
Foto: Fotosearch
Memiliki pasangan berkebangsaan berbeda bukan hal baru. Tidak sedikit wanita Indonesia menganggap pria dari Barat lebih baik, tapi tidak sedikit pula yang menganggap pria Indonesia lebih baik ketimbang pria Barat.
Bagaimana kenyataannya? Simak cerita dari dua sahabat Femina berikut:
Friska Julistia, 28, Bangkok, Siap Saling Kompromi
Dulu, tak pernah terbersit punya pasangan pria Barat. Malah, saya berimajinasi punya pacar orang Korea. Maklum, ketika masih kuliah saya hobi nonton drama Korea, sehingga persepsi saya pria Korea itu keren dan romantis. Eh sekarang malah punya suami orang Amerika.
Saya dan suami, Jackson Smith butuh waktu 2 tahun berpacaran agar bisa beradaptasi menerima kebiasaan dan budaya masing-masing. Contohnya, saya tahu bahwa kebanyakan orang Barat sangat menghargai waktu. Awalnya sangat sulit terbiasa bersama Jack yang sangat tepat waktu, sementara saya tumbuh besar dalam budaya ‘alon-alon asal klakon’. Bahkan pernah, dia meninggalkan saya di tengah janjian kencan karena saya telat datang 15 menit. Dia bilang, "Jangan mengharapkan saya bisa menghargai kamu, kalau kamu saja tidak bisa menghargai waktu kita bersama."
Jujur, dulu berpikir saya tak akan bisa menjadi istri pria seperti Jack, yang kelihatan begitu tegaan. Tapi, kok lama-kelamaan, tanpa disadari, saya justru belajar banyak. Saya jadi terbiasa tepat waktu, melakukan sesuatu dengan cepat dan tidak menunda pekerjaan.
Kami akhirnya menikah Juli 2016. Jika saat pacaran saya banyak belajar budayanya, kini setelah menikah giliran Jack yang harus berkompromi dengan kebiasaan keluarga Indonesia. Misalnya, saat pulang kampung ke Kuningan, Jawa Barat, ia harus terbiasa dengan kebiasaan orang kampung yang sangat guyub dan kekeluargaan. Bahkan dia kaget ketika tetangga yang jaraknya berkilo-kilometer jauhnya bisa sangat dekat satu sama lain.
Dia bilang bahwa dia sangat menyukai keramahan dan perhatian orang Indonesia yang sangat tulus. Ia merasa seperti memiliki keluarga besar yang benar-benar banyak ketika saya ajak pulang kampung, Lebaran lalu.
Tapi memang, tak dapat dibohongi, kadang dia lelah harus meladeni keluarga yang serba ingin tahu, sementara Jack dengan budaya Baratnya cenderung sangat menghargai privasi.
Pada akhirnya, ketika memiliki suami orang Barat adalah tentang bagaimana saling menghargai perbedaan dan bersedia untuk berkompromi.
Carmeleo Nascha, 29, Jakarta, Tak Mau Culture Shock
Saya pernah tinggal dan bekerja di Bali selama 2 tahun. Suatu hari, saya kedatangan teman-teman wanita saya dari Jakarta. Mereka heboh, berusaha mencari kenalan pria Barat selama waktu berlibur di sana. Hal yang menggelikan adalah mereka juga menanyakan apakah saya sudah ‘berhasil’ menggaet pria kulit putih dan apakah saya sekarang tinggal bersamanya.
Saya jadi tahu, rupanya ada anggapan bahwa wanita muda dari Jakarta yang tinggal di Bali punya tujuan mencari pria Barat. Tidak bisa disangkal, memang ada yang seperti itu. Tapi, tidak bagi saya. Saya pindah ke Bali karena sangat menyukai alam dan gaya hidup di Bali yang lebih santai. Saya ingin lari dari hiruk-pikuk kota besar semacam Jakarta.
Daripada melirik surfer seksi Australia, saya justru lebih menyukai pria lokal yang berkulit legam dan aksen yang terdengar eksotis di telinga saya. Menurut saya, wajah pria Indonesia itu lebih manis ketimbang pria asing. Ini masalah selera saja, sih. Kebetulan saya lebih suka kepada pria hitam manis.
Meskipun selera fisik saya lebih condong ke pria Indonesia, beberapa kali saya pernah berpacaran dengan pria asing. Tubuhnya yang tinggi besar dan pikiran yang terbuka yang membuat saya tertarik mengenal pria-pria lebih dekat. Namun, entah mengapa, saya selalu merasa kurang sreg pada akhirnya.
Pernah saya bertengkar dan lalu menangis. Bukannya dibujuk, saya malah dimarahi. “Don’t act like a baby!” katanya. Dia sangat tegas. Dia juga bicara apa adanya, yang terkadang membuat saya sakit hati. Saya juga ternyata sulit beradaptasi dengan kebiasaannya yang sangat tepat waktu dan segala sesuatu harus direncanakan dulu. Berbeda dengan saya yang terbiasa santai.
Beberapa kali pacaran dengan pria asing, ternyata saya merasa tak cocok. Kalau dengan pria Indonesia, bisa lebih santai karena karakter kami sama, easy going, saling mengerti, tidak perlu ada gesekan culture shock. (f)
Baca Juga:
5 Fakta Unik dan Panas Tentang Pria, Bagi Anda yang Sedang Pendekatan
Kisah Tiga Pria, Adil Berbagi Peran Domestik dengan Pasangan
Ramalan Zodiak: Ingin Sembuh dari Patah Hati? Cek Kata Zodiak Anda