
Foto: Agustina Selviana
Di balik proyek ikonis ini, Silvia Halim (35) yang bertanggung jawab untuk pembangunannya. Sebagai Direktur Konstruksi PT MRT Jakarta, ia nyaris tak pernah istirahat, 24/7. Bahkan, hingga proyek yang rencananya akan mulai resmi beroperasi Maret 2019 kelak, ia tidak mengagendakan waktunya untuk liburan!
Menjadi Kerja Bersama
Bulan September yang menjadi puncak musim kemarau, matahari siang pukul 11 sudah sedemikian panas dan menggigit kulit. Mengenakan kemeja putih bergaris merah, celana panjang hitam dan sepasang doc martens hitam membungkus kakinya, Silvia melangkah cepat mengajak femina menuruni tangga besi, menuju tunnel dan stasiun bawah tanah di Bundaran HI. Ini adalah stasiun terakhir MRT Jakarta fase 1, dengan rute Lebak Bulus - HI sepanjang 16 kilometer, yang sekaligus akan menjadi tempat langsir kereta.
Bagi warga Jakarta yang terbiasa melewati rute Jalan Sudirman-Thamrin, sudah pasti mafhum dengan adanya berbagai pekerjaan pembangunan MRT di beberapa titik --yang akan menjadi stasiun bawah tanah-- dipagari oleh seng-seng penutup.
Namun, berada di bawah tanah yang panas dan menyaksikan pembangunan proyek ikonis ini, tidak bisa tidak, harapan besar disematkan untuk segera mendapatkan transportasi modern. Sekaligus membuat Jakarta bisa sejajar dengan kota-kota besar di dunia, memiliki sistem transportasi publik yang baik dan manusiawi.
Di sela-sela pemotretan, beberapa kali Silvia menyapa dan berbicara dengan para mandor. Sebagai direktur konstruksi, ia mengomandani 8 kontraktor, 6 kontraktor mengerjakan konstruksi untuk railway
system, pemasangan track, persinyalan, serta 1 kontraktor untuk supply kereta.
“Untuk yang supply kereta hanya dikerjakan oleh kontraktor dari Jepang, tapi 6 lainnya merupakan konsorsium lokal dan Jepang. Mengapa Jepang, karena mereka yang memberikan loan untuk proyek ini,” jelasnya.
Per akhir Agustus 2017, menurut Silvia, pekerjaan fisik sudah mencapai 78 persen, yang terdiri atas pekerjaan underground yaitu pembangunan stasiun bawah tanah dan pemasangan tunnel, serta pekerjaan elevated, yang terdiri atas pembangunan stasiun layang dan viaduct jalur keretanya.
Sebagai informasi, untuk MRT Jakarta fase 1, ada 7 stasiun layang, yaitu dari Stasiun Lebak Bulus sampai Stasiun Sisingamangaraja, dan 6 stasiun bawah tanah, yaitu dari Stasiun Senayan sampai Stasiun Bundaran HI.
“Target kami, pertengahan Oktober ini semua viaduct sudah nyambung semua dan struktur stasiun sudah selesai dibuat per akhir tahun ini,” ujar Silvia. Mendengar penjelasan Silvia menerangkan persentase dan target-target kerjanya dengan suara yang renyah dan senyum yang mudah merekah, tampaknya mudah.
Padahal, sebetulnya apa yang dihadapi di lapangan sungguh tidak gampang. Sama seperti proyek-proyek infrastruktur besar lain, tantangan terbesar yang dihadapi adalah masalah pembebasan lahan. “Proses
pembebasan lahan di sini panjang dan lama. It’s a real problem,” katanya, serius.
Sebagai contoh, proyek yang sudah dimulai sejak tahun 2013 ini, baru berhasil membebaskan nyaris semua lahan akhir tahun lalu. Ya, nyaris semua, karena hingga kini masih ada dua titik penting yang lahannya belum terbebaskan. “Jadi, memang ada satu stasiun yang harus kita declare tidak bisa diselesaikan bersamaan dengan beroperasinya MRT pada Maret 2019, yaitu Stasiun Haji Nawi,” katanya.
