aktif keluar untuk bertemu dengan klien dan melobi mereka. Apalagi kini bisnis kami tidak hanya di bidang peternakan, tapi juga ke dunia pertanian lewat PT Mas Raja Agro Nusantara.
Tapi ini justru membuat kami lebih fokus pada mengembangkan usaha yang kami miliki. Intinya adalah ketika saya mendukung istri menjalankan bisnisnya, maka saat itu pula saya harus memberikan kepercayaan
sehingga istri bisa mengembangkan usahanya, berimprovisasi dalam menjalankan kegiatannya tanpa harus diganggu oleh rasa curiga saya.
Toh, selama ini saya melihat istri saya tetap amanah pada suami dan keluarganya. Ia tidak melenceng dari koridor agama dan tidak keluar dari norma-norma sosial, jadi kenapa saya harus tidak mendukungnya.

Foto: Dok. Pribadi
Pengalaman selama ini, ketika istri harus bertemu dengan banyak klien, yang umumnya pria, ada saja memang klien-klien yang terkadang iseng. Nah, dalam situasi seperti inilah, saya berusaha untuk menyikapinya dengan bijak. Jangan sampai juga mencederai hubungan bisnis. Karena bagaimanapun sebagai suami saya harus bisa melindungi istri kan.
Tak dipungkiri, kesibukan istri dalam membangun bisnis tentu saja membuat waktu untuk keluarga menjadi terbatas. Saya tidak melihatnya sebagai sebuah masalah. Intinya, dalam menjalankan kehidupan keluarga, kami berusaha berperan sesuai fungsinya. Suami istri adalah satu kesatuan yang saling melengkapi. Sebagai individu, masing-masing dari kami pasti punya kekurangan dan kelebihan, di sinilah kami saling melengkapi.
Bagi saya, dengan memberikan kebebasan pada istri untuk berkarya dan mengejar keinginannya justru saat itulah rumah tangga akan semakin kuat. Karena kami jadi saling mendukung dan ada komunikasi. Ketika membesarkan anak dengan waktu kami yang sama-sama terbatas, kami jadi menghargai quality time yang hanya sedikit itu.
Kami jadi perlu saling mengisi dan saling mengingatkan agar tetap ada waktu dan tidak perhatian kepada anak-anak. Kami harus berbagi tanggung jawab, karena dengan kesibukan masing-masing, tidak mungkin urusan anak sepenuhnya menjadi tanggung jawab istri.
Saya meyakini, lingkungan keluarga akan memberikan pelajaran lebih kepada anak-anak. Terutama saat mereka akan membangun kehidupannya kelak. Anak pertama kami, drh. Arighi Geraudi, saat ini sedang melanjutkan pendidikan S2 di Universitas Indonesia, tumbuh dengan melihat relasi saya dan istri. Melihat ibunya sukses dalam membangun bisnisnya, ia bisa melihat bahwa pria dan wanita dapat berbagi peran dan sama, sehingga kelak ketika membangun rumah tangganya sendiri, ia bisa menjadi suami yang bijak dan berwawasan luas.
Begitu pula dengan anak perempuan kami, Lasata Larasati yang kini masih duduk di kelas satu SMA, kami mendorongnya untuk terus maju. Dalam hal pendidikan kami tentunya menginginkan pendidikan yang terbaik untuk mereka berdua. Tidak dibedakan antara anak laki-laki dan perempuan. (f)
Faunda Liswijayanti dan Citra Narada Putri
Baca juga:
Hati Pria Pun Bisa Patah: Pengakuan Pria Saat Cintanya Dikhianati
Psikolog Tika Bisono: Jangan Merusak Anak dengan Gadget
Penting untuk Orang Tua Masa Kini, Ini 4 Soft Skill Utama yang Perlu Dimiliki Anak Agar Mampu Bersaing dengan Teknologi Robot Cerdas
Kata Sahabat Femina: Ini Kisah Kami Punya Anak Semata Wayang
Kata Sahabat Femina: Ini Suka Duka Kami Terlahir Sebagai Anak Tunggal