
FOTO: DACHRI MEGANTARA S
NURHAYATI SRI HARDINI, begitu nama yang tercetak pada surat kelahirannya. Namun, orang banyak mengenalnya dengan nama pena NH Dini. Karya wanita kelahiran Semarang, 29 Februari 1936, ini ikut menapasi generasi sastrawan era tahun 1950-1970-an di tanah air.
Lewat tulisannya, ia mengangkat sosok wanita yang tidak takut menunjukkan kerapuhannya, tapi yang justru bertumbuh menjadi karakterkarakter yang kuat dan berdaya.
BUKAN FEMINIS
“Monggo, silakan masuk. Dipakai saja sepatunya,” ungkap NH Dini, saat menyambut kedatangan femina, di rumah kuno apik bercat putih di tepi Danau Lembang, kawasan Menteng, Jakarta.
Rasanya seperti mimpi punya kesempatan mengobrol dengan salah satu pelopor kesusastraan Indonesia ini. Terlebih saat mengetahui bahwa ia adalah satu-satunya wanita yang namanya bersanding dengan para penulis besar lain sezaman, seperti Pramoedya Ananta Toer dan Mochtar Lubis.
Di salah satu dinding, sebuah lukisan bunga teratai putih yang mekar di tengah kuncup-kuncup dan telaga berwarna keunguan. “Ini saya lukis waktu sedang di Bali. Teknik pewarnaannya lumayan sulit, dengan cat air dan media kertas khusus yang diimpor dari Cina,” ungkap Dini, tentang lukisan, yang rupanya sudah laku di angka puluhan juta rupiah itu.
“Harganya sudah deal, tinggal diambil saja,” lanjut Dini, yang Mei 2013 lalu menggelar pameran lukis bertajuk Rekreasi Visual N. H. Dini, di Oudetrap Gallery, Semarang.
Di usia senjanya, Dini tetaplah pribadi yang ulet dan tak mau diam. Melukis adalah kegiatan luangnya, selain hobi berkebun yang ditekuninya di Wisma Lansia Langen Werdhasis, di Ungaran, Jawa Tengah.
"Melukis itu bagi saya adalah sebuah relaksasi di tengah waktu antara menulis. Sekarang ini saya sudah tua, hanya kuat maksimal dua jam di depan komputer. Kalau tidak, bisa kena vertigo,” ujar penerima penghargaan SEA Writers (2003) bagi penulis Asia dari Ratu Sirikit, di Thailand, ini.
Jadi, salah apabila kita menyangka ia telah meninggalkan dunia menulis. Bahkan, salah satu karya terbarunya, Dari Rue Saint Simon ke Jalan Lembang, terbit di Februari 2012. Novel yang merupakan kelanjutan dari Argenteuil (2008) ini terinspirasi oleh kehidupannya usai perceraian dengan sang suami, Yves Coffin, seorang diplomat Prancis, di tahun 1984.
Semua karya Dini memiliki penokohan yang kuat, dengan tokoh utama wanita yang memperjuangkan harkatnya sebagai pribadi bebas di tengah berbagai kungkungan tradisi atau situasi. Hal ini yang kerap membuatnya dijuluki sebagai seorang feminis.
“Saya bukan feminis. Saya hanya mencari keadilan. Begitu saja, sangat sederhana. Saya ingin wanita dilihat sebagai manusia yang berdaya, punya kemampuan yang setara dengan pria,” ungkap Dini yang pernah bercita-cita menjadi masinis ini.
Banyak orang penasaran, seberapa banyak kisah pribadi si penulis ikut tertuang dalam karya-karya fiksinya. Apalagi jika itu berbau skandal!
Pada Sebuah Kapal dan La Barka adalah dua karya NH Dini yang sempat merebakkan rasa penasaran di benak para penggemar setianya. Letupan penasaran pernah terlontar dalam sebuah acara seminar tentang sastra di Universitas Sumatra Utara, belum lama ini.
Seorang dosen berdiri, dan dengan suara lantang bertanya,”Sudah 20 tahun pertanyaan ini saya simpan, ada berapa persen Ibu Dini dalam tokoh Sri di novel Pada Sebuah Kapal?” Spontan, Dini menjawab, ”Cuma 3 persen!”.
Menurut Dini, banyak orang curiga bahwa tokoh Sri, istri konsulat Prancis yang berselingkuh dengan kapten kapal itu, adalah dirinya sendiri. Selain kesamaan nama dan jenis profesi dari suaminya, hanya sedikit saja bagian yang benarbenar dirinya. “Anda terkecoh! Jadi, saya ini memang ‘penipu’ besar,” cetus wanita yang fasih berbicara dalam tiga bahasa –Inggris, Jerman, dan Prancis– ini, tertawa puas.
Menurut Dini, menulis itu tak ubahnya orang yang sedang meracik bumbu dan bahan, serta memasukkannya ke dalam kuali untuk sebuah kesatuan rasa yang nikmat. ‘Racikan bumbu’ itu dicatatnya dari pengalaman lima ‘Sri’ yang kemudian dirangkainya menjadi ide jalinan cerita.
Kenyataannya, jalan hidup Dini tak kalah seru dari kisah-kisah novel yang ditulisnya. Sejak bercerai dari suaminya Dini harus menjalani kehidupan terpisah dari kedua anaknya, Marie Claire Lintang (52) dan Pierre Louis Padang (46), sutradara film animasi Despicable Me.
Perpisahan ini merupakan sebuah keputusan hasil pembicaraan yang lama dan mendalam antara Dini dengan anak-anaknya. Lintang yang waktu itu sudah menikah, tinggal bersama suaminya. Sedangkan Padang, terpaksa memilih tetap di Prancis bersama ayahnya untuk menyelesaikan pendidikan. “Saya katakan kepada Padang, jika ia ikut saya, maka saya tidak bisa membiayai,” ungkap Dini, perih.
Meski terpisah jarak dan waktu, tidak berarti ikatan ibu dan anak di antara mereka terputus begitu saja. Sebenarnya, tiap dua tahun ia ke Paris, Prancis, untuk bertemu dengan anak-anaknya. Bahkan, saat pemutaran perdana film Despicable Me (2), pada 20 Juni 2013 di Paris, Padang menggandeng Dini, dan memperkenalkannya kepada kolega perfilman.
“Banyak yang kaget, karena selama ini Padang tidak pernah cerita punya darah Indonesia,” ucap Dini, yang telah dua tahun ini mendapat dukungan finansial dari Padang.
Kecintaan Dini kepada anak-anaknya juga diwujudkan dengan cara yang cukup menyentuh. Sampai hari ini, sebagai orang Jawa, Dini masih setia berpuasa dan tidak tidur semalaman untuk berzikir di hari pasaran Jawa kelahiran (weton) Lintang dan Padang.
“Ini yang membuat saya tetap kuat dan percaya bahwa ikatan batin di antara kami tetap terjaga, meski terpisah benua,” ungkap Dini, berharap setiap untaian doanya menjadi energi pendorong bagi kesuksesan kedua anaknya.
KELUARGA FEMINA
“Sutan Takdir Alisjahbana (STA) sudah seperti bapak saya sendiri. Saya suka disangoni (diberi uang saku-Red) oleh STA,” kenang Dini, tentang kedekatannya dengan sastrawan Pujangga Baru tanah air itu. Kesempatan untuk bertemu dan bercengkerama dengan para sastrawan besar, seperti STA, Mochtar Lubis, dan HB Yasin ini datang ketika ia ‘pulang kampung’ ke tanah air.
Maklum, saat itu, sebagai istri seorang diplomat Prancis, ia sering hidup berpindah negara mengikuti suaminya. Hal ini tidak membuat Dini melupakan tanah kelahirannya. “Ini adalah masalah akar. Orang yang mendapat didikan kuat, menunjang sampai ke darah daging. Pijakan tanah saya adalah Jawa,” ujar Dini, tentang kerinduannya untuk terus berkarya bagi dunia sastra Indonesia.
Tiap pulang ke tanah air, wanita yang sering menjadi dosen kehormatan di berbagai universitas terkenal, seperti Curtin, UNSW, dan Monash di Australia ini, selalu menyempatkan waktu untuk menulis di berbagai media di Indonesia. Salah satunya femina.
Dari STA pula Dini mengenal femina. Salah satu putri STA, Mirta Kartohadiprodjo menjadi salah satu pendiri majalah wanita pertama yang terbit perdana pada 18 September 1972 itu. Sebagai penulis fiksi pertama di majalah femina, ia rajin menyumbang artikel, cerita pendek, dan cerita bersambung. Di antaranya, Wanita Siam (1972) dan cerita bersambung Pangeran Dari Seberang, tentang kehidupan sastrawan Amir Hamzah.
“Saya melihat femina sebagai media pelopor yang mengusung kepentingan wanita. Dan saya tahu kualitas orang-orang yang menjalankannya. Makanya, dengan senang hati saya bersedia berkontribusi di situ,” ungkap Dini, yang saat itu telah tenar sebagai penulis novel.
Kedekatannya dengan femina membawa banyak kenangan indah bagi Dini. Seperti di tahun 1976, ketika femina menyambut kepulangannya dengan jamuan makan malam di restoran Lembur Kuring, Jakarta. Ia merasa seperti berada di tengah keluarga sendiri.
“Baru pertama kali itu saya makan di restoran indah yang ada tamannya,” akunya, tertawa. Di saat yang sama, ia juga senang karena untuk pertama kalinya diwawancarai oleh Widarti Gunawan, wartawati sekaligus salah satu pendiri femina.
Namun, yang tak kalah berkesan adalah saat artikel tulisan Dini tentang pengalamannya sebagai pramugari maskapai Garuda Indonesia terbit di femina (1985). “Dengan dimuatnya tulisan ini, saya bisa mendapat tiket Garuda pulang-pergi Jakarta – Prancis, untuk menghadiri pernikahan Lintang waktu itu,” kenang Dini, tersenyum senang. (f)
Artikel ini telah dipublikasikan pada Femina 37/ 2013.
Lewat tulisannya, ia mengangkat sosok wanita yang tidak takut menunjukkan kerapuhannya, tapi yang justru bertumbuh menjadi karakterkarakter yang kuat dan berdaya.
BUKAN FEMINIS
“Monggo, silakan masuk. Dipakai saja sepatunya,” ungkap NH Dini, saat menyambut kedatangan femina, di rumah kuno apik bercat putih di tepi Danau Lembang, kawasan Menteng, Jakarta.
Rasanya seperti mimpi punya kesempatan mengobrol dengan salah satu pelopor kesusastraan Indonesia ini. Terlebih saat mengetahui bahwa ia adalah satu-satunya wanita yang namanya bersanding dengan para penulis besar lain sezaman, seperti Pramoedya Ananta Toer dan Mochtar Lubis.
Di salah satu dinding, sebuah lukisan bunga teratai putih yang mekar di tengah kuncup-kuncup dan telaga berwarna keunguan. “Ini saya lukis waktu sedang di Bali. Teknik pewarnaannya lumayan sulit, dengan cat air dan media kertas khusus yang diimpor dari Cina,” ungkap Dini, tentang lukisan, yang rupanya sudah laku di angka puluhan juta rupiah itu.
“Harganya sudah deal, tinggal diambil saja,” lanjut Dini, yang Mei 2013 lalu menggelar pameran lukis bertajuk Rekreasi Visual N. H. Dini, di Oudetrap Gallery, Semarang.
Di usia senjanya, Dini tetaplah pribadi yang ulet dan tak mau diam. Melukis adalah kegiatan luangnya, selain hobi berkebun yang ditekuninya di Wisma Lansia Langen Werdhasis, di Ungaran, Jawa Tengah.
"Melukis itu bagi saya adalah sebuah relaksasi di tengah waktu antara menulis. Sekarang ini saya sudah tua, hanya kuat maksimal dua jam di depan komputer. Kalau tidak, bisa kena vertigo,” ujar penerima penghargaan SEA Writers (2003) bagi penulis Asia dari Ratu Sirikit, di Thailand, ini.
Jadi, salah apabila kita menyangka ia telah meninggalkan dunia menulis. Bahkan, salah satu karya terbarunya, Dari Rue Saint Simon ke Jalan Lembang, terbit di Februari 2012. Novel yang merupakan kelanjutan dari Argenteuil (2008) ini terinspirasi oleh kehidupannya usai perceraian dengan sang suami, Yves Coffin, seorang diplomat Prancis, di tahun 1984.
Semua karya Dini memiliki penokohan yang kuat, dengan tokoh utama wanita yang memperjuangkan harkatnya sebagai pribadi bebas di tengah berbagai kungkungan tradisi atau situasi. Hal ini yang kerap membuatnya dijuluki sebagai seorang feminis.
“Saya bukan feminis. Saya hanya mencari keadilan. Begitu saja, sangat sederhana. Saya ingin wanita dilihat sebagai manusia yang berdaya, punya kemampuan yang setara dengan pria,” ungkap Dini yang pernah bercita-cita menjadi masinis ini.
Banyak orang penasaran, seberapa banyak kisah pribadi si penulis ikut tertuang dalam karya-karya fiksinya. Apalagi jika itu berbau skandal!
Pada Sebuah Kapal dan La Barka adalah dua karya NH Dini yang sempat merebakkan rasa penasaran di benak para penggemar setianya. Letupan penasaran pernah terlontar dalam sebuah acara seminar tentang sastra di Universitas Sumatra Utara, belum lama ini.
Seorang dosen berdiri, dan dengan suara lantang bertanya,”Sudah 20 tahun pertanyaan ini saya simpan, ada berapa persen Ibu Dini dalam tokoh Sri di novel Pada Sebuah Kapal?” Spontan, Dini menjawab, ”Cuma 3 persen!”.
Menurut Dini, banyak orang curiga bahwa tokoh Sri, istri konsulat Prancis yang berselingkuh dengan kapten kapal itu, adalah dirinya sendiri. Selain kesamaan nama dan jenis profesi dari suaminya, hanya sedikit saja bagian yang benarbenar dirinya. “Anda terkecoh! Jadi, saya ini memang ‘penipu’ besar,” cetus wanita yang fasih berbicara dalam tiga bahasa –Inggris, Jerman, dan Prancis– ini, tertawa puas.
Menurut Dini, menulis itu tak ubahnya orang yang sedang meracik bumbu dan bahan, serta memasukkannya ke dalam kuali untuk sebuah kesatuan rasa yang nikmat. ‘Racikan bumbu’ itu dicatatnya dari pengalaman lima ‘Sri’ yang kemudian dirangkainya menjadi ide jalinan cerita.
Kenyataannya, jalan hidup Dini tak kalah seru dari kisah-kisah novel yang ditulisnya. Sejak bercerai dari suaminya Dini harus menjalani kehidupan terpisah dari kedua anaknya, Marie Claire Lintang (52) dan Pierre Louis Padang (46), sutradara film animasi Despicable Me.
Perpisahan ini merupakan sebuah keputusan hasil pembicaraan yang lama dan mendalam antara Dini dengan anak-anaknya. Lintang yang waktu itu sudah menikah, tinggal bersama suaminya. Sedangkan Padang, terpaksa memilih tetap di Prancis bersama ayahnya untuk menyelesaikan pendidikan. “Saya katakan kepada Padang, jika ia ikut saya, maka saya tidak bisa membiayai,” ungkap Dini, perih.
Meski terpisah jarak dan waktu, tidak berarti ikatan ibu dan anak di antara mereka terputus begitu saja. Sebenarnya, tiap dua tahun ia ke Paris, Prancis, untuk bertemu dengan anak-anaknya. Bahkan, saat pemutaran perdana film Despicable Me (2), pada 20 Juni 2013 di Paris, Padang menggandeng Dini, dan memperkenalkannya kepada kolega perfilman.
“Banyak yang kaget, karena selama ini Padang tidak pernah cerita punya darah Indonesia,” ucap Dini, yang telah dua tahun ini mendapat dukungan finansial dari Padang.
Kecintaan Dini kepada anak-anaknya juga diwujudkan dengan cara yang cukup menyentuh. Sampai hari ini, sebagai orang Jawa, Dini masih setia berpuasa dan tidak tidur semalaman untuk berzikir di hari pasaran Jawa kelahiran (weton) Lintang dan Padang.
“Ini yang membuat saya tetap kuat dan percaya bahwa ikatan batin di antara kami tetap terjaga, meski terpisah benua,” ungkap Dini, berharap setiap untaian doanya menjadi energi pendorong bagi kesuksesan kedua anaknya.

KELUARGA FEMINA
“Sutan Takdir Alisjahbana (STA) sudah seperti bapak saya sendiri. Saya suka disangoni (diberi uang saku-Red) oleh STA,” kenang Dini, tentang kedekatannya dengan sastrawan Pujangga Baru tanah air itu. Kesempatan untuk bertemu dan bercengkerama dengan para sastrawan besar, seperti STA, Mochtar Lubis, dan HB Yasin ini datang ketika ia ‘pulang kampung’ ke tanah air.
Maklum, saat itu, sebagai istri seorang diplomat Prancis, ia sering hidup berpindah negara mengikuti suaminya. Hal ini tidak membuat Dini melupakan tanah kelahirannya. “Ini adalah masalah akar. Orang yang mendapat didikan kuat, menunjang sampai ke darah daging. Pijakan tanah saya adalah Jawa,” ujar Dini, tentang kerinduannya untuk terus berkarya bagi dunia sastra Indonesia.
Tiap pulang ke tanah air, wanita yang sering menjadi dosen kehormatan di berbagai universitas terkenal, seperti Curtin, UNSW, dan Monash di Australia ini, selalu menyempatkan waktu untuk menulis di berbagai media di Indonesia. Salah satunya femina.
Dari STA pula Dini mengenal femina. Salah satu putri STA, Mirta Kartohadiprodjo menjadi salah satu pendiri majalah wanita pertama yang terbit perdana pada 18 September 1972 itu. Sebagai penulis fiksi pertama di majalah femina, ia rajin menyumbang artikel, cerita pendek, dan cerita bersambung. Di antaranya, Wanita Siam (1972) dan cerita bersambung Pangeran Dari Seberang, tentang kehidupan sastrawan Amir Hamzah.
“Saya melihat femina sebagai media pelopor yang mengusung kepentingan wanita. Dan saya tahu kualitas orang-orang yang menjalankannya. Makanya, dengan senang hati saya bersedia berkontribusi di situ,” ungkap Dini, yang saat itu telah tenar sebagai penulis novel.
Kedekatannya dengan femina membawa banyak kenangan indah bagi Dini. Seperti di tahun 1976, ketika femina menyambut kepulangannya dengan jamuan makan malam di restoran Lembur Kuring, Jakarta. Ia merasa seperti berada di tengah keluarga sendiri.
“Baru pertama kali itu saya makan di restoran indah yang ada tamannya,” akunya, tertawa. Di saat yang sama, ia juga senang karena untuk pertama kalinya diwawancarai oleh Widarti Gunawan, wartawati sekaligus salah satu pendiri femina.
Namun, yang tak kalah berkesan adalah saat artikel tulisan Dini tentang pengalamannya sebagai pramugari maskapai Garuda Indonesia terbit di femina (1985). “Dengan dimuatnya tulisan ini, saya bisa mendapat tiket Garuda pulang-pergi Jakarta – Prancis, untuk menghadiri pernikahan Lintang waktu itu,” kenang Dini, tersenyum senang. (f)
Artikel ini telah dipublikasikan pada Femina 37/ 2013.