Foto: Do. Femina
Saat mengunjungi kantor Prof. Dr-Eng. Eniya Listiani Dewi, B.Eng., M.Eng (45) yang akrab disapa Prof. Eniya ini di Gedung BPPT, Jakarta, femina dikejutkan dengan jajaran penghargaan yang menghias dinding dan bufet panjang. “Penghargaan saya sampai sekarang ini jumlahnya sekitar 31,” ungkap Prof. Eniya, menjawab pertanyaan femina yang terkagum-kagum melihat jajaran penghargaan miliknya.
Menjadi seorang peneliti dengan puluhan penghargaan dan ratusan jurnal, seperti yang telah ia capai saat ini, bukanlah perjalanan yang mudah. “Memang harus termotivasi dan memiliki target. Buat saya, mendapatkan penghargaan tiap tahun dan menghasilkan jurnal itu adalah target sebagai seorang profesor yang saya tularkan kepada seluruh anggota tim peneliti saya,” ungkap wanita yang berhasil menyelesaikan kuliah doktoral Science Engineering pada usia 28 tahun ini, santai.
Kembali ke Indonesia pada tahun 2003, setelah menyelesaikan kuliah S-1 hingga S-3 di bidang science engineering selama sembilan tahun di Universitas Waseda, Tokyo, Jepang, Prof. Eniya mengaku harus banyak beradaptasi dengan lingkungan kerjanya di BPPT. “Selama berada di laboratorium Waseda, semua fasilitas lengkap dan memudahkan saya bekerja. Ketika kembali ke Jakarta, saya menemukan keterbatasan mulai dari fasilitas laboratorium hingga sistem kerja,” katanya.
Namun, wanita kelahiran Magelang, 14 Juni 1974, ini tak ingin keterbatasan tersebut menjadi penghalang. Ia tak mau melambatkan ritme kerjanya dan mencari solusi untuk tiap hambatan yang ia temui dalam bekerja. Alhasil, kemampuannya untuk melobi banyak pihak justru kian terasah. “Kalau mau proyek atau penelitian saya berjalan, artinya tidak bisa saya sendiri. Saya harus bisa bekerja sama dengan pihak ketiga, yang bisa memenuhi kebutuhan penelitian saya,” jelasnya.
Misalnya, ketika ia harus keluar masuk laboratorium kampus-kampus besar di Indonesia untuk menemukan orang yang mau membuatkan lempengan membran yang menjadi bagian dari fuel cell ciptaannya. “Banyak laboratorium yang menolak, karena mereka takut justru akan merusak peralatan yang mereka miliki. Sampai akhirnya saya bertemu dengan seorang pemilik bengkel di Yogyakarta. Setelah mengobrol, ternyata dia justru tertantang untuk membuat pesanan saya dan berhasil. Jadi, memang butuh orang-orang yang sedikit ‘gila’,” katanya.
Berkat ini pula, ia berhasil menyelesaikan proyek fuel cell-nya yang kemudian dipakai sebagai penghasil energi listrik untuk berbagai kebutuhan. Fuel cell ciptaannya bahkan dipakai oleh BTS-BTS milik provider seluler sebagai pengganti genset. “Walaupun fuel cell ini harganya bisa tiga kali lipat dari genset, biaya maintenance-nya sangat murah dan menjadi solusi bagi provider seluler yang merugi akibat genset di BTS kerap dicuri orang. Dalam sebulan mereka bisa mengurangi kerugian hingga Rp3 miliar,” katanya. Khusus untuk proyek ini, Prof. Eniya bekerja sama dengan perusahaan Amerika Serikat untuk memproduksi alat yang mampu menghasilkan listrik 5 kilowatt.
Fuel cell ciptaannya yang kemudian dikembangkan menjadi berbagai produk yang bermanfaat bagi kehidupan manusia ini tak lepas dari penelitian panjang yang ia lakukan sejak tahun 2003. Kala itu, secara tak sengaja ia menemukan katalis --satu-satunya di dunia-- yang mampu mentransfer hingga 10 elektron. “Katalis yang sudah ada sebelumnya hanya mampu mengantar 2 elektron,” jelasnya. Temuan tersebut mengantar Prof. Eniya menerima penghargaan Mizuno Award dari Waseda University, Jepang pada tahun 2003.
