
Foto: Dok. Pribadi
Di lingkungan ilmuwan astronomi tanah air dan dunia, nama Premana Wardayanti Premadi (53) sudah tidak asing lagi. Ia adalah wanita Indonesia pertama peraih gelar doktoral di bidang astrofisika. Kesetiaannya menekuni jalur sains yang sepi dari publikasi ini tidak mengurangi semangatnya untuk memahami kedahsyatan dan keindahan alam semesta dengan segala detailnya.
Menggugah Kesadaran
Seberapa penasaran kita mencari tahu mengapa matahari tidak pernah terlambat terbit dan bersinar? Atau jangan-jangan, kita hanya memahaminya sebagai peristiwa alam yang sudah seharusnya seperti itu. Bahwa sains hanya eksis di buku-buku pelajaran sebagai teori hafalan demi mendapatkan nilai, dan bukan sebagai landasan pemahaman berkehidupan.
“Seberapa ingin tahunya masyarakat terhadap sains dan teknologi yang menopang hidup kita? Seberapa tekunnya kita dalam mencari tahu? Seberapa kuatnya dorongan untuk menemukan solusi untuk pertanyaan dan masalah. Jawaban pertanyaan-pertanyaan itu yang membedakan antara masyarakat maju dan tertinggal,” gugat Premana, dalam orasi budaya di Dewan Kesenian Jakarta, November 2016.
Kenyataan ini membangkitkan kegelisahan di hati wanita yang akrab disapa Nana itu. Kebiasaan take it for granted yang menganggap segala sesuatu sebagai bagian dari kewajaran yang hanya butuh diterima, dan tak perlu dipertanyakan ini membuat orang menjadi apatis, tapi juga hilang kesadaran.
Maka, jangan heran jika tanpa pikir panjang, orang terlibat dalam perang opini yang kerap kali dibuat tanpa bukti yang teruji. Atau buru-buru membagikan berbagai kabar bohong atau hoax. Seperti yang saat ini menggejala di tengah komunitas masyarakat yang saling terhubung oleh jejaring teknologi.
“Agenda gelap yang mendorong penyebaran informasi yang tidak benar, bisa jadi tidak berpihak pada agama atau etnis manapun. Mereka punya kepentingan sendiri, dan menjadikan umat beragama di Indonesia saling berperang menghancurkan diri sendiri,” sesal Nana.
Ukuran kebenaran tidak dilandasi oleh fakta teruji, tapi atas dorongan emosi yang tidak rasional. Orang tidak peduli lagi jika tindakan ini bisa menebar virus kebencian tak berdasar.
“Kita perlu membedakan pengetahuan dari sekadar opini,” tegas Nana. Pengetahuan harus didukung oleh bukti, pengetahuan harus terperiksakan dan teruji, dan tak boleh dimuati oleh bias. “Dengan sifat inilah manusia jadi memiliki modal bersama, yang netral, untuk mengembangkan peradaban,” jelas wanita yang
pernah sembilan tahun mengepalai organisasi Himpunan Astronomi Indonesia ini.
Sebagai seorang ilmuwan, ia belajar cara berpikir ilmiah, memperkuat kemampuan dan kebiasaan rasional atau bernalar, sekaligus melengkapinya dengan pagar-pagar etika. “Dari sisi praktis, pengetahuan sains akan memberdayakan masyarakat dalam menalar dan menyaring informasi,” tegas Nana, yang aktif sebagai anggota American Physical Society (APS).
Bagaimanapun, nalar saja tidak cukup. Ia merasa perlu juga belajar untuk bersabar, agar tidak terjebak dalam tindakan yang berakibat fatal. “Bersabar dengan nalar memberi waktu untuk mengatur strategi dan mengembalikan logika pada tatanan yang benar,” ungkapnya.
Apakah sains dan kehidupan iman bisa berjalan sejalan? Simak di laman selanjutnya.
Tentang Sains dan Kehidupan Iman
Sejak kanak-kanak rasa penasaran tentang kedahsyatan alam raya telah menjejali otak Nana dengan berbagai pertanyaan. Apakah matahari bisa lupa terbit? Di mana Tuhan? Jika ada kehidupan selain di bumi ini, bagaimana mereka mengenal Tuhan? Semua pertanyaan itu menuntun wanita kelahiran Surabaya, 13 Juli
1964, ini menggeluti dunia sains sebagai profesi.
