Pengalaman seni tidak membutuhkan kata-kata, membawa kita terbang pada imajinasi dan interpretasi pikiran. Lewat karya-karya seni kontemporer, Tintin Wulia (44) mengajak siapa saja memasuki dunianya. Dunia yang berisi hubungan yang kompleks, saling terikat, dan melewati batas, seperti karya terbarunya yang tampil di paviliun Indonesia, di Venice Biennale Arte 2017.

Memasuki awal musim panas, cuaca Kota Venesia, Italia, di pertengahan Juni lalu terasa hangat. Matahari bersinar terang, menghasilkan refleksi bayangan yang sangat nyata dari deretan bangunan tua di kompleks Arsenale.

Di sinilah ajang seni kontemporer internasional terkemuka, Venezia Biennale Arte, digelar 
tiap dua tahun sekali. Sejak tahun 1895, ratusan karya seni kontemporer dari artis-artis berbagai negara dikurasi dengan sangat ketat oleh kurator- kurator internasional.

Suatu pagi di pertengahan Juni lalu, femina bertemu dengan Tintin di apartemennya, yang letaknya tidak jauh dari kompleks Arsenale. Dia sudah menempati apartemen ini sejak beberapa bulan terakhir, sejak harus bolak-balik Australia – Venesia untuk mempersiapkan pamerannya.

Siang itu ada yang istimewa, ia akan tampil sebagai pembicara di Tavola Aperta (Open Table), salah satu program acara di Venezia Biennale Arte 2017. Tiap hari, Open Table menampilkan artis-artis dari berbagai negara yang karyanya tampil di Le Biennale, mengupas proses seni di balik karya mereka.

Menampilkan karya seni instalasi bertajuk 1001 Martian Homes di paviliun Indonesia di Venezia Biennale Arte 2017, Tintin bercerita tentang pola berulang dalam sejarah perpindahan manusia melintasi waktu, tempat, dan ruang untuk memikirkan kembali tentang konektivitas.

Dengan waktu persiapan, yang diakui Tintin, cukup singkat, hanya beberapa bulan, 1001 Martian Homes merefleksi pada kehidupan keluarganya yang harus ulang-alik di antara dua rumah, Bali dan Cina, serta kenyataan sama yang ia lakoni sepuluh tahun belakangan ini, antara Australia dan Indonesia.

Wanita yang menetap di Australia sejak mengambil program PhD (Art) di RMIT University Australia  ini mengimajinasikan sebuah masa depan lewat tiga pasang instalasi yang saling terhubung. Ketiga pasang instalasi ini berdiri di dua paviliun Indonesia yang nyaris identik, yang terletak di dua lokasi berbeda, yaitu di Arsenale, Venesia dan di Senayan City, Jakarta.

Unik, karena konsep ini menjadikan paviliun Indonesia menjadi satu-satunya sekaligus yang pertama, yang memiliki dua ruang pameran dan salah satunya berada di luar Venesia. Instalasi pertama, Not Alone, berupa mesin kembar berbentuk kubah setengah lingkaran yang mampu merekam partisipasi pengunjung di dua paviliun tersebut. Koneksi internet menjadi elemen sentral. Pengunjung dapat melihat refleksi pengunjung lain di kota berbeda.


Instalasi kedua, berupa video 1001 Martian Homes yang terdiri atas susunan wawancara-wawancara yang dijalin ke dalam narasi berlatar masa depan. Beberapa tokoh dalam video ini adalah eks tahanan politik yang menarasikan kembali pengalaman mereka secara simbolis.

Instalasi ketiga, Under The Sun, menampilkan tangga menuju ruang tersembunyi di lantai atas dengan pintu terkunci. Hanya ada satu lubang intip. Di baliknya, terdapat sebuah ruang kerja kecil acak-acakan dengan aneka sketsa. Gambar mata pengunjung di Jakarta dan Venesia yang terekam dari lubang intip di pintu, ditayangkan kembali di lingkaran-lingkaran aneka ukuran yang terdapat di sepanjang dinding tangga.

Di acara Tavola Aperta, dengan penampilan sederhana berupa atasan kuning cerah berpotongan minimalis dipadu bawahan hitam, Tintin bercerita bagaimana ia mengimplementasikan gagasannya dalam sebuah instalasi seni.

Tidak dipungkiri, latar belakang keluarganya yang berasal dari etnis Tionghoa dan beberapa tragedi yang melibatkan etnis Tionghoa, seperti peristiwa ‘65 dan kerusuhan ‘98, telah menginspirasi karyanya. “Kenyataan bahwa kakek saya hilang pada tahun 1965 dan cerita ini menjadi sejarah yang tidak pernah diceritakan secara terbuka di keluarga,” ungkapnya, terbuka.

Pengalaman keluarga dan kisah beberapa orang dekat inilah yang kemudian dirangkai Tintin dalam sebuah video narasi tunggal. Tanpa menyebut nama dan cerita asli dari tiap tokoh yang tampil, sebenarnya mereka ini adalah orang-orang yang memiliki pengalaman yang sama dengan dirinya dan keluarganya.

“Cerita sepotong-sepotong yang saya dapat dari keluarga, juga  pengalaman beberapa teman yang saya dengar ceritanya. Sejarah ini akan hilang, jika tidak terdokumentasi. Saya  lalu membuat proyek untuk mengumpulkan cerita-cerita tentang 1965. Tim media sosial menyebarkan di Facebook. Dari situ ada tanggapan, lalu mulailah beberapa orang merespons dan bersedia memberikan testimoni mereka,” cerita Tintin, yang kemudian menggunakannya sebagai salah satu bagian dari video instalasinya di 1001 Martian Homes.  
 


 
 
 

Wajah Seni Modern
Dalam menampilkan karya-karya seninya, wanita kelahiran Denpasar, Bali ini  termasuk yang konsisten dan produktif di jalurnya. Bisa dibilang, 1001 Martian Homes terpaut erat dengan karya-karya Tintin lainnya sepanjang 10 tahun perjalanannya di dunia seni kontemporer.

Gagasan-gagasan tentang tema ‘batas’ banyak ia angkat dalam karyanya. Bukan pendekatan lewat batas geografis belaka, ia juga melihat batas sebagai bagian dari kerangka geopolitis. Geografi dan kekuasaan dipahami sebagai dua hal yang saling memengaruhi dan sama-sama menentukan cara orang berpikir dan bertindak ketika berhadapan dengan batas.

Salah satu karya Tintin yang langsung berbicara tentang geopolitis adalah (Re)Collection of Togetherness (2008) yang menampilkan instalasi seni berupa rangkaian paspor-paspor tiruan. Paspor ini merepresentasikan kebebasan sebagian orang untuk bisa bepergian ke berbagai tempat secara mudah melintasi batas, tapi bagi sebagian lainnya dokumen ini juga mengekang mereka dengan identitas kewarganegaraan dan aturan resmi lainnya.

Kekhasan lain dari karya Tintin adalah koneksi yang tercipta antara manusia dengan benda. Dalam pandangannya, benda sebagai bagian dari jaringan sosial, menjadi jembatan bagi manusia untuk berkomunikasi. Benda juga menstimulasi interaksi hubungan manusia dengan manusia. Lewat karya-karyanya, ia membuat interaksi antara manusia lewat benda.

“Kita ini dikelilingi benda dan tanpa benda kita tidak mungkin hidup. Baju misalnya, kita tidak mungkin keluar tanpa pakai baju. Atau jam tangan yang seperti sudah menyatu dengan tangan kita. Atau ponsel yang seakan memanggil kita untuk menyentuhnya,” ungkap Tintin, yang memasukkan konsep tentang benda ini dalam penelitian untuk gelar PhD-nya.

Dalam karyanya yang berjudul Five Tonnes of Homes and Other Understories (part of Trade/Trace/Transit, 2014 – 2016), misalnya. Instalasi ini ia bangun dari kardus-kardus yang menyerupai rumah bagi tunawisma di Hong Kong. Sebagai simbol bagaimana manusia terhubung lewat sebuah benda bernama kardus.

Dalam banyak karyanya, Tintin juga memanfaatkan metode interaktif dan partisipatori. Ia mengajak audiensi untuk terlibat dalam karya seninya, seperti dalam instalasi berbasis peta, Nous ne notons pas les fleurs (2009 –2012).

Pameran yang dilakukan di sejumlah kota ini ditampilkan dalam berbagai objek berbeda-beda, mulai dari bunga dalam pot, rempah-rempah, hingga bebatuan warna-warni yang dikonstruksikan di lantai menyerupai peta. Dalam instalasi seni ini, penonton diajak untuk berpartisipasi dengan cara membentuk kembali peta tersebut hingga terjadi perubahan dari peta awalnya.

