Foto: 123RF

Bukan rahasia lagi jika banyak persoalan sosial menggantung begitu saja tak tersentuh. Harapannya, film dokumenter yang memotret realitas bisa menciptakan perubahan sosial yang lebih baik. Sebuah program bernama Good Pitch memperjuangkan dukungan pembuatan film-film dokumenter untuk menyampaikan pesan kemanusiaan kepada dunia.

Bagi sebagian orang, film dokumenter mungkin masih terasa asing. Wajar, karena berbeda dengan film komersial yang biasa disaksikan di bioskop dan televisi, film dokumenter dibuat berdasarkan fakta, bukan fiksi. Tujuan utamanya pun bukan hiburan seperti yang dicari orang saat menonton film, melainkan untuk memberikan instruksi, edukasi, atau melestarikan catatan sejarah.

Meski begitu, medium film dipilih banyak aktivis sosial atau mereka yang ingin memberi perubahan sosial, karena memang bisa lebih efektif untuk membuat orang ‘menoleh’ dan mendengarkan isi pesan yang disampaikan dibandingkan medium tertulis atau bahkan lisan. Visualisasi gambar bergerak dan audio memberikan unsur dramatikal yang bisa menyentuh perasaan. Ditambah lagi ‘aktor’ di dalam film dokumenter adalah orang-orang yang sebenarnya mengalami peristiwa itu sehingga lebih terasa nyata.

Kelahiran dokumenter pada abad ke-18 awalnya digunakan untuk mendokumentasikan prosedur pembedahan yang jadi sarana pembelajaran para tenaga medis awal abad ke-19, untuk merekam catatan perjalanan dan biografi, serta sebagai senjata politik melawan neokolonialisme dan kapitalisme, terutama di Amerika Selatan, pada tahun 1960-1970.

Baru sejak tahun ’90-an, dokumenter modern merambah panggung sinema komersial. Misalnya, Fahrenheit 9/11 (2004) karya sutradara Michael Moore tentang peristiwa serangan World Trade Center di New York yang jadi tragedi nasional di Amerika Serikat. Kehadiran film dokumenter memang bisa membawa warna baru dalam dunia perfilman. Tak sekadar menghibur, tapi ada pesan yang hendak disampaikan.

Salah satu dokumenter terkenal adalah film dokumenter independen 500 Years Later yang dibuat oleh sutradara Owen ‘Alik Shahadah, tahun 2005. Film ini menyorot dampak perbudakan terhadap orang-orang berkulit hitam asal Afrika. Film yang menuai 5 penghargaan internasional termasuk UNESCO ini dianggap bisa memberikan dampak sosial dan politik akan isu rasisme yang disentil.

Bagaimana kekuatan film bisa mengubah opini dunia juga dirasakan oleh mantan Wakil Presiden (Wapres) Amerika Serikat, Al Gore, yang menerima Nobel Perdamaian berkat upayanya memberikan penjelasan mengenai pemanasan global lewat film dokumenter. 

Saat masih menjabat sebagai Wapres AS, Al Gore telah aktif selama beberapa dasawarsa untuk menjelaskan perubahan iklim, tapi tampaknya hanya sedikit orang yang mendengar seruannya, sampai munculnya film dokumenter An Inconvenient Truth yang disutradarai oleh Davis Guggenheim tahun 2006. Film yang ditayangkan di berbagai bioskop ini memenangkan piala Oscar untuk kategori Film Dokumenter Terbaik tahun 2007, dianggap bisa membangun kepedulian dan memberi edukasi akan apa yang dapat dilakukan untuk mencegah kerusakan lingkungan.

Kekuatan film dokumenter yang mampu membawa perubahan juga dituai oleh film Give Up Tomorrow (2011). Dalam salah satu adegannya, Francisco Osmeña Larrañaga (Paco) dengan wajah memelas memohon keadilan karena ia divonis hukum mati dengan tuduhan pemerkosaan dan pembunuhan atas seorang gadis kecil yang tak pernah dilakukannya. Film yang membongkar ketidakadilan sistem peradilan dan lemahnya investigasi kriminal kepolisian di Filipina ini diputar di 60 festival di seluruh dunia dan memenangkan award di Tribeca Film Festival 2011.

Pemberitaan di media massa membuat dunia memberi perhatian pada kasus Paco. Dukungan yang datang dari seluruh dunia akhirnya berhasil menyelamatkannya dari hukuman mati dan sekaligus mengubah kebijakan dihapuskannya vonis hukuman mati di Filipina.

