Foto-foto: Dok. Lifelike Pictures 20th Century Fox
 
Film Wiro Sableng Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 yang dibintangi Vino Bastian membuat novel silat yang populer di dekade 90-an ini kembali diingat orang. Tidak bisa dipungkuri, sebelum era internet seperti saat ini, novel silat menjadi salah satu hiburan bagi para remaja kala itu. Di waktu senggang usai pulang sekolah atau menghabiskan akhir pekan, biasanya diisi dengan membaca buku-buku novel. Wiro Sableng karya penulis Bastian Tito -yang juga ayah Vino Bastian- adalah novel yang banyak disukai. Bahkan, di masa kejayaannya, satu judul buku bisa dicetak hingga 900.000 eksemplar.

Bagi Anda yang belum pernah membaca novel kisah pendekar murid pendekar Sinto Gendeng dari Gunung Gede ini, berikut ini beberapa hal menarik dari Wiro:
 
 

Mendapat Nama Sableng dari Sang Guru
Namanya Wira Saksana, tapi gurunya, Sinto Gendeng menyuruhnya menggunakan nama Wiro Sableng. Hal ini dikatakan Sinto saat melepas Wiro dari 17 tahun pendidikan silatnya. Sinto sendiri bernama asli Sinto Weni, tapi karena gerak-gerik dna ulahnya seenaknya saja selama menjadi pendekar dari golongan putih (golongan baik) yang disegani, ia diberi julukan Sinto Gendeng.
 
“Gurunya gendeng, muridnya sableng,” begitu kata Sinto, beralasan.
 
 

Kapak Naga Geni 212 Buatan Sinto Gendeng
Sinto Gendeng membuat kapak maut ini selasa 10 tahun, dan sudah ia pergunakan selama 20 tahun. Kapak sakti ini diwariskan kepada Wiro Sableng sewaktu umur Wiro 17 tahun, saat ia mulai dilepas gurunya untuk berpetualangan ke dunia persilatan.
 
Meski ragu, Wiro ternyata berjodoh dengan kapak tersebut. Salah satu tandanya, saat tangannya memegang kapak, ada aliran arus dingin dalam tubuhnya, yang membuat kekuatan tenaga dalamnya yang sudah di level sempurna meningkat dua kali lipat.
 
Gagang kapak juga bisa berfungsi sebagai seruling, yang bila ditiup suaranya awalnya halus perlahan, membius, tapi lama-lama akan menguat dan membuat aliran darah pendengarnya seperti tersendat-sendat. Pendengarnya pun akan terasa pusing, hingga telinganya bisa mengeluarkan darah.
 
Ujung gagang kapak yang berbentuk kepala naga juga berfungsi untuk menembakkan jarum-jarum berisi racun.
 
Sebelum melepas Wiro pergi. Sinto Gendeng mengajari Wiro akan kekuatan Kapak. Sinto Gendeng menyuruh Wiro menyimpan kapak di pinggangnya dengan pesan hanya boleh menggunakan saat terancam nyawanya.
 

Perintah Guru Yang Membuat Anggini Mengejar Wiro
Demi ingin menjodohkan Wiro dengan Anggini, muridnya, Dewa Tuak rela menunggu Wiro selama satu tahun berdiam di dataran kaki bukit. Sebelumnya, semasa masih tinggal bersama gurunya di Gunung Gede, Wiro pernah mendapat cerita tentang kehebatan Dewa Tuak, pendekar sakti berusia 80 tahun yang gemar minum tuak.
 
Dewa Tuak menyukai Wiro sejak pertama kali melihatnya. Namun meski mengakui kalau Anggini cantik, Wiro tidak jatuh cinta pada wanita pendekar yang memiliki senjata selendang ungu itu. Karena itu, Dewa Tuak pun memerintahkan Anggini untuk mengejar cinta Wiro,dan melarangnya pulang ke pertapaan sebelum berhasil mendapatkan hati Wiro.
 
Meski awalnya Anggini mau tidak mau terus mengejar Wiro, lama-lama hatinya juga terpaut pada Wiro. Bahkan dalam petualangannya, Anggini sering menyelamatkan Wiro, salah satunya adalah saat ia menyamar sebagai Dewi Kerudung Biru merawat Wiro yang terluka parah.
 

Pangeran Matahari, Musuh Bebuyutan Wiro
Bila di film, musuh pertama Wiro adalah Mahesa Birawa, yang tak lain adalah Sunyaragi, kakak seperguruannya yang membunuh kedua orangnya. Tapi, musuh bebuyutan Wiro adalah Pangeran Matahari, pendekar dari Gunung Merapi.
 
Pangeran Matahari adalah Raden Anom, murid pendekar berjuluk si Muka Bangkai. Raden Anom berusia 19 tahun, saat sudah lulus dari tempaan gurunya. Anom adalah seorang pemuda berambut hitam tebal, berdagu kukuh dengan lagak yang congkak. Bila Sinto Gendeng memberi baju Wiro putih-putih, Muka Bangkai memberi muridnya baju hitam dengan hiasan dada berupa gunung biru dengan matahari merah di atasnya.
 
Sebelum melepas ke rimba persilatan, sang Guru memberikan wejangan, bahwa ia boleh melabrak siapapun –baik dari golongan putih maupun hitam-yang menghalangi langkahnya. Muka Bangka juga memberi tahu, bahwa lawan tanding setara Anom adalah Wiro Sableng pendekar petualang yang dididik oleh Sinto Gendeng di Gunung Gede. Menurut sang guru, satu hal keunggulan Anom dari Wiro adalah Anom memiliki kelicikan yang tidak dipunyai Wiro.
 
Nama Pangeran Matahari disematkan oleh Muka Bangkai pada Raden Anom karena pada hari ia dilepas berpetualang itu terjadi gerhana matahari. Menurut gurunya, nama itu sesuai dengan perangai Anom yang congkak dan gampang panas.
 
Pangeran Matahari memang terbukti menggunakan segala cara untuk mengalahkan Wiro. Bahkan, ia pernah menyamar menjadi juru kunci makam Pangeran Banowo untuk memfitnah Wiro sebagai pemerkosa dan pembunuh wanita.
 

Bidadari Angin Timur, Kekasih Hati Wiro
Dialah wanita yang membuat Wiro jatuh hati sejak pandangan pertama. Di film, wanita cantik ini diperankan oleh Marsha Timothy. Mereka bertemu secara tak sengaja saat Wiro harus menghadapi ulah licik Pangeran Matahari di novel berjudul Guci Setan. Mata Wiro tak mampu lepas dari wanita muda berambut panjang pirang, dengan hidung mancung mempertegas wajahnya yang sangat cantik. Tubuh dan rambut gadis itu mengeluarkan bau harum.
 
Namun, pada perkenalan pertama, si gadis mengabaikan Wiro. Gadis bernama Pandan Wangi ini bahkan tidak mau memberitahukan namanya, sehingga Wiro menjulukinya Bidadari Angin Timur. Wiro pun kian penasaran dan berusaha mengikuti gadis itu karena ingin tahu namanya. Pada akhirnya, si gadis pun terpikat hatinya pada sang pendekar, dan sering melindungi Wiro pada pertempuran. (f)