Foto: Instagram/ her_majesty_queen_of_bhutan


Bhutan banyak dikenal sebagai negara kecil berbentuk kerajaan yang dijuluki The Last Shangrila atau surga terakhir di dunia  karena keindahan alam dan penduduknya yang memegang teguh tradisi. Namun, yang tak kalah istimewa, negara yang berada di kaki Pegunungan Himalaya dan di antara Tiongkok – India ini memiliki ratu dengan usia yang tergolong muda, Jetsun Pema Wangchuk. Dengan usia 27 tahun saat ini, Jetsun Pema pun menjadi ratu termuda di dunia. Ditambah latar belakang pendidikan yang tinggi, aktif di kegiatan sosial, serta memiliki kecantikan fisik yang bisa membuat siapa pun jatuh mengaguminya, Jetsun Pema adalah idola baru dunia. Seperti terlihat pada foto-fotonya berikut:

 
Jetsun Pema Wangchuk lahir di Thimphu, Bhutan pada tanggal 4 Oktober 1990, dinobatkan sebagai Ratu Bhutan pada tanggal 13 Oktober 2011, saat baru berusia 21 tahun. Penobatannya tersebut bersamaan dengan pernikahan dengan Raja Bhutan, Jigme Khesar Namgyel Wangchuck, yang berusia 10 tahun lebih tua dari Jetsun Pema dan bertahta sejak tahun 2008. Mengenai istrinya tersebut, Raja Khesar mengatakan, “Saya telah menunggu cukup lama untuk menikah, tapi penantian itu tidak masalah selama bisa menikah dengan orang yang tepat.” 


Ratu Jetsun merupakan anak kedua dari lima bersaudara, anak dari seorang pilot yang dihormati di Bhutan. Pema juga memiliki darah bangsawan yang berasal dari buyutnya, termasuk nenek buyutnya yang merupakan adik tiri dari istri raja kedua Bhutan, Jigme (buyut Khesar). Jadi bisa dibilang, Jetsun dan Khesar merupakan sepupu jauh.
 
 

Putra pertama Jetsun dan Khesar lahir pada tanggal 5 Februari 2016 dan diberi nama Jigme Namgyel Wangchuck.



Foto: AFP

Jetsun baru berusia 7 tahun saat pertama kali berkenalan dengan Khesar yang saat itu berusia 17 tahun, pada sebuah acara piknik kerajaan. Jetsun datang dibawa oleh ayahnya, Dhondup Gyaltshen, yang merupakan pilot kerajaan. Selama beberapa jam kebersamaan mereka, pangeran mahkota terpikat pada lukisan Jetsun yang memang berbakat melukis. Sebelum berpisah, Khesar mengatakan pada  Jetsun kecil, “Kelak nanti saya dewasa, dan kamu juga sudah dewasa, kita masih sendiri, saya ingin kamu jadi istri saya.”
 
 


Ratu Jetsun dikabarkan sangat menyukai seni murni dan melukis. Di usia 15 tahun, Jetsun dikirim oleh kedua orang tuanya untuk belajar hubungan internasional, psikologi, termasuk sejarah seni di Regent's University, London. Jetsun termasuk murid yang aktif di sekolah. Selain seni, Jetsun juga gemar dengan olahraga basket dan sempat menjadi kapten tim basket waktu sekolah. Jetsun pernah bersekolah di sebuah sekolah swasta di India. Tidak heran, selain menguasai bahasa Dzongkha, bahasa resmi Bhutan, Jetsun juga fasih berbahasa Inggris dan Hindi.


 
 



Sebagai seorang ratu yang mencintai rakyatnya, Jetsun turut aktif pada berbagai kegiatan dan organisasi menyangkut sosial dan lingkungan. Selain sebagai advokat bagi masalah-masalah lingkungan, Jetsun juga bertindak sebagai patron (pembina) berbagai organisasi seperti Royal Society for protection Nature, Ability Bhutan Society (organisasi untuk anak-anak berkebutuhan khusus), Bhutan Kidney Association dan Bhutan Kidney Foundation. Jetsun juga ditunjuk menjadi Duta Ozone untu Program Lingkungan PBB (UNEP). Pada tahun 2016, Jetsun ditunjuk sebagai Presiden Bhutan Red Cross Society. Jetsun juga berperan aktif mendorong tumbuhnya kewirausahaan dan proyek-proyek ekonomi di negaranya. 









 
 




 
Kecintaan rakyat Bhutan pada Ratu Jetsun bisa dilihat dari penghormatan dan doa yang selalu dipanjatkan agar Jetsun selalu sehat dan panjang umur. Salah satu bentuk kecintaan rakyat lainnya adalah kelahiran Pangeran Namgyel yang diperingati dengan penanaman 108.000 pohon di penjuru negeri. Long live the queen! (f)