
Foto: Dok. Gramedia
Terdidik (Educated)
Penulis: Tara Westover
Gramedia Pustaka Utama
Jangan menyerah dengan keadaan, itulah semangat yang disampaikan Tara Westover lewat buku berjudul Terdidik ini. Memoar dengan judul asli Educated ini masuk daftar buku terlaris The New York Times selama dua tahun berturut-turut dan telah diterjemahkan ke dalam 45 bahasa.
Tara berusia tujuh belas tahun saat pertama kali mulai belajar di sekolah. Ia lahir dari keluarga komunitas penyintas di pegunungan Idaho yang membuat ia dan saudara-saudaranya sangat terisolasi dari masyarakat kebanyakan. Tidak ada yang memastikan apakah mereka mendapatkan pendidikan, tidak ada juga yang turun tangan saat salah satu dari mereka melakukan kekerasan.
Ketika seorang kakak laki-lakinya masuk perguruan tinggi, Tara memutuskan untuk mencoba kehidupan baru. Pencarian akan pengetahuan lalu mengubah dan membawanya melintasi lautan dan benua. Ia menerima gelar BA dari Brigham Young University pada tahun 2008, dan mendapatkan Gates Cambridge Scholarship. Menyusul gelar MPhil dari Trinity College, University of Cambridge, pada tahun 2009, dan pada tahun 2010 dia menjadi visiting fellow di Harvard University. Ia kemudian kembali ke Cambridge dan meraih gelar PhD dalam sejarah pada tahun 2014.
Setelah belajar setinggi itu, kemudian Tara bertanya-tanya apakah dia telah pergi terlalu jauh? Apakah perjalanannya untuk memperjuangkan pendidikan justru membuatnya berjarak dari keluarga yang ia tinggalkan? Kegalauan-kegalauan ini yang kemudian coba ia redam dengan menulis Terdidik.
Pada tahun 2018, Terdidik terpilih menjadi salah satu dari 10 Buku Terbaik versi The New York Times dan meraih penghargaan Nonfiction Book of the Year dari Asosiasi Penjual Buku Amerika. Hingga Desember 2020, buku ini telah terjual lebih dari 6 juta eksemplar di seluruh dunia.
Bacaan inspiratif untuk generasi muda yang tengah terpacu untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik.
Baca Selanjutnya: Sang Pemanah (The Archer)

Foto: Dok. Gramedia
Sang Pemanah (The Archer)
Penulis : Paulo Coelho
Gramedia Pustaka Utama
Mari berkenalan dengan Gandewa Sang Pemanah di Novel Terbaru Paulo Coelho yang berjudul The Archer yang resmi diterbitkan di Indonesia dengan judul Sang Pemanah. Kisahnya diilhami dari pengalaman Paulo belajar memanah, yang kemudian dikembangkan menjadi cerita fiksi. Dalam cerita yang disampaikan dengan sederhana, Paulo bertutur tentang pokok-pokok penting dalam kehidupan, antara lain kerja keras dan antusiasme, berani mengambil risiko, tidak takut gagal, dan menerima hal-hal tak terduga yang disodorkan oleh nasib.
Lewat tulisannya Paulo seakan ingin menunjukkan bahwa hidup itu sederhana, manusialah yang terkadang membuatnya rumit. Ada saatnya kita perlu mempelajari esensi kehidupan dengan memperhatikan hal-hal sederhana yang mengelilingi kita. Di dalam novel ini, Paulo menyampaikan segala hal. Mulai dari persahabatan, hingga pentingnya arti sebuah busur dan juga pentingnya konsentrasi. Itulah hidup. Kita belajar dengan menjalani hidup kita sepenuhnya.”
Novel Sang Pemanah yang terbit di Indonesia memiliki keistimewaan yang membedakannya dengan edisi internasional The Archer. Jika di edisi internasional, tokoh utamanya berdarah Jepang, bernama Tetsuya, di edisi Indonesia sang pemanah adalah Gandewa, seorang laki-laki yang diceritakan memilki kemahiran jemparingan, seni memanah khas Kerajaan Mataram dari Yogyakarta. Ia adalah pemanah ulung yang pernah sangat termasyhur, namun telah mengundurkan diri dari dunia ramai.
Ilustrator Martin Dima dipercaya untuk membuat illustrasi khas Nusantara untuk mendampingi kisah Sang Pemanah. Di tangan Martin, sosok Gandewa digambarkan menggunakan beskap, kain lurik, dan blangkon, teh poci, serta motif batik mega mendung. Inilah yang membuat sampul dan ilustrasi cerita di dalam Sang Pemanah memiliki nuansa berbeda dengan The Archer.
“Indonesia menjadi negara pertama yang mendapatkan izin penyesuaian karakter cerita The Archer dengan budaya tempatnya diterbitkan. Dengan adopsi budaya ini diharapkan pembaca bisa lebih akrab dengan cerita yang disampaikan. Walaupun kelihatannya berbeda dengan The Archer edisi internasional, tapi pembaca tidak perlu khawatir karena esensi ceritanya tetap sama,” kata Tanti Lesmana, Editor Senior Bidang Fiksi Gramedia Pustaka Utama.
Dengan menggunakan pola penceritaan di mana sang tokoh utama mencari makna hidup lewat perjalanan, novel setebal 152 halaman ini diharapkan dapat menyamai kesuksesan novel legendaris Paulo Coelho terdahulu, Sang Alkemis. (f)
Baca Juga:
Ini Deretan Idol K-Pop Siap Comeback di Bulan Mei
X&Y, Film Pendek Vertikal Pertama
Tangguh! 5 Kisah Wanita dalam Drakor Ini Bisa Jadi Inspirasi