Penemuan lain Prof. Eniya yang patut diapresiasi adalah membran sel bahan bakar menggunakan material lokal yang diberi nama Thamrion atau Thamrin-Ion. Nama tersebut diberikan karena membran ini ia temukan di Jl. Thamrin, tempatnya bekerja. Thamrion adalah plastik super tipis yang mampu mereaksikan hidrogen menjadi listrik. Temuan ini membuat BPPT tak kalah bersaing dengan Jepang dan Amerika Serikat dalam menghasilkan alat transportasi berbasis bahan bakar hidrogen.
Berkat penemuannya dalam fuel cell ini pula yang mengantarkan ia menerima dua penghargaan bergengsi dari mantan presiden RI Prof. Dr. Ing. Bj. Habibie. Yaitu Habibie Award Implementation of Science and Engineering dari The Habibie Center (2010) karena menemukan plastik yang bisa mengalirkan elektron dan BJ Habibie Teknologi Award Bidang Teknologi Energi (2018) berkat keberhasilannya dalam membuat prototype fuel cell serta penguasaan di bidang engineering dan penulisan jurnal. Sampai saat ini, ia masih menjadi peneliti termuda yang menerima penghargaan Habibie Award Implementation of Science and Engineering. Selain itu ia juga mendapatkan penghargaan Satyalancana Wira Karya tahun 2016 dari pemerintah.
Semua pencapaian tersebut menurut Prof. Eniya tak lepas dari dukungan dan nasehat Profesor-nya saat berada di kampus Waseda. “Profesor saya ini orangnya unik. Waktu saya lulus doktoral, dia bilang ini baru step pertama. Setelah belajar dan masuk ke dunia kerja, semua akan diukur dalam 10 tahun. Dia bilang, ‘Laporkan ke saya, pencapaian kamu dalam 10 tahun. Kamu bisa jadi profesor tidak’,” katanya yang juga menciptakan sepeda motor hidrogen.
“Mendengar itu saya hanya tertawa. Tapi apa yang profesor saya sampaikan itu seperti menjadi target buat saya, membuat saya menerima segala tantangan-tantangan dan ingin menciptakan sesuatu,” katanya. Ia pun menunjukkan keberhasilannya kepada sang Profesor ketika dalam 10 tahun bekerja di BPPT sebagai peneliti, ia mampu mencapai predikat profesor peneliti di usia 38 tahun. Posisi tertinggi dalam jenjang karier fungsional sebagai peneliti di BPPT.
Baca Selanjutnya: Wanita di Bidang STEM
Foto: Dok. Femina
Wanita di Bidang STEM
Sebenarnya Prof. Eniya tak pernah bercita-cita jadi peneliti. Hobinya menggambar justru menginginkannya kuliah seni dan desain di Institut Teknologi Bandung (ITB). Namun sang ayah sempat melarang karena tak ingin anaknya kuliah jauh-jauh. Ia sempat ikut ujian masuk jurusan arsitek di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, namun baru dua minggu diterima ia dikabarkan lolos seleksi beasiswa ikatan dinas Program Karyasiswa Habibie/Program IMF dan ia memilih jurusan Science and Engineering, Engineering Faculty, Department of Applied Chemistry, Waseda University, Tokyo, Japan.
Ia beralih dari jurusan arsitek karena memang jurusan tersebut tak ada dalam tawaran beasiswa. Ia pun memilih jurusan science engineering karena ia melihat teknik kimia di Jepang mengarah pada industri dan membuat sebuah produk, sesuatu hal yang ia sukai.
Tamat S1, ia sudah diminta kembali ke Jakarta untuk bekerja di BPPT, sebagai bagian dari beasiswanya. “Beasiswa S1 saya itukan sekaligus penerimaan CPNS, jadi selesai kuliah, saya harus kembali untuk bekerja di BPPT. Tapi, saya ingin lanjut kuliah hingga S3. Jadi, saya mulai mencari-cari beasiswa lain dan berhasil mendapatkan beasiswa S2 hingga S3 sehingga bisa tetap melanjutkan pendidikan di Jepang,” cerita wanita yang mengaku harus juggling antara menyelesaikan kuliah, bekerja di laboratorium untuk memenuhi biaya hidup selama di Jepang, dan kehidupan pernikahan. “Bahkan saya sempat menitipkan anak pertama saya pada Ibu saya di Yogyakarta,” tambah penerima penghargaan ASEAN Outstanding Engineering Achievement Award di Kuala Lumpur, Malaysia pada tahun 2006 ini.
Berat memang harus berpisah dengan anak, apalagi masih usia balita, tapi anak pertama dari dua bersaudara ini selalu ingat pesan ibunya bahwa wanita itu harus bisa mandiri. “Ibu saya selalu berkata, kamu itu harus jadi wanita mandiri. Contohnya gampang kamu kalau mau beli lipstik moso minta suamimu,” ceritanya. Nasihat yang memotivasi dirinya untuk tidak setengah-setengah menyiapkan masa depannya saat terjun ke dunia kerja.
Sokongan dari keluarga, terutama ibu dan ketiga anaknya, diakui Prof Eniya menjadi penyemangat dirinya untuk terus berkarier dan memberikan dampak pada lingkungannya. Maka ketika ia mendapat tawaran untuk masuk ke jajaran struktural di tangkup kepemimpinan BPPT dan menjalani berbagai program perbaikan salah satunya restrukturisasi laboratorium BPPT, Prof. Eniya tidak menolaknya. Meski itu artinya ia akan lebih banyak berhubungan dengan birokrasi dan meninggalkan dunia penelitian yang ia cintai.
Sekali lagi, ia memilih keluar dari zona nyaman dan menerima tantangan. “Berat karena biasa di laboratorium kerja, ngulik material. Sekarang lebih banyak bertemu dan berbicara dengan orang dari berbagai kalangan hingga menghadiri acara seremonial,” kata wanita yang sejak tahun 2017 juga dipercaya menjabat sebagai Komisaris Utama PT Garam dan menangani masalah produksi garam nasional.
Sisi lainnya, menurut Prof. Eniya, ia kini bisa melihat dunia penelitian dari berbagai perspektif. Seperti ketika ia dipanggil ke UN (United Nation) untuk memberikan speech tentang women in science. Ia menjabarkan tentang data women in science di Indonesia yang ternyata menunjukkan hasil menarik, karena 10-5 tahun belakangan, jumlah wanita yang masuk ke jurusan teknik atau science itu mencapai 51% adalah wanita.
“Ini artinya semakin banyak anak perempuan yang tertarik dengan bidang teknik, berbeda dengan era saya dulu, di mana wanita masih minoritas di kampus teknik. Tapi sayangnya, ketika masuk ke dunia kerja, angka tersebut drop. Data peneliti dari ristek hanya sekitar 30% saja lulusan wanita yang mengisi lowongan teknik, sisanya justru bekerja di bidang non teknik. Jadi walaupun dia berpendidikan teknik, masuknya entah ke manajemen seperti perbankan,” ungkap Prof. Eniya.
Menurutnya, semua itu terjadi karena masih sedikit lapangan kerja di bidang teknik. Namun dengan berkembangnya dunia digital, munculnya perusahaan berbasis teknologi seperti e-commerce, e-learning, dan lain sebagainya, akan membuka lebih banyak lapangan kerja di bidang teknik.
“Harapannya akan semakin banyak wanita yang berkecimpung di dunia teknologi dan science,” katanya. Karena di mata Prof. Eniya, pria dan wanita memiliki kapasitas yang sama untuk berkembang di dunia yang kerap diidentikkan dengan pria tersebut. (f)
Baca Juga:
Gina S.Noer Membuat Film Serial Tentang Persaingan Dua Wanita
Helga Angelina, Bertahan Dengan Menjaga Kualitas
Arvila Delitriana, Kisah Sukses Bridge Engineer LRT Jabodebek Kuningan yang Memukau Presiden RI Joko Widodo