
Foto: 123RF
Soal hubungan asmara, generasi millennial lebih berani ambil risiko. Menurut survei femina yang diikuti oleh 1.494 responden usia 18-36 tahun, tujuan hubungan 84% responden adalah menikah. Berani berbekal cinta, mereka siap membangun rumah tangga--meski tak tahu apa yang akan dihadapi nantinya. Kabar baiknya, para pasangan muda di bawah 30 tahun ini umumnya punya target bersama yang jelas dan harus dicapai setelah menikah. Seperti cerita cinta tiga pasangan ini.
Target Hidup yang Jelas
Taufan Maulana, 26, Menikah, Wirausaha
Saya menikah dengan Intan Dwinovioanti (27) setelah tujuh tahun pacaran, di awal tahun 2016. Padahal target kami menikah antara umur 29-30 tahun, setelah karier sukses.
Setahun bekerja, kesiapan finansial yang saya prioritaskan, ternyata belum tercapai. Kami pun bertekad lebih serius dengan cara membuka tabungan bersama untuk biaya pernikahan dan bulan madu. Cara ini berhasil, kami bisa lebih disiplin menabung.
Saya pun menyampaikan niat tersebut kepada orang tua. Awalnya, Ibu meminta saya menunggu sampai saya mapan, tapi saya menunjukkan keseriusan saya dengan berusaha memenuhi kebutuhan pernikahan sendiri. Melihat tekad saya, akhirnya ayah dan ibu saya mendukung rencana kami.
Sejak pacaran, saya merasa kami berdua bisa saling mengenal lebih baik dan mengimbangi satu sama lain. Misalnya saja, watak saya dan pasangan sangat berbeda. Saya lebih ramah dan senang bersosialisasi, sementara istri cenderung lebih pendiam ketika bertemu orang lain. Diskusi menjadi cara kami berkomunikasi sekaligus menyelesaikan masalah. Termasuk tentang rencana-rencana untuk rumah tangga kami.
Usia pernikahan kami memang masih seumur jagung, tapi kami sadar, semua tak akan berjalan seindah bulan madu. Saya merasa sifat kami yang bertolak belakang justru akan saling mengisi dan menjadi ‘rem’ untuk pasangan. Kami selalu berusaha menjaga komitmen dan tetap membuat rencana jangka pendek dan jangka panjang. Satu per satu kami mencoba memenuhi target. Bagi kami, dengan menikah target kami menjadi lebih jelas, apa yang ingin kami capai satu hingga lima tahun mendatang.
Sekarang ini, istri tengah mengandung empat bulan. Rencana terdekat adalah mempersiapkan kelahiran dan segera memiliki rumah. Sudah banyak masukan, terutama soal tumbuh kembang anak, yang kami terima. Namun, kami tetap punya pola asuh sendiri yang akan kami terapkan. Saya pun tidak memaksa istri untuk menjadi full time mother, semuanya tergantung pilihan dia.
Baca juga cerita Ade Silvia yang menikah muda dan menghadapi tantangan di tahun pertama pernikahannya.

Ade Silvia, 26, Menikah, Karyawan
Awal pacaran, saya dan suami, Bagas Rizki (26), selalu bertengkar. Kondisi ini menjadi proses kami saling mengenal dengan lebih baik.
Setelah dua tahun melewati masa adaptasi, hubungan kami mulai berjalan mulus. Ketika ada masalah, kami berusaha mencari solusinya bersama. Hingga tahun 2015, kami memutuskan menikah, walau sebenarnya kami sama-sama sedang meniti karier. Tidak sedikit yang mengatakan bahwa menikah akan menjadi penghalang mengejar mimpi. Kalau memang sudah satu tujuan dan sama-sama serius, mengapa harus menunda?
Dalam memilih pasangan, saya tidak neko-neko. Saya juga tidak terlalu mendengarkan apa kata orang, termasuk ketika saya sudah bekerja dan pasangan saat itu masih kuliah. Yang terpenting, saya nyaman dengan karakter suami saya. Ia sangat sabar dan mengenal diri saya.
