
Ngenest (2015)
Diangkat dari novel karya Ernest Prakarsa berjudul sama, film Ngenest ini (menurut pengakuan Ernest, sih, tidak sengaja) membuka mata masyarakat Indonesia bagaimana dampak stereotip yang terus-menerus dilekatkan pada etnis Tionghoa di Indonesia. Menonton film ini penonton dapat melihat dan memahami posisi sulit yang dihadapi oleh keluarga Tionghoa di Indonesia.
Disajikan dalam bentuk komedi, Ngenest bercerita tentang kehidupan Ernest sejak kecil hingga dewasa yang kerap mengalami bully dan diskriminasi, karena ia terlahir sebagai Tionghoa. Terdorong untuk mengubah nasib keturunannya, ia bertekad menikah dengan wanita bukan Tionghoa.
Dari situlah berbagai pengalaman lucu dan haru timbul. Salah satunya saat ia ditolak orang tua kekasih yang berasal dari etnis Jawa/ Sunda, juga ketika ia ketakutan menghadapi kelahiran anaknya. Lewat tokoh Ernest, film ini mengupas cerita bagaimana menjadi Tionghoa adalah persoalan di Indonesia.
Crash (2005)
Lewat tokoh-tokoh dalam film, Paul Haggis yang menulis dan menyutradarai film terbaik Oscar 2006 ini menyoroti 36 jam kehidupan warga Los Angeles yang majemuk, melalui kisah seorang jaksa yang mencari dukungan politik dengan memainkan isu rasial.
Telanjur mendapat cap negatif, dua pemuda kulit hitam malah memanfaatkan ketakutan itu untuk merampok pengendara mobil. Seorang sutradara berkulit hitam mendapat protes dari istrinya karena dianggap tidak membela komunitas kulit hitam terutama tentang tindakan polisi kulit putih yang rasial.
Di sisi lain, seorang polisi berkulit putih mengalami kesulitan saat berusaha membuktikan bahwa ia tidak rasis.
Dengan apik, Crash membeberkan bagaimana prasangka yang lahir dari stereotip terhadap ras lain menimbulkan gesekan dalam masyarakat sekaligus dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi. Sebuah masalah sosial yang sudah lama disadari dan masih terjadi hingga kini, bahkan di negara yang menggembar-gemborkan persamaan hak antarmanusia sekalipun.
My Name Is Khan (2010)
“Nama saya Khan dan saya bukan teroris.” Demikian ujar Rizwan Khan (Shahrukh Khan) kepada tiap orang yang ia temui di Amerika, setelah tragedi 9/11. Akibat pernyataannya itu, Rizwan ditangkap karena justru disalahmengerti sebagai teroris oleh polisi. Sebelumnya, kakak Rizwan malah dibunuh hanya karena bernama Khan.
Film ini dengan apik menggambarkan Islamophobia yang merebak di Amerika Serikat dan bahayanya stereotip dalam masyarakat. Setelah peristiwa 9/11 yang mengakibatkan hancurnya menara kembar WTC di New York itu, mereka yang memiliki nama berbau Islam memang terkena imbasnya.
Khan adalah nama keluarga muslim India. Film ini menggambarkan perjuangan Rizwan sebagai muslim India yang juga menyandang sindrom Asperger, salah satu spektrum autisme, untuk melawan stereotip.
? (baca: tanda tanya) (2011)
Lewat interaksi antara tiga keluarga yang memiliki keyakinan berbeda-beda, yaitu Buddha, Islam, dan Katolik, film ini berusaha mengangkat tema pluralisme agama di Indonesia. Di bagian awal film, keharmonisan di antara penganut agama digambarkan lewat kebijakan Tan Kat Sun, pengusaha restoran masakan Tionghoa yang sengaja menggunakan peralatan masak dan makan khusus untuk pekerja dan pelanggan muslim, memberikan waktu salat, serta memberi libur Lebaran. Namun rupanya, hubungan manis di antara umat beragama tak selamanya bisa indah tanpa usaha.
Selanjutnya digambarkan betapa peristiwa-peristiwa dalam hidup bisa saja membuat seseorang berpindah kepercayaan, tapi kemanusiaan tetap yang utama. Meski berbeda kepercayaan, manusia sudah semestinya saling membantu. Seorang muslim bisa saja melindungi gereja dari ancaman bom seperti yang dilakukan Soleh, salah satu tokoh dalam film ini. Semestinya kepercayaan yang dianut memberi kedamaian dalam masyarakat, bukan sebaliknya.
Film ? ditutup dengan cerita bagaimana setelah menjalani banyak kesulitan dan kematian beberapa anggota keluarga akibat kekerasan agama, tokoh-tokoh dalam film kembali berusaha untuk hidup berdampingan dengan damai.
