
Foto: DoK. DOCTORS GO WILD KOMPAS TV
Sosok dokter yang menunggu pasien di rumah sakit bukanlah impian dr. Ratih Citra Sari (37). Setelah gelar dokter di tangan, ia mulai merajut mimpinya menjalankan satu demi satu misi kemanusiaan. Ia siap datang ke daerah bencana, mendaki gunung, menembus hutan, bahkan mengarungi sungai hingga ke pedalaman, demi bertemu pasiennya.
“Maaf, saya sedang di Bandung. Saya sedang bersiap bakti sosial untuk mengobati masyarakat di Gunung Papandayan, Garut. Kita wawancara melalui telepon saja. Tapi, hari ini, ya, sebab besok saya sudah berada di lokasi. Sinyal akan hilang,” katanya, dalam pesan singkat lewat SMS, pertengahan Mei lalu.
Saat itu, Kabupaten Garut baru saja dilanda gempa berkekuatan 5 Skala Richter dan banyak korban cedera akibat tertimpa reruntuhan bangunan. Tidak seperti dokter kebanyakan yang stand by menanti pasien di klinik dan rumah sakit, Ratih justru beredar mendatangi pasien-pasiennya dari satu wilayah bencana ke wilayah bencana lainnya.
Sudah 10 tahun lebih ia menjalani profesi tersebut, hingga kerap disebut sebagai ‘Dokter Spesialis Bencana’ oleh orang-orang dan rekan sejawat yang mengenal dirinya. Gempa Pariaman tahun 2009, yang mengusik nurani wanita kelahiran Banjarmasin, 20 Maret 1980, ini untuk menjalankan misi kemanusiaan.
“Entah mengapa, ketika mendengar ada gempa di Pariaman, tiba-tiba saja saya merasa ingin ke sana untuk membantu, seperti panggilan jiwa,” ceritanya. Saat itu ia bahkan belum sempat mencicipi praktik di rumah sakit, karena baru saja merampungkan studinya di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Saat menyampaikan keinginan tersebut, orang tuanya sempat melarang karena khawatir akan keamanan dirinya. “Tapi saya tak bisa hanya duduk diam di sini, sementara tahu di sana ada banyak orang merintih butuh pertolongan medis,” kata Ratih, yang sempat gundah. Hasratnya untuk membantu sesama tak terbendung lagi.
Keseriusannya berhasil meluluhkan hati orang tuanya sehingga mereka mengizinkan Ratih berangkat ke Pariaman.
Atas inisiatif dan biaya pribadi, Ratih membeli tiket pesawat pulang pergi Jakarta-Padang. Tiba di Pariaman, ia langsung bekerja sebagai volunteer medis bersama tim pencinta alam Bandung, Wanadri, yang telah bergerak lebih dulu menjangkau wilayah yang belum tersentuh bantuan.
Tidak memiliki pengalaman sama sekali di daerah bencana, Ratih melengkapi dirinya dengan barang-barang kebutuhannya dan peralatan standar kedokteran. “Saya tidak ingin kehadiran saya justru merepotkan. Jadi, sebisa mungkin semuanya sudah saya persiapkan,” ungkap Ratih, yang mengaku sempat shock melihat kondisi setelah bencana.
Selama dua minggu ia bekerja tanpa henti, menguras pikiran dan tenaga untuk menangani pasien korban bencana. “Dalam sehari, kami bisa menangani 50 pasien. Pernah mencapai 80 pasien. Umumnya kami mengobati pasien yang terluka agar tidak terjadi infeksi. Kami juga harus menempuh area terisolasi yang porak-poranda akibat gempa,” kenang Ratih, yang saat itu menjadi satu-satunya wanita bersama dua dokter pria lainnya. Pengalaman perdana menjadi volunteer di Pariaman begitu membekas di hati Ratih.
Siapa sangka, membantu korban bencana akhirnya seperti ‘candu’ baginya. Setelah gempa Pariaman, Ratih terjun membantu bencana lainnya, seperti letusan Gunung Kelud, gempa Tasikmalaya, longsor di Bandung Selatan, dan beberapa bencana lainnya.
Wilayah geografis Indonesia yang rawan bencana, tak dipungkiri Ratih, menjadi perhatian besarnya untuk mengedukasi masyarakat bagaimana melindungi diri saat terjadi bencana. Berlompatan dari satu bencana ke bencana lainnya telah memberi ia banyak pengalaman.
Ketika di lokasi bencana, Ratih melihat obatobatan pereda nyeri, demam dan sakit kepala, serta perlengkapan P3K untuk mengatasi luka ringan sangat dibutuhkan. “Bantuan biasanya banyak yang datang, tapi sayangnya pendistribusian yang masih kacau dan lokasi bencana yang sulit dijangkau membuat bantuan tersebut tidak merata,” kata Ratih prihatin. Untuk melancarkan tugasnya, Ratih selalu bekerja sama dengan tim SAR dan pecinta alam seperti Wanadri untuk ‘membelah’ lokasi bencana dan membawa masuk tim dokter.
Selanjutnya: Doctors Go Wild membawa Ratih menjelajahi 54 daerah terpencil.

Foto: Foto: DoK. DOCTORS GO WILD KOMPAS TV
Sering terjun ke misi kemanusian di area sulit membuat wanita yang melanjutkan kuliah di Magister Hukum Kesehatan Universitas Soegijapranata Bandung ini makin dekat dengan alam. Padahal, di masa kuliah, Ratih mengaku tak pernah tertarik pada aktivitas outdoor.
“Sejak remaja saya dijuluki ‘musal’ alias muka salon. Saya selalu menjaga rambut terblow rapi, kuku berwarna cantik, dan bulu mata lentik,’ katanya, tersenyum. Kecintaan pada alam pula yang memantapkan tekad Ratih untuk ikut serta dalam kegiatan Perempuan Merah Putih Mendaki Gunung Aconcagua, gunung tertinggi di dunia yang berada di Argentina, pada 2012.
Ketika tengah mempersiapkan diri ke Aconcagua inilah, sebuah tawaran menarik menghampirinya. Ratih diajak untuk casting program televisi, Doctors Go Wild. Ia pun berhasil lolos menjadi host program acara televisi yang membawanya keliling Indonesia itu sambil melakukan edukasi kesehatan.
“Ini salah satu impian saya. Saking senangnya, kontrak saya tanda tangani tanpa melihat jumlah honornya,” katanya, tersenyum. Setidaknya, ada 54 daerah pelosok telah ia jelajahi bersama Doctors Go Wild. Medan yang ditempuh sebagian besar pedalaman terpencil yang nyaris tidak bersentuhan dengan dunia luar, apalagi medis. Di beberapa daerah, motor pun tak sanggup melewatinya, hingga ia dan tim acara harus berjalan kaki dan mendaki berjam-jam lamanya.
Dari program ini Ratih mendapat pengalaman berharga. Menurutnya, metode pengobatan masyarakat tradisional jangan disepelekan. Justru perlu dikaji. “Seperti di Kalimantan, ada sekitar 1.700 tanaman berkhasiat untuk kesehatan yang belum tereksplorasi,” ungkapnya, serius.
Sisi lain, pengalaman memasuki banyak wilayah terpencil membuat Ratih harus pandai mendekatkan ilmu kedokteran miliknya dengan kearifan lokal yang selama ini dipercaya masyarakat setempat sebagai pengobatan yang mujarab.
“Bagaimanapun, kita harus bisa membawa diri, menghargai apa yang mereka percayai, karena dengan demikian mereka juga bisa menerima perubahan yang kita bawa. Seperti pepatah ‘di mana langit dijunjung, di situ bumi dipijak’. Cara saya adalah mendekati tetua atau orang yang biasa mengobati di kampung tersebut, mereka ini akan menjembatani kita dengan warga,” jelasnya.
Tak jarang ia juga harus berhadapan dengan dilema sebagai seorang dokter. Saat berada di kampung Negeri Huahulu, Kutai Barat, Kalimantan Timur, misalnya, ia didatangi seorang bapak berperawakan kurus, wajahnya terlihat lelah dan menahan sakit. Saat itu, untuk bisa bertemu dengan Ratih dan timnya, bapak yang ditemani anaknya itu harus berjalan kaki selama satu jam.
Berdasarkan pemeriksaan fisik, bapak tersebut membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut, seperti darah, scan, dan MRI. Ratih sempat berkeras untuk membawa pasien tersebut ke rumah sakit terdekat untuk diperiksa. Namun, medan yang sulit karena harus menembus hutan dengan jalan kaki berjam-jam serta mengarungi sungai berarus deras, membuat pasien tersebut tidak bisa dievakuasi.
”Ketidakberdayaan untuk menolong karena keterbatasan alam dan peralatan medis sering kami jumpai. Kenyataan ini sungguh membuat sedih,” ungkapnya. “Sayangnya, wilayah Indonesia yang luas dan terpencar menyebabkan banyak daerah yang masih sangat minim infrastruktur kesehatannya. Itu sebabnya, saya sangat mendukung perbaikan infrastruktur hingga ke pedalaman. Selain bisa mempercepat pertumbuhan ekonomi, juga membuka akses bantuan kesehatan lebih baik,“ tambah Ratih.
Tiga tahun bertualang dengan Doctor Go Wild, tahun 2015 program televisi tersebut berhenti tayang. Namun, misi kemanusiaan Ratih tetap berjalan. Ketika gempa Nepal misalnya, ia berangkat ke Nepal dengan biaya sendiri. Ratih meyakini, kebaikan akan membuka pintu rezekinya.
Selanjutnya: Cobaan hidup menempa Ratih menjadi pribadi yang kuat, ia menderita kanker yang menyerang sumsum tulang.

Foto: Dok. Pribadi, DOCTORS GO WILD KOMPAS TV
Di balik kepedulian dan pengabdiannya pada kemanusian yang selama ini ia lakukan, Ratih adalah wanita tangguh. Berbagai cobaan hidup yang berat menimpa dirinya di usia muda. Pernikahan pertamanya harus kandas di saat ia masih menempuh studi kedokteran. Namun, cintanya yang besar untuk putra semata wayangnya, Alfito (13), dari pernikahan pertamanya, membuat Ratih bangkit dan berjuang membenahi hidup.
Tahun 2008, ketika tengah mengejar cita-citanya sebagai dokter spesialis anestesi di Universitas Padjajaran, Bandung, ia didiagnosis menderita polisiternia vera. Penyakit kelainan genetis ini membuat sumsum tulangnya sangat aktif berproduksi, sehingga darahnya mudah mengental.
Ketika Ratih tengah bersiap membantu sebuah operasi di RS Hasan Sadikin Bandung, tiba-tiba saja ia pingsan. Saat diperiksa, tekanan darahnya sangat tinggi. “Saat terbangun, saya sudah ada di ruang ICU Rumah Sakit Cikini, Jakarta. Itu hari ke-4 sejak pingsan. Saya terserang stroke,” ceritanya.
Saat itu usianya baru menginjak 27 tahun. Akibatnya, Ratih harus menjalani terapi selama berbulan-bulan. Layaknya pasien kanker, ia juga harus menjalani kemoterapi. Bedanya, bila pada pasien kanker kemoterapi itu mematikan sel kanker, maka dalam kasus Ratih ini kemoterapi berfungsi untuk melemahkan aktivitas sumsum tulangnya yang superaktif. Karena harus menjalani perawatan intensif yang cukup lama, Ratih mengundurkan diri dari kampus.
“Dengan penyakit ini saya ngeri juga untuk menjadi dokter anestesi. Bagaimana jika pengentalan darah itu terjadi pada organ vital seperti pernapasan. Bukan hanya nyawa saya hilang, saya pun bisa membahayakan nyawa pasien yang mungkin sedang saya tangani,” ujar Ratih. Hingga saat ini, Ratih bersyukur kondisi kesehatannya sudah terkontrol, terapi yang ia jalani berjalan lancar. Meski begitu, untuk beraktivitas dengan normal, ia harus tetap menjaga agar darahnya tidak mengental dengan rutin mengonsumsi obat-obatan.
Setelah pernikahan keduanya dengan duda beranak dua, Purwasunu Adriansyah (41), yang ia kenal saat sama-sama berada di misi kemanusian bencana Pariaman, Ratih punya tanggung jawab lebih selain memerhatikan kesehatan pribadinya. Tantangan terberat menjalani kehidupannya saat ini adalah membagi waktu untuk keluarga. Padatnya jadwal misi kemanusiaan, diakui Ratih, terkadang membuat ia kerap harus meningggalkan keluarga untuk waktu yang cukup lama.
Ia pun harus rela kehilangan momen-momen bersama anaknya, seperti saat mengambil rapor, menonton pentas anak, bahkan ulang tahun anaknya. Namun, ia selalu menjaga komunikasi dan menceritakan tiap misi serta pengalamannya kepada anak-anaknya.
“Jika waktu dan kondisi memungkinkan, saya juga mengajak anak-anak dalam misi saya. Sekarang ini si sulung bahkan tak ragu berkata bahwa ia ingin mengikuti jejak saya, traveling sambil membantu sesama,” ujar Ratih, terharu.
Beruntung sang suami yang anggota Wanadri sangat mendukung Ratih dan anakanak dengan mengajari langsung mereka berbagai teknik bertahan hidup di alam bebas, mendaki gunung, hingga panjat tebing. Tidak hanya mendapat dukungan dari anak dan suami, ketulusan Ratih menolong sesama juga menggerakkan hati ayahnya, M. Thalhah, yang diam-diam mendirikan klinik gratis di Tambun, Bekasi, Maret lalu.
Pesan ayahnya: “Jadikan klinik ini berjalan sesuai visi kemanusiaanmu.” Sekarang ini ia tengah menggalang crowdfunding untuk membiayai klinik tersebut. Ia pun optimistis bisa mendapatkannya.
Selain itu, terinspirasi dari pengalamannya bersama program Doctors Go Wild, Ratih, dibantu suami, membuat video-video pendek bertema edukasi kesehatan, salah satunya kesehatan dan keselamatan saat melakukan pendakian. Kini, sudah ada 32 video yang ia buat. Sekitar 22 video telah ia unggah ke YouTube dan mendapatkan respons yang cukup baik. (f)
Yuniarti Tanjung (Kontributor, Jakarta)
“Maaf, saya sedang di Bandung. Saya sedang bersiap bakti sosial untuk mengobati masyarakat di Gunung Papandayan, Garut. Kita wawancara melalui telepon saja. Tapi, hari ini, ya, sebab besok saya sudah berada di lokasi. Sinyal akan hilang,” katanya, dalam pesan singkat lewat SMS, pertengahan Mei lalu.
Saat itu, Kabupaten Garut baru saja dilanda gempa berkekuatan 5 Skala Richter dan banyak korban cedera akibat tertimpa reruntuhan bangunan. Tidak seperti dokter kebanyakan yang stand by menanti pasien di klinik dan rumah sakit, Ratih justru beredar mendatangi pasien-pasiennya dari satu wilayah bencana ke wilayah bencana lainnya.
Sudah 10 tahun lebih ia menjalani profesi tersebut, hingga kerap disebut sebagai ‘Dokter Spesialis Bencana’ oleh orang-orang dan rekan sejawat yang mengenal dirinya. Gempa Pariaman tahun 2009, yang mengusik nurani wanita kelahiran Banjarmasin, 20 Maret 1980, ini untuk menjalankan misi kemanusiaan.
“Entah mengapa, ketika mendengar ada gempa di Pariaman, tiba-tiba saja saya merasa ingin ke sana untuk membantu, seperti panggilan jiwa,” ceritanya. Saat itu ia bahkan belum sempat mencicipi praktik di rumah sakit, karena baru saja merampungkan studinya di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Saat menyampaikan keinginan tersebut, orang tuanya sempat melarang karena khawatir akan keamanan dirinya. “Tapi saya tak bisa hanya duduk diam di sini, sementara tahu di sana ada banyak orang merintih butuh pertolongan medis,” kata Ratih, yang sempat gundah. Hasratnya untuk membantu sesama tak terbendung lagi.
Keseriusannya berhasil meluluhkan hati orang tuanya sehingga mereka mengizinkan Ratih berangkat ke Pariaman.
Atas inisiatif dan biaya pribadi, Ratih membeli tiket pesawat pulang pergi Jakarta-Padang. Tiba di Pariaman, ia langsung bekerja sebagai volunteer medis bersama tim pencinta alam Bandung, Wanadri, yang telah bergerak lebih dulu menjangkau wilayah yang belum tersentuh bantuan.
Tidak memiliki pengalaman sama sekali di daerah bencana, Ratih melengkapi dirinya dengan barang-barang kebutuhannya dan peralatan standar kedokteran. “Saya tidak ingin kehadiran saya justru merepotkan. Jadi, sebisa mungkin semuanya sudah saya persiapkan,” ungkap Ratih, yang mengaku sempat shock melihat kondisi setelah bencana.
Selama dua minggu ia bekerja tanpa henti, menguras pikiran dan tenaga untuk menangani pasien korban bencana. “Dalam sehari, kami bisa menangani 50 pasien. Pernah mencapai 80 pasien. Umumnya kami mengobati pasien yang terluka agar tidak terjadi infeksi. Kami juga harus menempuh area terisolasi yang porak-poranda akibat gempa,” kenang Ratih, yang saat itu menjadi satu-satunya wanita bersama dua dokter pria lainnya. Pengalaman perdana menjadi volunteer di Pariaman begitu membekas di hati Ratih.
Siapa sangka, membantu korban bencana akhirnya seperti ‘candu’ baginya. Setelah gempa Pariaman, Ratih terjun membantu bencana lainnya, seperti letusan Gunung Kelud, gempa Tasikmalaya, longsor di Bandung Selatan, dan beberapa bencana lainnya.
Wilayah geografis Indonesia yang rawan bencana, tak dipungkiri Ratih, menjadi perhatian besarnya untuk mengedukasi masyarakat bagaimana melindungi diri saat terjadi bencana. Berlompatan dari satu bencana ke bencana lainnya telah memberi ia banyak pengalaman.
Ketika di lokasi bencana, Ratih melihat obatobatan pereda nyeri, demam dan sakit kepala, serta perlengkapan P3K untuk mengatasi luka ringan sangat dibutuhkan. “Bantuan biasanya banyak yang datang, tapi sayangnya pendistribusian yang masih kacau dan lokasi bencana yang sulit dijangkau membuat bantuan tersebut tidak merata,” kata Ratih prihatin. Untuk melancarkan tugasnya, Ratih selalu bekerja sama dengan tim SAR dan pecinta alam seperti Wanadri untuk ‘membelah’ lokasi bencana dan membawa masuk tim dokter.
Selanjutnya: Doctors Go Wild membawa Ratih menjelajahi 54 daerah terpencil.

Foto: Foto: DoK. DOCTORS GO WILD KOMPAS TV
“Sejak remaja saya dijuluki ‘musal’ alias muka salon. Saya selalu menjaga rambut terblow rapi, kuku berwarna cantik, dan bulu mata lentik,’ katanya, tersenyum. Kecintaan pada alam pula yang memantapkan tekad Ratih untuk ikut serta dalam kegiatan Perempuan Merah Putih Mendaki Gunung Aconcagua, gunung tertinggi di dunia yang berada di Argentina, pada 2012.
Ketika tengah mempersiapkan diri ke Aconcagua inilah, sebuah tawaran menarik menghampirinya. Ratih diajak untuk casting program televisi, Doctors Go Wild. Ia pun berhasil lolos menjadi host program acara televisi yang membawanya keliling Indonesia itu sambil melakukan edukasi kesehatan.
“Ini salah satu impian saya. Saking senangnya, kontrak saya tanda tangani tanpa melihat jumlah honornya,” katanya, tersenyum. Setidaknya, ada 54 daerah pelosok telah ia jelajahi bersama Doctors Go Wild. Medan yang ditempuh sebagian besar pedalaman terpencil yang nyaris tidak bersentuhan dengan dunia luar, apalagi medis. Di beberapa daerah, motor pun tak sanggup melewatinya, hingga ia dan tim acara harus berjalan kaki dan mendaki berjam-jam lamanya.
Dari program ini Ratih mendapat pengalaman berharga. Menurutnya, metode pengobatan masyarakat tradisional jangan disepelekan. Justru perlu dikaji. “Seperti di Kalimantan, ada sekitar 1.700 tanaman berkhasiat untuk kesehatan yang belum tereksplorasi,” ungkapnya, serius.
Sisi lain, pengalaman memasuki banyak wilayah terpencil membuat Ratih harus pandai mendekatkan ilmu kedokteran miliknya dengan kearifan lokal yang selama ini dipercaya masyarakat setempat sebagai pengobatan yang mujarab.
“Bagaimanapun, kita harus bisa membawa diri, menghargai apa yang mereka percayai, karena dengan demikian mereka juga bisa menerima perubahan yang kita bawa. Seperti pepatah ‘di mana langit dijunjung, di situ bumi dipijak’. Cara saya adalah mendekati tetua atau orang yang biasa mengobati di kampung tersebut, mereka ini akan menjembatani kita dengan warga,” jelasnya.
Tak jarang ia juga harus berhadapan dengan dilema sebagai seorang dokter. Saat berada di kampung Negeri Huahulu, Kutai Barat, Kalimantan Timur, misalnya, ia didatangi seorang bapak berperawakan kurus, wajahnya terlihat lelah dan menahan sakit. Saat itu, untuk bisa bertemu dengan Ratih dan timnya, bapak yang ditemani anaknya itu harus berjalan kaki selama satu jam.
Berdasarkan pemeriksaan fisik, bapak tersebut membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut, seperti darah, scan, dan MRI. Ratih sempat berkeras untuk membawa pasien tersebut ke rumah sakit terdekat untuk diperiksa. Namun, medan yang sulit karena harus menembus hutan dengan jalan kaki berjam-jam serta mengarungi sungai berarus deras, membuat pasien tersebut tidak bisa dievakuasi.
”Ketidakberdayaan untuk menolong karena keterbatasan alam dan peralatan medis sering kami jumpai. Kenyataan ini sungguh membuat sedih,” ungkapnya. “Sayangnya, wilayah Indonesia yang luas dan terpencar menyebabkan banyak daerah yang masih sangat minim infrastruktur kesehatannya. Itu sebabnya, saya sangat mendukung perbaikan infrastruktur hingga ke pedalaman. Selain bisa mempercepat pertumbuhan ekonomi, juga membuka akses bantuan kesehatan lebih baik,“ tambah Ratih.
Tiga tahun bertualang dengan Doctor Go Wild, tahun 2015 program televisi tersebut berhenti tayang. Namun, misi kemanusiaan Ratih tetap berjalan. Ketika gempa Nepal misalnya, ia berangkat ke Nepal dengan biaya sendiri. Ratih meyakini, kebaikan akan membuka pintu rezekinya.
Selanjutnya: Cobaan hidup menempa Ratih menjadi pribadi yang kuat, ia menderita kanker yang menyerang sumsum tulang.

Foto: Dok. Pribadi, DOCTORS GO WILD KOMPAS TV
Di balik kepedulian dan pengabdiannya pada kemanusian yang selama ini ia lakukan, Ratih adalah wanita tangguh. Berbagai cobaan hidup yang berat menimpa dirinya di usia muda. Pernikahan pertamanya harus kandas di saat ia masih menempuh studi kedokteran. Namun, cintanya yang besar untuk putra semata wayangnya, Alfito (13), dari pernikahan pertamanya, membuat Ratih bangkit dan berjuang membenahi hidup.
Tahun 2008, ketika tengah mengejar cita-citanya sebagai dokter spesialis anestesi di Universitas Padjajaran, Bandung, ia didiagnosis menderita polisiternia vera. Penyakit kelainan genetis ini membuat sumsum tulangnya sangat aktif berproduksi, sehingga darahnya mudah mengental.
Ketika Ratih tengah bersiap membantu sebuah operasi di RS Hasan Sadikin Bandung, tiba-tiba saja ia pingsan. Saat diperiksa, tekanan darahnya sangat tinggi. “Saat terbangun, saya sudah ada di ruang ICU Rumah Sakit Cikini, Jakarta. Itu hari ke-4 sejak pingsan. Saya terserang stroke,” ceritanya.
Saat itu usianya baru menginjak 27 tahun. Akibatnya, Ratih harus menjalani terapi selama berbulan-bulan. Layaknya pasien kanker, ia juga harus menjalani kemoterapi. Bedanya, bila pada pasien kanker kemoterapi itu mematikan sel kanker, maka dalam kasus Ratih ini kemoterapi berfungsi untuk melemahkan aktivitas sumsum tulangnya yang superaktif. Karena harus menjalani perawatan intensif yang cukup lama, Ratih mengundurkan diri dari kampus.
“Dengan penyakit ini saya ngeri juga untuk menjadi dokter anestesi. Bagaimana jika pengentalan darah itu terjadi pada organ vital seperti pernapasan. Bukan hanya nyawa saya hilang, saya pun bisa membahayakan nyawa pasien yang mungkin sedang saya tangani,” ujar Ratih. Hingga saat ini, Ratih bersyukur kondisi kesehatannya sudah terkontrol, terapi yang ia jalani berjalan lancar. Meski begitu, untuk beraktivitas dengan normal, ia harus tetap menjaga agar darahnya tidak mengental dengan rutin mengonsumsi obat-obatan.
Setelah pernikahan keduanya dengan duda beranak dua, Purwasunu Adriansyah (41), yang ia kenal saat sama-sama berada di misi kemanusian bencana Pariaman, Ratih punya tanggung jawab lebih selain memerhatikan kesehatan pribadinya. Tantangan terberat menjalani kehidupannya saat ini adalah membagi waktu untuk keluarga. Padatnya jadwal misi kemanusiaan, diakui Ratih, terkadang membuat ia kerap harus meningggalkan keluarga untuk waktu yang cukup lama.
Ia pun harus rela kehilangan momen-momen bersama anaknya, seperti saat mengambil rapor, menonton pentas anak, bahkan ulang tahun anaknya. Namun, ia selalu menjaga komunikasi dan menceritakan tiap misi serta pengalamannya kepada anak-anaknya.
“Jika waktu dan kondisi memungkinkan, saya juga mengajak anak-anak dalam misi saya. Sekarang ini si sulung bahkan tak ragu berkata bahwa ia ingin mengikuti jejak saya, traveling sambil membantu sesama,” ujar Ratih, terharu.
Beruntung sang suami yang anggota Wanadri sangat mendukung Ratih dan anakanak dengan mengajari langsung mereka berbagai teknik bertahan hidup di alam bebas, mendaki gunung, hingga panjat tebing. Tidak hanya mendapat dukungan dari anak dan suami, ketulusan Ratih menolong sesama juga menggerakkan hati ayahnya, M. Thalhah, yang diam-diam mendirikan klinik gratis di Tambun, Bekasi, Maret lalu.
Pesan ayahnya: “Jadikan klinik ini berjalan sesuai visi kemanusiaanmu.” Sekarang ini ia tengah menggalang crowdfunding untuk membiayai klinik tersebut. Ia pun optimistis bisa mendapatkannya.
Selain itu, terinspirasi dari pengalamannya bersama program Doctors Go Wild, Ratih, dibantu suami, membuat video-video pendek bertema edukasi kesehatan, salah satunya kesehatan dan keselamatan saat melakukan pendakian. Kini, sudah ada 32 video yang ia buat. Sekitar 22 video telah ia unggah ke YouTube dan mendapatkan respons yang cukup baik. (f)
Yuniarti Tanjung (Kontributor, Jakarta)