Foto: Dok. Pribadi
 
Rahung Nasution (42) punya cara sendiri untuk menjadi orang Indonesia. Enggan disebut chef karena tak berlatar belakang ilmu boga, ia memilih merekam perjalanannya ke pelosok negeri dalam tayangan video, juga aktif di komunitas semisal Gerakan Aku Cinta Makanan Indonesia (ACMI). Kepada femina, pria berdarah Batak Mandailing ini berbagi kisah tentang hal-hal yang mengubah hidupnya, juga kegelisahan yang membuatnya terus belajar dan berkarya.

Cerita dari Dapur
Perkenalan sulung dari lima bersaudara ini pada dunia kuliner bukanlah dari hobi, melainkan kewajiban rumah tangga. Sejak remaja, dialah yang sering kali memasak untuk keluarga, ketika sang ibu bertani di sawah, dan sang ayah menyadap karet atau memancing. Hal itu dilakukan Rahung tanpa canggung, karena dapur di kampungnya adalah ruang yang tak asing bagi pria, termasuk ayahnya yang mahir memasak.

“Dalam masyarakat tradisional di Indonesia, institusi perkawinan tidak serta-merta menempatkan wanita di dapur. Pria dan wanita turun ke sawah bersama, begitu pula saat ke dapur,” ungkapnya. Di matanya, pembagian kerja dan wilayah rumah berdasarkan gender justru bentuk modernisasi yang salah kaprah.
Maka, ketika bertualang menjelajahi Indonesia, dapur penduduk lokal selalu termasuk dalam daftar tujuan pria ramah yang sebagian besar badannya bertato, termasuk wajahnya yang ditato motif khas suku Koita, Papua, ini. Di sana, ia tak hanya belajar memasak, tapi juga mereguk cerita warga seputar makanan.
Lewat suku Dayak di Kalimantan misalnya, ia berkenalan dengan daun sengkubak sebagai penyedap rasa alami, dan tanaman tengkawang yang minyaknya bisa dibuat mentega berkualitas.

Tidak memiliki latar belakang ilmu boga, Rahung menolak disebut sebagai koki. Meski demikian, pria yang meyakini bahwa dapur adalah tempat dimulainya gaya hidup sehat ini kerap merekam catatan perjalanannya dalam blog kokigadungan.tumblr.com. Baginya, nama itu adalah sindiran satir bahwa sebutan chef kini dianggap keren, terutama bagi pria.

Pria yang meminati isu-isu antropologi dan perubahan sosial ini meyakini, ilmu pengetahuan bukanlah untuk dilabeli, tapi untuk diolah dan dibagikan. Sama halnya seperti makanan dalam budaya Batak, yang hadir untuk dinikmati sambil kumpul-kumpul. Sebagaimana kawan-kawannya di ACMI, ia juga memandang makanan bukan sebagai hasil olahan resep semata.

“Lewat makanan dan perjalanan, kita bisa melihat keragaman negeri ini begitu kaya,” ungkap Rahung, yang memasak mengandalkan perasaan, bukan takaran.
Maka, ia tak bosan mengingatkan pentingnya seorang juru masak untuk mencicipi rasa asli suatu masakan sebelum mencoba memasaknya sendiri. Bila tidak, banyak hal akan terlupakan dalam memasak. Salah satunya, pemahaman bahwa makanan itu lahir dari sebuah tradisi, memengaruhi suatu kebudayaan dari hulu ke hilir, dan menciptakan ritus hidup yang memiliki filosofi.

Baca kisah perjalanan Rahung merantau yang telah menjadi caranya untuk melihat Indonesia dari kacamata orang-orang di daerah yang ia kunjungi di laman berikutnya.
 
 

 
Cerita dari Rantau
Di usia belia, ia nekat meninggalkan kampung halaman demi menginjakkan kaki di Jakarta, yang dilihatnya lewat televisi dan didengarnya lewat cerita kerabatnya yang pergi merantau. Sempat dua tahun menggelandang dan bekerja serabutan di sejumlah kota di Sumatra dan Jawa, ia memutuskan kembali ke rumah karena tak mau hidupnya berakhir di jalanan.

Rahung pun kembali ke bangku sekolah. Lulus SMP, ia melanjutkan SMA di Yogyakarta. Di Kota Gudeg itu  ia sering kali memasak untuk teman-teman serumahnya. Tak henti mencari ilmu, ia sempat bekerja di sebuah LSM di Timor Leste selama 6 tahun dan juga pernah tinggal di Bali dan Australia.

Saat berbincang dengan femina, Rahung tengah mempersiapkan perjalanannya ke Eropa selama sebulan untuk memperdalam kemahirannya di bidang film dokumenter. Demi film dokumenter pula, ia bolak-balik ke Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, sejak tahun 2013, merekam kehidupan tradisional masyarakat suku Dayak Iban yang berubah akibat perubahan kondisi hutan mereka. Didukung dana hasil urunan alias crowdfunding, proyek terbarunya itu kini memasuki tahap pascaproduksi.

Di mata sutradara Pulau Buru: Tanah Air Beta ini, minatnya terhadap film dokumenter memiliki arti tersendiri. Lewat karya-karyanya, ia ingin memberikan ruang bersuara bagi orang-orang daerah yang kadang-kadang ‘tak terlihat’, karena Indonesia kerap dipandang hanya dari sudut pandang ibu kota.
“Ini membuat saya mencintai negeri ini lewat orang-orangnya, perjuangan-perjuangan mereka, tanpa memikirkan batas-batas negara,” tegas Rahung, yang percaya bahwa persoalan menjadi Indonesia itu tidak sesederhana yang dipikirkan banyak orang.

Merantau sejak muda menjadi cara Rahung untuk melihat Indonesia dari kacamata orang-orang di daerah yang dikunjunginya. Sekarang, yang ditujunya bukanlah tempat, tapi masyarakat dan pengalaman yang didapatnya dari cerita-cerita dan sudut pandang mereka.

Pria berkepala plontos ini sadar, sebagai orang asing yang hanya berkunjung, ia tidak akan bisa sepenuhnya menjadi bagian dari masyarakat yang ditemuinya. “Tapi, dengan cara saya mendekatkan diri dengan mereka, saya ingin menjadi bagian dari mereka. Di sanalah kekayaan budaya kita berada,” ujarnya.

Bagi Rahung, perjalanan sebuah hidangan jauh lebih panjang dari proses memasak di dapur hingga tersaji di meja. Simak di laman berikutnya.
 
 


Hasil Akulturasi Budaya
Turut menyumbangkan cita rasa dalam kekayaan budaya, makanan di mata Rahung adalah sebuah cara untuk bercerita. Baginya, perjalanan sebuah hidangan jauh lebih panjang dari proses memasak di dapur hingga tersaji di meja. Lewat makanan, seseorang dapat belajar mengenal unsur-unsur yang menjadi ciri khas suatu makanan, dari mana asalnya, dan seperti apa sejarahnya.

Ia mencontohkan jintan dalam kare, yang kerap ditemukan dalam hidangan India dan Arab. Sementara itu, beragam jenis kare juga dikenal di Asia Tenggara, seperti kare merah dan hijau di Thailand, membuktikan bahwa kare berasal dari hasil akulturasi berbagai budaya.

Demikian pula soto, yang merupakan hasil akulturasi dengan budaya Tionghoa. Ada banyak varian soto di Indonesia, tapi semuanya berasal dari daerah yang bersinggungan dengan pengaruh Tionghoa, misalnya lewat perdagangan.

Namun demikian, Rahung berargumen bahwa tidak ada yang namanya makanan Indonesia. Yang ada, menurutnya, adalah makanan daerah. “Hidangan nasional berarti semua orang di negara itu mengenalnya. Tapi, saking banyaknya kekayaan makanan daerah kita, tak sedikit makanan daerah di Indonesia yang asing di telinga dan lidah orang dari daerah lain,” jelasnya.

Rahung menilai, persoalannya tak jauh dari ketiadaan apresiasi terhadap makanan sebagai ilmu pengetahuan dan bagian dari kebudayaan. Sayangnya, di Indonesia tidak ada sekolah khusus kuliner, yang menjadi tempat belajar cara mengolah makanan sekaligus mengeksplorasi filosofi dan seni memasak dan makanan. Yang ada hanya sekolah tata boga sebagai tempat belajar teknik memasak, tanpa menggali tentang makanan itu sendiri sebagai produk budaya.
Di luar itu, Rahung beranggapan bahwa Indonesia tak kekurangan peluang untuk memperkenalkan makanan daerahnya di mancanegara. Bila dunia menggandrungi sashimi, hidangan ikan mentah dari Jepang, Indonesia punya banyak sajian serupa. Contohnya naniura, ikan mas mentah berbumbu yang dulu merupakan makanan raja-raja Batak, dan gohu ikan tuna dari Maluku.

Menyatukan ketertarikannya pada makanan dan tradisi dengan hobi menjelajah dan membuat film dokumenter, pria yang aktif tweet lewat akun Twitter @rahung ini pun tak kekurangan kawan baru untuk berkolaborasi. Kesempatan itu pulalah yang memantik semangatnya untuk terus menyebarkan gagasan lewat perjalanan dan karya-karyanya, meski terkadang tak terlalu berkaitan dengan makanan. (f)

Baca juga:
Pendeta Merry Kolimon, Memimpin dengan Semangat Feminisme di Kupang
Laila Nurazizah, Penulis Naskah yang ‘Dipilih’ oleh Cerita
Diplomasi Membumi ala Retno Marsudi, Menteri Luar Negeri Wanita Pertama Indonesia