
Foto: Shinta Meliza
Ia ingin menginspirasi wanita di Asia untuk mampu melampaui langit-langit kaca, seperti yang telah ia lakukan.
“Kita sering mendengar, orang lain mengatakan kepada kita, ‘Kamu enggak pantas. Kamu enggak cukup pintar. Kamu enggak pantes kuliah.’ Berapa banyak dari kita yang kerap mendengar perkataan-perkataan tentang betapa tidak mampunya kita. Semua omongan itu bersemayam dalam benak kita,” kata Dr. Indigo, wanita asal Chicago, Amerika Serikat, di hadapan 1.200-an wanita di Indonesian Women’s Forum (IWF), di Jakarta, 9 November 2018.
Terlahir sebagai wanita, berkulit gelap pula, banyak hal yang harus ia dobrak agar bisa sukses di karier. Penulis yang berpengalaman lebih dari dua dekade di dunia coaching dan manajemen karier ini menyampaikan pesan dan filosofi untuk wanita, Asia khususnya, agar kita bisa mengoptimalkan potensi.
Dari sudut pandang Dr. Indigo, wanita di Asia banyak yang belum menyadari potensinya. “Sekaranglah saatnya. Asia akan jadi fokus kekuatan ekonomi; bahkan pemimpin ekonomi di masa depan. Di tangan wanitalah hal itu akan terwujud.”
“Kita sering mendengar, orang lain mengatakan kepada kita, ‘Kamu enggak pantas. Kamu enggak cukup pintar. Kamu enggak pantes kuliah.’ Berapa banyak dari kita yang kerap mendengar perkataan-perkataan tentang betapa tidak mampunya kita. Semua omongan itu bersemayam dalam benak kita,” kata Dr. Indigo, wanita asal Chicago, Amerika Serikat, di hadapan 1.200-an wanita di Indonesian Women’s Forum (IWF), di Jakarta, 9 November 2018.
Terlahir sebagai wanita, berkulit gelap pula, banyak hal yang harus ia dobrak agar bisa sukses di karier. Penulis yang berpengalaman lebih dari dua dekade di dunia coaching dan manajemen karier ini menyampaikan pesan dan filosofi untuk wanita, Asia khususnya, agar kita bisa mengoptimalkan potensi.
Dari sudut pandang Dr. Indigo, wanita di Asia banyak yang belum menyadari potensinya. “Sekaranglah saatnya. Asia akan jadi fokus kekuatan ekonomi; bahkan pemimpin ekonomi di masa depan. Di tangan wanitalah hal itu akan terwujud.”

Menurut Dr. Indigo, langit-langit kaca itu tak lain sumbernya ada dalam diri wanita. “Kita mengalami fear of success. Kalau saya sukses, nanti teman menjauh. Nanti kehilangan waktu untuk keluarga, dan banyak kekhawatiran lainnya.”
Itu yang disebut Dr. Indigo rintangan dari dalam. Ia juga mengamati, ketika wanita berkompetisi dengan pria, pertarungannya sungguh tidak setara.
“Bagi pria, bisa jadi rintangannya adalah rekan sesama pria, atau karena dia butuh untuk meningkatkan skill tertentu untuk memenangkan persaingan. Sedangkan wanita, sering kali rintangan itu adalah faktor anak, keluarga, keluarga besar. Terlepas dari faktor skill,” jelas wanita yang kerap menjadi pembicara dalam berbagai seminar manajemen karier ini.
Itu yang disebut Dr. Indigo rintangan dari dalam. Ia juga mengamati, ketika wanita berkompetisi dengan pria, pertarungannya sungguh tidak setara.
“Bagi pria, bisa jadi rintangannya adalah rekan sesama pria, atau karena dia butuh untuk meningkatkan skill tertentu untuk memenangkan persaingan. Sedangkan wanita, sering kali rintangan itu adalah faktor anak, keluarga, keluarga besar. Terlepas dari faktor skill,” jelas wanita yang kerap menjadi pembicara dalam berbagai seminar manajemen karier ini.
Untuk sukses, tip dari Dr. Indigo: seorang wanita harus punya ‘kendaraan’ bernama CARS (colleagues, advocates, resources, dan supporters). Keempat unsur ini harus kuat dan menjadi bagian dari support system kita.
Hal lain yang menjadi perhatian Dr. Indigo dalam tiap presentasinya adalah masalah yang jamak dihadapi para first generational success. First generational success adalah mereka yang pencapaiannya melebihi apa yang dicapai oleh kedua orang tuanya.
“Saya adalah first generational success. Ibu saya, dulu bekerja di pabrik. Ketika saya menghadapi masalah di kantor, saya tak bisa meminta saran dari Ibu. Mungkin Ibu akan menyarankan, ‘Berhenti kerja saja! Atau, omelin saja orang yang rese!’ Hal-hal yang pasti berbeda konteks dengan dunianya dulu,” ceritanya. Itu pula salah satunya yang mendasari Dr. Indigo untuk menulis buku berjudul Playing by the Unwritten Rules I: Moving from the Middle to the Top dan Playing by the Unwritten Rules II: From a Job Defense to a Career Offense.
Sukses, menurut pendiri Careers in Transition, Inc --lembaga konsultan karier yang masuk dalam daftar 500 besar Fastest Growing Companies di Amerika Serikat—ini, bukanlah tentang seberapa keras kamu bekerja. Ada ‘aturan-aturan’ tak tertulis yang ikut bermain yang perlu diketahui seorang profesional. “Secara global, hanya 5% wanita yang jadi CEO. Wanita harus lebih memahami permainan tak tertulis itu, jika ingin jumlah wanita CEO lebih banyak,” katanya.
Dalam konferensi IWF, hal yang menarik, Dr. Indigo juga mengutip sedikit pesan yang ia ambil dari buku yang baru selesai digarapnya, Here is What I Think, This is What I Know. Pemikiran yang berasal dari refleksi perjalanan hidupnya, sebagai wanita di belantara karier. Ada lima hal yang ia rekomendasikan, agar kita sukses di dunia yang selalu berubah. Kelima hal itu adalah:
1). Autentik. Punya kejelasan tentang karakter diri kita yang sesungguhnya. Seseorang perlu mengenali diri dengan penuh kesadaran, apa yang kita inginkan, apa yang kita cari, apa yang kita harapkan, lalu memahami kekuatan dan kelemahan.
2). Spiritualitas. Spiritualitas adalah mengenali ‘suara’ dari dalam nurani kita. Yang selalu membisikkan kepada kita tentang keputusan mana yang harus diambil. Orang menyebutnya intuisi. “Hampir tiap orang sukses menyebut bahwa tiap keputusan mereka dituntun oleh intuisi, seperti kapan harus launching, kapan berhenti, dan sebagainya.”
3). Resilience. Kita mengenal ada IQ, ada EQ. Menurut Dr. Indigo, ada pula yang tak kalah penting, yaitu RQ: resilience quotient. Kemampuan untuk bangkit, menjadi lebih kuat. “Pada saat terjatuh, yakin bahwa badai pasti akan berlalu. Kalaupun tidak, kita sudah menyiapkan rencana cadangan. Bukannya mengeluh, lantas depresi.”
4). Forgiveness. Hampir semua agama mengajarkan tentang perlunya memaafkan namun sering kali tidak menunjukkan bagaimana caranya. Mudah diucapkan, tapi tak mudah diterapkan. “Kita harus bisa memaafkan dan merelakan kekecewaan serta gangguan yang disebabkan oleh orang lain, dengan begitu akan membebaskan kita untuk berfokus pada hal-hal lebih penting lainnya di karir, dan tentunya di hidup kita.” Ujar Dr. Indigo.
5). Jadilah agen perubahan. Dunia berubah dengan cepat. Kalau kita tidak mau berubah, kita menjadi tidak relevan. “Secara profesional, kita harus mencari cara untuk terus memperbaiki diri dan membantu organisasi bertransformasi. Baik itu memperbarui dari sisi teknologi, menjadi lebih terbuka atau menciptakan cara agar lebih ramah lingkungan.”
Selanjutnya: Pernah Jatuh Bangun

Pernah Jatuh Bangun
Di mata Indigo, karier dan pekerjaan bukan semata tentang bagaimana agar cepat naik pangkat atau sukses mencapai puncak. Lebih dalam dari itu, karier adalah tentang hidup itu sendiri.
“Ketimbang meng-coach orang yang ingin dipromosikan, saya lebih suka meng-coach orang untuk punya kehidupan yang lebih baik. Saya ingin menyentuh hidup orang. Saya menyebutnya transformational coaching,” kata ibu tiga anak ini.
Pandangannya yang cukup filosofis ini bukanlah sebuah ilham yang datang dalam semalam, melainkan berasal dari pelajaran hidup yang ia alami berpuluh tahun.
“Saya punya kehidupan yang sempurna. Rumah besar, bisa jalan-jalan keliling dunia. Saya punya segalanya. Tapi, semua itu sirna seketika ketika orang kepercayaan saya menggelapkan uang perusahaan. Saya kehilangan segalanya,” jawab Dr. Indigo, ketika mengisahkan tentang jatuh bangun yang pernah dialaminya. Meskipun dirinya memenangkan peradilan hasil sidang yang membuatnya mendapatkan hak atas kerugian sebesar 2 juta dolar AS, Dr. Indigo paham kalau sesungguhnya dia tidak akan mendapatkan semua hal yang telah hilang.
Sebelum kasus itu terungkap, ia baru mengalami perceraian di usianya yang memasuki 50 tahun. “Dari perceraian itu saya harus membayar kepada suami 500 ratus ribu dolar AS, rumah dan seluruh perabot, serta hak asuh anak bungsu. Putusan pengadilan itu didasarkan dari membagi dua omzet bisnis saya, dihitung dari seluruh kontrak yang saya pegang,” kenang penyuka aromaterapi ini.
