PENGARAH GAYA FIQI BANAFSAJI, ARNI KUSUMADEWI, FEBIANCA PUTRI/
FOTOGRAFER @IFAN HARTANTO/ DIGITAL IMAGING @RENOPRIYONO/
RIAS WAJAH @INEZFAB/ TATA RAMBUT: DANIEL PUTRA (IG: @DANIELPUTRA)/
BUSANA @PEGGYHARTANTO/ AKSESORI  @ALENKAANDMARGO
 
 
Target pengoperasian MRT Jakarta pada Maret 2019 hanya tersisa beberapa bulan lagi. Silvia Halim (36), Direktur Konstruksi PT MRT Jakarta, yakin megaproyek transportasi modern ini akan selesai tepat waktu dan dinikmati warga Jakarta. Ditemui di sela-sela kesibukannya, ia bercerita tentang progress proyek MRT dan kemajuan wanita di dunia konstruksi, yang identik dengan dunia pria.
 
Mengejar Target

Beberapa bulan ke depan menjadi masa-masa sibuk bagi Silvia dan timnya. Ia dan seluruh tim harus menyelesaikan tahap akhir dari megaproyek MRT Jakarta. Fase satu MRT Jakarta rute Lebak Bulus - Bundaran Hotel Indonesia sepanjang 16 km, yang rencananya memiliki target menempuh Lebak Bulus - Bundaran HI dalam 30 menit!
 
“Kami satu tim di MRT Jakarta ini, terutama konstruksi, memang sudah tidak kenal waktu lagi. Practically 24/7 kita on call and stand by. Kami harus memastikan bahwa semua ini akan  berjalan dengan lancar. Beroperasinya MRT pada Maret 2019 adalah target bersama. Dan, kalau kita percaya bersama, tim akan memberikan apa pun yang dibutuhkan untuk memastikan hal ini terjadi,” katanya.
 
Pekerjaan fisik dari rel hingga stasiun sudah hampir selesai untuk mengejar target pengerjaan 96,6% pada akhir tahun ini. MRT Jakarta pun siap melakukan berbagai uji coba sebelum benar-benar dibuka untuk masyarakat luas. Dan tak kalah penting, menyiapkan masyarakat lewat program edukasi dan sosialisasi.
 
Sebagai moda transportasi yang baru di Indonesia, MRT Jakarta benar-benar dimulai dari nol. Inilah tantangan sekaligus pemicu semangat Silvia untuk memimpin proyek MRT ini. Proyek MRT Jakarta ini merupakan proses penting bagi bangsa Indonesia untuk belajar tentang transportasi modern. Itu sebabnya, dalam bekerja ia menerapkan prinsip terlibat langsung.
 
“Dengan terlibat langsung memungkinkan kita untuk belajar. Saya yakin, dengan kita belajar dari sekarang, di masa depan, tidak akan lama, kita sudah bisa membuat MRT sendiri,” katanya, sambil menyebutkan negara yang menjadi benchmark MRT di kawasan Asia, seperti Jepang, Hong Kong, Singapura, dan Malaysia.

Apa pendapat Silvia tentang peluang wanita berkarier di dunia konstruksi? Lanjutkan membaca ke halaman berikut.
 
 

Tak Ada Yang Tak Mungkin

Setelah cukup lama tinggal di Singapura, Silvia memilih meninggalkan zona nyamannya sebagai Project Manager Road Projects Group, Land Transport Authority (LTA) Singapura. Fakta bahwa proyek infrastruktur ini akan membawa dampak yang besar pada masyarakat, khususnya Jakarta, jadi alasannya bergabung.
 
“Ini yang paling saya sukai, bagaimana saya melihat MRT akan memiliki dampak yang besar bagi masyarakat dan positif. Saya juga mendapat kesempatan untuk ikut berpartisipasi membuat perubahan bagi kehidupan banyak orang Jakarta,” katanya, tersenyum. Dalam memimpin timnya, alumnus SMA Don Bosco II Pulo Mas, Jakarta, ini menekankan pentingnya kolaboratif. “Yang terbaik adalah membuat semua anggota tim terlibat dalam membuat keputusan.”
 
Ia percaya, ketika orang terlibat dalam pembuatan keputusan, mereka merasa memilikinya sehingga mau melakukan yang terbaik. Ia juga menemukan cara terbaik untuk membuat orang lain menyelesaikan pekerjaan, yaitu dengan memercayai orang itu. Ketika itu bisa dilakukan, hasil yang baik akan didapat.
 
Selama menggeluti dunia konstruksi yang didominasi pria, Silvia tidak merasa adanya diskriminasi. Meski begitu, ia harus membuktikan diri setiap waktu bahwa sebagai wanita ia bisa menyelesaikan pekerjaan yang sama dengan pria. “Mungkin ada persepsi, wanita mana mau kerja ke lapangan, atau memang kuat jalan jauh atau kuat dengan kondisi lapangan lainnya. Persepsi itu salah, dan tidak berlaku untuk saya. Saya bisa bekerja dengan segala kondisi di lapangan, dengan kolega yang laki-laki, yang cara berbicaranya mungkin blak-blakan.”
 
Bagi Silvia, gender bukan lagi faktor penting di industri konstruksi. Kini makin banyak wanita menggeluti industri ini. “Saya hanya salah satu dari mereka, dan bukan satu-satunya wanita yang bisa mencapai level ini. Jumlah wanita di konstruksi masih di bawah pria, tapi angkanya terus bertambah,” katanya.
 
Bukti lain, dalam Direktorat konstruksi PT MRT Jakarta yang ia pimpin, 26% teknisinya wanita. Secara keseluruhan, pekerja wanita PT MRT Jakarta, mencapai 25%. Kepala Department Civil Engineering, Kepala Department Railway Engineering, dan Kepala Divisi Operasional MRT di MRT Jakarta, semuanya wanita Baginya, tak ada yang tak mungkin dilakukan wanita, termasuk di dunia konstruksi. Namun ia mengingatkan, tidak ada hal yang datang dengan mudah. Butuh usaha dan kerja keras untuk mencapai apa yang kita inginkan.

Seiring waktu, pasti banyak gangguan. Tapi, sekali Anda memiliki tumpuan itu (passion, values, cita-cita atau goal, apa pun itu), Anda akan kembali mengejar tumpuan tersebut,” ujar Silvia.
 
“Jangan pernah berhenti belajar. Dan yang terpenting, mengingatkan diri sendiri bahwa ‘saya bisa’! Kalaupun gagal, coba lagi,” tutupnya. (f)

Baca Juga:

Raline Shah, Mandiri Lewat Akting
Najwa Shihab dan Tantangan Jurnalistik Baru