
Foto: Dok. Femina; Instagram
Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak (2017) telah membawa Nursita Mouly Surya (37) melanglang buana ke banyak perhelatan festival film internasional. Film layar lebar ketiganya ini tidak hanya panen apresiasi, tapi juga menuai banyak penghargaan.
SENANG DIKRITIK
Film Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak menjadi penutup tahun 2017, sekaligus pembuka tahun 2018, yang gemilang bagi pencapaian karier Mouly di industri perfilman. Dalam waktu pendek dan berurutan, film yang diolah dari ide cerita sutradara Garin Nugroho itu telah berhasil memenangkan setidaknya enam penghargaan internasional (Baca juga: Filmografi Mouly Surya), dari Korea, Prancis, Jepang, hingga Polandia dan Amerika Serikat.
Melalui film ini Mouly bahkan disebut-sebut sebagai pionir lahirnya genre film Satay-Western oleh kritikus film Maggie Lee dari majalah Variety. Satay-Western mewakili bangunan cerita dan tampilan film yang mengawinkan konsep Timur dan Barat secara apik, tanpa kehilangan jati diri Asia-nya.
Hal ini terwujud dalam kompleksitas karakter tokoh Marlina yang memperjuangkan harkat dirinya sebagai manusia dan perempuan di tengah ketatnya budaya patriarkat di pedalaman Sumba yang menawan. Dengan menunggang kuda, Marlina menenteng kepala pria pemerkosanya ke pos polisi untuk mencari keadilan. Penggalan scene ini diiringi dengan latar musik yang mengingatkan kita pada adegan-adegan film koboi Barat.
Sebagai sosok di balik kamera penggarapan film, Mouly mengaku tidak pernah datang ke bioskop khusus untuk melihat hasil karyanya sendiri. Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak menjadi film pertama yang membuatnya duduk menyaksikannya di layar lebar Festival Film Cannes 2017. Film ini menjadi satu-satunya film feature dari Asia Tenggara yang masuk seleksi di perhelatan tahunan tersebut.
Mengawali tahun 2018, film ini kembali mendapat apresiasi internasional lewat empat nominasi penghargaan di Asian Film Festival ke-12, yang akan berlangsung di Macau, pada Maret 2018. Masing-masing nominasi itu adalah untuk Aktris Utama Terbaik (Marsha Timothy), Desain Produksi Terbaik (Frans Paat), Sinematografi Terbaik (Yunus Pasolang), dan Tata Suara Terbaik (Khikmawan Santosa).
Kepada femina, sineas muda ini bercerita banyak tentang dirinya, saat berada di belakang kamera dan di luar dunia sinema.
Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak berhasil menjadi salah satu fokus para pemerhati film di beberapa festival film internasional. Bagaimana Anda melihat ini?
Mouly: Yang jelas, saya sangat senang film Marlina bisa menjangkau penonton lebih jauh. Masuk seleksi Directors’ Fortnight di Cannes itu amat sangat kompetitif. Namun, tim programmer mereka bisa memilih Marlina menjadi salah satu dari dua puluh film panjang yang mereka seleksi. Jujur, sampai sekarang saya masih tidak percaya. Jelas, pencapaian ini banyak membuka pintu-pintu kesempatan baru yang belum pernah kami rasakan di film-film saya sebelumnya.
Apakah ada tekanan saat karya Anda berhasil memenangkan festival internasional atau apresiasi dari para kritikus internasional?
Mouly: Almarhum ayah saya meninggal beberapa bulan sebelum saya syuting film Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak. Beliau selalu mengatakan bahwa ia merasa lebih senang jika film saya menang penghargaan di dalam negeri daripada di luar negeri.
Kemenangan atau kritik tidak membuat saya merasakan sebuah tekanan. Bagi saya, memenangkan penghargaan tidak lantas membuat film saya menjadi yang terbaik dari film-film lainnya. Sebaliknya, sebuah kekalahan juga tidak kemudian membuat film saya kurang baik.
Bicara soal film, tidak ada yang objektif. Namun, saya sangat senang membaca pendapat para kritikus profesional internasional, entah saat film saya dikatakan jelek atau bagus. Mereka mengulasnya dengan begitu mendalam, bisa membaca filmnya, dan menilai sebuah film sebagai sebuah film karya seni. Ini sesuatu yang sangat jarang, bahkan nyaris tidak saya dapatkan dari kritikus dalam negeri.
