Foto: Dok. Femina
Eksklusif Bersama Novel Baswedan yang ditayangkan pada 26 Juli 2017 menjadi episode live terakhir program yang telah tayang sebanyak 511 episode tersebut, sejak pertama kali disiarkan pada 25 November 2009 dengan episode Dunia dalam Kotak Ajaib.
Berikut pesan yang ia unggah ke akun Instagram resminya @najwashihab.
Berikut pesan yang ia unggah ke akun Instagram resminya @najwashihab.

femina sempat mewawancarai Najwa untuk edisi khusus ulang tahun ke-42. Berikut sekilas sosok Najwa yang banyak dinantikan oleh penonton setiap pekan.
Tatapan dan pertanyaannya tajam. Namun, siapa sangka wanita cantik yang bisa membuat narasumbernya gelagapan ini adalah seorang yang mudah terharu?
Menangisnya Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini,atau bagaimana kerepotannya seorang caleg dari dalam pileg lalu menjawab berondongan pertanyaannya membuat penonton Mata Najwa terenyak. Lewat acaranya itu, Najwa Shihab (37) berusaha membuka mata dan hati masyarakat akan banyak realitas yang selama ini tidak kasatmata.
Saya Pembaca Berita Cilik
Masa kecil saya sungguh menyenangkan. Saya lahir di Makassar, anak kedua dari lima bersaudara. Waktu usia 3 tahun, saya, Ibu, dan kakak, Najelaa, ikut menemani Abi (ayah Najwa, Quraish Shihab) sekolahS-3 di Cairo University, Mesir. Karena Abi termasuk yang dituakan, rumah kami di Kairo selalu dipenuhi mahasiswa teman Abi untuk berkumpul dan diskusi. Kami suka ikut-ikutan duduk dekat mereka, meski enggak mengerti apa yang mereka bicarakan.
Kalau teman-teman Abi datang, kami sering ‘dikerjai’ Mama, Fatmawaty Assegaf, dengan meminta saya dan Kak Ela berakting jadi pembaca berita. Kata Abi, teman-teman Abi suka sekali menyaksikan kami membaca berita dengan bahasa Arab yang amat lancar. Sayang, kini saya sudah kurang fasih berbahasa Arab, paling hanya mengerti sedikit-sedikit. Padahal, dulu waktu kembali ke Indonesia, saya sempat sulit bicara dalam bahasa Indonesia, lho.
Kembali ke Indonesia, kami tidak lantas jadi kuper karena tidak bisa berbahasa Indonesia, karena Mama selalu rajin mendorong kami tampil berani dengan ikut berbagai macam lomba, meski bahasa Indonesia kami masih patah-patah. Baik di sekolah atau di lingkungan RT RW, di Masjid Istiqlal, Taman Mini, dan alhamdulillah kami sering menang juga. Yang masih saya heran, ternyata sejak kecil saya sudah sering jadi pembaca berita ya, meski bohong-bohongan.
Selanjutnya: Saya Dekat dengan Keluarga
Saya Dekat dengan Keluarga
Tiap orang dalam keluarga saya berpengaruh besar dalam hidup saya. Dari Abi, saya belajar ketekunan. Abi memang sangat tekun, rendah hati, dan low profile. Sementara Mama, yang lebih outspoken dan adventurer, telah mendorong saya lebih aktif dan lebih berani.
Hubungan saya dan kakak sangat dekat. Dari kecil hingga ia menikah di usia 19 tahun, kami selalu sekamar. Saya betul-betul merasa kedekatan itu ketika ikut pertukaran pelajar AFS di Amerika. Bayangkan, setahun tinggal di negeri orang, tinggal bersama orang asing, dan enggak kenal siapa pun! Rasanya home sick dan kangen Kak Ela.
Yang juga punya pengaruh besar dalam hidup saya tentunya suami, Ibrahim Syarief Assegaf. I think I grew up with him. Dia adalah pacar serius saya pertama. Kami menikah di usia muda, saya 20 dan dia 26.Tahun ini berarti sudah 17 tahun usia pernikahan kami. We grow and change together. Banyak memang penyesuaian yang harus kami lakukan. But, we’re looking forward to do it more.
Saya Mudah Terharu
Saya selalu berusaha all out melakukan sesuatu. Jika sampai ada penyesalan, saya yakin sudah melakukan semaksimal mungkin. Saya memang orang yang persistence, ngotot, he…he…he… mungkin ini bawaan wartawan. I will take no for an answer. Narasumber akan berusaha saya kejar jawabannya hingga memuaskan.
Hanya Bapak Wakil Presiden Boediono yang sempat membuat saya berkeringat dingin di 15 menit pertama karena jawaban-jawabannya yang singkat. “Aduh, bisa gawat ini kalau pertanyaan saya lebih panjang dari jawabannya,” begitu pikir saya waktu itu. Mungkin yang menjadi penyesalan saya adalah saya belum sempat mewawancarai almarhum mantan presiden, Bapak Soeharto.
Kelihatannya tough, ya? Padahal, saya orang yang mudah menangis.Banyak hal yang bisa membuat saya terharu. Nonton film kartun saja bisa nangis. Apalagi kalau topiknya tentang anak, pasti saya tersentuh. Mungkin karena ingat Izaat (putra Najwa-Red), ya. Belum lagi kalau mendengar isu-isu tentang orang-orang yang haknya terlanggar, orang kecil yang sulit mengakses hukum, hingga orang yang salah tangkap. Hal itu mungkin karena ‘darah’ hukum saya juga kental. Setelah kuliah di Fakultas Hukum Universitas Indonesia, saya juga menerima beasiswa S-2 di University of Melbourne, Faculty of Law.
Saya ingat ketika bertugas meliput bencana tsunami di Aceh. Dengan menumpang pesawat milik Jusuf Kalla (waktu itu wakil presiden- Red), sehari setelah bencana, saya menginjakkan kaki di Banda Aceh. Meski sempat shock melihat skala bencana yang begitu besar, selama 6 hari saya bekerja sudah seperti robot. Sibuk banget. Dari mencari narasumber, membantu para korban maupun relawan di dapur umum, hingga mencari tumpangan kendaraan. Bahkan saya sempat ikut truk PMI yang membawa tumpukan jenazah. Saat itu saya enggak berpikir apa-apa, yang penting kerja dan kerja.
Namun, ketika harus melaporkannya di depan kamera, barulah emosi saya pecah. Mungkin, karena baru itulah kesempatan membicarakannya di depan publik. Yang terbayang di kepala saya adalah pemandangan yang menyedihkan, seperti tumpukan ratusan jenazah, anak kecil yangmencari orang tuanya, hingga seorang ibu yang hanya bisa duduk diam dan menatap kerusakan dahsyat di depannya. Semua drama kemanusiaan yang terbuka di depan mata.
Selanjutnya: Saya Bangga pada Indonesia
Saya Bangga pada Indonesia
Sebagai wartawan, saya beruntung bisa terlibat langsung dalam pemilu 2004, 2019, dan 2014. Apalagi saya di desk hukum dan politik. Apa yang terjadi pada pemilu lalu, membuat saya bangga dan bahagia, karena jauh berbeda dengan 2 pemilu sebelumnya. Semua orang begitu antusias ingin terlibat.
Saya kini berharap appetite orang tidak akan berkurang terhadap politik. Karena masyarakat yang concern terhadap politik adalah sehat. Mereka tidak melihat politik dari sekadar permainan elite, tapi juga bagaimana terjadinya proses pengambilan kebijakan publik.
Setelah reformasi 1998, saya merasa masyarakat kita benar-benar tune in, peduli, mau tahu, dan mau terlibat. Dan itu mengasyikkan. Bahkan, Mata Najwa yang sudah beberapa kali kami gelar di kampus-kampus di Indonesia, selalu dipenuhi pengunjung. Sungguh menggetarkan melihat betapa banyak orang yang antusias datang untuk menonton dan mendengarkan talk show, yang ngomongin politik pula!
Meski menarik, rasanya saya belum siap terjun langsung ke dunia politik dan jadi bagian dari pemerintah. Menurut saya, apa yang hingga kini saya lakukan di media, manfaatnya akan jauh lebih banyak, karena kekuatan media itu luar biasa. Jadi, kalau bicara politik sebagai instrumen yang bisa memengaruhi kebijakan publik dan persepsi masyarakat, sesungguhnya kekuatan untuk melakukan perubahan itu sudah dilakukan oleh media.
Flattering memang jika ada yang menganggap saya cocok membantu presiden, menjadi menteri misalnya. Tapi, sepertinya akan lebih bermanfaat jika saya di media. Bahkan, jika diminta pun saya sepertinya tetap akan memilih jadi wartawan. Karena, ketika saya diwawancara Deddy Corbuzier di Hitam Putih, sempat deg-degan juga saat ditanya masalah pribadi.
Selanjutnya: Najwa 5 Tahun Lagi
Najwa 5 Tahun Lagi
Sebenarnya saya ingin sekali punya anak lagi. Tapi, kehamilan terakhir masih membuat saya takut. Air ketuban saya yang sedikit mengharuskan saya bedrest 3 bulan di rumah sakit. Sampai saya dibilang bu RT rumah sakit itu karena saya di situ terus, he…he…he…. It was very difficult pregnancy.
Yang pasti, saya ingin membawa Mata Najwa lebih dekat ke pemirsa. Entah itu konsep, isi, kualitas narasumber, dan lain-lain. Kemudian, saya ingin sekali mendirikan sekolah atau lembaga yang memberikan training untuk teman-teman jurnalis, khususnya jurnalis televisi. Ini ada alasannya: industri TV itu makin berkembang.
Apalagi adanya wacana digitalisasi pada tahun 2018, stasiun televisi akan makin banyak. Sekarang saja kabarnya sudah ada 40 stasiun TV yang sedang antre menunggu izin frekuensi. Namun, karena sumber daya manusianya terbatas, dan kebutuhan itu ada, yang terjadi adalah saling bajak antara stasiun.
Mengingat pentingnya media, terutama televisi, tentu dibutuhkan SDM yang profesional, yang mengerti bagaimana melahirkan karya-karya jurnalistik, yang selain digemari, juga dibutuhkan. Terus terang, saya merasa sangat beruntung bisa meniti karier benar-benar dari bawah. Dari reporter magang di RCTI hingga kini bisa jadi wakil pemimpin redaksi di Metro TV, bahkan punya program sendiri. It’s time for me to give back.
Selanjutnya: Wanita Indonesia harus Pede
Wanita Indonesia harus Pede
Menurut saya, wanita Indonesia sayangnya terkadang suka underestimate kemampuan sendiri. Banyak orang mengatakan, wanita jarang diberi kesempatan maju. Padahal, menurut saya, kesempatan itu ada, tapi kita sendiri yang tidak percaya diri untuk merebut kesempatan itu. Sebenarnya itu bukan hanya tipikal wanita Indonesia.
Saya setuju dengan Sheryl Sandberg dalam bukunya Lean In tentang wanita di Amerika Serikat. Misalnya, pria fresh graduate di sana cukup percaya diri untuk nego gaji pekerjaan pertamanya. Sementara yang wanita,merasa sudah bagus dapat pekerjaan, enggak apa-apa, deh, digaji berapa pun akan diambil.
Mungkin wanita tidak cukup pede bahwa sesungguhnya kita bisa, mampu, dan punya kekuatan.Itulah barrier kita. Padahal, apa yang dimiliki pria yang tidak kita miliki? Malah, sebagai wartawan kita punya banyak advantage. Tingkat empati lebih tinggi, lebih sensitif, lebih mau mendengarkan, lebih bisa merasakan, dan memiliki kemampuan lobi yang lebih baik.
Di Mata Najwa, tim kami selalu berusaha mendapatkan narasumber wanita, meski sulit. Karena memang tempat itu harus diberikan, dan kalau bukan kita, media, yang memberikan, siapa lagi? Biar mereka terlihat dan menjadi inspirasi bagi wanita lainnya.
Selanjutnya: Menebar Pengaruh Baik
Menebar Pengaruh Baik
Berada di media memang jadi privilege buat saya. Bisa muncul selama 1,5 jam seminggu sekali di layar kaca adalah kesempatan besar. Karenanya, saya selalu hati-hati memilih isu dan pesan yang mau diangkat. Acara ini kan ditonton begitu banyak orang, dan kesempatan bisa memengaruhi orang itu menjadi sangat besar.
Tema yang kami pilih selalu menekankan bahwa kebaikan dan optimisme itu menular, jadi kita ingin menunjukkannya, supaya bisa ditularkan. Begitu juga dengan kezaliman. Itu semua bisa dilawan, kok, dengan banyak cara bahkan dengan hal-hal kecil.
Di acara ini kami juga ingin mengawal orang-orang yang kami anggap bisa mengubah sesuatu. Kami memberikan mereka tempat, dan menyoroti mereka saat melakukan sesuatu yang harusnya tidak mereka lakukan, dan banyak lagi. Istilahnya menjadi watchdog.
Kami juga ingin empowering masyarakat bahwa yang mereka lakukan itu penting dan jangan menganggap kecil diri sendiri. Contohnya dalam pemilu. Kami sering sekali mengangkat profil caleg atau orang yang akan menjadi pejabat publik. Kami ingin menunjukkan, meski hanya satu, suara Anda berharga, karenanya berhati-hatilah dalam menentukan pilihan, karena bisa memengaruhi negeri ini. Lihat dulu rekam jejaknya, tahu apa yang dia ingin lakukan, dan harus memastikan apakah dia punya kemampuan untuk melakukannya. Anda bisa lihat sendiri, masih banyak caleg yang tidak tahu apa yang akan dilakukannya nanti, ‘kan?
Saya juga berusaha mengajak orang terlibat, jangan hanya menggerutu. Mari bersikap kritis, siap melakukan sesuatu, dan siap menyampaikan pendapatnya lewat jalur yang ada.
Dulu saya juga aktif posting di media sosial, termasuk di Twitter. Tapi, setelah saya menjadi wakil pemimpin redaksi, saya harus lebih hati-hati dan mengerem postingan saya. Jangan sampai apa yang saya katakan dianggap jadi suara institusi saya.
Pada prinsipnya, orang yang punya follower banyak berarti kesempatannya untuk bicara lebih besar dan bagaimana menggunakan kesempatan untuk bicara itu. Untuk kepentingan komersial boleh-boleh saja, yang penting ia menyadari apa yang dikatakannya akan membawa dampak atau pengaruh terhadap follower-nya. (f)
Argarini Devi