
Foto: Dachri M.S, Dok. Pribadi
Suku Baduy di Serang, Banten, mungkin satu-satunya suku di Indonesia yang memiliki aturan adat melarang masyarakatnya sekolah secara formal. Tidak mengherankan jika kemudian anak-anak suku Baduy tidak ada yang mengenal huruf dan angka. Kondisi ini mengusik nurani Nury Sybli (38), hingga ia rela bolak-balik Jakarta-Baduy demi memperkenalkan anak-anak suku Baduy Luar membaca dan menulis. “Bukan untuk mengubah tradisi, tapi agar mereka bisa tetap menjaga tradisi suku Baduy sekaligus memperluas pengetahuan mereka,” katanya.
Bukan rahasia lagi jika suku pedalaman Baduy yang tinggal di kawasan Kabupaten Lebak, Banten, memiliki aturan adat yang tidak membolehkan mereka mengenyam pendidikan di sekolah. Turun-temurun, seluruh warga Baduy buta huruf. Mereka tak mengenal huruf, angka, dan aksara lainnya. Semua hal disampaikan secara lisan dari orang tua kepada anaknya, termasuk soal adat istiadat dan kebiasaan hidup.
“Anak-anak Baduy sejak kecil dididik untuk berladang, sementara anak perempuan diajari menenun. Hal tersebut tampak dari permainan mereka, seperti ngasek padi (menanam padi),” cerita Nury, membuka percakapan dengan femina di rumahnya yang asri di daerah Sawangan, Depok, Jawa Barat.
Orang Baduy menganggap tanah leluhur mereka adalah pusat dunia, tempat dari mana semuanya berasal. Sehingga, tanah mereka sangat keramat dan orang-orang yang terlahir di tanah tersebut harus menjaga kemurniannya. Desa Cikeusik, Cikertawana, dan Cibeo menjadi tiga lokasi paling utama (tangtu). Ketiga desa tersebut ditempati oleh masyarakat Baduy Dalam. Karena terletak di pusat, orang Baduy Dalam paling menaati dan menjaga leluhur mereka.
Di luar wilayah suci ini, terdapat masyarakat suku Baduy Luar yang menempati wilayah Panamping. Meski demikian, tangtu dan Panamping tetap berada dalam sistem nilai yang sama yang dikenal dengan sebutan pikukuh, yaitu aturan yang harus dijalani masyarakat suku Baduy dalam kehidupan sehari-hari. Pikukuh tidak pernah tercatat dalam bentuk teks, tetapi menjelma dalam kehidupan masyarakat Baduy saat berinteraksi dengan alam dan lingkungannya sehari-hari.
“Ada 61 kampung Baduy Luar dengan jumlah penduduk lebih dari 11.000 jiwa. Beberapa desa seperti Kanekes, Balimbing, Marengo, dan Gajeboh adalah desa yang akrab dikunjungi wisatawan yang datang ke Baduy. Meski ada aturan yang mengikat, ketika mereka dihadapkan pada dunia luar yang menjanjikan kesenangan berbeda, tidak ada yang menjamin suku Baduy mematuhi pikukuh dan menjauhi pantangan,” jelas Nury.
Kenyataannya, perubahan zaman memang tidak bisa dilawan. Misalnya saja, pola barter yang mereka jalani selama ini, telah berubah menjadi transaksi jual-beli. Uang pun makin berharga. Bahkan, peningkatan orang yang berkunjung ke Baduy mau tidak mau memberikan pengaruh pada konsumsi makanan, cara berpakaian, hingga penggunaan gadget di kalangan anak muda Baduy Luar.
(Klik halaman di bawah untuk melanjutkan membaca)

Foto: Dachri M.S, Dok. Pribadi
Perubahan-perubahan ini dirasakan wanita yang telah bolak-balik berkunjung ke kampung Baduy sejak tahun ‘90-an. Hati nuraninya pun tergelitik untuk mengajarkan anak-anak suku Baduy membaca dan menulis. “Setidaknya, dengan mereka bisa membaca dan menulis, mereka bisa menjaga budaya sendiri, sekaligus berinteraksi dengan orang-orang yang datang. Sementara, bila mereka memaksakan untuk mengenyam pendidikan formal, mereka harus meninggalkan adat dan keluar dari warga Baduy,” ungkap wanita bertubuh mungil yang akrab di sapa Ibu oleh anak-anak Baduy ini.
Kerap berkunjung ke Baduy, Nury paham benar dengan perilaku orang Baduy yang cenderung diam, bahkan jika ditanya sekalipun. Ketidakmampuan mereka berbahasa Indonesia --karena sehari-hari menggunakan bahasa Sunda-- menjadi penghalang komunikasi dengan orang luar. Namun, sikap yang tertutup ini tidak menjadi penghalang Nury untuk mulai menjalin kedekatan dengan masyarakat Baduy.
Gayung bersambut. Tahun 2007, wanita yang mengawali kariernya sebagai reporter di sebuah media nasional di Jakarta ini mendapat lampu hijau untuk mengajar membaca dan menulis kepada Mulyono. “Murid pertama saya ini adalah putra Kang Sarpin, yang rumah besarnya di Kampung Balimbing Kanekes, selalu menjadi tempat saya menginap tiap kali berkunjung ke Baduy,” cerita Nury. Saat itu ia memberikan pelajaran sederhana, mengenal huruf abjad, angka, dan bahasa Indonesia.
Pelan-pelan Mul, panggilan Mulyono, memberanikan diri untuk mengajak teman-temannya untuk ikut di Kelas Baca Baduy, nama yang mereka berikan untuk kelompok belajar ini. Murid Nury pun bertambah satu demi satu. Sayangnya, kelas baca ini hanya bisa dilakukan pada malam hari, usai anak-anak membantu orang tua di ladang atau aktivitas menenun bagi anak perempuan. Padahal, malam hari di Baduy gelap gulita karena tidak ada listrik. Hanya cahaya remang-remang dari lilin dan lampu templok yang menemani mereka belajar.
Selain minim penerangan, waktu yang terbatas juga menjadi kendala wanita pencinta alam ini dalam mengajar. Sebagai reporter di kantor berita Reuters (Thomson Reuters), ia tidak mungkin tinggal di kampung Baduy terus-menerus. Ia hanya bisa datang berkunjung tiap 2-3 bulan sekali, dan hanya 3-4 hari saja tiap kunjungannya. “Dengan waktu pertemuan yang singkat, saya menyiasati cara belajar dengan memberikan PR (pekerjaan rumah) untuk anak-anak. Jadi, ketika saya tidak ada, mereka tetap bisa belajar. Saya juga memberikan mereka buku-buku, alat tulis, dan poster abjad serta angka,” ungkap Nury.
Pelan-pelan Mul dan teman-temannya mulai bisa mengingat huruf, hingga menuliskan nama mereka masing-masing. Semangat anak-anak Baduy yang tidak putus, serta sambutan riang mereka tiap kali Nury datang, menjadi energi bagi Nury untuk tetap melanjutkan usahanya, meskipun hal tersebut hanya bisa dilakukan diam-diam.
“Ketentuan suku Baduy adalah melarang mereka belajar di sekolah formal. Meski begitu, bukan berarti saya bisa bebas membuka kelas membaca, semua tetap dilakukan secara tertutup,” ungkap Nury, yang kini aktif sebagai pengajar PR (public relations) di Universitas Indonesia (UI).
(Klik halaman di bawah untuk melanjutkan membaca)

Foto: Dachri M.S, Dok. Pribadi
Lima tahun menjalankan Kelas Baca Baduy secara diam-diam, pada tahun 2012 wanita berambut pendek ini dilarang berkunjung ke Baduy oleh Kang Sarpin. Ia mendapatkan kabar bahwa Kelas Baca Baduy dibubarkan oleh adat. Beruntung, Kang Sarpin mampu bernegosiasi dengan tetua adat sehingga tidak ada sanksi adat yang diberikan. Hanya, untuk sementara waktu, peralatan membaca dan menulis, seperti buku-buku, papan tulis, dan lain-lainnya yang selama ini dibawa Nury ke Baduy, satu per satu harus rela dimusnahkan.
Tahun berikutnya, setelah mendapat lampu hijau dari Kang Sarpin, Nury kembali ke Baduy. Namun, suasananya telah berubah, anak-anak menghindar. Mereka takut ada yang melaporkan pada pemangku adat. Nury tak patah semangat, ia kembali mendekatkan diri pada anak-anak suku Baduy. Kini, anak-anak Kelas Baca Baduy sudah mencapai 60 orang, dari usia 9 hingga 15 tahun. Bahkan, tahun 2015, anak-anak yang sudah bisa membaca mengikuti kelas paket PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat) di Leuwidamar, Lebak, Banten.
“Anak-anak ini mendobrak paradigma bahwa tidak sekolah bukan berarti tidak bisa membaca dan menulis. Dampaknya, anak-anak seperti Mul, Marno, Narman, Narsan, Jahadi, Asman, Kartini, dan semua yang mengikuti Kelas Baca Baduy makin mengerti bagaimana menghargai tanah, budaya, dan adatnya. Begitu juga dengan cara berdagang, anak-anak mengerti transaksi yang seharusnya dilakukan,” tutur Nury, yang kini membuka kelas baca di dua kampung suku Baduy, Balimbing dan Marengo.
Tidak hanya mengajarkan anak-anak suku Baduy Luar agar melek aksara, sedikit demi sedikit Nury juga mengajak mereka menjaga lingkungan sekitar. Salah satunya dengan program sampah. “Mereka diajarkan untuk tidak membuang sampah sembarangan, sekaligus untuk berani menjadi ‘polisi’ sampah bagi pengunjung. Karena, yang saya sayangkan, tidak sedikit pengunjung yang datang ke Baduy meninggalkan jejak sampah mereka,” katanya.
Bagi Nury, Baduy adalah miniatur peradaban manusia yang sarat dengan nilai filosofi. Mulai dari pakaian dan kain tenun yang semuanya memiliki makna dan peruntukannya, hingga kehidupan mereka yang sederhana, gotong-royong, senang berbagi, dan hormat pada alam. Semua itu membuat wanita yang menikah dengan Aam Wijaya ini selalu ingin kembali ke Baduy dan memberikan kontribusinya bagi anak-anak suku Baduy.
Dari pengalamannya mendirikan Kelas Baca Baduy dan perjalanannya ke beberapa daerah pelosok di Indonesia, Nury melihat banyak keterbatasan untuk anak-anak bisa belajar. Perhatian besar pada dunia pendidikan ini pulalah yang akhirnya membuat wanita yang juga aktif sebagai fotografer ini berinisiatif untuk mendirikan Blackhouse Library. Komunitas yang menjadi wadah untuk mengumpulkan alat tulis, buku tulis, dan buku bacaan untuk disebarkan kepada anak-anak di pelosok negeri yang membutuhkan.
“Blackhouse Library membuka drop box untuk bantuan buku anak-anak. Buku-buku tersebut bisa diantar ke kami, untuk kami salurkan ke berbagai daerah. Biasanya saya akan menyeleksi sesuai kebutuhan mereka,” kata Nury. Selain buku bacaan, Blackhouse Library juga bergerak untuk membantu kebutuhan belajar anak-anak yang kurang beruntung, seperti bantuan dana pendidikan, seragam, dan buku tulis.
Kecintaan Nury pada dunia pendidikan sepertinya tak lepas dari didikan keluarga besarnya yang memiliki pondok pesantren di daerah Serang, Banten. Meski tidak terlibat langsung di pesantren keluarga, Nury justru menyebarkan virus membaca dan menulis kepada anak-anak di daerah-daerah terpencil.
“Tidak seperti anak-anak di Baduy yang memang dilarang oleh adat untuk bersekolah, anak-anak di suku-suku terpencil tidak dapat sekolah karena kendala fasilitas. Inilah yang berusaha kami bantu dengan memberikan buku tulis, alat tulis, dan buku bacaan,” tutup wanita penggemar kain tradisional ini. (f)
Baca Juga: