
Foto: Pixabay
Bersatunya dua orang dalam pernikahan dengan sendirinya membawa perbedaan-perbedaan yang bisa memicu perselisihan. Dan seringkali, satu persoalan itu bisa menjadi sumber pertengkaran demi pertengkaran sepanjang usia pernikahan. Inilah persoalan yang sering memancing keributan dan bagaimana solusinya? Psikolog Roslina Verauli menjawabnya.
Curhat 1: ‘Diteror’ Keluarga Suami
Suami saya adalah sulung dari 3 bersaudara. Sejak kecil ia dididik untuk bertanggung jawab kepada keluarganya, saat ini adalah ibu dan dua adik perempuannya. Sadar akan posisinya, sejak awal pernikahan, saya membebaskan suami untuk membantu keluarganya dalam hal keuangan. Sayangnya, niat baik dan keikhlasan saya itu tidak mendapat ganjaran setimpal. Meski rumah kami berjauhan, mertua dan adik-adik ipar sering meneror saya dengan komentar dan omongan buruk. Mereka selalu mengadu domba sehingga membuat saya dan suami jadi sering bertengkar. Dan sayangnya, suami tidak pernah memberi solusi yang memuaskan.
Belakangan, tanpa sepengetahuan saya, suami membayar cicilan kendaraan yang dipakai ibu mertua. Sementara, saya harus mencicil sendiri kendaraan dari gaji saya. Saya sunguh kesal karena merasa tidak dianggap. Sejujurnya, hanya cinta saja yang membuat saya mampu bertahan selama ini.
Saran:
Kerap kali bukan persoalan uang, seperti memberi bantuan keuangan pada keluarga pasangan, yang menjadi core problems dalam pernikahan. Masalah sesungguhnya justru bersumber dari loyalitas pasangan. Ketika istri merasa diteror oleh omongan buruk keluarga, seperti apa reaksi dan tindakan suami dalam menyelamatkan perasaan istrinya?
Tidak semua pasangan memiliki kemampuan mengatasi konflik yang baik. Perlu latihan, belajar, diskusi, bersama pasangan hidup masing-masing. Di Indonesia umumnya perasaan tidak enak dan mengalah pada kelompok, seperti keluarga besar, jauh lebih tinggi dibandingkan perasaan loyal pada seorang istri. Padahal. Ketika menikah, harmonisasi bersama pasangan justru yang utama. Baru setelah kokoh di dalam, kedua pasangan akan solid ke luar.
Yakinkan bahwa suami dan istri memiliki kesamaan pandangan tentang loyalitas. Bila pasangan saling sesuai, akan lebih mudah menentukan solusi yang win-win bagi istri sekaligus keluarga besar yang terkesan gemar mengadu domba atau berbicara buruk tanpa merasa ada yang dikalahkan dalam ‘pertarungan’ ini.
Curhat 2: Serasa Mengurus Rumah Sendirian
Saya menikah dengan pria asing (statusnya WNA). Masalah yang sering timbul dalam perkawinan kami adalah kebiasaan suami yang terlalu menyerahkan segala sesuatu ke saya. Dari urusan kebersihan rumah sampai urusan imigrasi. Pada titik tertentu saya merasa, tidak ada gunanya perkawinan saya karena toh saya sendiri yang mengerjakan semua fungsi kerumahtanggaan. Terkadang saya merindukan my single life. Biasanya, setelah saya marah- marah dan ngomel, baru suami turun membantu.
Saran:
Ada satu hal yang kerap dilupakan pasangan saat menikah: pembagian peran dalam mengatur dan mengelola rumah tangga. Terkesan sepele, tapi perlu dibicarakan. Tidak semua pasangan memiliki kesamaan pandangan tentang siapa yang membayar tagihan atau mencari asisten rumah tangga yang keluar masuk dan urusan tetek bengek pritilan rumah tangga. Umumnya, masing-masing akan mengadopsi apa yang terbiasa ia lihat sewaktu bersama orangtuanya dahulu. Tapi ada juga yang secara ekstrem sebaliknya, justru enggan menjadi seperti orang tua yang ia rasa dalam posisi “dirugikan”.
Pelajari dan bicarakan apa yang menjadi kecenderungan masing-masing. Sehingga bisa berkompromi tentang siapa yang akan melakukan bagian yang mana. Selalu mengalah atas nama cinta justru akan menghasilkan amarah kecil yang berkepanjangan yang kelak akan mendatangkan emosi negatif yang memudahkan muncul kemarahan-kemarahan besar yang secara perlahan memadamkan api cinta pada pasangan.
Curhat 3: Dianggap Terlalu Boros
Masalah klasik dalam pernikahan saya adalah ketika suami mulai berkata, "Makanya jangan boros, coba dihemat-hemat pengeluarannya," Di awal-awal pernikahan, saya memilih diam dan menangis diam-diam. Saya merasa gagal mengelola keuangan. Namun, lama-lama saya memilih bertindak. Setiap pengeluaran -bahkan untuk parkir seribu rupiah pun- saya catat. Jadi, ketika suami mengulang perkataannya, saya sodorkan catatan pengeluaran, dan kemudian menantangnya untuk memegang pemasukan selama sebulan. Resep ini berhasil membuat suami nyerah!
Saran:
Pernikahan melibatkan dua orang. Sehingga mudah memicu kompetisi namun juga mudah untuk menjadi kolaborasi indah untuk jalan maju bersama. Ketika pasangan mencetuskan pernyataan-pernyataan untuk tidak boros, apakah pemahaman suami tentang boros sama dengan pemahaman Anda? Pastikan yang dimaksudkan suami dan Anda adalah hal yang sama.
Diskusikan, ceritakan, dan bahas kebutuhan-kebutuhan Anda dan kebutuhan suami. Tentukan batasan, mana yang layak dijadikan pengeluaran dan mana yang tidak. Bila suami terllalu hemat dengan dirinya, bantu ia untuk tetap memiliki pengeluaran yang layak untuk diri. Bila Anda terlalu royal, minta pasangan membantu Anda menemukan celah agar lebih hemat. Pastikan, Anda berdua menyisakan bagian untuk dikelola agar dapat mengembangkan kehidupan dengan kualitas yang lebih baik kelak. Jadi lupakan perseteruan, apalagi yang bersifat menantang menang-kalah.
Curhat 4: Berbeda ‘Ideologi’ Dengan Suami
Satu tahun belakangan, saya dan suami (dengan satu balita) memutuskan tinggal di rumah orang tua saya karena usaha suami kurang memberikan hasil yang maksimal. Namanya juga nebeng, mau tidak mau suami saya harus mengikuti kebiasaan orang tua saya. Dan di sinilah yang memicu pertengkaran.
Karena saya dan suami sama-sama kerja di luar rumah, otomatis, anak saya ada dalam pengasuhan orang tua saya. Sayangnya, suami sering tidak setuju dengan gaya pengasuhan orang tua saya dan marah-marah. Saya pun balas memarahi dia karena dia sendiri tidak punya waktu untuk merawat anaknya.
Saran:
Kalau dirunut-runut, tentu akan banyak yang bisa Anda keluhkan tentang suami dengan segala kebiasaan dan tindakannya. Padahal, sedari awal dia adalah orang yang sudah Anda pilih sebagai orang yang tepat untuk dijadikan teman dalam hidup Anda. Anda tentu punya alasan untuk memilihnya dulu. Sekarang, apa yang terjadi sehingga orang yang tadinya tepat serta-merta menjadi orang paling salah sedunia?
Pahami keluhan-keluhan Anda. Bicarakan dengan pasangan. Bila perlu catat dan buat jurnalnya sehingga Anda pahami pola dan akarnya. Jangan sampai harapan-harapan Anda tentang pernikahan justru menjadi bumerang yang mendatangkan pertikaian. Harapan dalam pernikahan haruslah milik bersama. Mulai bangun harapan bersama pasangan. Mulai dari bagaimana agar Anda berdua bisa hidup secara mandiri. Cobalah saling menguatkan. Itu sebabnya kita memiliki teman hidup bukan? Untuk saling menguatkan bukan menyalahkan dan mencari kambing hitam. (f)
Baca juga:
3 Pertanyaan yang Berpotensi Menggagalkan Hubungan
Rumit, Hubungan Cinta dengan Duda Cerai Mati
Trauma Akibat Perceraian Jadi Sulit Jatuh Cinta