Tidak sedikit yang mempertanyakan, mengapa film Marlina mesti tayang perdana di luar negeri dan bukannya di negeri sendiri terlebih dulu?
Mouly: Kalau ada kesempatannya, mengapa tidak? Sebenarnya, ini lebih strategi produser, Rama Adi, dibandingkan sutradara. Saya rasa, Rama melihat indikasi bagaimana film-film saya cukup diminati dan mendapat tempat di berbagai festival film internasional. Mulai dari film pertama saya Fiksi (2008) yang masuk ke Busan International Film Festival 2008, dan film kedua saya, What They Don’t Talk About When They Talk About Love (2013), masuk kompetisi di Sundance Film Festival 2013.
Festival-festival ini juga bukan sekadar mencari prestise. Sebab, penonton di festival itu sangat beragam, mulai dari pelaku industri, kritikus, hingga media. Kalau festivalnya tidak terlalu besar, juga ditonton warga lokal. Ini menjadi kesempatan besar untuk membuka jalur distribusi internasional. (Di bawah agensi penjualan Asian Shadows, film Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak telah terjual di lebih dari 18 wilayah di bioskop Amerika Serikat dan Kanada. Di Amerika Serikat, pendistribusiannya diambil KimStim and Icarus Films, perusahaan distribusi terkenal untuk film arthouse dari
Booklyn, AS. Sementara di Kanada, hak cipta pemutarannya dipegang oleh Northern Banner, yang sebelumnya menangani distribusi film The Happiest Day in the Life of Olli Maki, pemenang penghargaan Un Certain Regard di Festival Film Cannes 2017- Red).
Setelah melihatnya di layar lebar, apa kritik pribadi Anda untuk film Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak?
Mouly: Pastinya ada. Tetapi, sebagai sutradara, saya tidak ingin berbagi soal ini. Bukan karena saya malu atau bagaimana, sebab kekurangan dari film tersebut justru adalah bagian dari keindahannya. Saya
sudah menerima apa adanya. Sebaliknya, kritik pribadi saya akan menjadi sebuah gangguan bagi penonton untuk menikmatinya dengan perspektif mereka sendiri. Saat ini film saya sudah menjadi milik penonton, bukan milik saya lagi.
Selanjutnya: TIDAK ADA OPSI LAIN

Wanita kelahiran Jakarta, 10 September 1980, ini menuntaskan studi sarjananya dengan mengambil bidang Media dan Literatur di Universitas Swinburne, Melbourne, Australia. Ia lebih dahulu menggeluti dunia penulisan daripada film. Wanita pengagum sineas Stanley Kubrick, Michael Haneke, Abbas Kiarostami, dan Hirokazu Kore-eda ini bahkan mengaku bukan orang yang selalu mengejar tayangan film terbaru di bioskop.
Persinggungannya dengan dunia film terjadi saat ia membuat proyek film sebagai bagian dari tugas kuliah. Baru saat menuntaskan gelar master, ia memperdalam passion barunya di bidang film dan pertelevisian dari Universitas Bond, Queensland.
Ia berhasil menemukan chemistry antara dunia menulis dan film, yang sejatinya merupakan bentuk visual dari tulisan. Dua film pertamanya, Fiksi dan What They Don’t Talk About When They Talk About Love, ditulis dan disutradarai sendiri olehnya.
Adakah kelebihan jika kedua peran ini, penulis skrip dan sutradara, diambil sekaligus dalam pembuatan sebuah film?
Mouly: Kelebihannya mungkin adalah sebuah kontrol kreatif yang cukup menyeluruh. Sebagai penulis, saya menuliskan sebuah fondasi untuk nanti saya visualkan. Ketika saya menyutradarai, saya menulis ulang, terkadang juga mengoreksi cerita tadi dengan gambar.
Saya sangat memisahkan kedua peran ini. Ketika menulis, saya tidak membayangkan saya yang akan menyutradarai, dan ketika menyutradarai, saya melupakan bahwa saya sendiri yang menulis. Dengan cara ini, saya bisa selalu menantang ulang ide awal saya. Saya orang yang senang observasi dan membaca. Dari dua kegiatan inilah ide-ide segar mengalir.
Apa yang membuat Anda tertarik terjun ke film?
Mouly: Menurut saya, profesi ini lebih cocok disebut sebuah panggilan daripada sebuah ketertarikan. Saya berkarier di sini dan terus berkarier di sini karena di filmlah saya merasa bisa. Saya bukan ‘jack of all trades’, alias orang yang bagus dalam segala hal. Saya tidak pandai berolahraga, tidak pandai mengatur uang, apalagi hal-hal yang butuh keterampilan tangan. Saya hanya bisa membuat film, tidak ada opsi lain!
Pernah merasa gagal?
Mouly: Pastinya pernah. Ketika menggarap Fiksi. Film ini tidak begitu laku di bioskop Indonesia. Bahkan, menghilang dalam hitungan hari dari peredaran bioskop. Jujur, saya agak shock. Memang bukan film yang mudah dinikmati. Saat itu saya belum mengenal ragam penonton di sini.
Namun, beberapa bulan kemudian film Fiksi menang piala Citra (untuk kategori Film, Sutradara, dan Skenario Terbaik) dan berhasil masuk ke berbagai festival film internasional. Ini mengingatkan saya pada sebuah pepatah: ‘When one door closes, another one opens’.
Genre film apa yang Anda sukai? Mouly: Sebagai pembuat film, saya menonton hampir semua genre film. Saya tidak membeda-bedakan genre. Dua kategori yang saya anut sekarang hanyalah bagus dan jelek. Namun, ketika saya memosisikan diri sebagai penonton awam, saya suka genre film perang dan drama. Saat ini saya sedang terinspirasi oleh film Killing of a Sacred Deer dan 120 Battlements per Minute (BPM).
Selanjutnya: WANITA MULTIDIMENSIONAL

WANITA MULTIDIMENSIONAL
Film tak ubahnya media massa, menjadi bentuk propaganda yang cukup efektif dalam menyampaikan pesan-pesan sosial, membangun opini, sekaligus kesadaran masyarakat terhadap sebuah isu yang sedang berkembang. Termasuk di antaranya isu feminisme, yang dalam dunia film banyak berfokus pada pengarakteran tokoh wanita. Hal ini pula yang coba dibangun oleh Mouly lewat film-film karyanya.
Ketiga film Mouly, Fiksi (2008), What They Don’t Talk About When They Talk About Love (2013), dan Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak (2017) berpusat pada tokoh wanita. Masing-masing dengan pergulatan batin dan fisik di tengah tantangan budaya patriarkat yang kental.
Apa yang menjadi misi Anda saat menempatkan wanita sebagai pusat dalam film-film Anda?
Mouly: Saya ingin mengeksplorasi karakter wanita yang multidimensional, tidak hitam putih, dan terasa nyata. Alisha dalam film Fiksi adalah seorang anti-hero yang berjuang demi mendapatkan cinta.
Sementara itu, karakter Marlina dan Novi di film Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak sejatinya merupakan perayaan bagi feminisme. Marlina adalah pejuang wanita yang tinggal di daerah terpencil, tidak berpendidikan tinggi, tapi memiliki kecerdasan juga semangat bertahan hidup yang kuat.
Kedua film ini sebenarnya agak mirip, karakter wanita kuat yang tidak banyak bicara, cenderung dingin, tapi kita tetap dapat melihat elegansi mereka sebagai wanita. Di film ke-2 saya, What They Don’t Talk About When They Talk About Love, saya ingin menampilkan pergulatan remaja wanita yang ditampilkan tokoh Fitri dan Diana, yang hidup di angan-angan dan mimpi.
Apakah Anda seorang feminis?
Mouly: Pastinya saya seorang feminis. Saya belajar banyak dari wanita-wanita di sekeliling saya. Mereka adalah ibu saya dan kakak-kakak perempuan saya. Ibu saya sangat pendiam dan jarang sekali mengungkapkan isi hatinya. Tapi, ia selalu berani menjadi dirinya sendiri.
