
Foto: Dok. Pribadi
“Ayah adalah HeForShe pertama saya,” ungkap wanita yang akrab disapa Lulu (24) ini, di panggung acara 2nd Global #HeForShe Anniversary di New York, September tahun lalu. Kampanye global HeForShe yang digagas oleh UN Women itu bertujuan untuk mengajak pria terlibat aktif dalam meningkatkan kesetaraan gender.
Menurut Lulu, ayahnya yang berlatar belakang militer merupakan teladan yang turut membentuk dirinya menjadi wanita muda yang tegar dan mandiri, setangguh seorang prajurit.
Ayah dan ibunya juga sangat mengutamakan pendidikan Lulu dan adik laki-lakinya. Bersama sang adik yang terpaut setahun darinya, Lulu, kala itu 17 tahun, berangkat merantau dari Jakarta untuk menuntut ilmu ke Ottawa, Kanada. Bahkan, orang tuanya tak mempersoalkan Lulu yang tak pulang ke Indonesia di tahun-tahun pertamanya karena memilih untuk kerja paruh waktu.
Namun, cerita Lulu di panggung tak hanya tentang sang ayah. Ia turut mengisahkan kekerasan seksual yang dialaminya di usia sepuluh tahun. Kala itu, sekelompok remaja pria menyerang Lulu cilik yang tengah berjalan sendirian sepulang sekolah. Ketika Lulu akhirnya berhasil lari dari cengkeraman mereka, ia dikejar hingga tiba di depan rumahnya.
“Dalam hati saya bertanya-tanya, apa yang sudah saya perbuat hingga mereka melakukan hal itu kepada saya?” tutur Lulu kepada femina, matanya berkaca-kaca. Ia memilih untuk tak menceritakan peristiwa traumatis itu kepada banyak orang, kecuali keluarga terdekat.
Ketika peristiwa itu masih segar dalam ingatannya, ketakutan muncul di benaknya tiap kali melihat remaja pria yang bergerombol maupun mengenakan seragam SMA. Khawatir diejek teman-teman di sekolah membuat Lulu, yang kemudian diantar jemput ke sekolah, lebih banyak diam dan menyendiri. Setelah kasus pelecehan seksual itu, ia selalu dilanda rasa malu dan menganggap kejadian itu sebagai aib.
Seiring waktu dan kuatnya keinginan untuk move on dari kejadian pahit tersebut, Lulu perlahan dapat melalui masa-masa trauma itu, meski tanpa bantuan profesional. Namun, sesekali rasa benci masih kerap hinggap di hatinya ketika teringat kejadian tersebut. “Tapi, saya tidak tahu harus marah kepada siapa,” ujarnya.
Baca juga:
Presiden Joko Widodo Jadi Duta HeForShe untuk Kesetaraan Gender
Kenali 8 Fakta Penting Kekerasan Seksual pada Anak
Inilah yang membuat Lulu mulanya ragu mengisahkan pengalamannya sebagai penyintas kekerasan seksual di muka publik. Undangan ke New York tersebut didapatkan Lulu dan koleganya sebagai salah satu pemenang kompetisi video HeForShe 2016 Student/Youth Competition.
Untuk kompetisi tersebut, mereka membuat video pendek tentang komunitas HeForShe di tempat kerja mereka, sebuah perusahaan multinasional di bidang consumer goods, yang terbentuk satu setengah tahun lalu. Lewat berbagai program sukarela, seperti mentoring dan pelatihan kepemimpinan, mereka menggandeng karyawan pria untuk turut memberdayakan potensi wanita di tempat kerja.
Tawaran untuk berpidato muncul setelah panitia penyelenggara mewawancarai Lulu seputar pengalaman pribadinya terkait kesetaraan gender. Mereka meyakinkan Lulu bahwa kesempatan ini tak bertujuan untuk mengungkit luka masa lalu. Menyanggupi tawaran tersebut, ia lantas diminta menyiapkan sebuah esai, yang kemudian dikoreksi tata bahasa dan alurnya oleh pihak panitia, untuk dijadikan naskah pidato.
Setelah mengungkapkan betapa pengalaman pahitnya justru memberinya suara untuk melawan kekerasan seksual di panggung, gemuruh tepuk tangan audiensi seolah menguatkan Lulu yang tengah menahan air mata. “Melihat ke bangku penonton dan menemukan sosok-sosok pemimpin dunia di sana, saya menyadari bahwa hanya itulah lima menit yang saya miliki untuk bersuara bagi banyak orang yang pernah mengalami kekerasan seksual dan domestik,” tuturnya.
Rekaman video pidato Lulu kemudian turut dibagikan oleh Emma Watson di laman Facebook-nya, yang lalu disebar ulang hingga lebih dari 2.800 kali. “An emotional and powerful story,” tulis Emma, seraya memuji keberanian Lulu.
Seperti apa pengalaman Lulu melawan rasa gentar sebagai seorang penyintas kekerasan seksual? Baca di halaman berikutnya.
Turun dari podium, Lulu kebanjiran sambutan hangat dari para tamu. Dukungan itu terus mengalir sekembalinya ia ke tanah air, karena pidatonya yang menyita perhatian khalayak. Ia pun tidak menyangka kisahnya akan menjadi viral. Apalagi, ia pada dasarnya tak terlalu nyaman berada di bawah sorotan.
Sayangnya, tak semua orang memahami betapa menantangnya bagi Lulu untuk melanjutkan hidup setelah mengalami kekerasan seksual. Kekhawatirannya untuk mengungkap insiden pahit itu terbukti, saat segelintir rekan pria menanggapi pengalamannya dengan guyonan.
“Mereka bertanya-tanya, jadi saya sudah diapain aja? Kadang-kadang saya ingin membalas, ‘Kamu mau bertukar tubuh dengan saya, supaya bisa tahu rasanya seperti apa?’” tutur Lulu, geram. “Seandainya mereka sadar bahwa apa yang saya alami juga bisa terjadi pada saudara perempuan, istri, anak, atau bahkan ibu mereka, saya yakin mereka tak akan bisa berkomentar seperti itu,” tambahnya.
Celetukan tak simpatik tersebut membuat Lulu makin menyadari akan adanya sikap victim blaming terhadap para korban kekerasan seksual, seolah-olah mereka punya andil dalam memicu insiden yang mereka alami. Ia menilai, standar ganda terhadap wanita tak terhindarkan karena kuatnya budaya patriarkat di masyarakat.
Hal ini memantik tantangan besar untuk meningkatkan kesetaraan gender, yang kerap dipandang sebagai permintaan yang berlebihan, baik oleh pria maupun wanita. Pasalnya, masih banyak yang meyakini, wanita diciptakan untuk berada di ranah domestik semata. Dengan demikian, kiprah mereka di ranah publik sering dinilai sebagai upaya untuk bersaing dengan pria.
Baca juga:
Pernah Menjadi Korban Pelecehan Seksual? Stop Menyalahkan Diri Sendiri!
Apakah Kesetaraan Gender di Indonesia Sudah Tercapai?
Inilah mengapa seruan tentang kesetaraan gender dalam kampanye HeForShe demikian menyentuh hati Lulu, terutama karena fokusnya terhadap peran pria dalam mendukung pemberdayaan wanita. Baginya, kesetaraan tercipta ketika wanita dan pria memiliki peran dan kesempatan yang sama untuk bersuara maupun berkontribusi bagi masyarakat. Lulu pun berharap, kelak ia dapat mengambil peran aktif yang lebih besar di lapangan untuk mendukung upaya-upaya peningkatan kesetaraan gender, misalnya terlibat dalam proyek sukarela untuk pemberdayaan wanita dan anak perempuan.
Menurut data PBB, 1 dari 3 wanita pernah mengalami kekerasan seksual dalam hidup mereka. Kekerasan tersebut beragam bentuknya. Contohnya termasuk kekerasan verbal seperti godaan di jalan (catcalling), pelecehan seksual dengan maupun tanpa sentuhan, yang dapat berujung pada ancaman pemerkosaan, dan kekerasan fisik seperti pemerkosaan atau pencabulan.
Pernah mengalami kekerasan seksual, meski traumatis, tak membuat Lulu gentar menghadapi dunia yang terkadang menempatkan kaum wanita dalam posisi rentan. Salah satu caranya untuk melindungi diri adalah mengenakan earphone saat berjalan di tempat umum, agar tak terusik oleh celetukan-celetukan usil. Tetapi, bila ia sudah demikian terganggu, ia tak ragu menegur pelaku pelecehan. “Beranjak dewasa, saya justru menjadi lebih berani,” katanya.
Lulu paham, tak semua penyintas kekerasan seksual mampu mengungkapkan apa yang telah mereka alami. Namun, berkaca pada pengalaman pribadinya, ia meyakini bahwa bercerita kepada orang-orang terdekat yang dapat dipercaya amatlah penting untuk membantu meringankan beban dan trauma. “Kita tidak pernah sendirian. Keadaan akan membaik. Seiring waktu, pengalaman ini akan membuat kita lebih kuat,” pesannya. (f)