Pelajaran IPA di sekolah membuatnya terkesan pada banyaknya fakta tentang alam yang berhasil dihimpun manusia. Nana belajar bahwa makin banyak ia menemukan fakta tentang alam, makin ia tahu bahwa banyak yang belum diketahuinya.“Sungguh pengalaman yang amat merendahkan hati. Saya ingin pengalaman itu menjadi hidup saya sehari-hari. Saya sadar saya perlu belajar, dilatih, dilengkapi, dan ditempa,” ujar lulusan Astronomi Institut Teknologi Bandung (1988) ini.
Ketika banyak orang cenderung memisahkan sains dan kehidupan iman, Nana justru sebaliknya. Menurut pendiri sekaligus Ketua Bandung Society for Cosmology and Religion (BSCR) ini, pencarian imani, dalam agama mana pun, ingin menemukan apa yang paling luhur dalam kehidupan. Sains bertujuan menemukan apa yang paling esensial pada manusia dan kehidupan.
“Agama dan sains berperan sinergis dalam menyetir hidup seseorang. Apa yang esensial dan luhur tadi melebur pada keutuhan manusia. Pencarian yang tulus yang dilakukan oleh seseorang, saya duga akan mengantarkannya pada pemahaman ini,” tutur Nana, filosofis.
Menurutnya, sistem yang membangun dialog antara agama dan sains harus terus dikembangkan untuk mengembalikan kepercayaan bangsa Indonesia pada nilai-nilai luhurnya. Perbedaan agama, suku, dan budaya harusnya tidak menjadi sumber pemecah belah. Sebaliknya, dalam sistem manusia, keanekaragam terbukti memperkaya peradaban.
Lebih dari itu, menurutnya, keanekaragaman membantu kita berefleksi. Kita jadi lebih mengenal diri dengan bercermin pada tetangga kita. “Saya menyadari ini dari perspektif astronomi, yaitu bahwa kita memahami Bumi kita dengan lebih baik setelah mengenali planet-planet lain. Pemahaman yang membuahkan respek dan saling melindungi,” lanjutnya.
Langkah Nana mengabdi di bidang astronomi selama hampir tiga dekade seolah tak terbendung. Kontribusinya pun diapresiasi International Astronomical Union (IAU), yang mengabadikan namanya sebagai nama asteroid yang mengorbit di antara planet Mars dan Jupiter. Simak kisahnya di laman selanjutnya.
Panggilan Hati
Nyaris 30 tahun Nana mengabdikan kompetensinya sebagai pengajar di Departemen Astronomi Institut Teknologi Bandung. Fokus keahliannya meliputi topik Kosmologi dan Ekstra Galaksi, Astrofisik Relativistik, dan Sejarah Sains, termasuk Filosofi Sains, serta Relasi antara Sains dan Agama. Hasil riset dan publikasi ilmiahnya telah menjadi referensi di dalam dan luar negeri.
Pada Maret 2017, IAU mengabadikan namanya sebagai nama asteroid berukuran 10,58 km, yang mengorbit di antara Mars dan Jupiter. Sebelumnya, ada 4 mantan kepala Observatorium Bosscha yang namanya diabadikan sebagai nama asteroid oleh IAU. Ini menjadi pengakuan dunia terhadap kualifikasi dan kontribusi ilmuwan astronomi Indonesia.
“Saya sangat terkejut saat tahu ini, dan ingin membagikannya bersama teman-teman sekerja. Saya jadi menyadari bahwa usaha pendidikan yang kami lakukan dianggap penting dan memberi makna,” ujar wanita yang sejak tahun 2007 mengasuh Universe Awareness (UNAWE) Indonesia.
Lembaga ini memberikan pendidikan astronomi pada anak-anak (usia 4-10 tahun) dari keluarga kurang mampu. Sejak tahun 2013, bersama rekan dosen ITB dan alumni ITB 1983, ia menggiatkan program penguatan guru STEM, kini STEAM (Science, Technology, Engineering, Arts, Mathematics).
“Krusial sifatnya menyiapkan generasi muda kita dalam mengejar ketinggalan dan menjawab tantangan bangsa yang semakin besar,” ungkap wanita yang bersama Tim Proyek Observatorium Nasional di Timor, menggerakkan pendidikan dan pengembangan masyarakat di sekitar lokasi.
