Foto: 123RF

Sebagai generasi yang menjalani masa remaja tanpa internet, pengetahuan seks yang saya dapati adalah hasil bisik-bisik dan beragam mitos nirfakta yang beredar dari mulut ke mulut. Tentu saja, tak ada yang bisa menjamin keabsahan semua informasi ini. Siapa yang bisa membuktikan kalau terlalu banyak bermasturbasi dapat membuat dengkul “kopong”, atau perempuan dengan alis lebat dan hampir bertautan sudah pasti memiliki nafsu seks yang juga besar? Apakah benar, pria dengan jempol kaki besar juga memiliki penis yang besar?
 
Sehijau Rumput Lapangan
Tak pernah ada penjelasan masuk akal seputar seks yang pernah kami terima semasa remaja dulu. Kalau pun ada penjelasan sahih seputar seks, biasanya didapat di sekolah, lewat bab anatomi di mata pelajaran biologi yang disampaikan secara ogah-ogahan oleh sang guru, seolah dia sedang membaca  sebuah buku membosankan yang tak sabar ingin dituntaskannya saat itu juga.

Penjelasan nama-nama alat reproduksi yang harus kami hafalkan saaat ujian itu tak juga berakhir dengan informasi seputar seks yang ingin sekali kami ketahui. “Alat kelamin tidak boleh disentuh kecuali sedang buang air. Dosa!” begitu kata guru biologi saya saat mengakhiri kelasnya.  
            
Apakah dengan dogma dosa ini berakhir segala rasa ingin tahu saya dan teman-teman? Tentu saja tidak. Hormon remaja yang sedang menggila mengalahkan intimidasi surga-neraka guru biologi. Akibatnya, mitos-mitos seputar seks itu terus berkembang, lengkap dengan bumbu yang entah berasal dari mana, menyebar bagaikan virus yang tak terkendali.

Sialnya, mitos-mitos ajaib ini perlahan berubah menjadi keyakinan yang kami pegang teguh, bahkan ketika kami sebenarnya cukup dewasa untuk mempertanyakan atau berdebat logika di balik semua info menyesatkan itu. Ketika akhirnya saya menyadari tak satu pun mitos yang saya dengar semasa ABG itu benar – atau bahkan masuk akal – saya hampir memasuki usia 20-an. Masa di mana saya mengalami pengalaman seksual saya yang pertama.

Bisa ditebak, ketakutan utama saya waktu itu adalah bagaimana jika pasangan saya tidak puas dengan ukuran perkakas yang saya miliki? Maklumlah, saya bukan termasuk golongan “jempol besar”, salah satu mitos yang sering dibahas kala SMA dulu.  Meski dari beragam artikel yang saya baca, ukuran saya termasuk dalam kategori menengah, mitos jempol besar itu terlanjur mengganggu dan masuk di kepala. 

Belum lagi peer pressure dari teman-teman yang sudah berhubungan seks, menikmatinya dan berbusung dada karena pasangan mereka sangat puas dengan percintaan mereka. Semua ini membuat saya semakin tertekan. Untunglah “first trial” saya bersama pasangan berjalan lancar. Mantra size doesn’t matter yang sering didengungkan pakar seks ternyata ada benarnya juga. Tak perlu ukuran besar untuk mencapai kepuasan seks. So, bye-bye mitos jempol besar.

Selain masalah ukuran, ejakulasi dini juga menjadi salah satu kekhawatiran pria di usia 20-an. Meski saya tidak mengalaminya, banyak teman-teman saya mengakui olok-olok kami seputar “edi tansil” (ejakulasi dini tanpa hasil) berubah menjadi rasa takut yang sebenarnya.

Meski sejumlah studi menyimpulkan sebagian besar penderita disfungsi ereksi berusia di atas 40-tahun, studi-studi itu juga menyebutkan pria berusia 20-an rentan mengalami gangguan seksual ini, terutama jika mereka mengalami depresi, atau obesitas. Dan jangan salah, minimnya pengalaman bercinta juga dapat berujung pada ejakulasi dini, akibat ketidakmampuan sang pria mengontrol timing orgasmenya.  Sahabat sebangku saya waktu SMA mengakui dirinya berlatih keras agar mampu memperlambat waktu orgasmenya, bahkan menyesuaikannya dengan situasi dan kondisi (1-2 menit jika sedang quickie, dan 1-2 jam dalam kondisi tak terburu-buru). Dan dengan berlatih keras, tentu saja yang dia maksud adalah bermasturbasi sesering mungkin – sesuatu yang mitos dahulu kala sebutkan menyebabkan dengkul para pria muda mengalami osteoporosis dini.

