Dalam Suara Dara, Dara (Kaçamelyv Prakaça) ingin menggapai mimpi tanpa mengorbankan rencana pernikahannya dengan Alvin (Ramos Harahap). Foto: Dok. Reel Edu Park
Menjadi perempuan berdaya, bergaya dan berbudaya telah dirintis para perempuan muda Indonesia sejak lama, dan diturunkan sebagai legasi dari nilai-nilai kehidupan lintas generasi yang terus relevan dengan zaman.
Dalam film pendek Suara Dara, tokoh Dara dihadapkan pada pilihan tentang mimpi dan cinta. Namun pengalaman hidup sang nenek dan ibu memberikannya POV tersendiri untuk membuat keputusan yang memberdayakan.
Suara Dara adalah produksi film pendek perdana dari Future Film Maker (FFM), program pelatihan perfilman yang diinisiasi oleh Reel Edu Park, yang telah tiga tahun jadi wadah pengembangan talenta muda di industri kreatif.
Berkolaborasi dengan GADIS dan Femina, film ini mempertemukan talenta muda dengan para insan perfilman berpengalaman, dan dibintangi oleh Alumni Gadis Sampul 2023 dan 2025, yaitu Kaçamelyv Prakaça (sebagai Dara), Fae Bernice Robin, Odillia Chiara, Quisha Gadiza, Charlotte Alisyah Paggiaro, dan Keisha Shasmin Rilman.
Mereka beradu akting dengan aktor muda Ramos Harahap, serta aktris senior Niniek L. Karim dan Sari Nila.
Fadhlanti Satrio Sharief, Produser Suara Dara; Kaçamelyv Prakaça, Pemenang III Gadis Sampul 2023, sebagai Dara. Foto: Dok. Reel Edu Park
“Kami ingin menunjukkan bahwa cinta tidak seharusnya memaksa seseorang mengorbankan mimpinya,” ujar Fadhlanti Satrio Sharief, Produser Suara Dara dan Founder Reel Edu Park, tentang inti film pendek ini.
“Justru dalam hubungan yang sehat, cinta dan mimpi dapat tumbuh berdampingan, sekaligus menjadi warisan yang membuka ruang bagi generasi berikutnya untuk mewujudkan mimpi mereka,” kata Fadhlanti.
Proses produksi diawali melalui rangkaian workshop Future Film Maker sebagai ruang pembelajaran bagi para peserta sebelum memasuki tahap produksi profesional. Setelah melalui sesi pembacaan naskah (script reading) pada 2-3 Mei 2026, proses pengambilan gambar dilaksanakan pada 4-5 Mei 2026 di Jakarta dan sekitarnya.
Sebagai sebuah kolaborasi lintas generasi, Suara Dara juga didukung oleh para profesional yang telah berpengalaman di industri perfilman Indonesia.
Penyutradaraan dipercayakan kepada Barumun Nanda, sementara naskah film dikembangkan oleh para peserta pelatihan FFM yang dibimbing penulis skenario Titien Wattimena (Minggu Pagi di Victoria Park, Dilan 1990, Aruna dan Lidahnya) bersama tim Kata Tinut.
Sebagian pendukung Suara Dara: Niniek L. Karim, Kaçamelyv Prakaça, Fae Bernice Robin. Foto: Dok. Reel Edu Park
Tata busana film pendek ini ditangani oleh Quartini Sari (tetralogi Dilan, Negeri Van Oranje, My Stupid Boss), sementara tata rias oleh Fitri Kadarisman (5 cm, Tenggelamnya Kapal Van der Wijck, Losmen Bu Broto).
Salah satu keunikan Suara Dara adalah kolaborasinya dengan Yusak Arief, Pendiri Canting Creative Agency, dalam mengeksplorasi pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) pada proses kreatif audiovisual.
Dalam film ini, AI digunakan secara terbatas sebagai alat pendukung untuk membantu pengembangan ide dan visualisasi cerita, dengan tetap menjunjung tinggi prinsip etika, transparansi, penghormatan terhadap hak cipta, serta menempatkan kreativitas manusia sebagai pusat dari keseluruhan proses produksi.
“Teknologi akan terus berkembang. Namun yang paling penting adalah bagaimana seorang sineas mampu memanfaatkan AI sebagai medium untuk menghadirkan storytelling yang bermakna dan menyentuh penonton,” ujar Barumun Nanda, mengutip rilis pers.
Para sahabat yang mendukung setiap keputusan Dara diperankan Alumni Gadis Sampul 2025: Charlotte Alisyah Paggiaro, Fae Bernice Robin, Odillia Chiara, Quisha Gadiza. Foto: Dok. Reel Edu Park, Dok. Fae Bernice Robin
Setelah pemutaran perdana terbatas beberapa waktu lalu, Suara Dara akan menjalani rangkaian pemutaran dan pengajuan ke berbagai festival film sebelum tersedia bagi publik.
Melalui cerita yang hangat dan relatable, Suara Dara menampilkan bagaimana cinta dapat menjadi ruang untuk tetap bertumbuh, dan saling mendukung antargenerasi, serta bukti Reel Edu Park membangun ekosistem untuk pendidikan, industri kreatif, dan perkembangan teknologi. (f)
Baca juga:
Visi Para Pendiri Femina untuk Perempuan Indonesia Tetap Relevan dengan Zaman
Nawasi Laisha Ramadhania: Mengasah Empati dengan Membaca
UMKM Naik Level Bareng Polytron Seri 4 Jakarta: Bebas Boncos dari The Hidden Cost