Foto: Pixabay
 
Setiap orang tentu ingin mendapatkan pasangan yang terbaik. Sehat lahir dan batin. Tetapi, tentu saja tidak semua keinginan itu bisa terkabul, bukan. Di sinilah perlu kepekaan kita untuk mengenali adakah hal yang tidak beres dalam hubungan cinta dengan pasangan. Memang cinta itu buta, tetapi jangan mau karena dibutakan oleh cinta maka diri kita menjadi taruhannya.
 
Karena, seperti yang diakui Elly Nagasaputra, psikolog yang juga marriage counselor, sepanjang pengalamannya menghadapi klien, mereka kelihatan normal-normal saja. “Bisa ngobrol dengan enak, mereka juga bekerja seperti biasa, entah itu sebagai karyawan atau pemilik bisnis. Tetapi, begitu disentuh persoalannya dengan pasangannya, baru keluar kata-kata maupun ancaman, seperti mau menembak dengan pistol atau memepet mobil dengan truck,” katanya.
 
Tapi, sebelum menilai apakah hubungan kita dengan pasangan itu tidak sehat dan mencari jalan keluar dari persoalan, yang pertama kali harus dimengerti adalah apa, sih, hubungan yang sehat itu?
 
“Hubungan yang sehat adalah hubungan yang membuat kita bisa berkembang menjadi a better person,” ujar Elly. Contoh sederhana, ketika Anda memiliki kekasih, dengan alasan cinta, sayang dan perhatian, maka Anda dilarang ke mana-mana sendiri, atau apapun yang Anda lakukan harus atas seizin dia. Atau, Anda adalah wanita yang memiliki passion untuk berkarier di kantor. Lalu, calon suami Anda mensyaratkan ketika menikah, Anda harus berhenti dari pekerjaan dan fokus untuk menjadi ibu rumah tangga saja.
 
“Tanpa mengecilkan peran sebagai ibu rumah tangga karena peran ini sangat berharga, tetapi persoalan di sini adalah Anda merasa berkembang dan passionate dengan karier di luar rumah. Nah, dengan pelarangan yang tanpa kompromi itu, apakah pasangan Anda membuat Anda bertumbuh?” tanya Elly. Karena bisa diibaratkan, Anda ibarat bonsai, yang setiap cabangnya yang tumbuh dipangkas habis.
 
Masalahnya kita bukan pohon bukan?
 
Empat wanita ini bercerita bagaimana mereka berjuang untuk keluar dari hubungan yang tidak sehat:
 
 

Tania, Jakarta
Putus Cinta, Diteror Di Kantor
 
Sejak berpacaran dengan Ditya, dia berulang kali mengungkapkan keinginannya untuk membawa hubungan kami ke jenjang yang lebih tinggi. Namun, gara-gara menolak untuk mencicil apartemen bersama, Ditya marah dan keluar sifat aslinya. Dia lalu mulai mengkritik cara saya mengatur keuangan. Katanya saya terlalu boros dalam hal penampilan, dan harusnya saya bisa menambah penghasilan bulanan.
 
Dia juga mulai mengatakan, kalau sudah menikah nanti, sebaiknya tidak usah punya anak karena menghabiskan banyak uang, tidak usah beli mobil karena perawatannya mahal, dan sebagainya. Yang menyakitkan, ketika akhirnya saya memilih putus, dia sempat mengatakan kalau saya morotin dia.
 
Pascaputus hubungan, dia mulai meneror saya. Dia menunggui saya pulang kantor dan saya keukeuh tidak mau pulang dengannya. Ini membuatnya tambah marah. Hampir setiap hari, dia sudah di depan kantor pukul tiga sore dan menunggu saya keluar kantor. Pernah, saya diseret masuk ke mobilnya, sampai jadi tontonan orang banyak. Sungguh memalukan.
 
Gara-gara dia sering nongkrong di kantor saya, dia sampai dipecat oleh kantornya karena sering mangkir selama jam kerja. Suatu kali, saya meminta kakak untuk menjemput saya karena saya merasa terancam dengan keberadaan mantan. Yang terjadi, dia malah bertengkar dengan kakak.
 
Teror melalui telepon terus-menerus datang. Dia bilang akan merusak wajah saya dengan menyiram air keras agar tidak ada pria yang mau dengan saya. Dia juga mengatakan kepada saya, bahwa ia tahu ke mana pun saya pergi, semua gerak-gerik saya, dan bisa mencelakakan saya sewaktu-waktu. Bahkan, saat saya mengatakan akan melaporkan ke polisi, dia menantang dan mengatakan bahwa tidak takut dipenjara.
 
Jika teman kantor yang mengangkat telepon dan bilang saya sedang sibuk, dia akan memaki-maki sambil mengancam: “Siapa kamu? Kamu tidak tahu siapa saya? Saya bantai kamu dan keluarga kamu, saya bisa sewa preman dan bikin mampus keluarga kamu semua!”
 