Keluarga Pencinta Sains
Melihat ke belakang, Nana merasa sangat beruntung dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang mengutamakan pendidikan dan dedikasi dalam melayani masyarakat. Almarhum ayahnya, Premadi (meninggal usia 57), adalah dokter ahli bedah yang bekerja aktif di satu rumah sakit saja. “Beliau berdedikasi tinggi pada profesinya, memberi perhatian penuh pada pasien-pasiennya, terus belajar, dan membina kolega muda, serta tidak mengejar pencapaian finansial,” kenang sulung dari empat bersaudara ini.
Sementara itu, ibunya Soewarni Premadi (77) berasal dari keluarga guru, dan bekerja sebagai perawat di rumah sakit, hingga saat ia lahir. Suaminya, Dr. Yudi Soeharyadi, adalah dosen matematika di ITB. Sehingga mereka saling tahu apa yang dibutuhkan dalam menunjang profesi masing-masing. Kadang, Nana suka ‘menyombongkan diri’ pada suaminya bahwa astronomi jauh lebih menarik.
“Buktinya, suami sesekali ikut kegiatan ekspedisi pendidikan astronomi ke daerah pelosok,” canda wanita yang sejak tahun 2010 didiagnosis sebagai penyandang Amyotrophic Lateral Sclerosis (ALS). Penyakit yang disebabkan oleh penurunan sel saraf motorik (saraf pengatur gerak) ini membuat kerja otot geraknya terus berkurang.
Meski kini Nana kerap mengandalkan tongkat atau kursi roda untuk beraktivitas, atau bicara dalam artikulasi yang lemah, ia tetap produktif. Sebab, teramat sering ia menjumpai orang yang dengan segera mengasosiasikan ketidaknormalan fisik dengan ketidaksanggupan mental.
“Fisik memang krusial, tapi bukan segalanya. Ikhlas, tapi bukan menyerah. Saya mengaktifkan dan memperkuat dimensi lain dalam hidup, seperti rasional, mental, dan spiritual. Saya terus fokus pada hal yang masih bisa saya lakukan. Saya bangun tiap pagi dengan keyakinan ada amanah yang perlu saya bereskan hari ini,” ungkap Nana, penuh keyakinan. (f)
Baca juga:
Menggugah Kesadaran
Seberapa penasaran kita mencari tahu mengapa matahari tidak pernah terlambat terbit dan bersinar? Atau jangan-jangan, kita hanya memahaminya sebagai peristiwa alam yang sudah seharusnya seperti itu. Bahwa sains hanya eksis di buku-buku pelajaran sebagai teori hafalan demi mendapatkan nilai, dan bukan sebagai landasan pemahaman berkehidupan.
“Seberapa ingin tahunya masyarakat terhadap sains dan teknologi yang menopang hidup kita? Seberapa tekunnya kita dalam mencari tahu? Seberapa kuatnya dorongan untuk menemukan solusi untuk pertanyaan dan masalah. Jawaban pertanyaan-pertanyaan itu yang membedakan antara masyarakat maju dan tertinggal,” gugat Premana, dalam orasi budaya di Dewan Kesenian Jakarta, November 2016.
Kenyataan ini membangkitkan kegelisahan di hati wanita yang akrab disapa Nana itu. Kebiasaan take it for granted yang menganggap segala sesuatu sebagai bagian dari kewajaran yang hanya butuh diterima, dan tak perlu dipertanyakan ini membuat orang menjadi apatis, tapi juga hilang kesadaran.
Maka, jangan heran jika tanpa pikir panjang, orang terlibat dalam perang opini yang kerap kali dibuat tanpa bukti yang teruji. Atau buru-buru membagikan berbagai kabar bohong atau hoax. Seperti yang saat ini menggejala di tengah komunitas masyarakat yang saling terhubung oleh jejaring teknologi.
“Agenda gelap yang mendorong penyebaran informasi yang tidak benar, bisa jadi tidak berpihak pada agama atau etnis manapun. Mereka punya kepentingan sendiri, dan menjadikan umat beragama di Indonesia saling berperang menghancurkan diri sendiri,” sesal Nana.
