Foto: 123RF

Menurut Mia Redrick, penulis buku Time for Mom-Me: 365 Daily Strategies for A Mother’s Self-care Paperbackme time ternyata memberi efek positif untuk menjadi ibu yang lebih baik. Dengan rehat sejenak tanpa embel-embel anak, suami, pekerjaan, dan rumah, wanita bisa menemukan keseimbangan hidupnya. Begitu pula dengan pikiran dan tenaga, yang kembali aktif setelah terkuras oleh rutinitas.

Menyadari akan pentingnya me time, lima pria ini sepakat bahwa me time untuk istri justru membuat hubungan rumah tangga makin harmonis. Simak cerita mereka di halaman-halaman berikutnya.

​Baca juga: 
Jadi Ratu Setelah Menikah
Suka & Duka Wanita Saat Menjadi Sopir Keluarga
7 Hal Pembuat Suasana Makin Romantis Menurut Pria​

 
 


Foto: Dok. Pribadi

Mario Wirawan (38), Tahu Sama Tahu
Menurut saya, me time sangat penting untuk menghilangkan stres. Apalagi istri saya, Marlyn Agnes Pantouw (37), adalah ibu rumah tangga yang tiap hari selalu siaga mengurus rumah dan anak-anak. Saya sangat menyadari kesibukannya yang sangat padat.

Dengan semua waktunya yang selalu tercurah untuk keluarga, saya merasa ia butuh istirahat sejenak. Itu sebabnya, saya selalu memberinya kebebasan untuk melakukan apa pun yang ia sukai di waktu luangnya. Saya pun yakin dengan begitu ia akan merasa lebih baik dan tentunya bahagia.

Hal paling sederhana ketika ia ingin ke salon. Walaupun bisa memakan waktu dua hingga tiga jam, saya tidak pernah komplain. Wanita mana, sih, yang tidak
bahagia saat sedang di salon. Sudah beberapa kali juga, istri meminta izin saya untuk jalan bareng teman-temannya liburan ke luar negeri. Ia pernah pergi ke Singapura dan Bangkok hanya bersama teman-temannya.

Saya tidak pernah melarang dan memberinya batasan. Saya percaya, dengan kelonggaran yang saya berikan, ia tidak akan berbuat yang aneh-aneh. Kuncinya adalah komunikasi yang baik di antara kami. Dengan komunikasi yang intens, apa pun yang dilakukan, dengan siapa dan ke mana pun, kami sama-sama tahu.

Saya percaya, dengan memberikan waktu luang untuk istri, hubungan pernikahan kami yang sudah berjalan 12 tahun ini tetap harmonis.
 
 
 


Foto: Dok. Pribadi

Rio Satria Prayogo (37), Kembali ke Aura Positif
Dua anak kami masih kecil dan sangat aktif. Saya bisa merasakan bagaimana sibuknya istri saya, Wita Aprillia (31), tiap hari. Saya juga tidak ingin ia menjadi stres di rumah sehingga menurut saya penting sekali memberikan waktu luang untuknya. 

Dengan memiliki me time, ia bisa relaks. Terbukti, tiap kali ia menghabiskan waktu sendiri, ia kembali ke keluarga dengan aura yang baik dan terlihat makin cantik di mata saya. Memang, saya tidak pernah membatasi waktunya untuk me time. Kapan pun ia mau, ia bisa melakukannya. Hanya, bila anak-anak sangat membutuhkan ibunya, ia harus siap mengorbankan urusan pribadinya.

Selain menjadi ibu rumah tangga, istri saya juga berprofesi sebagai penata rias profesional. Jadi, ia juga harus bisa mengatur waktu untuk dirinya sendiri, pekerjaan, dan keluarga. Dengan mendukung kebutuhan masing-masing, hubungan kami lebih baik.

Selain itu, selama 4 tahun menikah, rasanya me time yang dilakukan istri saya tidak ada yang berlebihan. Biasanya, sih, ia memilih untuk membuat make up tutorial dengan duduk di depan kaca sambil merias diri sendiri dan merekamnya. Itu pun dilakukan maksimal 2 jam, saat anak tidur. 

Bagi saya, tidak masalah jika saya harus menjaga anak-anak saat ia me time. Dengan begitu ia juga merasa lebih diperhatikan.
 
