
Foto: Freepik
Meski kegiatan vaksinasi COVID-19 sebagai salah satu cara pencegahan menularan COVID-19 telah berjalan di Indonesia, tapi bukan berarti kewaspadaan pada penyebaran virus ini menurun. Menghabiskan waktu di rumah saja, jika tidak ada keperluan penting untuk keluar rumah, masih menjadi pilihan terbaik di masa pandemi ini. Sudah mulai kehabisan ide mau ngapain aja weekend ini? Femina pilihkan tiga hiburan untuk mengisi waktu luang, buat pecinta buku dan musik:

Foto: Dok. MolaTV
1/ Menikmati Musik Virtual di Mola & Chill Fridays Music Evenings
Kangen datang ke acara konser? Rasa rindu menonton penampilan dan aksi panggung musisi internasional maupun dalam negeri bisa terobati dengan menyaksikan tayangan konser atau acara musik virtual yang belakangan makin marak.
Untuk menemani istirahan Anda di hari Jumat malam, Mola TV menghadirkan artis-artis dunia secara live melalui program acara terbarunya Mola & Chill Fridays Music Evenings. Yang unik dari live music event ini, semua artis akan tampil dengan gaya kasual dari rumah atau studio masing-masing, di mana mereka akan berbincang santai, menerima request lagu dan menjawab pertanyaan yang diajukan para penonton via media sosial Mola TV.
Artis internasional yang mendapatkan kesempatan mengawali acara yang tayang perdana Jumat, 26 Februari ini adalah Prep yang akan tampil langsung dari London. Selanjutnya akan ada Kaytranada, DJ asal Kanada yang akan perform langsung dari Los Angeles, menjelang acara musik bergengsi, Grammy Awards, serta beberapa nama musisi internasional lainnya.
Prep sendiri merupakan band asal Inggris beranggotakan 4 musisi dengan latar belakang musik yang berbeda. Mereka adalah Tom Havelock (Vokal), komposer lagu klasik Llywelyn ap Myrddin (Keys), House DJ Guillaume Jambel (Drums) dan Produser Musik Dan Raddclyffe (Gitar). Beberapa lagu beraliran Synth-Pop dan Soul yang sudah dikenal antara lain Cheapest Flight, Line by Line dan Years Don’t Lie.
Baca Selanjutnya: 2/ Menyelami Filosofi Personel AKMU, Lee Chanhyuk dalam Buku Fish in The Water

Foto: Dok. Gramedia
2/ Menyelami Filosofi Personel AKMU, Lee Chanhyuk dalam Buku Fish in The Water
Sejak pertama kali diterbitkan pada September 2020 lalu, novel ini menjadi salah satu bestseller di Korea Selatan. Lee Chanhyuk menulis Fish in the Water sebagai perpanjangan album musiknya Sailing.
Pada buku ini ia menyediakan banyak pertanyaan, pencariannya akan bagaimana dia menginterpretasikan musik dan seni. Pemikiran-pemikirannya tersebut disusun dalam kerangka cerita fiksi melalui dua tokoh utama, Seon, seorang seniman, dan Hae-ya, muse-nya.
Seon ingin mencari jawaban dari banyak hal. Tentang seni dan seniman, tentang musik, tentang kebebasan dan prinsip. Hae-ya yang datang kemudian juga tidak menjawab apa pun. Namun, jiwa Hae-ya begitu bebas, dan cintanya menyentuh Seon. Bersama-sama, walau dengan sifat yang berlawanan, Seon dan Hae-ya belajar menikmati hidup yang sebebas-bebasnya.
Penuh emosi, novel ini juga mengangkat topik-topik filosofis yang membuat pembaca berpikir dengan saksama. Para penikmat lagu-lagu Lee Chanhyuk dapat menikmati sebuah dunia yang lebih luas dibandingkan yang ia sampaikan lewat lagu-lagunya.
Baca Selanjutnya: 3/ Belajar Ikigai dan Self-Awareness dari Buku You Do You Karya Fellexandro Ruby

Foto: Dok. Gramedia
3/ Belajar Ikigai dan Self-Awareness dari Buku You Do You Karya Fellexandro Ruby
Melalui buku berjudul You Do You: Discovering Life through Experiments & Self-Awareness ini Fellexandro Ruby membagikan apa saja yang ia dapatkan mengenai self-awareness dan ikigai dari pengalaman berkariernya selama lebih dari 10 tahun. Semua ia tuliskan karena keinginan besarnya untuk membantu banyak orang merefleksi diri, melihat ke dalam, serta mengurai situasi, supaya bisa menemukan sendiri jawaban, saat bertemu dengan persimpangan dalam hidup mereka.
“Sering kali kita mengalami decision paralysis dalam mengambil keputusan hidup, karena lebih sering kita melihat keluar, mengintip kiri-kanan, menyontek rumput tetangga. Padahal jawabannya bukan di sana, tapi ada di dalam diri kita,” tulis Ruby dalam pengantar bukunya.
Satu dekade pertama dalam perjalanan karier Ruby dihabiskan untuk bereksperimen dengan sembilan macam role yang berbeda. Mulai dari sales, petugas lelang, operator alat berat, travel blogger, food photographer, penyanyi, social media manager, product manager di sebuah tech startup, sampai pengusaha pernah ia jalani.
Ruby kemudian menemukan ikigai-nya untuk #belajarberkaryaberbagi melalui platform edukasi Negeri Pembelajar, dan konsultan HR Impact Factory. Ruby juga aktif berbagi tentang keuangan, karier, dan bisnis di Instagram serta podcast-nya, dengan topik yang diangkat mencakup pengembangan diri, seperti pergalauan karier, tips investasi, dan masih banyak lagi.
“Ikigai bukan hanya soal apa yang mau kita lakukan dalam hidup, tapi juga soal kita mau menjadi siapa, menjadi manusia yang seperti apa. Kalau dimaknai seperti ini, ikigai tidak harus menjadi sebuah konsep yang kompleks layaknya sebuah purpose atau tujuan hidup. Ikigai buat orang Jepang bisa berupa kebahagiaan-kebahagiaan kecil dalam keseharian yang dalam jangka panjang akan membuat hidup lebih bermakna,” tutur Ruby.
Tidak hanya karier dan pekerjaan, buku ini juga dapat menjadi panduan untuk menyelaraskan siapa diri kita, apa yang kita kuasai, dan apa yang dibutuhkan. (f)
Baca Juga:
Patah Hati? Yuk! Move On dengan Lagu Korea Ini
The Apprentice Kembali Hadir Memperebutkan Pekerjaan Senilai US$250.000, Salah Satu Kandidatnya Asal Indonesia
5 Drama Korea Ini Ingatkan Kita untuk Menghargai Diri Sendiri