Seperti apa perkembangan film dokumenter di Asia tenggara? Simak selengkapnya di halaman selanjutnya.
 
 

Meski memiliki kekuatan sebagai medium perubahan, tak mudah untuk mencari investor yang bersedia membiayai film yang tidak bertujuan memberikan keuntungan materi. Demi menyokong pembuatan film-film dokumenter independen itulah, program Good Pitch dibentuk tahun 2008 di Inggris.

Program ini lahir dari inisiatif lembaga dokumenter BritDoc dan Institut Film Sundance ini terbangun akibat proyek-proyek dokumenter di Inggris terancam surut karena hilangnya dukungan dari lembaga pemerintah seperti BBC. Program Good Pitch pun menggandeng sejumlah rekan baru dari berbagai kalangan untuk mendukung pembuat film dokumenter mendapatkan bantuan dalam berbagai bentuk, mulai dari kucuran dana, tempat penayangan, relasi, publikasi, konsultasi pro bono, kebijakan pemerintah, dan banyak lagi.

Upaya ini cukup sukses bahkan melakukan perluasan jaringan ke beberapa negara di Eropa dan Amerika. Sekitar 3.000 organisasi telah terlibat kerja sama untuk mendukung lebih dari 127 film dokumenter yang beberapa di antaranya mendapat penghargaan di berbagai festival dunia.

Tahun ini, Good Pitch melebar ke region Asia Tenggara atas inisiasi organisasi nirlaba film dokumenter lokal In-Docs yang didukung oleh JIA Foundation Singapore, Ford Foundation, dan BRITDOC. Yang membanggakan, perhelatan Good Pitch2 South East Asia 2017 yang pertama kalinya digelar di Asia Tenggara ini juga menampilkan karya sineas Indonesia, Shalahuddin Siregar, yaitu Song for My Children, yang terpilih bersama tiga film dokumenter lain untuk ikut ditayangkan trailer-nya di Goethe Haus Jakarta pada 4 Mei lalu. Trailer film lainnya yang dipresentasikan adalah Audio Perpetua (Filipina), Intuition (Singapura), dan Sunday Beauty Queen (Filipina).

Keempat sutradara itu sebelumnya telah melalui tahap seleksi yang diadakan pertengahan Juli 2016. Mereka terpilih dari sekitar 80 proposal yang masuk ke Good Pitch. Setelah keempat sutradara itu terpilih, selanjutnya mereka dibekali program mentorship selama 6 bulan.

Mei lalu, keempat sutradara terpilih tersebut melakukan presentasi di hadapan lebih dari 400 undangan yang mewakili 200 organisasi dari 10 negara. “Agar bisa tembus dalam seleksi pitching Good Pitch akan dinilai tiga hal, yaitu apakah idenya bagus, pembuatnya pernah membuat film yang kualitasnya sudah diakui, dan terpenting harus bisa meyakinkan filmnya akan memiliki impact yang kuat,” jelas Mandy Marahimin, Outreach Director Good Pitch2 South East Asia.

Dari keempat film dokumenter, baru film Sunday Beauty Queen yang sudah rampung. Film sudah diputar di 21st Busan International Film Festival 2016 dan Far East Film Festival 2017. Film ini pun berhasil menuai penghargaan Best Picture di Metro Manila Film Festival dan Audience Award Winner pada CinemAsia Film Festival 2017.

Program Good Pitch2 South East Asia  sukses menghasilkan lebih dari 160.000 dolar AS (Rp2,1 miliar) dukungan dana dan kerja sama dengan lebih dari 100 pihak. Meski demikian, ajang Good Pitch bukan hanya menjadi pitching forum untuk para pembuat film dokumenter mendapatkan sokongan dana dan pendistribusian filmnya, tapi juga menekankan kerja sama antar banyak pihak. Misalnya saja, LSM, filantropis, wirausaha, korporasi, jaringan televisi, pendidik, pembuat kebijakan, dan para pelopor gerakan sosial yang berminat menggunakan film dokumenter sebagai instrumen pemicu perubahan dalam masyarakat.
 
“Jadi, ada berbagai segmen masyarakat dirangkum, diajak berkolaborasi untuk membuat film dokumenter, dan jangkauannya pun lebih banyak,” ujar Amelia Hapsari, Direktur Program Good Pitch2 South East Asia. Program Good Pitch2 South East Asia rencananya akan diadakan dua tahun sekali. Informasi mengenai program ini bisa dilihat di situs goodpitch2sea.org. (f)

Baca juga: