
Foto: Dok. UN Women, Dok. Pribadi
Menjadi warga dunia yang berjuang untuk kesetaraan gender adalah pilihan hidup Miwa Panholzer Kato (47). Di tengah udara panas Sumenep usai acara peringatan Hari Perdamaian Internasional di Sumenep, Madura, awal Oktober 2017 lalu, femina berbincang dengan Direktur Regional UN Women Asia Pasifik itu tentang pergulatannya dengan dunia pemberdayaan wanita di UN Women, entitas PBB untuk Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan Perempuan, dan cara ia menikmati hidup yang penuh dengan kesibukan.
Dorong Wanita Sebagai Agen Perdamaian
Pertemuan kami di Pesantren Annuqayyah, Sumenep, Madura, di Hari Perdamaian Internasional lalu dibuka dengan pujian atas karakter wanita Madura yang kuat dan pekerja keras. Memilih Madura sebagai lokasi acara bukanlah tanpa alasan. Ada pesan penting tentang perdamaian yang ingin disampaikan oleh UN Women dan Wahid Foundation.
“Seorang muslim yang baik juga mendukung pemberdayaan wanita merupakan salah satu cara menuju Indonesia yang lebih baik. Anda mendengarnya dari Presiden Joko Widodo yang juga duta #HeForShe, para ulama, dan pemimpin pesantren,” ujar Miwa, optimistis. Ia lalu menyoroti, secara global, ada kecenderungan perubahan negara-negara menuju konservatisme atas nama agama. Namun, jika ditelisik, sering kali itu bukanlah perkara agama, tapi politik yang mengatasnamakan agama.
Miwa yang menyukai buku Politic as a Vocation (Max Weber) itu menunjukkan keprihatinannya. “Saya rasa masyarakat Indonesia harus sadar dan didukung agar tidak kehilangan hal-hal esensial yang membentuk jati dirinya sebagai seorang Indonesia.” Indonesia sudah memiliki banyak sosok wanita pemimpin yang kuat dalam dunia politik dan bisnis. Ini merupakan perkembangan yang baik dalam agenda kesetaraan gender di Indonesia. Namun, Miwa mengingatkan untuk melihat lebih jauh, Indonesia bukan hanya Jakarta yang tampak di permukaan. Di pelosok, masih banyak kaum wanita yang menderita, tidak mendapatkan penghargaan yang layak atas kontribusi mereka untuk negara, tidak dikenal, mendapat posisi kedua, bahkan tidak mendapatkan kesempatan untuk menjadi pengambil keputusan.
“Pendidikan dan akses untuk anak laki-laki dan anak perempuan makin baik, tapi hal itu tidak diterjemahkan menjadi mereka yang berhasil menyelesaikan pendidikannya bisa berkontribusi secara setara,” papar Miwa, yang mendapat gelar sarjana dan master untuk studi Hubungan Internasional dan Diplomasi dari Universitas Sophia, Jepang, dan gelar PhD dalam Ilmu Politik dari University of Vienna, Austria.
Tiap negara punya tantangan berbeda dalam mewujudkan agenda terkait gender, tapi yang terpenting adalah tidak menyerah begitu saja dan butuh aksi positif yang bisa cepat mendorong perubahan untuk mencapai sebuah tujuan. Menurut Miwa, suatu tempat yang sukses mengampanyekan tentang gender tidak harus selalu bicara tentang hak-hak asasi wanita.
Tapi, wanita sudah menjadi bagian dari berbagai isu perkembangan dan pembangunan sosial, seperti bagaimana cara menghadapi kerusakan lingkungan, mengatasi macet di kota-kota besar, isu keadilan sosial, pemberantasan teror dan radikalisme, serta bagaimana masyarakat menghadapi perkembangan media-media baru dan konektivitas media sosial.
“Ini bukan soal jumlah wanita yang hampir separuh dari populasi, tapi wanita cenderung memiliki perspektif sebagai pembawa konsensus dan membawa cara berbeda dalam mencari solusi sebuah masalah. Hal ini sudah terbukti di berbagai belahan dunia, wanita cenderung membuat keputusan-keputusan cerdas, tidak hanya untuk dirinya, tetapi juga bagi komunitas. Jadi, sangat penting dalam sebuah investasi untuk memastikan suara dan perspektif wanita, serta kesetaraan gender didengar sebagai bagian dari perencanaan dan kriteria penilaian pembangunan,” ungkap Miwa.
Selanjutnya: Perjuangan Berat untuk Walk The Talk
Perjuangan Berat untuk ‘Walk The Talk’
Bagi Miwa, tiap langkah perjalanan kariernya sangat berarti hingga akhirnya membawa ia terlibat di upaya pemberdayaan wanita di UN Women. Miwa bergabung di UN Women sebagai Regional Director Asia Pacific pada tahun 2016. Sebelumnya, ia bertugas sebagai Country Director UN Women Mesir. Ia mengakui dirinya bukanlah seorang pakar gender. Sebelum ini, ia telah menangani berbagai isu di PBB, seperti isu keamanan dan hukum serta isu-isu terkait manusia lainnya.
Ia telah bekerja selama 12 tahun di United Nations Office on Drugs and Crime (UNODC), badan PBB untuk pemberantasan kejahatan dan obat-obatan terlarang. Sebelum bergabung di PBB, Miwa bekerja sebagai diplomat untuk layanan asing Jepang, di New York, dalam Misi Tetap Jepang untuk PBB. Keahlian dan jejaringnya yang luas diperoleh dari pengalaman belasan tahun di kantor pusat PBB dan turun menjalankan operasi di lapangan di berbagai negara di Asia Pasifik dan negara-negara Islam yang sedang berada dalam masa transisi dengan sejarah yang kompleks, seperti Afganistan, Pakistan, dan negara-negara di Asia Tengah.
Berbagai hal yang ia temui di lapangan membuatnya sadar bahwa pemberdayaan wanita sangat penting. Ia mencontohkan, saat bertugas di Afganistan untuk UNODC, timnya melatih polisi untuk bisa menangani masalah penyalahgunaan obat-obatan dan bekerja bersama komunitas.
“Dalam tiap langkah, saya menyadari bahwa saya sangat butuh pria! Tapi, tidak ada gunanya bicara pada pria, jika ingin memberi pengaruh pada masyarakat. Wanita memiliki pengaruh lebih besar karena mereka bisa memberi pengaruh pada anak-anak, bahkan pada suaminya. Sementara di lapangan, para petugas terus saja bicara pada pria yang menjadi perwakilan komunitas,” kata Miwa, dengan nada gemas.
“Jadi, dalam lingkup kerja saya, ini bukan sekadar soal memberdayakan wanita, tapi bagaimana agar juga bisa bekerja dengan wanita untuk menuju pemberdayaan sekaligus mencari solusi untuk banyak masalah lainnya,” tegas Miwa.
Selanjutnya: Tantangan Hidup Antara Jakarta, Bangkok dan Wina
Tantangan Hidup Antara Bangkok dan Wina
Pernyataan tegas Miwa bukan sekadar ajakan retorika. Sebagai pekerja sipil di PBB dengan jam terbang tinggi, ia mengakui masih berjuang sebagai wanita pemimpin. Banyak posisi manajemen di PBB ditempati pria, karena mereka bisa membawa pasangan dan anaknya ke tempat yang aman, sedangkan wanita harus berjuang lebih keras untuk mengurus hal itu. Namun, pengalamannya menjelajah banyak negara ternyata justru menjadikan dirinya semacam role model bagi para staf di kantornya.
Semua berawal saat ia ditugaskan ke Afganistan empat tahun lalu. Ia harus meninggalkan hidupnya yang nyaman bersama keluarganya demi bertugas di garda depan. Saat itu, putranya, Ean masih berusia sekitar 6 atau 7 tahun, harus ditinggal bersama suaminya, Patrick di Wina.
“Saya beruntung, suami saya adalah sosok pria yang menganggap pasangannya setara. Ia selalu mengatakan, ‘Kamu juga punya banyak hal yang bisa dikontribusikan kepada komunitas, dan kamu tidak perlu selalu ada di rumah. Kamu bisa terbang kapan pun serta berkontribusi untuk warga dunia,’’ ceritanya.
Menjelajah banyak negara membawa Miwa yang berkebangsaan Jepang mendapat kemewahan untuk menikmati begitu banyak budaya. “Selama bekerja di PBB, saya telah bertugas di 42 negara. Namun, selama ini rasanya tiap kali mendapat tugas luar, saya terlalu sering memprioritaskan Indonesia,” katanya, sambil tertawa lepas.
Dengan lugas ia mengatakan, terlalu banyak hal yang ia sukai dari Indonesia. “Orang Indonesia sangat lucu! Saya menemui sense of humor serta visi kepemimpinan yang luar biasa. Saya mendapat banyak inspirasi dari Indonesia,” kata Miwa yang juga sangat menyukai buku Borobudur karya Peter Cirtek dan sangat doyan Nasi Cobek Putih.
Ia juga memuji sisi lain Indonesia yang ia temukan dalam sosok wayang golek. “Indonesia punya banyak kain yang bagus. Saya menemukan wayang golek putri Majapahit dengan kain batik antik. Kini, wayang itu sudah terpajang dengan manis di rumah saya di Wina,” kata Miwa gembira seraya menunjukkan foto wayang kesayangannya.
Lalu, masihkah ia memiliki waktu luang? “Nah, itu tergantung dari bagaimana Anda mendefinisikan waktu luang, ha… ha… ha…. Kita bicara soal kemampuan multitasking pada wanita. Misalnya, nih, ada meeting di Jakarta dan lalu tiba-tiba batal, saat seperti itulah yang saya manfaatkan. Saya selalu berusaha\melakukan banyak hal dalam satu hari,” kata wanita yang hidupnya antara Bangkok dan Wina ini, tertawa. (f)
Baca juga:
Inayah Wulandari, Ajak Orang Muda Bahagia dan Berdaya
Naila Novaranti, Atlet dan Pelatih Terjun Payung di 47 Negara
Silvia Halim, Direktur Konstruksi PT MRT Jakarta dan Ribuan Tantangan untuk Membangun MRT Jakarta
Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, Siaga 24 Jam untuk Perlindungan WNI