 
Foto: Dok. Pribadi
 
Andry Siahaan (35), Mencegah Konflik
Waktu me time sangat perlu diberikan kepada istri saya, Cicilia Sevianne (36), agar ia bisa melepas penatnya sebagai ibu sekaligus pekerja kantoran. Saya menyadari, berperan ganda itu tidak gampang. Pasti ada emosi yang terbawa pulang. Apalagi jika anak kami, yang berusia 4 tahun, sedang manja-manjanya.

Saya membebaskan istri menikmati ‘kesukaannya’ selama tidak mengabaikan kewajiban sebagai ibu. Yang terpenting tidak sibuk main gadget. Saling memberi kebebasan inilah yang membuat rumah tangga kami yang sudah berjalan 6 tahun menjadi lebih stabil.

Pada prinsipnya saya percaya tiap orang yang pikiran, hati, dan tubuhnya dibatasi oleh orang lain, bisa memicu konflik. Bermula dari cemburu, curiga, hingga berujung pertengkaran yang tidak jelas. Untuk mencegahnya, kami sepakat untuk berkomunikasi dan membuat batasan, misalnya tidak menghabiskan uang banyak, ingat waktu dan keluarga, pergaulan sehat, dan tidak selingkuh. Selain itu, saya juga tahu teman-temannya, jadi tidak ada alasan untuk melarangnya pergi menonton atau yang lainnya.

Di saat ia sedang menikmati kebebasannya, saya main dengan anak atau mencari kesibukan yang sesuai dengan hobi saya. Secara tidak langsung kepercayaan pun tumbuh dengan sendirinya tanpa kita sadari, karena selalu berpegang pada komitmen.
 
 

Foto: Dok. Pribadi
 

Christ Martin K. (37), Siap Menggantikan Peran
Kesibukan istri, Farah Iskandar (35), yang bekerja tiap hari menjalankan bisnis keluarga sekaligus antar-jemput anak ke sekolah tentu membuatnya lelah. Apalagi tiap Senin ia juga menjalankan profesinya sebagai dokter di sebuah klinik di Jakarta Barat. Karena itu, saya tidak pernah melarangnya, jika ingin menikmati waktu luangnya dengan memanjakan diri.

Saya juga tidak memberikan batasan waktu dan jarak, selama kegiatan me time yang ia lakukan masih dalam tahap wajar. Kapan pun ia mau menyenangkan diri sendiri, seperti ke spa atau pijat, silakan saja.

Saya pun selalu siap menggantikan perannya mengurus rumah dan kedua anak kami. Apalagi saya juga kenal dengan sahabatnya, maka tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

Adanya me time ini ternyata sangat efektif untuk membuatnya kembali bersemangat untuk kerja dan mengurus rumah tangga. 

Jujur saja, kebiasaan istri memunggah foto kebersamaannya dengan teman-temannya saat liburan di media sosial juga menjadi penenang buat saya. Jadi, saya tahu kegiatannya, meskipun jauh, seperti saat ia sedang liburan di Bali dan Singapura tanpa saya.
 
 
Foto: Dok. Pribadi

Joey Siagian (36) Kebebasan Milik Pasangan

Menurut saya, tiap orang perlu me time untuk bisa lepas dari rutinitas dan kejenuhan sehari-hari. Caranya bisa dengan mencari kesibukan baru atau sekadar refreshing. Saya pun tak melarang istri saya, Ricca Maramis (33), untuk memiliki me time, karena ini adalah hak istri untuk menikmati kebebasannya sendiri tanpa perlu diatur.

Apalagi saya paham, pekerjaannya sebagai ibu rumah tangga dengan 2 anak yang masih kecil pasti melelahkan tiap harinya. Karena itu, apa pun kegiatan, waktu, dan tempatnya, ia bebas melakukan kesenangannya. Bahkan, ke luar kota ataupun luar negeri. Jadi, me time yang dilakukannya jangan diartikan sebagai kebijakan yang saya buat dalam rumah tangga kami, melainkan kebebasan yang harus dimiliki siapa saja. Bagi saya, istri adalah partner hidup, bukan karyawan.

Kalaupun dia ingin jalan ke salon atau hang out dengan teman-temannya, pasti dalam kondisi rumah dan anak-anak baik dan terjaga. Dia pun selalu mengomunikasikannya dengan saya terlebih dahulu. Dengan saling percaya pada prinsip kebebasan untuk me time, pernikahan yang kami bina selama 7 tahun malah makin mesra. (f)