Dok. Novendo Belladone




Kekhawatirannya terhadap hamparan sampah di pulau-pulau yang ia sambangi saat ingin menyelam, membuat Swietenia Puspa Lestari (24) mendirikan Diving Clean Action (DCA) bersama kedua temannya, Nesha Ichida dan Adi Septiono. Impiannya hanya satu, membuat laut menjadi lebih bersih dan nyaman, mengingat Indonesia kaya dengan keindahan alam baharinya.

Namun, upayanya untuk mewujudkan impian tersebut tak semudah yang dibayangkan. Ternyata,  banyak yang menganggap remeh ajakannya tersebut. Kendati demikian, wanita yang akrab dipanggil Tenia ini memiliki semangat yang tinggi dan niat yang tulus untuk melestarikan lingkungan dan memberdayakan warga pulau.  

Tumbuh besar dengan menggemari kegiatan menyelam membuat Tenia punya kepedulian yang besar terhadap pelestarian lingkungan, khususnya laut. Namun, lama-kelamaan ia sadar bahwa  tiap kali melakukan penyelaman di beberapa pulau di Indonesia, ia kerap menemukan sampah. Mulai dari sampah botol plastik kemasan, styrofoam, hingga sampah sebesar kasur. Bahkan, banyak karang yang ternodai oleh sampah-sampah itu. Hal ini    membuatnya khawatir. 

Tenia yang mengenyam pendidikan teknik lingkungan di Institut Teknik Bandung dan belajar tentang
waste management ini pun tak habis pikir. Mengapa teori yang ia dapat saat kuliah tidak diaplikasikan di pulau-pulau kecil tersebut, sehingga membuat laut menjadi kotor. Keheranannya ini membawa dirinya untuk mencari-cari komunitas yang mampu mengatasi sistem pembuangan sampah di pulau-pulau kecil. Tapi ternyata, jarang sekali. 

Menurut penilaian Tenia, hal ini bisa jadi karena pada tahun 2015 belum banyak pihak yang bicara tentang sampah laut. Sementara, kebanyakan  komunitas yang peduli lingkungan biasanya hanya fokus di kota-kota besar saja. Hal ini membuat Tenia merasa khawatir sekaligus gemas ingin bertindak. 


“Jadi, saya sebagai penikmat laut merasa, kalau kita tidak bergerak sekarang, nanti ketika diving akan bertemu lebih banyak sampah di karang dibandingkan biota lautnya itu sendiri,” papar Tenia, yang sudah mendapatkan diving license sejak kelas 1 SMP. 

Berawal dari kekhawatiran dan kegemasan karena tidak ada yang bergerak secara konsisten di bidang pengolahan sampah laut di daerah pulau-pulau kecil, Tenia pun makin mantap ingin mengumpulkan teman-temannya untuk membantunya mengatasi masalah persampahan ini. Hingga akhirnya ia mendirikan komunitas Divers Clean Action dengan misi utama membebaskan laut dari sampah, pada tahun 2015.

Tenia bersama teman-temannya pun mulai mengamati apa masalah dan hal yang dibutuhkan dari warga-warga di pulau kecil dalam mengelola sampah. Dari mana sampah-sampah yang berakhir di laut ini berasal: dari warga pulau, wisatawan, atau justru kiriman dari pulau lain? Kebutuhan dan kesulitan seperti apa yang dihadapi oleh warga pulau dalam mengelola sampah yang ada di sekitar mereka?

Dari pengamatannya tersebut diketahui bahwa ternyata edukasi dan
campaign saja tidaklah cukup, karena fasilitas di pulau tersebut kurang memadai. Kalau ada sampah, warga pulau akan membakarnya atau dibuang begitu saja di pantai. Tenia dan teman-temannya yang akhirnya mulai serius mendirikan DCA mulai mengumpulkan data untuk menjadi bahan dalam menemukan solusi permasalahan pengelolaan sampah di pulau ini. 

Dengan berbekal data-data, Tenia dan timnya mengedukasi masyarakat sekaligus menyediakan pelatihan dan pemberian fasilitas yang mendukung kepada warga pulau agar sampah mereka  tidak lari ke lautan. Lama-kelamaan upayanya ini didengar oleh masyarakat luas, hingga akhirnya DCA diminta untuk datang ke daerah-daerah pesisir pulau kecil untuk memberikan pelatihan kepada anak-anak muda untuk bisa diterapkan di daerah mereka masing-masing.

“Mengapa anak muda? Karena mereka yang paling cepat membawa perubahan. Nantinya anak-anak muda ini akan dikirim  ke Jakarta untuk melihat program yang kami lakukan di Pulau Seribu seperti apa, untuk mereka aplikasikan di daerah masing-masing. Mulai  dari segi edukasi sampai pengolahan sampahnya,” cerita Tenia. 

Tak cukup sampai di situ, bekerja sama dengan Kedutaan Besar Amerika Serikat, Tenia bersama DCA telah memiliki
volunteer di 11 negara di Asia Tenggara.

“Karena, ketika kita bersih-bersih pantai dan laut, kita tidak hanya menemukan sampah dari produk lokal, tapi juga sampah dari tetangga-tetangga kita. Jadi, kita mengajak teman-teman se-Asia Tenggara untuk membantu masalah persampahan ini, karena yang terbantukan tidak hanya di Indonesia, tapi juga di negara mereka masing-masing,” ujar Tenia, bangga. 



(Lanjut ke halaman berikutnya)


BACA JUGA :

Aretha Aprilia Pulang Kampung untuk Meningkatkan Derajat Sampah
Arvila Delitriana, Kisah Sukses Bridge Engineer LRT Jabodebek Kuningan yang Memukau Presiden RI Joko Widodo
Greta Thunberg, Aktivis Lingkungan Termuda yang Gerakkan Jutaan Orang di Dunia


 


Dok. Novendo Belladone




Nyaris 5 tahun berdiri, DCA berkembang sangat pesat. Komunitas yang  kini menjadi badan yayasan bernama Yayasan Penyelam Lestari Indonesia ini sudah memiliki 1.500 relawan yang tersebar di seluruh Indonesia dan beberapa negara di Asia Tenggara. 

Bahkan, berkat kerja keras dan konsistensinya memberikan edukasi dan pelatihan pengelolaan sampah di pulau-pulau kecil, Tenia masuk dalam daftar 100 Perempuan Berpengaruh di Dunia versi BBC, pada Oktober 2019. Ia pun menjadi satu-satunya orang Indonesia yang disandingkan dengan wanita-wanita hebat dari seluruh dunia, seperti
Alexandria Ocasio-Cortez (anggota kongres AS), Bella Thorne (aktris), hingga Greta Thunberg (aktivis perubahan iklim).

“Saya
enggak pernah menyangka akan masuk daftar itu. Apalagi harus disandingkan dengan nama-nama besar dari berbagai negara lainnya. Di Indonesia jarang yang tahu nama saya. Mereka justru baru tahu setelah saya mendapatkan penghargaan tersebut,” ceritanya, senang.

Penghargaan tersebut seakan melegitimasi rekognisi atas apa yang ia lakukan. “
Ini menyemangati kita sendiri untuk tidak menyerah meneruskan program-program. Juga   melegitimasi bahwa pekerjaan kita itu berdampak baik bukan hanya untuk alam, tapi juga untuk masyarakat sekitar,” ujarnya, bangga. 

Tenia juga bersyukur karena dari penghargaan inilah dia makin dikenal. Ini akan memudahkan langkahnya untuk mengajak masyarakat lebih luas untuk lebih bijak dalam menggunakan plastik sekali pakai. Bahkan, ia berujar bahwa ini seperti hadiah untuk orang tuanya yang sempat tidak menyetujui langkahnya untuk mendirikan DCA.

“Ketika saya bilang ingin menyeriusi pekerjaan ini, mereka bilang ‘
ngapain?’ Mereka sempat menyayangkan mengapa saya memilih jalur profesional di pekerjaan ini. Mereka menganggap mendirikan NGO ini akan sulit. Mereka berharap saya menekuni kepedulian ini dari jalur pemerintahan saja sebagai PNS yang menurut mereka masa depannya lebih jelas,” kenangnya.

Namun, Tenia tak lantas mengikuti kata orang tuanya. Ia justru berusaha membuktikan bahwa dirinya bisa membesarkan ‘bayi’-nya menjadi organisasi yang berdampak positif bagi lingkungan. Ketika hal ini terwujud, pada akhirnya sang ayah,
Sumarto, dan ibu, Darmastuti Nugroho Sumarto, memahami bahwa yang dilakukan Tenia benar-benar serius, dan kini mereka pun ikut mendukung. 

Mendirikan DCA di usia muda  bukanlah hal yang mudah bagi Tenia. Banyak  kerikil yang harus dihadapi olehnya dalam mengembangkan DCA.

“Karena kami mengembangkan organisasi ini dari nol dengan dana dari kantong  sendiri, tentunya sulit. Apalagi hal ini tidak diajarkan di mana-mana. Jadi, kami belajar sambil mengerjakan langsung. Kami harus mengembangkan jejaring kami sendiri, belajar bagaimana mengolah sampah dan ilmu tersebut harus bisa dipahami oleh warga pulau. Ini bukan perkara mudah,” tutur Tenia. 

Selain itu, usianya yang masih muda justru tak jarang membuat orang meremehkan apa yang dilakukannya atau bahkan menolak kehadirannya membantu warga-warga di berbagai pulau di Indonesia untuk menemukan solusi pengolahan sampah. “Mereka kadang-kadang bilang, ‘
Ngapain, sih, anak-anak ini.’”  

Ungkapan ‘kecil-kecil cabai rawit’ rasanya
pas disematkan pada diri Tenia. Walau masih terbilang muda, ia justru berhasil menggagas gerakan #NoStrawMovement, yaitu gerakan yang mengajak masyarakat untuk tidak menggunakan sedotan plastik.

Bahkan, DCA berhasil mengajak perusahaan sebesar KFC untuk bergabung dalam gerakan tersebut dengan tidak memberikan sedotan plastik di gerai-gerai makanannya. Hebatnya lagi, sekitar 700 restoran ikut berpartisipasi dalam gerakan ini.

Dengan ragam program yang dilakukan DCA, Tenia justru berharap kelak yayasan yang dibangunnya bersama teman-temannya ini tak akan lagi ada. “Banyak orang tertawa mendengar ini. Tapi, saya berharap kelak yayasan ini tidak akan ada lagi, karena tandanya laut sudah bersih dan masyarakat sudah bisa mengolah sampah dengan benar. Artinya DCA tidak dibutuhkan lagi,” ujarnya, berharap.

Jika kelak hal itu tercapai, Tenia mengaku akan tetap menjadi sosok pencinta lingkungan. Kendati bingung akan memilih jalur yang mana, Tenia berharap ia akan tetap konsisten dengan
passion-nya dalam isu pelestarian lingkungan. (f)


BACA JUGA :

Astri Puji Lestari, Arsitek yang Menjalani Hidup Minim Sampah Sejak Kecil
Aretha Aprilia Pulang Kampung untuk Meningkatkan Derajat Sampah
Arvila Delitriana, Kisah Sukses Bridge Engineer LRT Jabodebek Kuningan yang Memukau Presiden RI Joko Widodo