Foto: Dok. Femina
 
Usaha tidak akan mengkhianati hasil,” ungkap Tisye Diah Retnojati, lugas. Baginya, kata-kata ini lebih dari sekadar pameo klasik, tapi merupakan bagian perjalanan suksesnya selama 17 tahun berkarier di dunia perbankan dan finansial. Director of In Branch Channel di PT AXA Mandiri Financial Services (AXA Mandiri) bancassurance nomor satu di Indonesia berdasarkan Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia, Q4 2016, ini mampu membuktikan bahwa fenomena glass ceiling yang selama ini membatasi wanita dalam berkarier, hanyalah mitos.
 
Tak Berhenti Belajar
Jalan karier Tisye berawal di dunia perbankan. Ia adalah salah satu dari angkatan pertama Officer Development Program (ODP) dari Bank Mandiri. Lulusan cumlaude dari Fakultas Ekonomi, jurusan Manajemen, Universitas Gadjah Mada, ini merintis karier sejak dari posisi Customer Services Officer. Dari anak daerah yang tidak pernah meninggalkan Yogyakarta, Tisye harus bertugas di Medan, Sumatra Utara, terpisah jauh dari orang tua dan saudara-saudaranya.

“Saya ingat betul betapa beratnya mengeluarkan ongkos 250.000 rupiah untuk membeli nomor ponsel lokal baru. Penghasilan saya habis untuk telepon dan membeli tiket pulang kampung yang mahal,” kenangnya, tertawa. Meski demikian, lulusan tercepat dengan IPK tertinggi di fakultasnya ini, tidak cepat menyerah. Terngiang pesan ibunya, bahwa bekal pendidikan tinggi yang diperolehnya itu harus membuahkan sukses karier yang sepadan.
Meski prestasi akademisnya sangat membanggakan, Tisye mengaku semua itu ia dapatkan dengan penuh perjuangan. “Saya harus belajar mati-matian dulu. Kalau tidak, maka saya tidak bisa. Saya tahu betul ini,” ungkapnya. Apalagi, sejak ayahnya meninggal, biaya pendidikannya bergantung penuh pada beasiswa bagi mahasiswa berprestasi.

Beasiswa yang diberikan oleh bank swasta Fuji Bank, yang menginspirasinya menekuni karier di dunia perbankan. Dalam sebuah kesempatan mengunjungi bank tersebut di Jakarta, Ia menyaksikan bagaimana sebuah bank dikelola. “Saya sangat terkesan dengan orang-orang yang bekerja di sana. Mereka terlihat keren,” ucap Tisye, tertarik.

Dari head teller, ia dipercaya menjadi customer service officer, dan akhirnya dipromosikan menjadi Kepala Kas di Bank Mandiri Kelapa Gading, yang berlokasi di Mal Kelapa Gading, Jakarta. Saat itu ia dipercaya mengelola cabang dengan dua orang teller, seorang customer service, dan dua orang satpam. Di saat yang sama, ia harus membagi fokus, antara melayani nasabah yang hendak membuka rekening, memberi password kepada teller, dan memastikan tidak ada kesalahan transaksi, dan ATM tidak sampai kosong.

“Untungnya, menjadi wanita, kita seolah punya lengan gurita. Bekal kemampuan multitasking ini pula yang membantu saya merampungkan beberapa tugas dalam segmen waktu berdekatan, bahkan bersamaan,” ujar wanita kelahiran Yogyakarta, Januari 1976, ini senang.

Praktiknya, memang tidak semudah perkataan. Butuh tempaan waktu dan pengalaman untuk bisa tetap fokus. Menyusun to-do list, menjadi cara sederhananya menetapkan prioritas dan memastikan bahwa tak ada pekerjaan terlewat. “Selain itu, banyak pelajaran lain yang saya petik dari para leader saya, misalnya soal kedisiplinan dan mengelola waktu. Mereka memiliki hal istimewa untuk bisa berada di posisinya saat ini,” ungkapnya.

Kini, di AXA Mandiri, ia berkesempatan bekerja sama dengan para tenaga ahli asing dan belajar bagaimana berpikir secara global. Tidak hanya itu, Tisye mengaku belajar banyak dari orang-orang yang dijumpainya dalam perjalanan. Seperti saat ia bertemu dengan para pedagang pasar apung di Banjarmasin, Kalimantan Selatan.
“Mereka adalah wanita-wanita tangguh. Sejak pukul empat pagi mereka sudah siap. Mereka mengumpulkan buah dari hutan, sayur-sayuran dari ladang dan mengangkutnya ke pasar seorang diri,” katanya, kagum.
Hal yang sama ia temui saat bersama Pokja Presiden Joko Widodo berkunjung ke Pasar Mama, Papua, yang seluruh pedagangnya wanita. “Dengan bekal literasi keuangan dari kami, saya berharap para wanita ini bisa menuai buah dari hasil kerja keras mereka,” ungkap Tisye yang berencana melanjutkan kuliah S-2.

Simak lanjutan kisahnya di laman berikut ini.
 
