Foto-foto: Dok. PFN
 
Saat mempersiapkan pernikahannya dengan Vikash (Sahil Shah) di Agra India, Sinta (Lala Karmela) tiba-tiba ditinggal pergi ibunya, Widi (Cut Mini). Sang Ibu kembali ke tanah kelahirannya Yogyakarta setelah mendengar kabar, ayahnya meninggal dunia.
 
Berbekal sebuah foto, ia pergi ke kawasan Borobudur untuk mencari Widi. Di sinilah dimulai perjalanan Sinta menemukan asal usul dirinya. Selama ini ia hanya tahu kalau memiliki darah Indonesia, bahkan berkomunikasi dalam bahasa Indonesia dengan ibunya, namun ia tidak tahu kalau ia masih memiliki kerabat. Widi selama ini memang menutupi asal usul keluarganya di Indonesia.
 
 


 
Kejutan demi kejutan ditemui Sinta. Mulai dari cerita pernikahan orang tuanya, masa lalu ayahnya yang dianggap orang terhormat di India, hingga silsilah keluarga ningratnya. Namun yang pasti ia menemukan keluarga, cinta, dan persahabatan sejati.
 
Mengambil lokasi di Agra, India, serta kawasan Borobudur, penonton tak hanya bisa menyaksikan pemandangan dua negara, tapi juga budaya dua bangsa yang memiliki kaitan dalam Borobudur. Sang Buddha yang diagungkan dalam setiap relief candi memang berasal dari India.
 
 
 


 
 
Untuk memahami karakternya, Lala Karmela pun belajar dua budaya yaitu budaya Jawa dan India, “Karakter yang saya mainkan, Sinta lahir dan besar di India. Saya harus belajar bahasa, tarian, dan bagaimana orang India dalam keseharian bersikap. Selain itu, belajar budaya Jawa juga karena kebanyakan film diambil di sekitar Borobudur.”
 
Bagi penonton, bersiaplah mendengarkan percakapan dalam empat bahasa, Indonesia, Jawa, India, dan Inggris. Ini bakal menguji kecepatan Anda membaca subtitle.
 
Film Kumbil Lagi Hatiku sekaligus menandai kembalinya Produksi Film Negara (PFN), BUMN yang bergerak di bidang perfilman, setelah 26 tahun vakum. PFN yang berdiri tahun 1934 adalah saksi sejarah perjuangan bangsa. PFN semula banyak memproduksi film untuk propaganda pemerintah dan film dokumenter bertema kepahlawanan. PFN lalu berkembang membuat film cerita yang bertema pendidikan dan penerangan yang mencerminkan nilai-nilai luhur bangsa Indonesia. Dua film terakhir yang digarap adalah Pelangi di Nusa Laut (1992) dan Surat Untuk Bidadari (1994).
 


“Zaman sudah berubah. Medium film tidak bisa lagi diperlakukan seperti dahulu.  Dalam film ini kami ingin mengangkat masalah-masalah yang ada di Indonesia hari ini, seperti bahasa yang bercampur-campur. Namun semua itu tidak melunturkan nasionalisme, “ ujar M. Abduh Aziz, Direktur Utama PFN saat pemutaran khusus untuk media di Jakarta.
 
Film Kuambil Lagi Hatiku (Borobudur Love Story) ini menggandeng beberapa BUMN seperti Wahana Kreator Nusantara dan pihak Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan, BUMN yang bergerak di bidang pariwisata, juga Pertamina, Pelindo 3, Garuda Indonesia, Jasa Raharja, Wijaya Karya, Perusahaan Gas Negara, Bank Mandiri, Bank BTN, Bank Negara Indonesia, Patra Jasa, dan Pupuk Indonesia. Jadi jangan heran kalau melihat logo BUMN tadi seliweran di film.

 


Film ini disutradarai oleh Azhar Kinoi Lubis dengan Salman Aristo menjadi produser, Arief Ash Shiddiq dan Rino Sardjono bertindak sebagai penulis, dan turut dibintangi aktor kawakan Ria IrawanDian SidikEnce Bagus, dan Tarzan. Film yang memulai produksi pada September 2018 ini akan ditayangkan pada 21 Maret 2019. (f)