Berbagai metode penurunan berat badan baru lahir dari waktu ke waktu, dan dituangkan dalam bentuk buku. Sayangnya, tak sedikit diet itu menyesatkan. Sebagai ahli gizi, Rita Ramayulis DCN, M.Kes. (44) merasa bertanggung jawab untuk meluruskan persepsi ini dan menggelitiknya untuk membuat buku yang berpedoman sesuai dengan aturan gizi sesungguhnya seperti apa yang selama ini ia pelajari. Melalui riset dan penelitian yang ia lakukan, ia berhasil menciptakan diet penurunan berat badan REST (Rendah Energi Seimbang Teratur), salah satu diet yang cukup populer saat ini.
 
Penulis Produktif
Diet REST bukanlah hasil kerja hitungan minggu. Sejak tahun 2008 sampai 2013, ia melakukan penelitian mengenai diet yang ia ciptakan ini. Tak hanya melakukan uji coba kepada lebih dari 120 orang, ia juga berkonsultasi pada marketing expert agar diet ciptaannya ini mudah diterima masyarakat.
Ide ini lahir dari keprihatiannya melihat masyarakat yang belum sadar pentingnya keseimbangan gizi dan begitu mudah percaya berbagai diet yang tren, padahal belum jelas kebenarannya. “Karakter masyarakat Indonesia memang mudah percaya, padahal sebagian besar tren diet tak sesuai dengan standar ilmu gizi. Ini yang membuat saya terpacu untuk membuat buku panduan yang benar sesuai dengan ilmu gizi,” ungkapnya.

Ia mencontohkan salah satu metode diet yang tidak memperbolehkan bercampurnya makanan yang bersifat asam dan basa. Nasi dan lauk (ayam/ikan/daging) bersifat asam, sedangkan sayuran dan buah bersifat basa. Ini artinya diet ini tidak menyarankan pelakunya memakan nasi dan lauk secara bersamaan. Ia harus memilih antara nasi dan sayuran/buah, atau lauk dan sayuran/buah. Padahal, menurut Rita, syarat gizi seimbang suatu hidangan yaitu memiliki sumber karbohidrat (makanan pokok), sumber protein (lauk pauk), sayuran, dan buah.  

Ia paham, mengubah kebiasaan makan seseorang bukan perkara mudah. Karena itu, ia merumuskan empat prinsip sederhana dalam diet REST. “Diet REST bermakna beristirahat dari makanan tinggi gula, garam, dan lemak jenuh serta rendah serat, beristirahat dari kegiatan bermalas-malasan, dan beristirahat dari keinginan makan yang tidak terkontrol serta beristirahat dari pola istirahat yang tidak beraturan,” paparnya.

Yang paling penting, menurutnya, diet REST tak hanya bermanfaat untuk mereka yang ingin menurunkan berat badan, tapi untuk siapa saja. Diet ini membuat tubuh lebih bugar, kulit lebih cerah, daya tahan tubuh meningkat dan menurunkan kolesterol.

Buku 101 Tips Berhasil Diet Rest ala Rita Ramayulis terbit tahun 2015, dan  menjadi salah satu best seller di jaringan toko buku nasional. Jangan salah, ini bukan buku pertamanya. Ini buku ke-24 yang ia terbitkan. Rita memang pertama kali baru mengeluarkan buku pertamanya di tahun 2007 dengan judul 17 Alternatif Langsing yang mengupas berbagai macam diet penurunan berat badan dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

Namun, jauh sebelum itu Rita sudah aktif di dunia tulis-menulis. Ia tercatat pernah menjadi pengasuh rubrik kesehatan harian Serambi, dan beberapa tulisannya rutin menghiasi media massa nasional, seperti Pikiran Rakyat dan Tempo. Sukses dengan buku pertamanya, berbagai tawaran menulis buku selanjutnya terus berdatangan. Terhitung sudah 25 buku yang berhasil ia lahirkan dalam kurun waktu 8 tahun.  Buku ke-25-nya, 230 Jus Pengendali Penyakit Plus Kebugaran & Kecantikan ala Rita Ramayulis, terbit akhir tahun lalu.

Apa resep produktivitasnya itu? Dengan senyum simpul, Rita menjawab karena ia begitu mencintai ilmu yang selama ini ia pelajari. “Saya selalu menulis di mana saja dan kapan saja ketika ide datang. Jadi, ada satu komputer yang selalu on di perpustakaan kecil di rumah saya. Jadi, jika ide itu tiba-tiba terpikirkan, saya akan langsung menulis, kapan pun waktunya,” ungkap wanita yang tengah mengambil program doktorol Ilmu Kesehatan Masyarakat di Universitas Indonesia ini.
 
Strategi Sanggar Senam
Melihat penampilannya yang senantiasa berpotongan rambut pendek dan busana praktis, Rita tampak gesit melakoni berbagai profesi. Selain menjadi konsultan gizi, penulis, dan dosen tetap di Jurusan Gizi Poltekkes Jakarta II, Rita juga instruktur senam zumba sekaligus manajer di sebuah pusat kebugaran di Jakarta. Semua ia jalani dengan penuh semangat.

Profesi sebagai instruktur senam ia pilih bukan tanpa alasan. Ia paham, harus ada cara lain untuk mengedukasi masyarakat di daerah agar melek gizi. Bahkan, sebelum  benar-benar lulus dari Akademi Gizi Kesehatan Masyarakat di Padang, Rita muda sudah mempersiapkan kariernya dengan berangkat ke Jakarta untuk mengikuti pendidikan instruktur senam kecantikan tingkat dasar dan professional commercial dari Martha Tilaar selama tiga bulan. Sejak remaja ia memang senang berolahraga senam aerobic.

“Ketika belajar gizi di akademi, semua menu diet yang saya pelajari selalu diakhiri dengan olahraga yang teratur. Jadi saya yakin, kemampuan saya berolahraga akan mendukung profesi saya ke depannya,” lanjut ibu 4 anak ini.

Setelah lulus, ia memulai karier di Kementerian Kesehatan dan mendapat tugas sebagai dosen di Akademi Gizi Banda Aceh.  Rita tak hanya bekerja sebagai pegawai negeri sipil. Dengan bekal yang sudah ia persiapkan, bermodalkan percaya diri, Rita membuka sanggar senam, bekerja sama dengan seorang dokter di daerah setempat.
“Sanggar senam ini adalah perpaduan senam dan pengetahuan gizi. Saya sadar tak bisa langsung masuk dari pintu ilmu gizi, karena itu saya pilih lewat senam. Saya perlihatkan performance saya sebagai pelatih senam dengan tubuh bugar dan sehat. Saat anggota bertanya bagaimana untuk lebih langsing dan sehat, dari situ celah saya untuk mengedukasi mereka dari sisi gizinya,” jelas wanita berpembawaan ramah ini.

Empat tahun mengembangkan bisnis konsultan gizi yang dibalut sanggar senam di Banda Aceh ternyata tak membuat Rita berpuas diri. Tahun 1998, Rita bersama suami, Dr. Rosidi Roslan, A.Ip, SKM, M.AP,MPH, yang berprofesi sebagai public health, meninggalkan Banda Aceh untuk mengambil gelar S-1 program gizi di Universitas Indonesia. Ia sadar, untuk menjadi seorang nutrisionis, ia harus terus menambah ilmunya setinggi mungkin.

Tanpa menunggu lama, sesampainya di Jakarta Rita langsung mendapatkan tawaran untuk menjadi instruktur senam di beberapa pusat kebugaran. Tak berpikir panjang, untuk menunjang kebutuhan hidupnya di Jakarta, Rita pun berpindah dari satu sanggar senam ke sanggar senam lainnya untuk mengajar. Misinya tetap sama, untuk menebar ilmu gizi di tiap lapisan masyarakat. Konsep yang ia bangun di Aceh, ia terapkan di Jakarta. Kliennya pun terus bertambah hingga akhirnya ia memutuskan tak kembali ke Aceh dan menetap di Jakarta untuk menjadi pengajar di Poltekkes Jakarta II.

Dari sini banyak kesempatan terbuka untuk Rita. Selain menjadi pengajar dan instruktur senam, ia juga sering diminta menjadi dosen pakar di universitas-universitas ternama, dan narasumber untuk penyuluhan-penyuluhan yang dilakukan pemerintah. Dia sangat bersyukur memiliki suami dan anak-anak yang mendukung passion-nya di bidang gizi.
           
Sebagai konsultan gizi yang sudah memiliki banyak pengalaman dan prestasi, Rita kini berkesempatan untuk berkeliling ke pelosok-pelosok daerah di Indonesia untuk memberikan pendidikan gizi. Ia menyadari, masih banyak pekerjaan rumah baginya untuk mendidik para calon ahli gizi dan menumbuhkan kesadaran masyarakat akan gizi itu sendiri.

“Budaya dan gaya hidup masyarakat kita masih menganggap makan itu hanyalah untuk hidup. Padahal, makanan dan gizi lebih dari itu. Kepercayaan masyarakat akan gizi dan makanan masih sangat rendah,” jelas wanita yang pernah menjadi ketua konsultan menu Sea Games 2011 ini.

Menurut Rita, kondisi ini diperparah karena ahli gizi tidak bisa menjaga nama baik profesinya sendiri. Rita menyayangkan masih ada ahli gizi yang memakan junk food, mengalami obesitas, tubuhnya tidak bugar. Bahkan, Rita pernah mendapat  makanan junk food ketika menjadi pembicara di penyuluhan tentang gizi.

Branding itu tak hanya dari pengetahuan saja, tapi juga perilaku. Saya selalu tekankan kepada anak didik saya bahwa ahli gizi harus bisa memberikan contoh nyata untuk orang-orang di sekitarnya, yaitu dengan tubuh sehat, seimbang, dan bugar. Caranya dengan olahraga dan makan makanan yang sehat,” jelasnya.
           
Dalam kesehariannya, tak hanya menjadi role model saat mendidik para calon nutrisionis, Rita juga menerapkan itu di rumah. "Saya selalu memberi contoh untuk anak. Anak sekarang tidak bisa sekadar diberi perintah," ujarnya, sambil tersenyum. Makanya, di  tiap menu sehari-hari di rumah, ia selalu menyajikan sayuran dan buah lebih banyak dari yang lainnya. Ia juga memberi sugesti kepada anak-anaknya dengan selalu mengatakan betapa nikmatnya makan sayuran. Dengan begitu, anak-anak pun menjadi terbiasa, paham, dan bisa menentukan makanan apa yang baik untuk dimakan dan tidak. 
 
Ayu Widya S.