Ukuran kebenaran tidak dilandasi oleh fakta teruji, tapi atas dorongan emosi yang tidak rasional. Orang tidak peduli lagi jika tindakan ini bisa menebar virus kebencian tak berdasar.
“Kita perlu membedakan pengetahuan dari sekadar opini,” tegas Nana. Pengetahuan harus didukung oleh bukti, pengetahuan harus terperiksakan dan teruji, dan tak boleh dimuati oleh bias. “Dengan sifat inilah manusia jadi memiliki modal bersama, yang netral, untuk mengembangkan peradaban,” jelas wanita yang
pernah sembilan tahun mengepalai organisasi Himpunan Astronomi Indonesia ini.
Sebagai seorang ilmuwan, ia belajar cara berpikir ilmiah, memperkuat kemampuan dan kebiasaan rasional atau bernalar, sekaligus melengkapinya dengan pagar-pagar etika. “Dari sisi praktis, pengetahuan sains akan memberdayakan masyarakat dalam menalar dan menyaring informasi,” tegas Nana, yang aktif sebagai anggota American Physical Society (APS).
Bagaimanapun, nalar saja tidak cukup. Ia merasa perlu juga belajar untuk bersabar, agar tidak terjebak dalam tindakan yang berakibat fatal. “Bersabar dengan nalar memberi waktu untuk mengatur strategi dan mengembalikan logika pada tatanan yang benar,” ungkapnya.
Apakah sains dan kehidupan iman bisa berjalan sejalan? Simak di laman selanjutnya.
Tentang Sains dan Kehidupan Iman
Sejak kanak-kanak rasa penasaran tentang kedahsyatan alam raya telah menjejali otak Nana dengan berbagai pertanyaan. Apakah matahari bisa lupa terbit? Di mana Tuhan? Jika ada kehidupan selain di bumi ini, bagaimana mereka mengenal Tuhan? Semua pertanyaan itu menuntun wanita kelahiran Surabaya, 13 Juli
1964, ini menggeluti dunia sains sebagai profesi.
Pelajaran IPA di sekolah membuatnya terkesan pada banyaknya fakta tentang alam yang berhasil dihimpun manusia. Nana belajar bahwa makin banyak ia menemukan fakta tentang alam, makin ia tahu bahwa banyak yang belum diketahuinya.“Sungguh pengalaman yang amat merendahkan hati. Saya ingin pengalaman itu menjadi hidup saya sehari-hari. Saya sadar saya perlu belajar, dilatih, dilengkapi, dan ditempa,” ujar lulusan Astronomi Institut Teknologi Bandung (1988) ini.
Ketika banyak orang cenderung memisahkan sains dan kehidupan iman, Nana justru sebaliknya. Menurut pendiri sekaligus Ketua Bandung Society for Cosmology and Religion (BSCR) ini, pencarian imani, dalam agama mana pun, ingin menemukan apa yang paling luhur dalam kehidupan. Sains bertujuan menemukan apa yang paling esensial pada manusia dan kehidupan.
“Agama dan sains berperan sinergis dalam menyetir hidup seseorang. Apa yang esensial dan luhur tadi melebur pada keutuhan manusia. Pencarian yang tulus yang dilakukan oleh seseorang, saya duga akan mengantarkannya pada pemahaman ini,” tutur Nana, filosofis.
Menurutnya, sistem yang membangun dialog antara agama dan sains harus terus dikembangkan untuk mengembalikan kepercayaan bangsa Indonesia pada nilai-nilai luhurnya. Perbedaan agama, suku, dan budaya harusnya tidak menjadi sumber pemecah belah. Sebaliknya, dalam sistem manusia, keanekaragam terbukti memperkaya peradaban.
Lebih dari itu, menurutnya, keanekaragaman membantu kita berefleksi. Kita jadi lebih mengenal diri dengan bercermin pada tetangga kita. “Saya menyadari ini dari perspektif astronomi, yaitu bahwa kita memahami Bumi kita dengan lebih baik setelah mengenali planet-planet lain. Pemahaman yang membuahkan respek dan saling melindungi,” lanjutnya.
Langkah Nana mengabdi di bidang astronomi selama hampir tiga dekade seolah tak terbendung. Kontribusinya pun diapresiasi International Astronomical Union (IAU), yang mengabadikan namanya sebagai nama asteroid yang mengorbit di antara planet Mars dan Jupiter. Simak kisahnya di laman selanjutnya.