Demi memulai lembaran baru, tahun 2016 Dr. Indigo pindah ke Malaysia dan mendirikan perusahaan baru dengan nama 4D Performances. Namun ternyata, ujian masih harus dihadapinya. Sebuah peristiwa mengubah pandangannya tentang hidup.
“Enam bulan setelah pindah, jiwa saya pernah hampir terancam Saya mengalami pulmonary embolism (emboli paru), penyumbatan yang terjadi di salah satu arteri paru disebabkan oleh gumpalan darah beku yang mengalir ke paru-paru dari trombosis vena dalam. Kata ibu saya yang menunggui saya di rumah sakit, saya seharusnya sudah mati karena kejadian ini,” cerita Dr Indigo.
Seperti mendapat mukjizat, begitulah yang ia sadari. Ia merasa bersyukur masih diberi kesempatan hidup. “Saya merasa punya tujuan. Saya punya misi untuk melakukan sesuatu. It was a beautiful perfect storm. Saya bukan lagi orang yang dulu. Saya melihat segala sesuatunya dengan berbeda.”
Mengutip Mark Twain, ada dua momen paling penting dari hidup kita. Pertama, hari ketika kita dilahirkan. Kedua, hari ketika kita tahu kenapa kita dilahirkan. Bagi Dr. Indigo, datang ke Asia adalah sebuah ‘panggilan’.
“Saya merasa terpanggil ke sini. Untuk membantu wanita di Asia menemukan kebebasan, sebuah kehidupan yang baru,” tutur pengagum Harriet Tubman, wanita kulit hitam yang berhasil membebaskan 700 budak di Amerika, ini. (f)
Baca Juga:
“Ketimbang meng-coach orang yang ingin dipromosikan, saya lebih suka meng-coach orang untuk punya kehidupan yang lebih baik. Saya ingin menyentuh hidup orang. Saya menyebutnya transformational coaching,” kata ibu tiga anak ini.
Pandangannya yang cukup filosofis ini bukanlah sebuah ilham yang datang dalam semalam, melainkan berasal dari pelajaran hidup yang ia alami berpuluh tahun.
“Saya punya kehidupan yang sempurna. Rumah besar, bisa jalan-jalan keliling dunia. Saya punya segalanya. Tapi, semua itu sirna seketika ketika orang kepercayaan saya menggelapkan uang perusahaan. Saya kehilangan segalanya,” jawab Dr. Indigo, ketika mengisahkan tentang jatuh bangun yang pernah dialaminya. Meskipun dirinya memenangkan peradilan hasil sidang yang membuatnya mendapatkan hak atas kerugian sebesar 2 juta dolar AS, Dr. Indigo paham kalau sesungguhnya dia tidak akan mendapatkan semua hal yang telah hilang.
Sebelum kasus itu terungkap, ia baru mengalami perceraian di usianya yang memasuki 50 tahun. “Dari perceraian itu saya harus membayar kepada suami 500 ratus ribu dolar AS, rumah dan seluruh perabot, serta hak asuh anak bungsu. Putusan pengadilan itu didasarkan dari membagi dua omzet bisnis saya, dihitung dari seluruh kontrak yang saya pegang,” kenang penyuka aromaterapi ini.
Demi memulai lembaran baru, tahun 2016 Dr. Indigo pindah ke Malaysia dan mendirikan perusahaan baru dengan nama 4D Performances. Namun ternyata, ujian masih harus dihadapinya. Sebuah peristiwa mengubah pandangannya tentang hidup.
“Enam bulan setelah pindah, jiwa saya pernah hampir terancam Saya mengalami pulmonary embolism (emboli paru), penyumbatan yang terjadi di salah satu arteri paru disebabkan oleh gumpalan darah beku yang mengalir ke paru-paru dari trombosis vena dalam. Kata ibu saya yang menunggui saya di rumah sakit, saya seharusnya sudah mati karena kejadian ini,” cerita Dr Indigo.
Seperti mendapat mukjizat, begitulah yang ia sadari. Ia merasa bersyukur masih diberi kesempatan hidup. “Saya merasa punya tujuan. Saya punya misi untuk melakukan sesuatu. It was a beautiful perfect storm. Saya bukan lagi orang yang dulu. Saya melihat segala sesuatunya dengan berbeda.”
Mengutip Mark Twain, ada dua momen paling penting dari hidup kita. Pertama, hari ketika kita dilahirkan. Kedua, hari ketika kita tahu kenapa kita dilahirkan. Bagi Dr. Indigo, datang ke Asia adalah sebuah ‘panggilan’.
“Saya merasa terpanggil ke sini. Untuk membantu wanita di Asia menemukan kebebasan, sebuah kehidupan yang baru,” tutur pengagum Harriet Tubman, wanita kulit hitam yang berhasil membebaskan 700 budak di Amerika, ini. (f)
Baca Juga:
8 Perempuan Supreme: Sakdiyah Ma’ruf
8 Perempuan Supreme: Najelaa Shihab
8 Perempuan Supreme: Sri Luce & Franka Franklin