Foto: Dok.Marvel

Inspirasi untuk menciptakan karya bisa berasal dari mana saja. Begitu juga dengan Sana Amanat (34), Director of Content & Character Development Marvel. Ia dan rekan-rekannya menciptakan karakter Kamala Khan atau lebih dikenal sebagai Ms. Marvel yang terinspirasi dari pengalaman hidupnya sebagai muslim Pakistan-Amerika.

Di Marvel, Sana punya tugas yang sangat besar. Ia bertanggung jawab mengawasi usaha untuk terus memperkaya pilihan karakter Marvel pada berbagai medium yang dimiliki bagi penonton dan penggemar Marvel di seluruh dunia.

Baca kisahnya di laman selanjutnya.
 
 

Melawan Stereotip

Lebih dari 75 tahun, Marvel Comics telah menjadi rumah bagi superhero Spiderman, Captain America, hingga Iron Man. Markas bagi para superhero pria yang dielu-elukan banyak orang. Sayangnya, beberapa dekade, representasi wanita sebagai peran yang turut andil membela keadilan tak cukup digambarkan dengan baik. Wanita dianggap sosok yang lemah dan patut diselamatkan.

Gerah dengan stigma tersebut, sejumlah figur mulai merombak pandangan masyarakat dengan menghadirkan wajah-wajah segar.

Seperti yang dilakukan Sana Amanat, seorang mantan jurnalis yang banting setir menjadi kreator konten di Marvel sejak hampir 9 tahun lalu. Bersama rekan sejawatnya yang sama- sama merasa perlu penyegaran pandangan tentang bagaimana seharusnya wanita superhero digambarkan, memberikan warna baru bagi perusahaan dan industri komik.

Kini Marvel telah mengembangkan sebanyak 19 seri komik yang menampilkan wanita superhero secara lebih berani. Salah satunya karakter Female Thor dan Carol Denvers, yang juga dikenal sebagai Captain Marvel.

Lebih dari itu, Sana membawa Marvel ke level lebih tinggi, ketika ia bersama penulis, G. Willow Wilson dan Adrian Alphona, melahirkan karakter wanita superhero dari kalangan minoritas. Sebuah karakter wanita superhero pertama dengan latar belakang muslim Pakistan - Amerika bernama Kamala Khan, yang disebut Ms. Marvel.

Kamala Khan digambarkan sebagai seorang gadis remaja muslim Amerika berdarah Pakistan yang tinggal di Jersey City, New Jersey, AS, yang memiliki kemampuan berubah bentuk. Untuk mewakili identitas budaya aslinya, Kamala mengenakan pakaian yang terinspirasi dari shalwar kameez, baju tradisional Asia Selatan, termasuk Pakistan.

“Kami tak mau Ms. Marvel tampil seksi, agar karakter ini ramah terhadap pembaca wanita, dan tak menjadi objek seksual bagi para pria,” tutur Sana, merunut pada bagaimana biasanya wanita pahlawan selalu digambarkan, yang selalu harus bertubuh seksi.

Baca juga:
Di Balik Kostum Minim Superhero Wanita
5 Aktor Bernama Chris yang Sukses Memerankan Superhero

Dalam proses menciptakan karakter, Sana mengaku bahwa Ms. Marvel dipengaruhi latar belakangnya yang juga seorang muslim Pakistan-Amerika. “Kami sama-sama pemeluk agama minoritas di Amerika Serikat,” kata wanita yang sempat berkuliah di Universitas Boston, Amerika Serikat, ini.

Ras dan agama hanya bagian kecil yang ditonjolkan dalam cerita. Lebih dari itu, Sana justru ingin menyuarakan isu keberagaman dan kesetaraan gender lewat Kamala Khan.

Di sisi lain, kendati Sana memiliki kedekatan dengan karakter Kamala Khan karena latar belakang serupa, diakui oleh sang penggagas, bukan hal mudah menggambarkan wanita muslim sebagai sosok wanita yang kuat. Maklum, selama ini citra wanita muslim selalu digambarkan harus berperilaku feminin, anggun, dan mengikuti aturan.

“Berkali-kali kami diskusi bagaimana harusnya Kamala Khan digambarkan sebagai wanita muslim, agar tak memunculkan kontroversi. Misal, pembaca tak akan menemukan cerita ia mencium anak laki-laki. Namun, kami juga ingin menggambarkan Kamala sebagai wanita yang menginspirasi orang lain dengan melakukan ragam hal baik, yaitu dengan menjadi pahlawan,” tutur Sana, dalam wawancara eksklusif dengan femina lewat sambungan telepon.

Bagi Sana, menghadirkan karakter Ms. Marvel adalah sebagai bentuk perlawanan atas diskriminasi yang selama ini ditujukan kepada wanita. Khususnya kepada wanita muslim yang hidup sebagai minoritas di
Amerika Serikat.

“Di Marvel, karakter wanita superhero memang sangat sedikit. Itulah yang membuat kami termotivasi menciptakan Ms. Marvel. Kami mau suara wanita terwakilkan melalui karakter ini,” katanya.

Sana berharap, komik tak lagi identik dengan pria, baik sebagai tokoh maupun pembaca,
tapi juga menjadi bagian dari kegemaran wanita.

“Saya percaya, karakter Kamala Khan bisa menarik perhatian para wanita. Sebab, kisahnya sangat merepresentasikan kisah yang umum dialami remaja wanita di seluruh dunia,” ujar wanita yang memenangi penghargaan Marie Claire’s 2016 New Guard of America’s 50 Most Influential Women ini.
 
 

Sempat Krisis Kepercayaan Diri

Di balik tangan dingin dan ide brilian lahirnya karakter wanita superhero di Marvel, Sana adalah seorang wanita berdarah Pakistan yang lahir dari sepasang imigran. Di awal tahun 1960-an, sang ibunda pergi dari Pakistan ke New York. “Bayangkan, pada tahun 1964 ibu saya sudah hidup sebagai minoritas,” katanya.

Bahkan, saat Presiden AS Donald Trump melarang wisatawan dari 7 negara muslim masuk ke AS, ibu Sana ikut demonstrasi. Tak heran, jika dalam kariernya Sana begitu bersemangat melawan ketidakadilan dengan cara berbeda, yaitu melalui cerita bergambar. Sebagai anak pasangan imigran dan tinggal di kota yang didominasi warga kulit putih, masa kecil Sana dijalani dengan sulit. Ia sempat krisis percaya diri.

Ketika ia mengalami diskriminasi di lingkungan rumah maupun sekolah, komiklah yang menjadi teman setia. Sejak saat itulah kecintaannya pada komik mulai tumbuh.

Beranjak dewasa, wanita yang sempat bercita-cita menjadi pengacara ini berkuliah di Barnard College of Columbia University, mengambil jurusan ilmu politik. Setelah lulus kuliah, ia sempat bekerja di sebuah majalah.

Kemudian ia bekerja di Virgin Comics, perusahaan komik indie. Di perusahaan inilah ia banyak belajar tentang hal-hal yang berkaitan dengan penciptaan karakter. Sayangnya, dua tahun kemudian kariernya di perusahaan itu harus berakhir karena bangkrut. Lalu, pada tahun 2009, ia bekerja di Marvel Comics.

Sana berujar bahwa ia terjun di industri komik karena ia suka bercerita. Baginya, cerita itu seperti sebuah jendela. Lewat cerita, ia bisa membuat segala hal menjadi mungkin, termasuk melawan ketidakadilan atau  membantu memberdayakan wanita.

Perjalanan Sana yang memulai karier di Marvel sebagai asisten editor tidak mudah. Begitu banyak tantangan yang ia hadapi, termasuk saat ia menciptakan tokoh Kamala Khan. “Saya harus meyakinkan atasan bahwa tokoh Kamala Khan akan memberikan manfaat kepada Marvel,” tuturnya.

Ia mengungkapkan, hal tersulit yang harus dilakukan adalah menciptakan karakter baru dengan serialnya sendiri. Menentukan tokoh utama, dan apa kekuatan superhero tersebut.

Dengan kerja sama yang baik bersama tim, termasuk dengan ilustrator Adrian Alphona, ia pun berhasil membuktikan bahwa ia mampu dan idenya diterima. “Untuk membangun karakter menjadi tokoh yang kuat, saya belajar tentang studi karakter,” ungkapnya.

Kini, dengan mendapat perlakuan yang baik dari manajemen dan dari rekan-rekannya di Marvel, ia jauh lebih percaya diri. Ia pun bangga dengan identitasnya sebagai wanita muslim.

Sebagai salah satu orang paling penting di industri komik, Sana mensyukuri apa yang ia miliki. “Hidup sebagai muslim terasa sulit karena banyak orang yang berasumsi tidak baik terhadap muslim. Walau terasa sulit, banyak hal lain yang bisa saya syukuri,” katanya, bijak.

Impian besarnya adalah membawa Kamala Khan dari tampilan tidak bergerak menjadi tampilan bergerak di layar televisi. “Saya ingin karakter Kamala diadaptasi menjadi film, sehingga bisa menjangkau lebih banyak orang,” harapnya. Ia pun bercita-cita menciptakan karakter yang lebih beragam. (f)

Baca juga:
Sosok Charles Santoso, Concept Artist Film The Lego Movie Kelahiran Indonesia
Laila Nurazizah, Penulis Naskah yang ‘Dipilih’ oleh Cerita
Gina S. Noer, Proses Panjang untuk Menulis Naskah Film yang Ditonton Jutaan Orang
Kim Eun-Sook, Wanita di Balik Kesuksesan Goblin dan Descendants of The Sun


Desiyusman Mendrofa dan Citra Narada Putri