“Kalau dulu seni adalah hubungan manusia dengan Tuhan, kini seni adalah hubungan manusia dengan manusia. Bagaimana manusia berinteraksi,” kata wanita yang menerima apresiasi dari Australia Council berupa Art’s Creative Australia Fellowshio 2014-2016, ini. 

Instalasi seni berjudul 40.000 Homes and a Sense of Security (2016) ini berisi 800 kartu pos yang menggantung dengan masing-masing memuat satu huruf dan tanda baca yang dirangkai menjadi kalimat bercerita tentang Hansel and Gretel. Sebelumnya, 800 kartu pos yang digunakan terlebih dahulu diberi pilox hitam satu sisinya, gunanya untuk melihat jejak sidik jari manusia di  tiap kartu pos tersebut. Lalu, kartu pos yang disebar kepada 800 orang di kota-kota di Belanda, yaitu Amsterdam, Roterdam, dan Utrecht, itu dikirimkan kembali ke satu alamat di Amsterdam.

“Setelah terkumpul, tidak hanya kartu posnya, kita juga bisa melihat jejak sidik jari dan yang tidak kami sangka adalah jejak mesin sortir di kantor pos yang turut terekam pada kartu pos tersebut,” ungkapnya.
Ide boleh datang dari mana saja, tapi menurut Tintin research penuh sebelum mengeksekusi sebuah ide itu penting. Untuk ini, ia bisa melakukannya selama berbulan-bulan. Ini karakter Tintin yang khas.
 
 
 

Dua tahun kuliah di Berklee College of Music, USA, tahun 1997, Tintin lulus dengan gelar Bachelor of Music (Film Scoring) dengan hasil membanggakan, magna cum laude. Berselang satu tahun, Tintin juga menyelesaikan kuliahnya yang sudah berlangsung selama hampir 8 tahun di Jurusan Arsitektur Universitas Katolik Parahyangan Bandung, dengan gelar sarjana arsitektur.

Dengan dua gelar di tangan, sarjana arsitektur dan musik, Tintin justru memilih berkecimpung di dunia film. Ia membuat film-film pendek dan bekerja sebagai editor di sebuah rumah produksi film. Salah satu film pendek karyanya yang berjudul Violence Against The Fruits (2000)  bercerita tentang kekerasan terhadap etnis Tionghoa di Indonesia (1998), telah beberapa kali masuk festival film dan pameran seni video.

Tahun 2002, ia juga mendirikan Minikino, sebuah organisasi film yang menyelenggarakan diskusi dan pemutaran film. Semua itu ia lakukan tak lain karena rasa ‘haus’ akan interaksi yang lebih jauh dengan penikmat filmnya. Ia tidak ingin karyanya berhenti di ruang itu.

“Saya merasa, film itu kita tonton di ruang gelap, bahkan komunikasi dengan orang yang duduk di sebelah pun tidak terjadi, sifatnya hanya satu arah. Itu sebabnya, saya membuat Minikino yang fokusnya pada pemutaran film-film pendek dan disertai dengan diskusi setelah film,” kata wanita yang piawai bermain piano ini.

Krisna Murti dan Hafiz Rancajale adalah dua seniman video Indonesia yang disebut-sebut Tintin membawa dirinya masuk jauh ke dalam lingkup seni rupa. Hingga ia mendapatkan gelar baru sebagai ‘seniman video’.

Dari sinilah perjalanan seninya tak pernah putus, melanglang buana dari satu pameran ke pameran internasional lainnya. Sebut saja Istanbul Biennale (2005), Jakarta Biennale (2009), Moscow Biennale (2011), Gwangju Biennale (2012), Asia Pacific Triennale (2012), dan Sharjah Biennale (2013). Karya seninya juga dipamerkan di museum internasional dan menjadi koleksi pribadi, seperti Van Abbemuseum, Singapore Art Museum, dan He Xiangning Art Museum.

Lantas, apa proyek terbaru Tintin? “Ada beberapa proyek yang sedang saya kembangkan. Dalam waktu dekat ini saya akan mengikuti pekan seni media di Pekanbaru, Riau, lalu proyek di Quensland Modern Art Gallery,” kata penggemar Marvel ini, tersenyum. (f)