Foto: Adele
 
Bersama Lakhsmi Puri, topik kesetaraan gender menjadi begitu membumi. Ia tidak hanya pandai mengulas berbagai strategi pencapaian, tapi lebih jauh lagi, lahir dan besar di India, hidupnya adalah rangkaian intim pergulatan wanita dalam menembus “langit-langit kaca”. Assistant Secretary-General PBB dan Deputy Executive Director untuk UN Women ini membagikan buah-buah pemikirannya kepada femina.

POSISI PENTING INDONESIA
 
Sejak awal perbincangan, Lakhsmi Puri menekankan betapa pentingnya posisi Indonesia dalam menciptakan kultur kesetaraan gender di dunia. Tidak hanya karena posisi geografisnya yang berada di benua Asia, yang di abad ke-21 memasuki era keemasan “Asia’s Century”, tapi juga karena kemajemukannya.
 
Menurutnya, Indonesia harus mengambil momen baik ini untuk segera mengambil langkah maju, sebagai upaya mewujudkan Planet 50:50 – tercapainya kesetaraan gender di tahun 2030, yang menjadi komitmen bersama dunia. Baik itu di arena politik, ekonomi, sosial, dan pendidikan.
 
“Pendekatan ‘business as usual’saja tidak cukup. Masalah kesetaraan gender membutuhkan upaya lebih yang melibatkan unsur pemerintah dan gerakan masyarakat, termasuk di dalamnya peran pria,” tegas Lakhsmi.
 
PBB sendiri sejak 20 September 2014 telah menginisiasi HeForShe, yaitu gerakan solidaritas bagi kesetaraan gender di mana laki-laki dan anak laki-laki berpartisipasi dan menjadi agen perubahan mewujudkan kesetaraan gender. “Saya rasa Indonesia sangat berkomitmen mewujudkan gerakan ini. Presiden Joko Widodo sendiri adalah seorang IMPACT Champion, satu-satunya dari negara Asia Tenggara,” lanjut Lakhsmi optimis.
 
Sebagai salah satu dari delapan pemimpin negara yang mengambil peran sebagai IMPACT Champion, Jokowi berkomitmen untuk mewujudkan kesetaraan gender melalui pilot project yang berlangsung selama 3-5 tahun. Jalannya, dengan membangun kesetaraan gender dan pemberdayaan wanita di tiga sektor utama, yaitu pemerintahan, sektor swasta, dan dunia akademis.
 
Bagaimanapun, Lakhsmi masih prihatin terhadap masih tingginya angka kekerasan kepada wanita di dunia, termasuk di Indonesia. “Kekerasan terhadap wanita menjadi global pandemic,” ungkap Lakhsmi, sedih. Ia kemudian mengutip data Jurnal Perempuan yang mengungkap bahwa di Indonesia sendiri, setiap dua jam 3 hingga 4 wanita menjadi korban kekerasan. Sementara itu 1 dari 6 anak perempuan terjebak dalam perkawinan anak-anak yang tidak hanya merampas mimpi-mimpi mereka, tapi juga membahayakan hidup mereka.
 
Dari seluruh kasus tersebut 80 persen merupakan kekerasan dalam rumah tangga. Wanita yang tinggal di pedalaman, wilayah perbatasan dan anak-anak adalah kelompok yang paling rentan menjadi korban. “Pencegahan berarti mengambil aksi. Sebab, praktik kekerasan seperti ini sudah tidak bisa diterima dan ditolerir lagi. Impunitas harus dihapuskan, hukum harus ditegakkan, dan pelaku kekerasan terhadap wanita harus bisa diadili,” tegas Lakhsmi.
 
Ia juga mengikuti mencuatnya berita tentang tingginya praktik Female Genital Mutilation (FGM) atau sunat perempuan di Indonesia. Penelitian terkini UNICEF (2013) mengungkap bahwa Indonesia menduduki tempat ketiga tertinggi setelah Mauritania dan Gambia. Meski sering dikaitkan dengan nilai agama Islam, ia sangsi bahwa Islam sendiri mengadvokasi praktik ketidaksetaraan atau diskriminasi terhadap wanita. “Menyangkut kesetaraan hak antara pria dan wanita, Islam adalah masyarakat yang egaliter,” yakinnya.
 
Mengatasi bertumbuhnya gerakan fundamental dan violence extremism, UN Women banyak berdialog dengan kelompok agama, pemimpin adat, dan para ulama di Asia Tenggara.  “Kami membahas interpretasi yang benar terhadap nilai-nilai keyakinan agama, seperti Syariah, tradisi, atau kebiasaan adat, sehingga tidak menyuburkan praktik kekerasan pada wanita. Sebaliknya, mereka ikut membangun kesetaraan hak wanita,” ungkap Lakhsmi. (klik halaman selanjutnya)
 
 


Foto: Adele
 
MEMECAH “LANGIT-LANGIT KACA”
 
Di usia yang terbilang muda, yaitu 21 tahun, Lakhsmi berhasil menembus ketatnya seleksi penerimaan staf di departemen luar negeri India. Dari sebanyak 100.000 pelamar, ia berhasil lolos dengan skor di posisi puncak. Selama 28 tahun karier diplomatnya, ia sekaligus menjabat sebagai Permanent Secretary Pemerintah India.
 