(Klik page di bawah untuk melanjutkan artikel)
 
 
 
           
Foto: 123RF
 
Dikejar Raja Singa
Di usia 30-an, terjangkit penyakit kelamin menjadi salah satu ketakutan saya. Bagi sebagian orang, kondisi keuangan yang semakin stabil ternyata berbanding lurus dengan keinginan untuk berbuat nakal.

Seorang teman saya yang mengaku tidak aktif secara seksual di usia 20-an, ternyata memulai hobi kencan bebasnya ketika berusia 31 tahun, saat kariernya makin menanjak sebagai eksekutif muda di sebuah perusahaan tambang.

Dengan alasan tidak nyaman – dan kelangkaan stok di lokasi tambang tengah hutan Kalimantan tempat dia bekerja, dia pun hampir tak pernah memakai pengaman saat berhubungan badan. Bisa ditebak, dengan hobi gonta-ganti pasangan, dalam hitungan bulan teman saya itu pun terjangkit penyakit gonorrhea. Pengobatan yang makan waktu lama membuat dia akhirnya kapok berhubungan tanpa pengaman dan memilih berkomitmen seks dengan satu orang saja. Pengalaman teman saya ini sudah cukup membuat saya paranoid dan selalu memakai pengaman saat berhubungan seks.

Sama seperti pria-pria lain di usia 30-an, bertahan lama di ranjang sempat menjadi obsesi bagi saya. Sebuah obsesi global yang dipahami betul oleh klinik-klink masalah seksual dan puluhan perusahaan farmasi yang beramai-ramai menawarkan beragam obat kuat yang bisa membuat Anda perkasa layaknya Bima atau Samson.    Bombardir iklan dan promosi pun makin hari makin mengaburkan batasan “tahan lama” tersebut. Misalnya, seorang pesohor pria Indonesia yang menjadi bintang iklan minuman suplemen pria mengaku bisa bertahan 4-5 jam sebelum ejakulasi berkat produk yang dipromiskannya. Isinya? Aneka ragam tanaman herbal dari berbagai pelosok dikemas dalam bentuk pil atau minuman kesehatan dan diiklankan sebagai “sahabat pria untuk memuaskan pasangan.”

Tentu saja, at the end of the day, pola hidup sehat adalah kunci menjaga performa kita di tempat tidur. Apakah anda bisa bertahan sampai berjam-jam atau dalam hitungan menit saja, tidak menjadi tolok ukur kepuasan pasangan. Satu hal yang pasti, sejak zaman Masters & Johnson sampai era buku panduan seks “The Joy of Sex” dan novella heboh “Fifty Shades of Grey”, pemanasan yang memuaskan akan bermuara pada hubungan seks yang memuaskan juga

Karena foreplay yang lama, artinya eksplorasi yang kita lakukan pada tubuh dan titik-titik erotik pasangan juga lebih lama dan mendalam yang akan berujung pada ledakan orgasme saat hubungan seks yang sebenarnya.
           
Dihantui Masalah Medis
Memasuki usia 40, saya tidak lagi menganggap keperkasaan di ranjang sebuah prioritas. Well, bukan berarti saya lalu berubah menjadi pria loyo yang tidak bisa memuaskan pasangan. Di usia ini, ada sebuah kekhawatiran yang lebih menggangu pikiran saya disbanding urusan seks belaka. Ya, apalagi kalau bukan masalah prostat.       Kelenjar prostat bentuknya seperti kelenjar kecil yang letaknya antara penis dan kandung kemih dan berfungsi memproduksi air mani. Meski ukurannya hanya sebesar buah kenari, kalau mengalami pembesaran, ia akan menjadi seukuran buah jeruk.

Dua masalah medis prostat lain selain pembesaran adalah peradangan dan kanker prostat. 15 persen pria di usia 40 mengalami masalah pada prostatnya. Berolahraga teratur, banyak minum dan tidak menunda-nunda buang air kecil adalah pencegahan masalah prostat sejak dini yang saya lakukan dan menjadi rutinitas yang tak bisa ditawar lagi.

Saya tidak tahu kekhawatiran seks apalagi yang akan muncul jika saya menginjak usia 50, 60, atau – kalau saya masih beruntung – 70 tahun. Boleh jadi, tidak akan ada lagi kekhawatiran soal seks karena semua masalah seputar urusan ranjang telah teratasi berkat beragam penemuan teknologi di masa depan. Satu hal yang pasti, mitos-mitos semcam “si jempol besar” akan terus menghiasi obrolan seks para ABG, sampai tiba waktunya muncul pendidikan seks memadai yang bukan sekadar tempelan dalam kurikulum sekolah kita.(f) 


Johannes Kambey (Kontributor)