Bisa dibayangkan, saya sangat malu dan langsung minta maaf kepada atasan saya. Untungnya beliau mau memahami dan bahkan turut prihatin atas kejadian ini.
 
Untuk menjaga keselamatan hidup saya, juga malu, saya memutuskan untuk resign dari pekerjaan. Karena, ketika saya protes atas terornya itu, malah dia menertawakan saya dan bangga atas sikapnya tersebut.
 
Setelah pindah kantor, juga memilih keluar dari rumah orang tua untuk kos, untunglah terornya juga berhenti. Saya sempat trauma dan jadi sangat berhati-hati menjalin hubungan dengan pria. Tetapi, saya bersyukur pada akhirnya bisa menemukan belahan jiwa saya, yang mampu memberikan rasa aman pada saya.          
 
 

Belinda, Surabaya 
Pacar Posesif, Dilarang Berteman Dengan Cowok Lain
 
Lingkup kekerasan sudah terjadi sejak saya kecil. Pertama, ayah saya sangat sering marah dengan cara berteriak-teriak, membanting pintu atau benda apa pun yang ada di dekatnya. Ayah juga melarang saya untuk pergi, dia pasti akan mengantar jemput. Entah berhubungan atau tidak, saya jadi takut pergi ke mana-mana sendiri.
 
Setelah lulus kuliah, saya mendapat pekerjaan, tetapi tidak bisa menabung karena uang saya dipakai untuk membayar utang ayah. Adik yang tidak tahan akan kondisi ini, memilih kabur. Jadi, saya dan ibu yang menanggung utang-utang tersebut.
 
Sifat ayah yang galak juga membuat saya takut dengan pria. Saya takut disakiti, takut kalau saya punya uang nanti diambil oleh cowok tersebut. Hingga saya bertemu Satria yang aktif di organisasi keagamaan dan suka meditasi.
 
Namun baru dua minggu setelah jadian, Satria mulai marah tanpa alasan yang jelas. Setelah saya desak apa alasannya, ternyata karena saya duduk bersebelahan dengan rekan kerja pria di kantor. Pernah satu kali, saya mengenakan baju dari nenek saya, Menurutnya baju batik itu terlalu ketat, dan dia mulai mengata-ngatai saya dengan sangat kasar.
 
Selama berpacaran selama kurang lebih satu setengah tahun, hampir setiap bulan Satria pasti mengucapkan kata putus. Harus saya duluan yang minta maaf, barulah dia yang minta maaf. Terkadang, saya membalas perkataannya dengan kata-kata yang juga kasar. Padahal sebelumnya saya tidak pernah menggunakan kata-kata makian tersebut.
 
Puncaknya, saya menemukan bahwa dia sering berkirim e-mail dan pesan pendek dengan seorang wanita. Saat saya minta dikenalkan dengannya, Satria bersikeras bahwa tidak ada hubungan apa-apa, malah balik memarahi saya. Dua minggu setelah kejadian itu, dia memutuskan hubungan kami. Saat saya tanya alasannya, katanya rasa cintanya sudah tidak ada lagi.
 
Walaupun sedih, saya mengiyakannya. Kami sempat saling bertukar SMS, tetapi selalu berakhir dengan dia memaki-maki saya. Sakit hati saya makin tak terbendung, saya pun memilih untuk mengakhiri semuanya. Mata saya sepertinya baru terbuka bahwa dia sangat penuntut, pencemburu, sehingga saya sempat kehilangan teman-teman dan keluarga.
 
 

Anggita, Bandung
Ternyata, Dia Suami Orang
Beberapa waktu lalu, saya kenal dengan seorang pria di dunia maya, dia di Jakarta, saya di kota lain. Sepertinya dia sangat baik, sehingga saya bisa mempercayainya seratus persen. Hanya perlu waktu satu bulan sebelum kami memutuskan untuk berpacaran.
 
Enam bulan kemudian, pertama kalinya saya bertemu dengan dia di Jakarta. Saat kencan, dia juga terlihat sangat sopan. Anehnya, waktu saya minta melihat rumahnya, dia menolak. Alasannya, belum siap.
 
Saya juga tidak curiga, mungkin juga terlalu dini dan saya tidak mau memaksanya. Suatu kali, ketika kami sedang dugem, ponselnya tertinggal di meja. Ada pesan pendek masuk, saya iseng membukanya, dan ada tulisan: “Pulang jam berapa? Istri hamil delapan bulan nggak diurusin?”
 
Saya kaget setengah mati. Pacar saya ternyata sudah beristri, dan istrinya sedang hamil pula!
 
Begitu dia kembali ke meja, saya langsung menegurnya di depan umum, dan saya tinggalkan dia. Awalnya dia tidak terima dan menganggap saya tidak sopan karena membuka ponselnya. Tetapi saya tidak peduli, saya bergegas kembali ke kota saya.
 
Sejak saya pergi itulah, teror mulai muncul. Entah bagaimana caranya, dia bisa akses ke facebook, e-mail, dan akun-akun sosial media saya yang lain. Dia bahkan mengancam semua teman pria yang ada di daftar teman facebook saya. Dia juga sering menelepon rumah, setiap hari berdering dari pagi hingga malam, sampai saya cabut kabel teleponnya.
 
Orang tua tidak tahu masalah ini, saya cuma bilang ke orangtua bahwa banyak telepon tidak jelas, sebaiknya dicabut saja.  Saya juga malu, karena sudah berpacaran dengan suami orang. Apa kata keluarga saya… Terkadang saya menangis dan sedih, tetapi saya tidak mau membicarakannya dengan mereka.
 
Untunglah teman-teman membela saya. Bahkan mereka balik mengancam akan melaporkan dia ke istrinya jika terus mengganggu saya. Saya rajin mengganti password facebook dan e-mail. Saya block dia di semua akun sosmed, termasuk Whatsapp. Saya juga mengganti nomor ponsel saya.
 
Entah karena bosan atau sudah menemukan mangsa baru, akhirnya dia berhenti meneror saya setelah enam bulan. Saya sangat bersyukur dia sudah tidak mengganggu saya lagi di dunia nyata.
 
 

Kalista, Jakarta
Jadi ‘Ketagihan’ Di-KDRT
 
Saya menerima dan menikahi Dimas karena dia mau jujur mengungkapkan masa lalunya, termasuk wanita-wanita yang pernah menjadi kekasihnya. Tahun pertama tidak ada masalah yang berat, tahun kedua mulai kelihatan ada masalah. Tiba-tiba mantan istrinya minta bertemu, dan dari dia saya baru tahu bahwa pasangan saya belum resmi bercerai masih dalam proses, yang selingkuh adalah pasangan saya, bukan mantan istrinya.

Di tahun ketiga, sepertinya dia ‘kumat’ lagi berhubungan dengan seorang mahasiswi. Di tahun keempat, iseng-iseng saya minta tolong teman yang bekerja di kantor provider ponsel, untuk melihat catatan teleponnya. Ternyata, terbongkarlah bahwa dia memiliki tiga kekasih, satu di luar kota, dua lagi di Jakarta, salah satunya adalah mantan istrinya. 
 
Ketika saya menanyakan hal ini, awalnya tidak mengaku, tetapi dia berkata kasar bahkan memukul. Kekerasan sudah menjadi ‘makanan’ saya sehari-hari. Dari didorong, ditampar, hingga dicekik dan ditendang, semua sudah saya alami.
 
Untuk keluar dari hubungan ini, terus terang tidak mudah. Dia sangat posesif, bisa menunggui saya untuk pulang kantor bersama, posisi saya terus dicek, meeting dengan siapa, dan sebagainya. Begitu dia merasa cemburu, ketika pulang pasti ada ribut-ribut, yang biasanya diakhiri dengan main tangan. Saya melawan kata-katanya, dan kekerasan itu akan semakin keras.
 
Mungkin tidak masuk akal, tapi kekerasan menjadi hal yang biasa buat saya. Seperti penyakit, kekerasan ini menular. Saya jadi ‘menikmati’ kekerasan tersebut. Kalau dia tidak melakukannya, ada yang aneh. Rasanya ada yang hilang. Jangan-jangan, dia tenang-tenang, karena dia sudah punya selingkuhan baru di luar.
 
Posisinya pun terbalik. Saya jadi posesif, takut jika sampai dia meninggalkan saya, bahkan saya mengancam untuk bunuh diri jika dia meninggalkan saya. Saya menyilet-nyilet tangan saya, sepertinya memang hati dan pikiran saya sudah tertutup.
 
Ada satu titik yang membuat saya pada akhirnya ingin menyudahi hal ini. Pertama, dia berselingkuh dengan teman SMA saya, yang saya anggap tidak ada apa-apanya dibanding saya. Rasanya terhina sekali. Kedua, saya mulai mapan dengan usaha saya di bidang EO.
 
Tetapi, perpisahan bukan berarti Dimas berhenti meneror saya. Dia bahkan menggedor-gedor pintu kos saya, dengan bilang bahwa saya tidur dengan laki-laki, padahal mereka semua adalah anak buah saya. Untunglah anak buah juga melindungi saya, mereka mengusir dan perlahan-lahan memberikan saya sejumlah masukan untuk meninggalkan dia. Setelah delapan tahun bersama dengannya, saya memberanikan diri untuk mengakhiri hubungan ini. (f)
 
Baca Juga:

Wanita Masa Kini Memperhatikan Rekam Jejak KDRT Dan Poligami Calon Pemimpin Politik
Dari Kasus Via Vallen, Jang Ja Yeon, dan Artis Dunia lainnya, Benarkah Pelecehan Seksual di Dunia Hiburan Dianggap Hal Biasa?