Ia pernah bertugas sebagai Duta Besar di Hungaria, dan secara aktif membantu tugas perwakilan khusus Sekretaris Jenderal PBB dan kontingen perdamaian India untuk Bosnia dan Herzegovina di masa konflik. Ia juga memegang peran kunci dalam menjembatani perjanjian perdamaian Indo-Sri Lanka di 1987, untuk mengakhiri konflik antar etnis yang terjadi di perbatasan Sri Lanka - India.
 
Komitmen, kompetensi, dan segala pencapaiannya membukakan jalan karier di organisasi dunia PBB. Kesempatan ini tiba saat ia terpilih sebagai delegasi untuk Komisi Hak Asasi Manusia PBB. Tugasnya kala itu adalah menjadi salah satu mata kunci di berbagai negosiasi kasus-kasus pelanggaran HAM dunia. Hingga kemudian, di tahun 2002, ia terpilih sebagai Direktur dari divisi terbesar di PBB, yaitu United Nations Conference on Trade and Development (UNCTAD), yang mengurusi perdagangan internasional.
 
Bagaimanapun, dari keseluruhan perjalanan kariernya, Lakhsmi merasa menemukan kepuasan terbesar saat bergabung dalam UN Women, pada Maret 2011, setelah organisasi khusus ini diluncurkan di Januari 2011. “This is my beginning, this is my soul,” ungkap Lakhsmi yang memiliki hasrat serta komitmen besar untuk mendorong tercapainya keseteraan gender dan pemberdayaan wanita di seluruh dunia.
 
Sebagai ibu dari dua orang puteri, Lakhsmi adalah bukti bahwa wanita memiliki cukup kompetensi dan energi dalam menjalani berbagai perannya, baik di wilayah domestik, profesional, dan personal, dengan tetap memperhatikan keseimbangan di dalamnya. Lahir dan besar dalam kultur India di era yang masih banyak membatasi ruang gerak dan ekspresi wanita, beratkah perjuangannya?
 
Lakhsmi mengakui bahwa keberhasilannya sendiri bertolak dari sejarah keluarga yang cukup pahit. “Saya punya sejarah panjang feminisme dalam keluarga saya,” ungkap Lakhsmi, mengawali cerita. Nenek dari ibunya adalah salah satu dari sekian banyak korban dari pernikahan anak-anak, yang menjadi bagian tradisi di India pada masa itu.
 
“Di usia yang masih sangat muda, ia harus berkali-kali berjuang melahirkan anak-anak dan mengalami banyak keguguran, hingga kemudian meninggal di usia 28 tahun,” kisah Lakhsmi. Kenyataan pahit ini membukakan mata kakeknya, yang kemudian bertekad untuk tidak membiarkan sejarah pahit itu terulang pada kedua putrinya.
 
Tekad ini membuat sang kakek berani mengambil keputusan terberat, mengirim kedua putrinya, termasuk ibunya yang kala itu berusia 11 tahun, untuk tinggal di sekolah asrama khusus wanita Asram Ahilya, di Indore, yang berjarak 465 km dari Maharashta, rumah mereka. Semua dilakukan agar melalui pendidikan yang layak, kedua putrinya dapat mengubah nasib.
 
Pengorbanan kakek Lakhsmi tidak sia-sia. Ibunya, Malati Desai, adalah seorang feminis dan salah satu wanita pertama dari Maharashtra yang memperoleh gelar postgraduate! “Ibu saya juga boleh memilih sendiri suaminya, Balkhrisna Murdeshwar, yang tak lain adalah teman kuliahnya. Semua sejarah di keluarga kami bertolak sejak dari masa itu,” ungkap Lakhsmi, mengurai latar belakang feminisme yang mengalir kuat di darah keluarganya.
 
Lakhsmi menyadari bahwa langit-langit atau pintu kaca yang kerap menghalang sepak terjang kaumnya adalah hal yang nyata bagi banyak wanita di dunia. Namun, ini bukan akhir cerita. Meski butuh waktu satu generasi untuk melakukan perubahan, tapi tekad ini harus terus dibenihkan dan disirami hingga mengakar kuat.
 
“Tidak ada langit-langit kaca yang tidak bisa didobrak. Sekali berhasil, maka selanjutnya akan menjadi lebih mudah,” yakin Lakhsmi. Sebaliknya, feminimitas wanita justru menjadi kekuatan yang membawa keseimbangan, menumbuhkan toleransi, dan menjaga keharmonisan. “Dengan segala kapasitas dan kekuatan ini wanita terlahir sebagai agen-agen perdamaian di manapun ia berada,” ujar Lakhsmi. (f)


Baca Juga:

Masnu'ah, Penerima Anugerah Saparinah Sadli 2018, Mengangkat Harkat Perempuan Nelayan
Inayah Wulandari, Ajak Orang Muda Bahagia dan Berdaya
Firliana Purwanti, Menyuarakan Kesetaraan Gender Lewat Orgasme