Kakak perempuan saya ada tiga. Dari kecil saya melihat mereka berambisi sama tingginya dengan kakak-kakak saya yang laki-laki. Sekarang mereka adalah wanita karier yang sukses. Mereka juga tidak pernah takut mengungkapkan pemikiran dan menjadi diri mereka sendiri.
Bagi saya, feminisme adalah kesetaraan, baik dalam keluarga maupun dalam kehidupan bekerja dan berteman. Dalam perkawinan misalnya, saya melihat perkawinan sebagai sebuah partnership.
Selanjutnya: CINTA DI "RUANG IRISAN"

Foto: Instagram @moulysurya
Tepat pada 22 Januari 2018, saat femina merampungkan artikel ini, sebuah pesan mengiringi foto romantis warna sephia yang diunggah di akun Instagram @moulysurya. Lengkap dengan tulisan berbunyi, “10 years marriage with three films and a daughter. Happy anniversary to my bestfriend, best producer, and best husband!”
Wanita yang juga menjadi dosen mata kuliah perfilman, bidang penyutradaraan dan penulisan skenario, di Bina Nusantara University ini punya gaya relasi yang serius tapi santai dengan sang suami, Rama Adi. Di lokasi syuting, mereka terlihat tak ubahnya rekan bisnis, sekaligus sahabat berbagi yang klop di ruang pribadi dan profesional.
Repotkah bekerja bersama pasangan dalam irisan ruang personal dan profesional, seperti Anda dan suami?
Mouly: Justru sebaliknya, suami saya, Rama Adi, menjadi penyeimbang saya. Bisa dibilang, ia sosok alter-ego yang mewakili sisi lain dari diri saya. Rama itu ‘everything that I am not’. Tidak dalam artian yang buruk. Dia lebih hati-hati dalam mengambil keputusan atau melakukan sesuatu. Berbeda dari saya, yang gemar mencari solusi cepat. Dan, sebagai pebisnis, Rama banyak mengajari saya tentang strategi dan tentang manusia.
Apa yang mendorong Anda ingin terus berkarya di dunia perfilman?
Mouly: Ayah, Rama, dan anak saya Rei (Reisachi 9 tahun) adalah pendorong semangat saya dalam berkarya. Saya dan Rama sama-sama belajar dari film Fiksi, dan sampai sekarang kami
terus berkembang bersama. Saya mengandung Rei ketika baru saja selesai mengerjakan Fiksi. Melihat karier saya berkembang, itu seperti melihat dia tumbuh menjadi seorang gadis.
Tahapan perkembangan Rei juga ditandai oleh proyek-proyek film yang saya buat. Rei selalu mengingatkan saya bahwa masih banyak hal yang harus saya pelajari sebagai manusia, sebagai filmmaker. Pengalaman menjadi ibu amatlah humbling.
Setelah ini, apa rencana atau target Anda pribadi?
Mouly: Mengajarkan anak saya komputer. Sebenarnya ini menjadi target saya selama bulan Januari. Mungkin terdengar sederhana. Namun, belakangan ini saya harus banyak bepergian, mengikuti berbagai festival internasional, dan meninggalkan Rei. Tahun ini saya juga berharap bisa berlibur bersama Rei dan Rama, ke Disneyland.
Di tengah kesibukan, apakah masih punya waktu untuk diri sendiri?
Mouly: Tiap pagi, 6 hari dalam seminggu, selama dua tahun belakangan ini saya rutin melakukan latihan Ashtanga yoga. Saat-saat tersebut menjadi momen saya meluangkan waktu untuk diri sendiri dan really set up my day. Di akhir pekan, saya biasanya jalan-jalan dengan Rama dan Rei ke mal. Kami nongkrong di kedai kopi. Saya dan Rama memesan kopi, sementara Rei memesan cokelat panas. (f)
Baca juga:
Sana Amanat, Mengangkat Derajat Kaum Minoritas Lewat Komik
Miwa Kato, Direktur Regional UN Women Asia Pasifik Terpikat Indonesia
Inayah Wulandari, Ajak Orang Muda Bahagia dan Berdaya
Silvia Halim, Direktur Konstruksi PT MRT Jakarta dan Ribuan Tantangan untuk Membangun MRT Jakarta