Pemilik lahan tersebut sampai sekarang belum mau melepaskan tanah mereka karena tidak setuju dengan harga yang ditawarkan oleh Pemprov DKI. “Saat ini prosesnya masih saling menggugat di pengadilan,” kata Silvia, sambil mengatakan bahwa dibutuhkan aturan dan sistem yang jelas untuk mendukung proyek-proyek infrastruktur agar berjalan lancar sekaligus menjaga fairness bagi masyarakat.
Kesemrawutan aturan yang saling tumpang tindih juga dihadapi ketika membuka tanah Jakarta, yang ternyata juga semrawut. Apa lagi kalau bukan utilitas berupa kabel-kabel yang saling centang perentang tanpa diketahui siapa pemiliknya.
“Kalau kita punya banyak utilitas di atas tanah, ternyata di bawah juga banyak, ha… ha… ha…,” katanya. Kalau tertanam dan bisa diidentifikasi lokasinya, ada gambarnya, dan pemiliknya jelas siapa, mungkin tidak terlalu masalah. “Tapi kenyataannya, ketika kami buka, wah, banyak yang tidak ada di gambar. Punya siapa, tidak ada yang mau ngaku. Ini adalah kendala nonteknis yang memengaruhi progress pekerjaan,” katanya.
Untuk utilitas yang tidak langsung bertabrakan dengan MRT, biasanya bisa digeser. Namun, bila utilitas itu bertabrakan langsung, maka harus dipindahkan. Persoalannya, pemindahan tidak bisa dilakukan oleh pihak MRT. Sesuai peraturan pemerintah, memindahkan utilitas proyek pemerintah harus dikerjakan oleh pemilik utilitas.
“Karena itu, kami harus melakukan banyak koordinasi dengan pemilik utilitas tersebut, dan tentu saja ini memakan waktu juga, apalagi kalau tidak ketahuan siapa pemiliknya,” ujarnya, tanpa nada mengeluh.
Semua tantangan yang dihadapi itu, menurut Silvi, demikian panggilannya, menjadi pembelajaran ke depan. Soal utilitas misalnya, dari yang ia alami saat ini, ke depannya, untuk proyek MRT fase selanjutnya, pihaknya perlu berkoordinasi dengan berbagai pihak, agar tidak lagi terjadi saling menunggu yang akhirnya mengganggu kelancaran pekerjaan.
Selanjutnya: Isu keamanan dan budaya masyarakat dalam memelihara fasilitas umum.

Foto: Agustina Selviana
Sudah Waktunya
Silvi memahami, masyarakat Jakarta sudah menunggu kehadiran MRT dengan harapan yang sangat besar. Sebesar juga kekhawatiran yang terselip di benak publik tentang keamanan, termasuk dalam menghadapi banjir, hingga mengkhawatirkan kurangnya ‘budaya’ memelihara masyarakat terhadap fasilitas umum.
“Persoalan bagaimana menghadapi banjir adalah pertanyaan yang paling banyak diajukan kepada kami,” katanya. Silvi pun menerangkan bahwa feature dan design MRT Jakarta sama seperti kota-kota lain di dunia. Penanggulangan pertama adalah dari desain stasiun bawah tanah.
Menurut Silvi, pintu masuk ke stasiun memang ada di permukaan tanah, tapi levelnya dibuat dengan memperkirakan data curah hujan. Karena itu, akan ada tangga naik terlebih dahulu hingga satu meter, kemudian tangga untuk turun. Di beberapa titik yang permukaan tanahnya lebih rendah ditambahkan
additional measure, berupa flat gate.
Seandainya curah hujan sedang tinggi dan air naik, maka pintu tersebut otomatis akan naik. Flat gate ini setinggi satu meter juga. “Jadi, akan ada 2 meter untuk mencegah air masuk ke dalam stasiun,” katanya.
Sistem pengamanan lain adalah adanya drainage system di tunnel dan sum area di stasiun, yang berupa tempat penampungan air kalau-kalau ada air yang masuk dan kemudian akan dipompa keluar.
“Sebetulnya, banjir bukan monopoli Jakarta. Kota-kota besar lain bahkan Singapura pun terkena banjir. Jadi, sistem yang kita pakai saat ini merupakan standar umum untuk menjadi MRT bebas dari banjir,” imbuh Silvi.
Lantas, bagaimana ia melihat kesiapan masyarakat akan hadirnya transportasi berteknologi canggih ini? “Menurut saya, it’s the time,” katanya. Bahkan, untuk konteks MRT, Jakarta sudah terbilang ketinggalan karena, katakanlah Vietnam misalnya, saat ini pun sedang mengerjakan proyek yang sama, yang menurut Silvi, bisa jadi kelak selesainya akan bersamaan dengan MRT Jakarta. “Padahal, usia kemerdekaan Vietnam lebih muda dari kita,” tambahnya.
Apakah masyarakat siap, tentu saja dituntut harus siap dengan kemajuan teknologi. “Tapi kami sadar, itu adalah idealismenya,” katanya. Karena itu, pihak MRT Jakarta pun tahun depan akan berusaha meningkatkan awareness ke masyarakat agar bisa menggunakan dan menjaga bersama-sama.
“Karena MRT ini bukan milik PT MRT Jakarta, bukan milik Pemrov DKI, tetapi milik masyarakat Jakarta, dan milik Indonesia. Apalagi, MRT ini adalah hasil kerja bersama dengan susah payah diwujudkan,” katanya.
Namun, Silvi mengatakan, selama memonitor percakapan masyarakat yang terjadi di media sosial berikut harapan positif mereka akan MRT, pihaknya merasa bahwa akan tumbuh sense of ownership pada diri masyarakat.
“Bahkan, ketika saya membaca ada yang bilang, ‘Jangan dirusak, ya, nanti,’ hal itu benarbenar
membuat kami percaya diri,” katanya.
Selanjutnya: Diskriminasi dan stigma terhadap wanita dan etos kerja orang Indonesia

Foto: Agustina Selviana
24/7 hingga Maret 2019
Bekerja di bidang yang masih didominasi pria tidak membuat Silvi membatasi diri hanya karena dirinya wanita. “Tentu diskriminasi tetap ada. Contohnya, dulu ketika masih menjadi insinyur muda dan harus berhadapan dengan kontraktor, mereka sempat memandang rendah karena saya seorang wanita, masih muda pula, bisa apa?” katanya.
Silvi tidak terintimidasi. Ia mengatakan bahwa cara menghadapi diskriminasi seperti itu adalah dengan fokus saja pada pekerjaan.
“Sebagai engineer, tugas saya apa. Ya sudah, kerjakan saja tugasnya. Biarkan hasil kerja sebagai bukti. Setelah saya melewati hal itu ya itu just flow,” kata penyuka jogging ini.
Menurutnya, pekerjaan itu tidak mengenal gender, karena dikerjakan oleh pria maupun wanita, tantangan yang dihadapi sama. “Jadi, fokus saja pada pekerjaan, let outcome be the voice. Kalau misalnya ada orang yang meragukan, lihat saja pada hasilnya,” ujarnya, seraya bersyukur bahwa selama ia bekerja lebih banyak menemui orang yang bekerja dengannya tidak mempermasalahkan gender.
Interaksi Silvi di lapangan dengan para pekerja konstruksi juga dengan staf-nya di kantor, membuat alumnus SMA Don Bosco II Pulo Mas, Jakarta ini terlihat sebagai sosok yang membumi. Ia terlihat bisa luwes menempatkan diri, dan tidak membentangkan jarak yang membuatnya sulit dijangkau.
Padahal, ketika tahun lalu ia menerima pekerjaan sebagai Direktur Konstruksi PT MRT Jakarta, keputusannya itu dipertanyakan banyak orang, termasuk teman-teman dekatnya. Maklum, sebelum pulang ke Jakarta, Silvi bisa dibilang sudah enak dan nyaman dengan posisinya sebagai Project Manager Road Projects Group, Land Transport Authority (LTA), Singapore.
“Di sana, segala sesuatu sudah teratur dan sudah ada SOP-nya. Namun, saya melihat ini adalah proyek menantang. Dampaknya besar bagi masyarakat. Ketika saya di LTA, sebagai PNS Singapura, saya dibangun oleh ide-ide tentang public service yang benar-benar harus mempunyai impact ke masyarakat. Jadi, kalau ingin membuat perbedaan di masyarakat dengan proyek yang kita kerjakan, ya, di sinilah tempat memenuhi kriteria tersebut,” kata wanita kelahiran Jakarta yang pernah menghabiskan sebagian masa kecilnya di Palembang ini.
Karena itu, tak pernah ada kata ragu bagi Silvi untuk pulang kampung. Menurutnya, jika ingin bertumbuh dan berkembang, seseorang tidak bisa terus-menerus berada di comfort zone. Justru ketika seseorang menceburkan dirinya ke hal-hal yang sulit, maka ia akan menemukan kekuatan dan kelemahannya sekaligus sehingga ia bisa terus berkembang. Meski, katanya, teman-temannya memberikan deskripsi yang minor mengenai cara bekerja orang Indonesia.
“Ya, harus diakui, reputasi cara kerja orang Indonesia dianggap buruk, karena dianggap lambat dan selalu on time alias tidak mau banyak lembur. Tapi, begitu saya bekerja dengan rekan-rekan di sini, semua anggapan itu salah,” ujarnya, sambil menyebut, MRT Jakarta dikerjakan oleh tim yang kompeten dan tidak hitung-hitungan dengan jam kerja.
Silvi mengakui, dirinya memang terbawa ritme kerja orang Singapura yang sangat kompetitif. “Saya tidak tahu, apakah itu baik atau buruk, tetapi seperti orang Singapura pada umumnya, saya agak-agak workaholic,” ujar lulusan insinyur sipil dari Nanyang Technological University, Singapura, ini sambil tertawa.
Silvi tahu, pekerjaannya saat ini memang menyita waktunya sedemikian banyak. Karena itu, ia tidak muluk-muluk menghabiskan me time (kalau bisa disebut me time, katanya).
“Ada waktu untuk tidak memikirkan sejenak pekerjaan, itu sudah cukup,” ujarnya, lagi-lagi tertawa. Traveling yang bersifat murni pekerjaan pun sudah ia coret dari jadwalnya hingga nanti MRT Jakarta
beroperasi, Maret 2019.
“Paling kalau ada weekend yang agak longgar saya pergi ke Bali karena punya keluarga di sana, atau ke Singapura bertemu teman-teman,” ujarnya, ketika dipaksa memberi tahu bagaimana caranya menghabiskan waktu luang. Bagaimana dengan spa? “Hmm… boleh juga, ya, dicoba,
ha… ha… ha….” (f)
Baca juga: Ratih Citra Sari, Menembus Belantara Demi Membantu Pasien Korban Bencana
Seni Lintas Batas Bagi Tintin Wulia, Wakil Indonesia di Venice Art Biennale 2017
Bekerja di bidang yang masih didominasi pria tidak membuat Silvi membatasi diri hanya karena dirinya wanita. “Tentu diskriminasi tetap ada. Contohnya, dulu ketika masih menjadi insinyur muda dan harus berhadapan dengan kontraktor, mereka sempat memandang rendah karena saya seorang wanita, masih muda pula, bisa apa?” katanya.
Silvi tidak terintimidasi. Ia mengatakan bahwa cara menghadapi diskriminasi seperti itu adalah dengan fokus saja pada pekerjaan.
“Sebagai engineer, tugas saya apa. Ya sudah, kerjakan saja tugasnya. Biarkan hasil kerja sebagai bukti. Setelah saya melewati hal itu ya itu just flow,” kata penyuka jogging ini.
Menurutnya, pekerjaan itu tidak mengenal gender, karena dikerjakan oleh pria maupun wanita, tantangan yang dihadapi sama. “Jadi, fokus saja pada pekerjaan, let outcome be the voice. Kalau misalnya ada orang yang meragukan, lihat saja pada hasilnya,” ujarnya, seraya bersyukur bahwa selama ia bekerja lebih banyak menemui orang yang bekerja dengannya tidak mempermasalahkan gender.
Interaksi Silvi di lapangan dengan para pekerja konstruksi juga dengan staf-nya di kantor, membuat alumnus SMA Don Bosco II Pulo Mas, Jakarta ini terlihat sebagai sosok yang membumi. Ia terlihat bisa luwes menempatkan diri, dan tidak membentangkan jarak yang membuatnya sulit dijangkau.
Padahal, ketika tahun lalu ia menerima pekerjaan sebagai Direktur Konstruksi PT MRT Jakarta, keputusannya itu dipertanyakan banyak orang, termasuk teman-teman dekatnya. Maklum, sebelum pulang ke Jakarta, Silvi bisa dibilang sudah enak dan nyaman dengan posisinya sebagai Project Manager Road Projects Group, Land Transport Authority (LTA), Singapore.
“Di sana, segala sesuatu sudah teratur dan sudah ada SOP-nya. Namun, saya melihat ini adalah proyek menantang. Dampaknya besar bagi masyarakat. Ketika saya di LTA, sebagai PNS Singapura, saya dibangun oleh ide-ide tentang public service yang benar-benar harus mempunyai impact ke masyarakat. Jadi, kalau ingin membuat perbedaan di masyarakat dengan proyek yang kita kerjakan, ya, di sinilah tempat memenuhi kriteria tersebut,” kata wanita kelahiran Jakarta yang pernah menghabiskan sebagian masa kecilnya di Palembang ini.
Karena itu, tak pernah ada kata ragu bagi Silvi untuk pulang kampung. Menurutnya, jika ingin bertumbuh dan berkembang, seseorang tidak bisa terus-menerus berada di comfort zone. Justru ketika seseorang menceburkan dirinya ke hal-hal yang sulit, maka ia akan menemukan kekuatan dan kelemahannya sekaligus sehingga ia bisa terus berkembang. Meski, katanya, teman-temannya memberikan deskripsi yang minor mengenai cara bekerja orang Indonesia.
“Ya, harus diakui, reputasi cara kerja orang Indonesia dianggap buruk, karena dianggap lambat dan selalu on time alias tidak mau banyak lembur. Tapi, begitu saya bekerja dengan rekan-rekan di sini, semua anggapan itu salah,” ujarnya, sambil menyebut, MRT Jakarta dikerjakan oleh tim yang kompeten dan tidak hitung-hitungan dengan jam kerja.
Silvi mengakui, dirinya memang terbawa ritme kerja orang Singapura yang sangat kompetitif. “Saya tidak tahu, apakah itu baik atau buruk, tetapi seperti orang Singapura pada umumnya, saya agak-agak workaholic,” ujar lulusan insinyur sipil dari Nanyang Technological University, Singapura, ini sambil tertawa.
Silvi tahu, pekerjaannya saat ini memang menyita waktunya sedemikian banyak. Karena itu, ia tidak muluk-muluk menghabiskan me time (kalau bisa disebut me time, katanya).
“Ada waktu untuk tidak memikirkan sejenak pekerjaan, itu sudah cukup,” ujarnya, lagi-lagi tertawa. Traveling yang bersifat murni pekerjaan pun sudah ia coret dari jadwalnya hingga nanti MRT Jakarta
beroperasi, Maret 2019.
“Paling kalau ada weekend yang agak longgar saya pergi ke Bali karena punya keluarga di sana, atau ke Singapura bertemu teman-teman,” ujarnya, ketika dipaksa memberi tahu bagaimana caranya menghabiskan waktu luang. Bagaimana dengan spa? “Hmm… boleh juga, ya, dicoba,
ha… ha… ha….” (f)
Baca juga: Ratih Citra Sari, Menembus Belantara Demi Membantu Pasien Korban Bencana
Seni Lintas Batas Bagi Tintin Wulia, Wakil Indonesia di Venice Art Biennale 2017