
Foto: Fotosearch, Dok. New Line Cinema, Dol. Next Entertainment World, Dok. Kharisma Starvision Plus, Dok. The Weinstein Company, Dok. Walt Disney Studios & Motion Pictures, Dok. Legacy Pictures, Screenshot YouTube
Tidak berlebihan jika dikatakan hidup adalah panggung sandiwara. Begitu banyak kisah dalam perjalanan hidup yang menyentuh hati kecil kita. Menonton film-film drama sedih yang menguras air mata tak sekadar menghibur perasaan, tapi juga bisa memetik pembelajaran yang memperkaya batin.
Berikut ini beberapa film drama menyentuh terbaik yang bisa dijadikan panduan maupun pengingat kita dalam menjalani drama kehidupan ini.

Percintaan beda strata sosial sering kali menjadi penghalang bersatunya hati. Begitu juga yang dihadapi pemuda miskin Noah Calhoun (Ryan Gosling) yang telanjur jatuh hati pada Allie Hamilton (Rachel McAdams) dari keluarga kaya-raya.
Hubungan mereka pun kandas karena dipisahkan orang tua, dan keduanya melanjutkan hidup masing-masing dengan menikahi orang lain. Namun, cinta mereka ternyata tidak pernah meredup.
Meski ide cerita film yang diadaptasi dari novel berjudul sama karya Nicholas Sparks ini begitu klise, penggarapan film ini begitu ciamik. Emosi kita begitu diaduk-aduk mengikuti gejolak hati mereka: jatuh cinta yang menggebu-gebu ala remaja, patah hati, sedih, dikoyak rindu, dan bahagia ketika menemukan kembali kekasih hati yang telah hilang.
Adegan paling mengharukan saat Noah dan Allie ditemukan telah meninggal bersama di ranjang panti tempat Allie dirawat. Kedua tubuh yang telah renta itu berbaring bersisian sambil saling menggenggam tangan. Air mata siapa pun yang menonton akan tumpah melihat kesetiaan cinta mereka. Tak heran jika film legendaris ini menduduki peringkat ketiga film paling romantis yang pernah dibuat.
Selanjutnya: Miracle in Cell No.7 (2013)

Yang membuat sedih adalah kenyataan bahwa sang ayah yang mengalami keterbelakangan mental terpaksa dipisahkan dari sang putri yang selama ini diurusnya seorang diri. Dengan keterbatasannya, sang ayah yang tak bersalah tak bisa menjelaskan apa yang terjadi ketika ia dituduh telah melakukan pembunuhan dan pemerkosaan terhadap seorang anak kecil.
Sejak pertama film diputar hingga akhir cerita, emosi sedih penonton habis-habisan dikuras. Film ini berhasil menohok rasa empati kita yang melihat ketidakadilan terhadap orang yang tak berdaya dan bagaimana mengharukannya cinta di antara ayah-anak yang tak terpisahkan ini. Film ini bisa dibilang film drama terbaik dengan kisah paling mengharukan.
Selanjutnya: Heart (2006)

Pada masanya, film Indonesia ini pernah sukses membuat penontonnya baper massal dan bertengger sekian minggu di layar sinema. Saking mengharukannya, akting Nirina Zubir yang berperan sebagai Rachel dalam film ini langsung mengangkat nama Nirina menjadi aktris pendatang baru yang paling dipercaya untuk memerankan sosok remaja dalam film-film drama romantis.
Dalam persahabatan, terkadang cinta platonis antara pria dan wanita tak terhindarkan. Begitu juga yang diangkat dalam kisah persahabatan dan percintaan di film ini. Hanya, ending film ini tak semanis rasa cinta itu sendiri.
Selanjutnya: Lion (2016)

Terpisah jarak puluhan ribu kilometer India-Australia tidak membuat Saroo (Dev Patel) tercabut dari akar masa lalunya. Film produksi Australia-Amerika yang diangkat dari kisah nyata ini menceritakan bagaimana takdir hidup membawa seorang bocah India berusia 5 tahun diadopsi oleh keluarga di Australia.
Tak hanya disuguhi sinematografi yang indah, alur ketegangan dan kesedihan yang diciptakan dari adegan masa lalu ke adegan masa kini sukses mengaduk emosi penonton. Kesukaran demi kesukaran yang dihadapi menjadikan Saroo (yang juga berarti Lion) seorang anak lelaki bermental tangguh.
Meski hidupnya kini telah berkecukupan di Australia, hati kecil Saroo berontak untuk mencari asal-usulnya yang terkubur selama 25 tahun terpisah dari keluarganya di India. Lewat bantuan Google Maps dan sekeping memori, Saroo bak menyusun puzzle untuk menemukan jalan pulang. Momen pertemuan dengan ibu biologisnya menjadi saat-saat paling mengharukan.
Begitu menyentuhnya kisah Saroo, film yang dengan mudah membuat air mata tumpah ini menerima beberapa penghargaan, termasuk Oscar.

Film yang dibintangi sekaligus diproduseri aktor kenamaan Bollywood Aamir Khan ini menggandeng Walt Disney Pictures untuk bekerja sama. Film yang dibuat berdasarkan kisah nyata ini pun menuai sukses besar masuk dalam jajaran box office Bollywood. Kunci suksesnya, film ini menyentuh hal-hal sederhana, tapi sangat bermakna dalam perjalanan hidup seseorang.
Balutan hal-hal yang humanis, seperti perjuangan, kasih sayang seorang ayah terhadap anak-anaknya, dikemas begitu apik, membuat penonton larut dalam ambisi pegulat senior India Mahavir Singh Phogat (Aamir Khan) dalam mengantarkan kedua anaknya, Gheeta Phogat (Fatima Sana Saikh) dan Babita Kumari (Sanya Malhotra), menjadi wanita pegulat dunia.
Mahavir selalu menanamkan keyakinan kepada kedua putrinya bahwa mereka mampu mengalahkan pria dalam dunia gulat.
Adegan mengesankan adalah ketika bagaimana anak-anak Mahavir harus menempa diri mereka dengan latihan yang begitu keras untuk bertanding di kompetisi bergengsi Commonwealth Games 2010. Rasanya emosi penonton ikut larut dalam kebahagiaan mereka setelah lelah mengisi hari dengan perjuangan dan air mata untuk menjadi yang terbaik.
Selanjutnya: Kartini (2017)

Salah satu karya terbaik dari sutradara andal Hanung Bramantyo ini mengangkat sepenggal perjalanan hidup Kartini (Dian Sastrowardoyo). Kartini menjadi wanita yang pada zamannya mengalami tekanan dan keterbatasan untuk mendapatkan akses pendidikan dan ruang berkarya. Posisi wanita saat itu berada di bawah pria dan banyak haknya yang terenggut.
Namun, Kartini termasuk wanita pintar dan pemberontak, yang tak menerima begitu saja keadaan ini. Ia wanita yang berpikiran maju. Ia berani melawan tradisi dan bahkan menentang keluarganya demi menggapai impiannya untuk bisa bersekolah tinggi.
Melihat penderitaan dan perjuangan Kartini, khususnya untuk mendobrak kesewenangan pelanggaran kesetaraan hak di film ini, sunggguh membersitkan rasa haru yang mendalam.
Kartini pada akhirnya mampu mendirikan sekolah gratis untuk kaum miskin di Jepara, atas dukungan suaminya. Tak berlebihan jika mengingat jasanya, terutama untuk kebebasan kaum wanita menempuh pendidikan tinggi dan berkarya, kita akan menitikkan air mata. (f)