PENGARAH GAYA FIQI BANAFSAJI, ARNI KUSUMADEWI, FEBIANCA PUTRI/
FOTOGRAFER @IFAN HARTANTO) DIGITAL IMAGING @RENOPRIYONO/
RIAS WAJAH & RAMBUT @HELLOMORIN/
BUSANA @LOVEBONITOID) AKSESORI @ALENKAANDMARGO)
 
Lebih dari 17 tahun berkecimpung di dunia jurnalistik, Najwa Shihab (40) berhasil membangun personal brand dirinya sebagai salah satu pembawa acara terbaik. Tanpa takut pada pandangan negatif yang sering kali dilekatkan pada wanita ‘kuat’, ia terus melebarkan sayap lewat ‘bayi’-nya, sebuah platform TV digital.
 
Berani melompat
 
“Saya memang ingin melakukan sesuatu yang baru, belajar hal baru. Kebetulan teman-teman juga ingin melakukan hal yang baru juga. Saya melihat ada kesempatan untuk mendirikan TV digital di era sekarang ini,” ungkap Najwa penuh antusias, ketika ditanya mengapa ia berani membuat lompatan besar dalam kariernya untuk menjadi seorang entrepreneur media.
 
Keputusan yang bisa dibilang berani, karena ia sudah berada di posisi yang diimpikan oleh  banyak jurnalis televisi: berada di institusi yang mapan, memiliki acara ber-rating tinggi yang sering menjadi opinion leader. Namun, ia berani meninggalkan zona nyaman.
 
Tak sedikit orang menduga keputusan itu adalah caranya melepaskan diri dari 'tali' yang menahan langkahnya. Najwa tak menanggapi asumsi yang berkembang, namun memilih bekerja, menggunakan kekuatan platform digital untuk menyebarkan informasi secara cepat, luas, dan tak dibatasi waktu.
 
"Ketika kini semua orang sudah bisa menjadi jurnalis, ada tantangan lebih berat untuk bisa memilih dan memilah konten yang disajikan. Jelas tidak bisa lagi sekadar 5W (who, what, when, where, why) dan 1H (how), tapi harus ada nilai tambahnya,” katanya.
 
Selain fokus pada konten yang bagus, Najwa menekankan pentingnya kolaborasi dan komunitas. “Membagikan konten yang positif saja ternyata tidak cukup. Semua orang harus bisa bergerak, ikut menyebarkan semangat antikorupsi dan toleransi lewat aksi.”
 
Hal ini diwujudkannya dalam komunitas Mata Kita yang sudah menjaring 90.000 lebih anggota. Komunitas ini telah bergerak mengedukasi pemilih pemula agar jadi pemilih cerdas di Yogyakarta. Juga menggaungkan dialog antarumat beragama di Maluku. Selain menggerakkan kekuatan komunitas, ia juga berkolaborasi dengan banyak pihak, seperti Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) di berbagai penjuru dunia. Narasi TV mengajak para mahasiswa Indonesia yang sedang studi di luar negeri untuk menyajikan informasi setempat yang menarik dalam program Mata-Mata. Ia ingin menggerakkan orang muda  untuk saling membanjiri info-info yang positif.
 
“Banyak sekali rencana yang ingin saya wujudkan untuk Narasi TV. Yang pasti, saya berharap bisa memberikan kontribusi dan dampak yang positif untuk Indonesia,” kata ibu dari satu anak remaja pria bernama Izzat Assegaf (17) ini, sambil tersenyum manis.
 
Ia tak bisa menyembunyikan rona bahagia setiap ia menceritakan tentang proyek yang ia sebut sebagai ‘bayi’-nya itu. “Kami mulai hanya bertiga (bersama 2 co-founder) dan tim kami sekarang sudah 100 orang!” kata Najwa. Meski baru akan resmi diluncurkan akhir tahun ini, kanal Narasi TV kini memiliki tiga YouTube channel: Najwa Shihab, Narasi Channel, dan Nara-Z dengan total subscribers 812.083.

Siapa yang menginspirasinya dalam karier? Baca halaman berikut.
 
 

Berkaca Pada Orang Tua

Berhasil membawa Mata Najwa jadi acara yang tiap episodenya dinanti publik serta penghargaan dari Asian Television Award jadi tanda suksesnya dalam karier. Namun di balik itu, ia tak menampik ada pandangan negatif di masyarakat terhadap wanita sukses.
 
“Masyarakat sering memandang negative pada wanita sukses. Wanita yang sukses kerap dipersepsikan ambisius, bitchy, dan menjadi lebih tidak disukai,” katanya. Kencenderungan yang menurutnya membuat banyak wanita menahan diri untuk melesat dalam karier. Untungnya, Najwa mengaku tidak mengalaminya. Karena, kalau pun ada, ia memilih tidak tunduk pada hambatan-hambatan internal yang bisa menghalanginya untuk mewujudkan mimpi.

Dalam hal ini, ia merasa ada peran besar kedua orang tuanya. "Kami, 4 perempuan bersaudara dan 1 pria. Tapi, orang tua tidak pernah memperlakukan saya lebih rendah karena saya seorang perempuan. Tidak juga mendapat perlakuan istimewa,” tuturnya. Najwa ingat sekali bagaimana saat ia masih kecil, sang ibu, Fatmawati Assegaf, terus mendorongnya untuk mengejar sesuatu yang diinginkannya. “Saya selalu didorong untuk punya ambisi, target, dan mengejarnya.”
 
Sementara dari sang ayah, ia meniru ketekunan dan kesukaannya belajar banyak hal baru. Najwa adalah putri kedua cendekiawan muslim Quraish Shihab. "Apa yang terekam dari masa kecil saya, saya lihat Abi itu selalu belajar. Rutinitasnya tiap pagi membaca, dan lalu mengetik. Abi itu penulis yang produktif,” cerita Najwa. Meskipun sarat ilmu, sikap rendah hati ayahnya sangatlah membekas di benak Najwa.
 
“Abi tidak pernah ragu untuk bertanya kepada anak-anaknya, diskusi, atau minta pandangan tentang hukum yang tidak dikuasainya, misalnya,” kata lulusan Fakultas Hukum Universitas Indonesia tahun 2000. Kombinasi kerendahan hati, ketekunan, dan selalu punya ambisi itu kini terserap dalam karakter seorang Najwa Shihab yang dikenal publik saat ini.
 
Najwa bersyukur bisa mendapatkan banyak kesempatan untuk mewujudkan mimpi-mimpinya. Di satu sisi ia ingin mendorong wanita untuk optimal memanfaatkan kesempatan dalam pekerjaan, pendidikan, kesehatan, serta partisipasi politik. (f)
 
Baca Juga:

Raline Shah, Mandiri Lewat Akting