
Foto: Dok. Okky Madasari
Sedikit berbeda dengan kebanyakan penulis novel menjajakan romans dalam karya sastra, Okky Madasari (33) menyajikan kritik pedas terhadap apa yang terjadi di lingkungan lewata rangkaian kata.
Sebut saja persoalan korupsi, isu feminism, hingga gambaran tentang masyarakat modern yang tunduk pada teknologi, adalah beberapa hal yang pernah disentilnya. Okky mendobrak batasan-batasan dan melawan ketidakbebasan dalam perjuangannya mendapatkan hak-hak kemanusiaan yang kerap dicederai.
Lantang Bersuara
Sudah enam dan satu buku kumpulan cerita lahir dari rahim kreativitasnya. Entro (2010), 86 (2011), Maryam (2012), Pasung Jiwa (2013), Kerumunan Terakhir (2016), Yang Bertahan dan Binasa Perlahan (2017), dan Mata di Tanah Melus (2018).
Tak tanggung-tanggung, karya ketiganya, Maryam, sangat berani mengangkat masalah kekerasan terhadap pengikut golongan Ahmadiyah, emndapuknya menjadi penerima penghargaan Buku Sastra Terbaik dalam ajang khatulistiwa Literary Award termuda, tahun 2012. Saat itu ia masih berusia 28 tahun, sementara kebanyakan penerima penghargaan bergengsi tersebut adalah para penulis senior, seperti Avianti Armand yang berusia 42 tahun dan Gus tf Sakai yang berusia 47 tahun, ketika mendapatkan penghargaan serupa. Tak heran jika Okky menganggap penghargaan ini menjadi salah satu pencapaian tertinggi dalam kariernya di dunia sastra tanah air.
Wanita kelahiran Magelang, 30 Oktober 1984, ini tak segan melihat isu yang tak berani dikuak orang lain. Ini membuat namanya banyak dilirik publik sebagai salah satu penulis yang bernyali besar.
Lewat novel pertamanya, Entrok, Okky menggambarkan sosok wanita feminis dan dominan dalam tokoh Marni, di tengah era patriarkat Orde Baru yang sering membuat posisi wanita dianggap salah dan para pria selalu kuat dan benar. Ia berhasil mendobrak struktur sosial tentang bagaimana wanita biasanya digambarkan di era tersebut: lemah dan dependen.
Di sisi lain, Okky tak segan mengusik nurani para pembacanya tentang bagaimana korupsi telah menjadi duri dalam daging, di novel 86. Sementara Kerumunan Terakhir menjadi media yang tepat bagi Okky untuk menyampaikan kegelisahannya tentang bagaimana teknologi selain bisa membawa kebaikan juga bisa menjadi masalah baru bagi dunia.
Begitu gamblang dalam menyampaikan kritik tak ayal membuat dirinya sempat beberapa kali mendapatkan protes dari publik tentang mengapa ia harus mengangkat isu yang sensitif dalam tiap karyanya. Okky tak pernah ambil pusing tentang hal itu. Menurutnya, makin geregetan seseorang dengan apa yang dibahas dalam karyanya, makin berhasil ia menguak isu tersebut.
“Menjadi pengarang, kita harus bisa menjadi apa saja, melahirkan karakter apa saja, tidak hanya orang baik. Kalau menulis dari sisi yang baik saja, kita justru tidak berkembang,” tutur Okky. Baginya, menulis adalah proses dalam perjalanan hidup.
Banyak orang menyebut Okky sebagai ‘The Next Pramoedya Ananta Toer’. Walau tak seperti sang legenda yang pernah dibungkam pemerintah Orde Baru karena kegamblangannya melawan ketidakadilan lewat sastra, keberanian Okky untuk melakukan hal serupa juga tak bisa dianggap remeh. Ia berharap, melalui tulisan-tulisannya yang sarat kritik dapat memengaruhi cara pandang publik terhadap masalah tertentu.
Bagi Okky, sastra tak ubahnya seperti senjata melawan ketidakadilan. Bedanya, ‘senjata’ yang satu ini begitu cantik dan disampaikan secara halus, tapi menohok. Pun tak ada ketakutan dalam dirinya kala menyampaikan kritik tentang ragam isu dengan cara gamblang, tapi penuh estetika.
Bukannya membuat orang bingung atau terasa berat dengan isu-isu serius yang menjadi ide ceritanya --membahas korupsi, kesetaraan gender, hingga kegagapan masyarakat menghadapi dunia serba digital- Okky justru menyajikan cerita dengan bahasa yang mudah dimengerti, bahkan bagi yang bukan penikmat sastra sekalipun. Gaya bahasanya yang cair bisa dengan mudah dipahami kalangan muda, kendatipun isu yang diceritakan terkesan serius.
“Mungkin karena dulu latar belakang saya adalah jurnalis, saya jadi terbiasa membuat tulisan yang mudah dimengerti oleh pembaca. Saya rasa itu jadi salah satu kelebihan saya,” tutur istri dari Abdul Khalik, yang juga berprofesi sebagai jurnalis di media massa nasional, ini.
Tak hanya dinikmati oleh para penikmat sastra lokal, vokalnya Okky dalam mencurahkan kritik sosial dalam karya novel juga menjadi incaran banyak orang di berbagai negara. Tak ayal, situasi ini membuat beberapa novelnya kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, beberapa di antaranya dalam bahasa Jerman.
Tahun 2013, Entrok dialihbahasakan dengan judul The Years of the Voiceless. Begitu juga dengan Maryam yang diberi judul The Outcast, Pasung Jiwa dengan tajuk Bound, dan Kerumunan Terakhir sebagai The Last Crowd. Karya-karyanya telah banyak dipasarkan di sejumlah negara, seperti Jerman, Malaysia, hingga Mesir. Ia berharap kelak bukunya dapat masuk dalam pusat industri perbukuan global, yaitu pasar di Amerika Serikat.
Perhatiannya yang besar pada kemajuan dunia sastra telah mendorongnya untuk menggelar acara tahunan, ASEAN Literary Festival, yang sudah dilakukan sejak tahun 2014. Ia ingin festival berskala internasional ini menjadi wadah untuk mengakrabkan sastra dan budaya kepada publik secara lebih luas, dengan menggelar diskusi-diskusi kritis bersama penulis-penulis dari negara-negara ASEAN yang dihadirkannya.
Sebut saja persoalan korupsi, isu feminism, hingga gambaran tentang masyarakat modern yang tunduk pada teknologi, adalah beberapa hal yang pernah disentilnya. Okky mendobrak batasan-batasan dan melawan ketidakbebasan dalam perjuangannya mendapatkan hak-hak kemanusiaan yang kerap dicederai.
Lantang Bersuara
Sudah enam dan satu buku kumpulan cerita lahir dari rahim kreativitasnya. Entro (2010), 86 (2011), Maryam (2012), Pasung Jiwa (2013), Kerumunan Terakhir (2016), Yang Bertahan dan Binasa Perlahan (2017), dan Mata di Tanah Melus (2018).
Tak tanggung-tanggung, karya ketiganya, Maryam, sangat berani mengangkat masalah kekerasan terhadap pengikut golongan Ahmadiyah, emndapuknya menjadi penerima penghargaan Buku Sastra Terbaik dalam ajang khatulistiwa Literary Award termuda, tahun 2012. Saat itu ia masih berusia 28 tahun, sementara kebanyakan penerima penghargaan bergengsi tersebut adalah para penulis senior, seperti Avianti Armand yang berusia 42 tahun dan Gus tf Sakai yang berusia 47 tahun, ketika mendapatkan penghargaan serupa. Tak heran jika Okky menganggap penghargaan ini menjadi salah satu pencapaian tertinggi dalam kariernya di dunia sastra tanah air.
Wanita kelahiran Magelang, 30 Oktober 1984, ini tak segan melihat isu yang tak berani dikuak orang lain. Ini membuat namanya banyak dilirik publik sebagai salah satu penulis yang bernyali besar.
Lewat novel pertamanya, Entrok, Okky menggambarkan sosok wanita feminis dan dominan dalam tokoh Marni, di tengah era patriarkat Orde Baru yang sering membuat posisi wanita dianggap salah dan para pria selalu kuat dan benar. Ia berhasil mendobrak struktur sosial tentang bagaimana wanita biasanya digambarkan di era tersebut: lemah dan dependen.
Di sisi lain, Okky tak segan mengusik nurani para pembacanya tentang bagaimana korupsi telah menjadi duri dalam daging, di novel 86. Sementara Kerumunan Terakhir menjadi media yang tepat bagi Okky untuk menyampaikan kegelisahannya tentang bagaimana teknologi selain bisa membawa kebaikan juga bisa menjadi masalah baru bagi dunia.
Begitu gamblang dalam menyampaikan kritik tak ayal membuat dirinya sempat beberapa kali mendapatkan protes dari publik tentang mengapa ia harus mengangkat isu yang sensitif dalam tiap karyanya. Okky tak pernah ambil pusing tentang hal itu. Menurutnya, makin geregetan seseorang dengan apa yang dibahas dalam karyanya, makin berhasil ia menguak isu tersebut.
“Menjadi pengarang, kita harus bisa menjadi apa saja, melahirkan karakter apa saja, tidak hanya orang baik. Kalau menulis dari sisi yang baik saja, kita justru tidak berkembang,” tutur Okky. Baginya, menulis adalah proses dalam perjalanan hidup.
Banyak orang menyebut Okky sebagai ‘The Next Pramoedya Ananta Toer’. Walau tak seperti sang legenda yang pernah dibungkam pemerintah Orde Baru karena kegamblangannya melawan ketidakadilan lewat sastra, keberanian Okky untuk melakukan hal serupa juga tak bisa dianggap remeh. Ia berharap, melalui tulisan-tulisannya yang sarat kritik dapat memengaruhi cara pandang publik terhadap masalah tertentu.
Bagi Okky, sastra tak ubahnya seperti senjata melawan ketidakadilan. Bedanya, ‘senjata’ yang satu ini begitu cantik dan disampaikan secara halus, tapi menohok. Pun tak ada ketakutan dalam dirinya kala menyampaikan kritik tentang ragam isu dengan cara gamblang, tapi penuh estetika.
Bukannya membuat orang bingung atau terasa berat dengan isu-isu serius yang menjadi ide ceritanya --membahas korupsi, kesetaraan gender, hingga kegagapan masyarakat menghadapi dunia serba digital- Okky justru menyajikan cerita dengan bahasa yang mudah dimengerti, bahkan bagi yang bukan penikmat sastra sekalipun. Gaya bahasanya yang cair bisa dengan mudah dipahami kalangan muda, kendatipun isu yang diceritakan terkesan serius.
“Mungkin karena dulu latar belakang saya adalah jurnalis, saya jadi terbiasa membuat tulisan yang mudah dimengerti oleh pembaca. Saya rasa itu jadi salah satu kelebihan saya,” tutur istri dari Abdul Khalik, yang juga berprofesi sebagai jurnalis di media massa nasional, ini.
Tak hanya dinikmati oleh para penikmat sastra lokal, vokalnya Okky dalam mencurahkan kritik sosial dalam karya novel juga menjadi incaran banyak orang di berbagai negara. Tak ayal, situasi ini membuat beberapa novelnya kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, beberapa di antaranya dalam bahasa Jerman.
Tahun 2013, Entrok dialihbahasakan dengan judul The Years of the Voiceless. Begitu juga dengan Maryam yang diberi judul The Outcast, Pasung Jiwa dengan tajuk Bound, dan Kerumunan Terakhir sebagai The Last Crowd. Karya-karyanya telah banyak dipasarkan di sejumlah negara, seperti Jerman, Malaysia, hingga Mesir. Ia berharap kelak bukunya dapat masuk dalam pusat industri perbukuan global, yaitu pasar di Amerika Serikat.
Perhatiannya yang besar pada kemajuan dunia sastra telah mendorongnya untuk menggelar acara tahunan, ASEAN Literary Festival, yang sudah dilakukan sejak tahun 2014. Ia ingin festival berskala internasional ini menjadi wadah untuk mengakrabkan sastra dan budaya kepada publik secara lebih luas, dengan menggelar diskusi-diskusi kritis bersama penulis-penulis dari negara-negara ASEAN yang dihadirkannya.
Hadiah untuk Sang Putri
Seperti kehidupan yang berproses, seiring waktu tulisannya juga berubah. Kehadiran Mata Diraya (3) dalam hidupnya menumbuhkan cita-cita baru bagi Okky. Ia tak lagi hanya ingin melemparkan kritikan, tapi juga tergugah untuk menulis buku anak.
“Anak saya gemar dibacakan cerita. Saya ingin dia membaca karya ibunya, tanpa harus menunggu usianya cukup untuk membaca karya-karya saya yang umumnya untuk dewasa,” ujar wanita yang juga punya ketertarikan yang besar pada puisi ini. Sementara di pasaran, ia melihat karya sastra anak di Indonesia masih sangat terbatas. Padahal, menumbuhkan minat baca harus dimulai sedini mungkin.
Januari 2018 ini, keinginannya terwujud. Buku novel anak-anak berjudul Mata di Tanah Melus diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama. Tak hanya menjadi langkah awal untuk mengenalkan novel kepada putrinya, menulis novel anak juga memberi pelajaran bagi Okky. “Menulis novel untuk anak juga menjadi upaya saya untuk terus memperluas kreativitas dan imajinasi. Setelah menghasilkan 5 novel dan 1 kumpulan cerita, saya perlu mengambil jeda dari karya-karya terdahulu agar tidak terperangkap di zona nyaman.”
Masih banyak ide liar yang berlari-lari di otaknya. Okky memang tak pernah bisa diam. Selalu ada saja proyek yang sibuk ia lakukan atau terlibat dalam berbagai kegiatan sebagai wujud kontribusinya pada dunia sastra.
Desember lalu, ia baru saja kembali dari Iowa, Amerika Serikat, setelah mengikuti writer-in-residence selama 3 bulan dari International Writing Program University of Iowa. Ini merupakan program prestisius bagi penulis di seluruh dunia. Tahun ini ada 35 penulis dari 34 negara yang terpilih mengikuti program ini. Ia mengikuti jejak beberapa penulis senior, seperti Putu Wijaya, Danarto, hingga Yusi Avianto Pareanom, yang sebelumnya juga pernah mengikuti program yang sudah berusia 50 tahun ini.
Sejak 2 Januari 2018, ia berangkat ke Singapura untuk menghabiskan waktu selama satu semester mengajar di National University Singapore. “Saya mendapat tawaran sebagai visiting fellow dari NUS untuk mengajar beberapa mata kuliah, sekaligus akan menulis karya selama tinggal di sana,” katanya. (f)
“Anak saya gemar dibacakan cerita. Saya ingin dia membaca karya ibunya, tanpa harus menunggu usianya cukup untuk membaca karya-karya saya yang umumnya untuk dewasa,” ujar wanita yang juga punya ketertarikan yang besar pada puisi ini. Sementara di pasaran, ia melihat karya sastra anak di Indonesia masih sangat terbatas. Padahal, menumbuhkan minat baca harus dimulai sedini mungkin.
Januari 2018 ini, keinginannya terwujud. Buku novel anak-anak berjudul Mata di Tanah Melus diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama. Tak hanya menjadi langkah awal untuk mengenalkan novel kepada putrinya, menulis novel anak juga memberi pelajaran bagi Okky. “Menulis novel untuk anak juga menjadi upaya saya untuk terus memperluas kreativitas dan imajinasi. Setelah menghasilkan 5 novel dan 1 kumpulan cerita, saya perlu mengambil jeda dari karya-karya terdahulu agar tidak terperangkap di zona nyaman.”
Masih banyak ide liar yang berlari-lari di otaknya. Okky memang tak pernah bisa diam. Selalu ada saja proyek yang sibuk ia lakukan atau terlibat dalam berbagai kegiatan sebagai wujud kontribusinya pada dunia sastra.
Desember lalu, ia baru saja kembali dari Iowa, Amerika Serikat, setelah mengikuti writer-in-residence selama 3 bulan dari International Writing Program University of Iowa. Ini merupakan program prestisius bagi penulis di seluruh dunia. Tahun ini ada 35 penulis dari 34 negara yang terpilih mengikuti program ini. Ia mengikuti jejak beberapa penulis senior, seperti Putu Wijaya, Danarto, hingga Yusi Avianto Pareanom, yang sebelumnya juga pernah mengikuti program yang sudah berusia 50 tahun ini.
Sejak 2 Januari 2018, ia berangkat ke Singapura untuk menghabiskan waktu selama satu semester mengajar di National University Singapore. “Saya mendapat tawaran sebagai visiting fellow dari NUS untuk mengajar beberapa mata kuliah, sekaligus akan menulis karya selama tinggal di sana,” katanya. (f)
Baca Juga:
Marini Putri Habibie, Guru Memasak Raisa, Yang Punya Trik Ampuh Membuat Anak Melek Gizi
Avip Priatna, Kuatkan Nasionalisme Indonesia Lewat Ruang Musik Asyik
Putri Intan Permatasari, Merintis Keroncong Rasa Muda