Sayangnya, saat ditayangkan, film ini menuai reaksi negatif dari beberapa organisasi masyarakat. Padahal, film ini juga berusaha mematahkan stereotip radikal pada suatu agama. Penonton yang jujur tentu tahu, hubungan antaragama di Indonesia tidak selalu indah. Konflik agama masih kerap terjadi hingga hari ini, terkadang juga melibatkan kekerasan dan diskriminasi.
Namun, di sisi lain film ini mencetak prestasi. Mendapat 9 nominasi piala Citra pada Festival Film Indonesia 2011 dan berhasil memenangkan penghargaan Tata Sinematografi Terbaik.
Malcom X (1992)
Film yang disutradari Spike Lee dan diperankan Denzel Washington ini berbicara banyak tentang stereotip ras, agama, dan isu kemanusiaan. Film yang berdasarkan kisah nyata ini menggambarkan diskriminasi kulit hitam (ras Afro-America) di Amerika pada tahun 1920-an hingga 1960-an.
Adegan paling membekas di ingatan saat Baines mengajarkan Malcom X mengenai simbolisme kata hitam dan putih dalam kamus. Hitam dianggap kegelapan dan kejahatan, sementara putih dianggap pencerahan dan kebaikan.
Dikotomi hitam putih ini pun menjadi prasangka yang kuat untuk membedakan warga Amerika yang berkulit hitam (atau campuran) dan putih. Pembedaan yang menimbulkan penguasaan untuk kulit putih dan diskriminasi untuk kulit hitam.
Dalam film tersebut digambarkan perjuangan Malcom X untuk menuntut dihapusnya diskriminasi tersebut, termasuk saat ia dimanfaatkan Elijah Muhammad yang menggunakan kepandaian Malcom X berpidato untuk mendongkrak popularitas Elijah dan ajaran Islam-nya yang sesat di Amerika.
Malcom X, yang direpresentasikan sempat melakukan ibadah haji, kemudian membuat pernyataan untuk menentang ajaran sesat Elijah, namun akhirnya terbunuh oleh anak buahnya sendiri. Berkulit hitam, lahir sebagai Afro-America dan beragama Islam (moderat) menjadikan Malcom X sebagai pejuang diskriminasi kulit hitam yang saat itu penuh prasangka dan stereotip.
Film ini menggambarkan dengan baik betapa identitas manusia sering kali terkotak-kotak, baik dari warna kulit, ras, maupun kelompok agama (dan bahkan subagama) sehingga memunculkan konflik yang berakibat terampasnya hak-hak kelompok yang ‘kalah'. (f)
Baca Juga:
Film Keluarga Cemara, Perayaan Cinta untuk Keluarga
Orang Indonesia Suka Film Horor?
Disajikan dalam bentuk komedi, Ngenest bercerita tentang kehidupan Ernest sejak kecil hingga dewasa yang kerap mengalami bully dan diskriminasi, karena ia terlahir sebagai Tionghoa. Terdorong untuk mengubah nasib keturunannya, ia bertekad menikah dengan wanita bukan Tionghoa.
Dari situlah berbagai pengalaman lucu dan haru timbul. Salah satunya saat ia ditolak orang tua kekasih yang berasal dari etnis Jawa/ Sunda, juga ketika ia ketakutan menghadapi kelahiran anaknya. Lewat tokoh Ernest, film ini mengupas cerita bagaimana menjadi Tionghoa adalah persoalan di Indonesia.
Crash (2005)
Lewat tokoh-tokoh dalam film, Paul Haggis yang menulis dan menyutradarai film terbaik Oscar 2006 ini menyoroti 36 jam kehidupan warga Los Angeles yang majemuk, melalui kisah seorang jaksa yang mencari dukungan politik dengan memainkan isu rasial.
Telanjur mendapat cap negatif, dua pemuda kulit hitam malah memanfaatkan ketakutan itu untuk merampok pengendara mobil. Seorang sutradara berkulit hitam mendapat protes dari istrinya karena dianggap tidak membela komunitas kulit hitam terutama tentang tindakan polisi kulit putih yang rasial.
Di sisi lain, seorang polisi berkulit putih mengalami kesulitan saat berusaha membuktikan bahwa ia tidak rasis.
Dengan apik, Crash membeberkan bagaimana prasangka yang lahir dari stereotip terhadap ras lain menimbulkan gesekan dalam masyarakat sekaligus dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi. Sebuah masalah sosial yang sudah lama disadari dan masih terjadi hingga kini, bahkan di negara yang menggembar-gemborkan persamaan hak antarmanusia sekalipun.

My Name Is Khan (2010)
“Nama saya Khan dan saya bukan teroris.” Demikian ujar Rizwan Khan (Shahrukh Khan) kepada tiap orang yang ia temui di Amerika, setelah tragedi 9/11. Akibat pernyataannya itu, Rizwan ditangkap karena justru disalahmengerti sebagai teroris oleh polisi. Sebelumnya, kakak Rizwan malah dibunuh hanya karena bernama Khan.