 
 
Menghidupi Pilihan
Jabatannya sebagai director of sales yang melingkupi tanggung jawab untuk seluruh cabang AXA Mandiri di Indonesia ini jelas membuat jadwal hidup Tisye nyaris tanpa jeda.Capek, pasti. Tetapi, sekali ia menentukan pilihan, ia akan berkomitmen menjalankannya.Dibantu jiwa kompetitif yang telah terasah sejak muda, Tisye selalu punya energi lebih untuk meraih target-target profesional dan personalnya.

Kerja kerasnya terbayar manis lewat berbagai pencapaian. Khususnya saat ia memimpin beberapa kantor cabang Bank Mandiri, dan saat di tahun pertamanya di AXA Mandiri, ia membawa tim sales AXA Mandiri mencatatkan pencapaian yang melebihi target perusahaan.

“Saya bangga dan beruntung bahwa baik di Bank Mandiri maupun di AXA Mandiri, saya selalu mendapat support system yang luar biasa. Saya dikelilingi orang-orang yang bekerja sama dengan tim yang unik dan saling dukung. Hal ini tidak hanya membantu tim dalam mencapai tujuan, tapi juga membuat kami saling belajar satu sama lain,” ungkap Tisye.

Demikian juga saat ia bergabung bersama AXA Mandiri di tahun 2015. Awalnya ia ragu, apakah pengalaman di dunia perbankan bisa menjawab tantangan di dunia asuransi. “Saya keluar dari zona nyaman dan mencoba hal baru di dunia asuransi, juga tentunya dengan dukungan motivasi dari para leader saya waktu itu,” ujarnya.
Meski produk finansialnya beragam, benang merah tugasnya masih sama, yaitu menangani distribusi dan mengelola orang banyak. Kalau di Bank Mandiri ada 25 cabang yang ia kelola, di posisi barunya ada lebih dari 2000 financial advisor yang ia pimpin.

 Dengan tekad kuat dan kerja solid tim, Tisye berhasil meningkatkan angka penjualan yang sempat turun. “Pencapaian ini membuat saya diberi kepercayaan mencapai target yang lebih besar,” ungkap Tisye.
Total 17 tahun ia berkarier di dunia finansial, 13 tahun bersama Bank Mandiri, dan kini bersama AXA Mandiri. Selama itu, ia juga berakrobat menyeimbangkan perannya di dunia profesional dan domestik. Dalam perjalanannya ia belajar bahwa cara sehat untuk mencapai keseimbangan dalam menjalani peran gandanya ini bukan terletak pada kuantitas, tapi pada kualitas.

Seketat apa pun jadwal kerjanya, Tisye berusaha menyisipkan waktu berkualitas dengan orang-orang tercintanya: sang suami, Haryo Setyo Wibowo (42), dan kedua anak-anak mereka, Roman Satrio Pinandhito (12) dan Sheryl Dyah Ayu Harsiwi (11). Ditengah pertemuan bisnis, ia masih bisa meluangkan waktu berenang bersama di pagi hari. Ia juga selalu menyempatkan olahraga lari berdua dengan sang suami, atau makan berdua.
“Kata kuncinya adalah toleransi dan adjustment,” katanya. Daripada memaksakan pulang kantor bersama dengan jadwal kerja yang tidak menentu, lebih baik mereka bertemua di tengah. “Untuk mencuri quality time berdua, kami suka ketemuan makan mi rebus Jawa langganan. . Cara ini lebih menyenangkan!” lanjut pengagum Sri Mulyani dan Susi Pudjiastuti ini, tertawa.

Tisye percaya bahwa seorang wanita diberi karunia kekuatan yang lebih oleh Tuhan. “Teman-teman wanita harus menyadari potensi besar mereka ini,” ungkapnya. Ia teringat saat hamil besar anak pertama dan masih beraktivitas di kantor.

Sebagai ibu bekerja, ia harus siap dengan cadangan energi lebih. Secapek apa pun di kantor, begitu pulang, ia akan menyempatkan mengecek tugas belajar anak di sekolah, atau meladeni ajakan pergi mereka saat ia baru saja tiba dari dinas luar kota.

Ia sangat bersyukur, bahwa suaminya sangat terbuka dan selalu mendukung di setiap langkahnya dalam menapaki karier. “Salah satu prinsip yang saya pegang adalah toleransi dan komunikasi kepada suami yang harus terus dijaga,” ungkapnya, bangga.

Tisye percaya, seorang wanita bisa mencapai sukses setinggi yang mereka inginkan. “Intinya, buatlah pengorbanan yang kita lakukan saat harus meninggalkan waktu bersama keluarga ini sepadan dengan hasil yang kita dapat. Tidak mudah, tapi ini sudah menjadi pilihan hidup, saya harus pegang komitmen,” ungkap wanita pemegang prinsip hidup ‘high risk high return’ ini. (f)

Baca juga:
Joanna Lasmono, Melahirkan Buku Karena Resep Masakan Rumahan
Sindy Asta, Pendiri Komunitas A Day To Walk, Mengajak Warga Malang Menelusuri Sejarah Kota

Gina S. Noer, Proses Panjang untuk Menulis Naskah Film yang Ditonton Jutaan Orang