Panggilan Hati
Nyaris 30 tahun Nana mengabdikan kompetensinya sebagai pengajar di Departemen Astronomi Institut Teknologi Bandung. Fokus keahliannya meliputi topik Kosmologi dan Ekstra Galaksi, Astrofisik Relativistik, dan Sejarah Sains, termasuk Filosofi Sains, serta Relasi antara Sains dan Agama. Hasil riset dan publikasi ilmiahnya telah menjadi referensi di dalam dan luar negeri.
Pada Maret 2017, IAU mengabadikan namanya sebagai nama asteroid berukuran 10,58 km, yang mengorbit di antara Mars dan Jupiter. Sebelumnya, ada 4 mantan kepala Observatorium Bosscha yang namanya diabadikan sebagai nama asteroid oleh IAU. Ini menjadi pengakuan dunia terhadap kualifikasi dan kontribusi ilmuwan astronomi Indonesia.
“Saya sangat terkejut saat tahu ini, dan ingin membagikannya bersama teman-teman sekerja. Saya jadi menyadari bahwa usaha pendidikan yang kami lakukan dianggap penting dan memberi makna,” ujar wanita yang sejak tahun 2007 mengasuh Universe Awareness (UNAWE) Indonesia.
Lembaga ini memberikan pendidikan astronomi pada anak-anak (usia 4-10 tahun) dari keluarga kurang mampu. Sejak tahun 2013, bersama rekan dosen ITB dan alumni ITB 1983, ia menggiatkan program penguatan guru STEM, kini STEAM (Science, Technology, Engineering, Arts, Mathematics).
“Krusial sifatnya menyiapkan generasi muda kita dalam mengejar ketinggalan dan menjawab tantangan bangsa yang semakin besar,” ungkap wanita yang bersama Tim Proyek Observatorium Nasional di Timor, menggerakkan pendidikan dan pengembangan masyarakat di sekitar lokasi.
Keluarga Pencinta Sains
Melihat ke belakang, Nana merasa sangat beruntung dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang mengutamakan pendidikan dan dedikasi dalam melayani masyarakat. Almarhum ayahnya, Premadi (meninggal usia 57), adalah dokter ahli bedah yang bekerja aktif di satu rumah sakit saja. “Beliau berdedikasi tinggi pada profesinya, memberi perhatian penuh pada pasien-pasiennya, terus belajar, dan membina kolega muda, serta tidak mengejar pencapaian finansial,” kenang sulung dari empat bersaudara ini.
Sementara itu, ibunya Soewarni Premadi (77) berasal dari keluarga guru, dan bekerja sebagai perawat di rumah sakit, hingga saat ia lahir. Suaminya, Dr. Yudi Soeharyadi, adalah dosen matematika di ITB. Sehingga mereka saling tahu apa yang dibutuhkan dalam menunjang profesi masing-masing. Kadang, Nana suka ‘menyombongkan diri’ pada suaminya bahwa astronomi jauh lebih menarik.
“Buktinya, suami sesekali ikut kegiatan ekspedisi pendidikan astronomi ke daerah pelosok,” canda wanita yang sejak tahun 2010 didiagnosis sebagai penyandang Amyotrophic Lateral Sclerosis (ALS). Penyakit yang disebabkan oleh penurunan sel saraf motorik (saraf pengatur gerak) ini membuat kerja otot geraknya terus berkurang.
Meski kini Nana kerap mengandalkan tongkat atau kursi roda untuk beraktivitas, atau bicara dalam artikulasi yang lemah, ia tetap produktif. Sebab, teramat sering ia menjumpai orang yang dengan segera mengasosiasikan ketidaknormalan fisik dengan ketidaksanggupan mental.
“Fisik memang krusial, tapi bukan segalanya. Ikhlas, tapi bukan menyerah. Saya mengaktifkan dan memperkuat dimensi lain dalam hidup, seperti rasional, mental, dan spiritual. Saya terus fokus pada hal yang masih bisa saya lakukan. Saya bangun tiap pagi dengan keyakinan ada amanah yang perlu saya bereskan hari ini,” ungkap Nana, penuh keyakinan. (f)
Baca juga: