Foto: Dok. Pribadi
 
Masih ingatkah Anda pada iklan sebuah department store menjelang Lebaran tahun ini yang viral karena kisahnya yang menyentuh hati? Iklan Ramayana berjudul Bahagianya adalah Bahagiaku, berdurasi tiga menit yang menyentuh nurani ini pun viral di media sosial dalam hitungan hari dengan jutaan penonton.

Tidak hanya iklan, cerita-cerita, film, serta tayangan yang menguras air mata memang disukai banyak orang. Ceritanya yang dekat dengan kehidupan menjadi refleksi seseorang untuk melihat dunia dengan kacamata yang berbeda.

Efek positifnya, mengonsumsi dan menikmati cerita-cerita sedih dapat menumbuhkan empati terhadap kondisi orang lain yang mengalami kesusahan atau kondisi tidak beruntung. Hal ini tentu saja akan mendorong seseorang untuk lebih peka terhadap lingkungannya.

Adanya kepekaan sosial dan empati dapat mendorong perilaku sosial, seperti kepedulian terhadap orang lain, seperti melakukan aksi sosial. “Yang perlu disadari adalah bahwa rasa empati sebenarnya bisa diolah untuk melakukan sesuatu yang lebih besar. Seseorang yang memiliki rasa empati, disertai dengan nilai personal benevolence dan universalism, maka ia akan menjadi agen perubahan dalam masyarakat,” kata Listyo Yuwanto, psikolog dari Universitas Surabaya.

Daisy Indira Yasmine, M.Soc.Sci, Ketua LabSosio Pusat Kajian Sosiologi Universitas Indonesia menambahkan, memang tidak bisa kemudian dihubungkan bahwa orang yang menyukai kisah-kisah yang mengharukan, setelah membaca atau menonton sebuah cerita bertema kemanusiaan misalnya, akan melakukan suatu gerakan nyata.

Namun, Debby melihat, masyarakat kita memiliki value yang tinggi terkait tolong-menolong. Nilai-nilai ini diturunkan dari generasi ke generasi, sehingga dalam masyarakat kita menolong orang lain sudah menjadi kewajiban.

“Potensi kita untuk melakukan kebaikan, itu besar sekali. Ini sudah menjadi budaya positif kita yang potensial,” tegasnya. Suksesnya platform crowdfunding seperti kitabisa.com menjadi bukti besarnya nilai tolong-menolong orang Indonesia.

Baca juga:
Magnet Cerita Sedih di Layar Kaca, Makin Sedih, Makin Dicari
Mengapa Masyarakat Indonesia Gemar Cerita Sedih? Ini Kata Pakar
Sejauh Mana Cerita Sedih Bisa Membantu Membangun Empati Seseorang?

Apa kata Sahabat femina tentang hal ini? Simak kata mereka berikut ini.


Citra Dwillysa Putri, 26, PR Consultant, Jakarta
Cerita Sedih Malah Bikin Ngantuk

Suatu hari, ketika sedang menginap di rumah teman kantor, ia memutarkan film Miracle in Cell No. 7 (2013). Katanya, saya harus nonton film ini karena bagus banget. Benar saja, sepanjang film itu saya menonton sambil berderai-derai air mata.
Tapi, jujur saja, menonton film sedih tidak membuat saya ketagihan. Apalagi saya juga orangnya termasuk mudah sedih dan menangis, jadi justru menghindari film-film yang bisa memancing emosi saya. Saya lebih memilih drama komedi, thriller, atau horor.

Kalaupun menonton film sedih, saya lebih memilih yang ceritanya tentang kehidupan, seperti hubungan antarteman atau keluarga, bukan drama percintaan. Atau, bisa juga tentang kisah-kisah kehidupan yang memang nyata, bukan fiktif. Kalau kisah yang ditayangkan di televisi malahan saya kurang percaya, bisa jadi itu sudah di-setting untuk menaikkan rating.

Ada banyak posting-an netizen itu yang menjadi viral dan akhirnya membuka jalan untuk mereka mendapatkan bantuan. Ini juga menjadi pengingat bagi saya untuk selalu bersedekah atau membeli dagangan mereka. Tak jarang saya memberi lebih. Kalau untuk melakukan aksi sosial, belum terpikir, tapi tidak tertutup kemungkinan saya akan melakukannya, sebab saya orangnya suka enggak tegaan.

Selanjutnya: Harus Curi Waktu Demi Nonton Film
 
 
 

Indah Handayani, 33, Jurnalis, Jakarta
Harus Curi Waktu Demi Nonton Film

Hobi menonton film sudah ada sejak saya kecil. Tidak seperti kebanyakan orang, saya justru bukan penggemar film-film Hollywood. Film Hollywood, menurut saya, membosankan, karena tokohnya selalu menang, dan kurang mengaduk emosi. Kecuali untuk film A Walk To Remember (2002) dan The Notebook (2004), yang menurut saya bagus.

Saya memang lebih menyukai film drama melankolis. Pokoknya, kalau enggak bisa bikin nangis, film itu enggak bagus di mata saya. Film-film yang menyentuh seperti ini banyak yang diangkat dari kisah kehidupan sehari-hari, membuat kita jadi berpikir tentang realitas hidup, bahwa hidup sering kali tidak semanis akhir film-film Disney.

Ada salah satu film drama yang berkesan bagi saya, yaitu A Man and a Woman (2016),  yang dibintangi oleh Gong Yoo, aktor Korea paling populer saat ini. Berkisah tentang dua insan yang saling jatuh hati, tapi keduanya sudah menikah. Tentu saja cinta terlarang mereka tak bisa bersatu.

Jujur saja, saya pernah mengalami sendiri kisah putus cinta yang menyakitkan sehingga menonton film-film ini membuat saya seperti berkhayal menikmati kisah percintaan saya sendiri. Mungkin ini yang jadi kunci sukses film drama Korea, mereka menjual kisah kehidupan yang banyak dialami penontonnya.

Selanjutnya: Tiap Hari Nonton Dua Film
 
 


 
Gaby Phoebe Rachel, 26, Karyawan Swasta, Jakarta
Tiap Hari Nonton Dua Film

Belakangan saya mulai kepincut juga pada iklan-iklan komersial sedih yang banyak diproduksi Thailand. Ada banyak pelajaran hidup dan quote-quote yang menginspirasi di balik piawainya film-film ini dalam menguras air mata yang menonton. Di media sosial, iklan-iklan ini begitu viral. Eksposurnya tinggi karena orang akan suka membagikan hal-hal yang menginspirasi.

Medium iklan berbentuk film memang lebih bisa menggigit. Selain durasinya singkat, ceritanya juga membuat terharu. Kalau saya perhatikan, kini banyak negara lain, seperti Jepang, Tiongkok, Singapura, dan bahkan Indonesia, yang ikut-ikutan membuat iklan komersial maupun layanan masyarakat berkonsep serupa. Viewer-nya memang terbukti sangat tinggi!

Biasanya, saya menonton tayangan tersebut dalam perjalanan pulang kantor ketika menggunakan bus Transjakarta. Bagi saya, menonton tayangan melankolis ini seperti pelepasan stres dan emosi. Suka menonton yang sedih-sedih ternyata membawa pengaruh baik juga bagi saya. Khususnya untuk posting-an atau film kisah nyata tentang kemanusiaan, yang juga senang saya tonton, rasanya jadi menggerakkan hati saya untuk bisa melakukan sesuatu. (f)