Keyakinan besar saya di awal pernikahan rupanya tidak setegar batu karang. Saat saya mengandung anak pertama, suami justru berhenti dari pekerjaannya. Tentu saja saya panik, karena rencana kami harus berubah. Jujur, ini ujian besar bagi saya di awal pernikahan yang belum genap satu tahun. Kehamilan dan beban pikiran membuat emosi saya tidak terkontrol.
Untung Bagas bisa lebih sabar. Kami melihat lagi rencana-rencana yang sudah kami buat. Termasuk mengatur keuangan, karena otomatis pemasukan rutin saat itu hanya dari gaji saya. Akhirnya, kami bisa melewati masa-masa itu, hingga anak kami, Emir Mahira, lahir. Suami juga menunjukkan komitmennya dengan berusaha keras mencari pekerjaan. Kini, ia sudah kembali mendapat pekerjaan yang lebih baik.
Intinya adalah saling terbuka. Sekarang, tiap akhir minggu kami meluangkan waktu untuk ngobrol berdua di kamar dan sharing tentang apa yang terjadi selama satu minggu ini. Sedikit banyak ritual sharing ini membuat hubungan kami makin erat.
Tantangannya kini adalah pola asuh anak. Banyak masukan pola mendidik anak yang kami terima, tidak hanya dari keluarga, tapi juga lingkungan sosial. Sebagai orang tua baru ini seperti mencari jalan yang tepat di hutan belantara membesarkan anak. Kami tak menutup diri. Bagi kami, usulan apa pun dari keluarga dan teman akan kami terima, meski tak semua akan kami laksanakan. Paling hanya dari orangtua dan kakak-kakak. Bukan karena kami tidak menghargai saran mereka, tapi mana yang nyaman dan cocok saja buat kami berdua dan si kecil tentu.
Baca cerita Naya yang menolak seks bebas di halaman berikutnya

Naya, 27, Lajang, Freelancer
Saat ini, saya baru saja putus dari kekasih, setelah hubungan kami berjalan hampir satu tahun. Jujur, sampai saat ini, meski kami sudah putus, saya tidak ingin menutup kemungkinan jika ia memang jodoh saya. Menurut saya, hubungan kami bisa kembali baik, jika ia bisa berubah seperti keinginan saya.
Kalau soal cinta, saya memang cenderung keras kepala, terutama dalam memegang prinsip bahwa seseorang itu bisa berubah. Walaupun banyak orang bilang, termasuk ibu saya, bahwa sulit mengubah sifat dan perilaku seseorang yang sudah terbentuk puluhan tahun, saya cuek saja. Saya tidak peduli orang mau bilang apa, saya akan tutup kuping.
Namun, saya sadar, ketika saya tidak berhasil mengubah seseorang, dan jika hubungan kami harus berakhir, saya tidak boleh menyesal. Sakit sudah pasti, tapi saya terima risikonya. Prinsip saya, tiap orang bisa berubah. Kalau memang akhirnya dia tidak sesuai harapan saya, ya, itu proses yang harus dijalani.
Belum lama ini, saya putus dengan seorang pria, problemnya adalah komitmen. Jujur saja, target saya pacaran adalah pernikahan. Mantan kekasih sepertinya masih ingin pacaran dulu. Sedangkan saya, melihat hubungan pacaran kini makin banyak godaannya, jadi lebih baik cepat-cepat disahkan saja.
Bukannya mau sok suci, tapi saya termasuk wanita yang memegang teguh prinsip no sex before marriage. Walaupun di lingkungan pertemanan, seks sebelum menikah itu sudah biasa, saya tidak ikut-ikutan.
Kepada pasangan, saya meminta pengertiannya. Tapi, saya tak mempersalahkan bila sebelumnya ia sudah berhubungan seks dengan pasangan terdahulu. Yang terpenting, ketika bersama saya, ia bisa menghormati prinsip saya ini.
Sulit menyatukan dua pandangan yang berbeda. Namun, ketika kami tak bisa sejalan, rasanya berpisah memang cara yang terbaik. (f)
Baca juga:
Millennial: Kami Mengharapkan Pernikahan!
5 Tanda Pria Siap Menikah
5 Alasan Salah untuk Menikah