Foto : Adelli Arifin

Nama Tsamara Amany Alatas (21) mencuat ketika ia beradu argumen dengan banyak pihak tentang Panitia Khusus (Pansus) Hak Angket Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Sammy, begitu ia akrab disapa, dengan tegas dan berani mengatakan bahwa ada pihak-pihak yang mencoba melemahkan KPK.

Misinya adalah mengajak generasi muda untuk tidak apatis terhadap politik.

Bagaimana awal ia terjun ke dunia politik dan impian terbesarnya? Lanjutkan membaca:


Diawali Dengan Menulis
 
Sejak remaja, ketertarikan Sammy di bidang politik sudah mulai tumbuh. Isu dan peristiwa-peristiwa politik selalu mencuri perhatiannya. Namun, kala itu ia tidak berpikir untuk terjun ke politik praktis.
 
Tahun 2014, wanita yang menamatkan sekolahnya di New Zealand International School, Jakarta, ini mulai aktif menulis. Pemikirannya tentang politik serta pujian dan kritikan terhadap kedua sosok idolanya, Presiden Joko Widodo dan mantan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), diunggah online seperti di Kompasiana. Karena tulisan-tulisannya itu pula, ia dan beberapa blogger lainnya diundang oleh Jokowi ke Istana, pada tahun 2015.
 
Ketertarikan anak tunggal dari pasangan Muhammad Abdurachman Alatas (59) dan Nabila Zain (40) pada politik pun makin besar. Ia mulai banyak membaca buku-buku Soekarno, seperti Penyambung Lidah Rakyat, Sarinah, dan lain-lain. “Saya adalah pengagum berat Soekarno,” katanya.
 
Ia juga bergabung dengan Komunitas Pendukung Ahok (Kompak). Oleh Fadjroel Rachman, yang menjadi pemohon uji materi ke Mahkamah Konstitusi (MK) tentang syarat persentase maju jalur independen dalam pilkada, ia dijadikan saksi mewakili Kompak. “Dari sini saya banyak membaca undang-undang untuk bekal menjadi saksi. Saya juga aktif membaca berita,” ungkapnya.
 
Ketika Kantor Gubernur DKI Jakarta membuka lowongan magang bagi anak muda usia 19 hingga 35 tahun untuk memberikan saran dan mengawasi kebijakan Gubernur, Sammy tak menyia-nyiakan kesempatan. Ia langsung mengirim CV dan esai kepada tim Gubernur dan berhasil lolos seleksi.
 
“Awalnya sempat pesimistis. Karena, dari segi usia saya berada di batas minimal 19 tahun, belum bergelar S-1, sementara pesaing saya banyak yang lulusan S-2 dari kampus ternama,” ceritanya.
 
Siapa sangka, pengalamannya magang selama empat bulan (Januari-April 2016) dalam tim Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP), khususnya perizinan usaha, membuat wanita keturunan Arab ini makin mantap memilih jalur politik. Bersentuhan dengan birokrasi pemerintahan semakin mendorong dirinya untuk memilih jalur pengabdian masyarakat.
 
“Pengalaman magang itu membuka mata hati saya untuk menjadi seseorang yang memiliki kuasa bisa membuat kebijakan yang lebih bermanfaat kepada masyarakat,” katanya. Pada masa itu, menurut survei Bank Dunia, peringkat pengurusan izin usaha di DKI Jakarta meningkat, dari peringkat 167 (2015) menjadi 151 (2016).
 
Sammy yang awalnya skeptis pada politik di Indonesia, terutama pada parpol, mulai mengubah cara pandangnya. Wanita kelahiran Jakarta, 24 Juni 1996, ini menyadari bahwa untuk menjadi pejabat tidaklah mudah. Tapi, bukan mimpi yang mustahil. Salah satu jalur yang paling masuk akal adalah partai politik (parpol).
 
“Tapi jujur saja, kala itu masih ada perasaan khawatir tentang parpol. Sebab, saya banyak melihat, orang jadi berubah setelah menjadi bagian dari parpol,” katanya. Tapi, di sisi lain, ia mengakui tidak mungkin bisa menjadi anggota DPR atau gubernur tanpa terjun ke parpol.
 
Sammy pun mulai aktif memperhatikan parpol yang ada. Banyak yang ia pertimbangkan, mulai dari ideologi, visi dan misi, serta track record-nya, terutama partai-partai yang mengakomodasi anak-anak muda.
 
Kerap terlibat dalam diskusi politik bersama Grace Natalie, setelah pilkada DKI Jakarta 2017 putaran pertama, Sammy mendapat tawaran untuk bergabung dengan PSI. “Saya butuh waktu sekitar 2 bulan untuk meyakinkan diri bahwa sudah saatnya terlibat politik praktis,” ujarnya, tersenyum.
 
Kini, setelah bergabung dengan PSI dan menjabat sebagai Ketua DPP bidang eksternal sejak pertengahan tahun lalu, Sammy bertugas membangun jaringan dengan komunitas, media, dan organisasi-organisasi di luar struktur partai. Beragam upaya pun ia lakukan, seperti mendatangi kampus-kampus. “Saya ingin mengajak anak-anak muda agar mau terlibat dalam politik,” katanya, tegas.
 
Sebagai perpanjangan suara, Sammy memanfaatkan media sosial sebagai wadah untuk diskusi tentang politik. Ia cukup rajin menyiarkan diskusi-diskusi politik secara live di Instagram. Strategi pemilik akun @tsamaradki dengan jumlah followers 69.000 ini cukup berhasil. Banyak anak muda yang berminat terjun ke politik: menjadi simpatisan, pengurus, bahkan calon anggota legislatif.
 
“Sebagian besar bilang, mereka tertarik terlibat dalam politik praktis karena melihat anak muda aktif di dunia politik, seperti saya,” ujarnya. Karena itu, Sammy sangat berhati-hati dengan pernyataan yang ia ungkapkan di media sosial. “Semua harus berisi fakta dan bersifat objektif. Jangan sampai menyebarkan hoax (informasi bohong) ataupun menyerang pribadi seseorang,” tambahnya.
 
 

Legislatif, Tujuan Berikutnya
 
Kehadiran Sammy di dunia politik Indonesia serta keberaniannya mengeluarkan pemikiran mendapat respons yang beragam dari masyarakat. Ada yang memuji, tak sedikit pula yang mencela. Tak bisa dipungkiri, Sammy membawa angin segar dalam dinamika politik tanah air. Seperti keberaniannya membantah pernyataan Wakil Ketua DPR RI, Fahri Hamzah, tentang KPK, lewat Twitter.
 
Baginya, pernyataan yang tidak benar atau argumen yang tidak masuk di akal perlu diluruskan. “Sebab, kebohongan yang terus diulang-ulang bisa dianggap sebagai kebenaran,” katanya. Ia mengaku justru akan merasa takut, ketika ada orang yang menyampaikan sesuatu yang keliru, tapi ia diam.
 
Walaupun, atas sikap konfrontasinya itu, Sammy mendapat serangan dan bullying di media sosial, ia berhasil menghadapinya dengan tenang. “Itulah dinamika dalam politik. Kita tidak akan bisa menyenangkan hati semua orang,” tuturnya.
 
Bermain politik bukan perkara mudah. Apalagi usianya terbilang muda, sehingga ia kerap dinilai minim pengalaman politik. Bagi Sammy, dalam politik, niat baik, idealisme, dan prinsip tak kalah penting dengan pengalaman.
“Saya mengeluarkan pendapat bukan sekadar untuk memenangkan perdebatan, tapi menyampaikan pesan yang lebih besar kepada khalayak. Misalnya soal KPK, poinnya adalah mengajak masyarakat membela KPK,” jelasnya.
 
Ia berpendapat, orang-orang yang sudah berpengalaman sekalipun belum tentu bisa memenuhi harapan masyarakat. Ia juga menunjukkan survei tentang tingkat kepuasan masyarakat yang masih sangat rendah terhadap kinerja para anggota legislatif.
 
“Padahal, anggota legislatif didominasi oleh orang-orang berpengalaman. Jadi, muda bukan berarti tidak bisa memberikan kontribusi. Masyarakat tidak melihat apakah kita berpengalaman atau tidak, tapi apakah kita punya program dan inovasi yang memihak kepada mereka,” tambahnya, yakin.
 
Penggemar klub sepak bola Real Madrid ini menekankan, selama pengalaman dijadikan sebagai standar, maka selama itu pula tidak akan ada anak muda yang mau terjun ke politik. Padahal, walau usia mereka sudah dewasa pun, ketika baru masuk ke dalam politik, mereka masuk dalam kategori tak berpengalaman.
 
Kini, selain sibuk menyiapkan skripsi, mahasiswi Ilmu Komunikasi Universitas Paramadina Jakarta ini juga tengah bersiap untuk mencalonkan diri sebagai anggota DPR RI pada pemilihan umum 2019 mendatang.
“Jika nanti berada di legislatif, saya ingin memperjuangkan undang-undang e-budgeting serta sistem pengadaan barang dan jasa secara online sebagai upaya untuk mencegah korupsi,” ungkap wanita yang berencana mencalonkan diri di Dapil DKI Jakarta II, Jakarta Selatan, Jakarta Pusat, dan Luar Negeri.
 
Ini merupakan bagian dari perjuangannya mewujudkan impian terbesarnya menjadi Gubernur DKI Jakarta suatu saat nanti. (f)