Film ini dengan apik menggambarkan Islamophobia yang merebak di Amerika Serikat dan bahayanya stereotip dalam masyarakat. Setelah peristiwa 9/11 yang mengakibatkan hancurnya menara kembar WTC di New York itu, mereka yang memiliki nama berbau Islam memang terkena imbasnya.
Khan adalah nama keluarga muslim India. Film ini menggambarkan perjuangan Rizwan sebagai muslim India yang juga menyandang sindrom Asperger, salah satu spektrum autisme, untuk melawan stereotip.

? (baca: tanda tanya) (2011)
Lewat interaksi antara tiga keluarga yang memiliki keyakinan berbeda-beda, yaitu Buddha, Islam, dan Katolik, film ini berusaha mengangkat tema pluralisme agama di Indonesia. Di bagian awal film, keharmonisan di antara penganut agama digambarkan lewat kebijakan Tan Kat Sun, pengusaha restoran masakan Tionghoa yang sengaja menggunakan peralatan masak dan makan khusus untuk pekerja dan pelanggan muslim, memberikan waktu salat, serta memberi libur Lebaran. Namun rupanya, hubungan manis di antara umat beragama tak selamanya bisa indah tanpa usaha.
Selanjutnya digambarkan betapa peristiwa-peristiwa dalam hidup bisa saja membuat seseorang berpindah kepercayaan, tapi kemanusiaan tetap yang utama. Meski berbeda kepercayaan, manusia sudah semestinya saling membantu. Seorang muslim bisa saja melindungi gereja dari ancaman bom seperti yang dilakukan Soleh, salah satu tokoh dalam film ini. Semestinya kepercayaan yang dianut memberi kedamaian dalam masyarakat, bukan sebaliknya.
Film ? ditutup dengan cerita bagaimana setelah menjalani banyak kesulitan dan kematian beberapa anggota keluarga akibat kekerasan agama, tokoh-tokoh dalam film kembali berusaha untuk hidup berdampingan dengan damai.
Sayangnya, saat ditayangkan, film ini menuai reaksi negatif dari beberapa organisasi masyarakat. Padahal, film ini juga berusaha mematahkan stereotip radikal pada suatu agama. Penonton yang jujur tentu tahu, hubungan antaragama di Indonesia tidak selalu indah. Konflik agama masih kerap terjadi hingga hari ini, terkadang juga melibatkan kekerasan dan diskriminasi.
Namun, di sisi lain film ini mencetak prestasi. Mendapat 9 nominasi piala Citra pada Festival Film Indonesia 2011 dan berhasil memenangkan penghargaan Tata Sinematografi Terbaik.

Malcom X (1992)
Film yang disutradari Spike Lee dan diperankan Denzel Washington ini berbicara banyak tentang stereotip ras, agama, dan isu kemanusiaan. Film yang berdasarkan kisah nyata ini menggambarkan diskriminasi kulit hitam (ras Afro-America) di Amerika pada tahun 1920-an hingga 1960-an.
Adegan paling membekas di ingatan saat Baines mengajarkan Malcom X mengenai simbolisme kata hitam dan putih dalam kamus. Hitam dianggap kegelapan dan kejahatan, sementara putih dianggap pencerahan dan kebaikan.
Dikotomi hitam putih ini pun menjadi prasangka yang kuat untuk membedakan warga Amerika yang berkulit hitam (atau campuran) dan putih. Pembedaan yang menimbulkan penguasaan untuk kulit putih dan diskriminasi untuk kulit hitam.
Dalam film tersebut digambarkan perjuangan Malcom X untuk menuntut dihapusnya diskriminasi tersebut, termasuk saat ia dimanfaatkan Elijah Muhammad yang menggunakan kepandaian Malcom X berpidato untuk mendongkrak popularitas Elijah dan ajaran Islam-nya yang sesat di Amerika.
Malcom X, yang direpresentasikan sempat melakukan ibadah haji, kemudian membuat pernyataan untuk menentang ajaran sesat Elijah, namun akhirnya terbunuh oleh anak buahnya sendiri. Berkulit hitam, lahir sebagai Afro-America dan beragama Islam (moderat) menjadikan Malcom X sebagai pejuang diskriminasi kulit hitam yang saat itu penuh prasangka dan stereotip.
Film ini menggambarkan dengan baik betapa identitas manusia sering kali terkotak-kotak, baik dari warna kulit, ras, maupun kelompok agama (dan bahkan subagama) sehingga memunculkan konflik yang berakibat terampasnya hak-hak kelompok yang ‘kalah'. (f)
Baca Juga:
Film Keluarga Cemara, Perayaan Cinta untuk Keluarga
Orang Indonesia Suka Film Horor?