Foto: dok.obs.co.kr,dok.kbs,dok.tvN,dok.SBS

Di industri hiburan dan televisi Korea Selatan, nama Kim Eun-Sook jadi jaminan keberhasilan sebuah tayangan drama. Bahkan, menjadi alasan bagi penonton untuk mengikuti belasan episode drama yang biasanya hanya tayang dua kali seminggu. Apa, sih, keistimewaan karyanya?
 
Baru-baru ini wanita kelahiran Gangneung, tahun 1973, ini dinobatkan sebagai penulis terbaik oleh survei yang dilakukan terhadap reporter televisi dan beberapa perusahaan hiburan dan periklanan di Korea Selatan. Pengakuan ini tak lepas dari keberhasilan dua drama yang ia tulis secara berturut-turut, Descendants of The Sun (DOTS) (2015-2016) dan Goblin: The Great and Lonely God (2016-2017).

Kedua drama televisi ini disebut-sebut kembali memunculkan gelombang besar budaya pop Korea Selatan (hallyu) ke seluruh Asia hingga Amerika Selatan. Kedua drama itu sampai sekarang masih jadi pembicaraan di mana-mana dan menimbulkan efek positif secara ekonomi dan pariwisata Korea Selatan.

Tangan dingin Kim Eun-Sook dalam membuat drama populer  makin diakui. Kebanyakan drama yang ia tulis mendapatkan rating (menjadi indikasi seberapa banyak ditonton saat disiarkan di televisi) tinggi. Setelah debut tahun 2003 lewat drama South of the Sun, di drama keduanya, Lovers in Paris (2004), ia sempat mencatat rating lebih dari 50%. Drama lainnya, Secret Garden (2011), juga sempat meraih rating 35%, sangat tinggi untuk ukuran drama dan memberikan Kim beberapa penghargaan bergengsi, seperti Korea Content Awards: Prime Minister's Award in the Field of Broadcasting dan Penulis Skenario Terbaik dari Korea Drama Awards.

“Saya senang menonton ulang drama-drama yang saya buat, bukan karena saya hebat banget dalam menulis skenarionya. Tapi, saya merasa senang memikirkan royalti yang saya dapat dari penayangan ulang (rerun),” ujarnya, tertawa.

Masyarakat menilai, kalimat-kalimat cheesy dan gombal, tapi mengena dan langsung melekat di kepala, dalam skenario yang ia tulis itu sebagai kekuatan. “Kedengarannya memang cheesy, tapi saya memang mengatakan, ‘Sejak kapan, sih, kamu tampan?’ untuk menggoda pria,” katanya, usil. 

Di luar itu, Kim juga kerap menampilkan wanita-wanita tangguh. Sebut saja tokoh Kim Mo Yeon dalam DOTS (diperankan Song Hye-Kyo), dokter bedah yang berani mengatakan pendapatnya dan menolak merendahkan diri demi jabatan, meski akibatnya ia dikirim ke negara konflik yang berbahaya. Atau tokoh Shin Mi-rae dalam City Hall (2009), pegawai negeri sipil yang mencalonkan diri sebagai Wali Kota Inju dengan niat untuk memberantas korupsi dan memberi pelayanan masyarakat yang lebih baik. Penonton Goblin pasti masih ingat tokoh Sunny, pebisnis rumah makan yang penuh percaya diri menentukan kehidupan asmaranya.

Namun, di sisi lain ia juga memegang ‘pakem’ kisah Cinderella, seperti tokoh yang diperankan oleh Park Shin-Hye dalam Heirs (2013). Ia merasa kisah ini adalah kisah yang paling menarik untuk dieksplorasi dan disukai masyarakat. Namun, Cinderella yang ia ceritakan tidak hanya wanita, tapi juga pria, seperti dalam drama Lover in Prague (2005) yang berkisah tentang detektif yang jatuh cinta pada anak perempuan presiden yang bekerja sebagai diplomat.

Meski banyak orang penasaran apakah dramanya terinspirasi oleh pengalaman pribadinya, mengingat Kim sudah menjadi selebritas, cerita tentang kehidupan pribadi ibu satu anak ini tertutup rapat dari publik. Masyarakat hanya bisa menebak-nebak, karakter penulis skenario terkenal yang arogan dalam drama On Air (2008) yang ia tulis, sebagai alter ego Kim. Kesamaannya ada pada sikapnya yang serius menggarap  tiap drama barunya sebaik mungkin, karena tidak ada jaminan bahwa drama berikutnya akan sukses.
 
 

Foto: dok.obs.co.kr,dok.kbs,dok.tvN,dok.SBS
 
Dengan reputasinya, tak heran kalau ia dikabarkan sebagai penulis drama berbayaran tertinggi, bahkan sejajar dengan bayaran aktor-aktor papan atas Korea Selatan. Namun, bukan berarti ia selalu berjaya. Sejak film yang ia tulis, Fly High (2006) dan  A Millionaire’s First Love (2006), tidak mendapat sambutan memuaskan di pasaran,  ia belum lagi berani menulis skenario film layar lebar.

Sebagian pihak juga menilai, keberhasilan drama Kim semata-mata karena aktor-aktor top dan tampan sebagai pemeran utama. Pendapat itu memang ada benarnya. Namun, untuk mendapatkan aktor-aktor itu juga tidak semudah yang dikira orang. Kim memang cenderung ngotot kalau sudah membayangkan satu aktor dalam sebuah peran.

Gara-gara itu, Kim juga harus merasakan penolakan oleh aktor yang ia incar. Dalam press conference ia mengungkapkan bahwa hal itu salah satu alasan mengapa meski naskah Goblin yang sudah mulai ia kerjakan lebih dari 6 tahun lalu, baru syuting tahun 2016.

“Soalnya, selama 5 tahun saya ditolak terus oleh Gong Yoo,” ujarnya. Entah apa yang dikatakan Kim untuk meyakinkan Gong Yoo yang sebelumnya terus menolak main drama sejak terakhir bermain di drama televisi tahun 2012. Yang pasti, butuh 2-3 jam bagi Kim untuk meyakinkan aktor yang terkenal lewat film Train to Busan itu. Di sinilah hebatnya Kim. Ia gigih dan sabar menunggu sampai ’lamarannya’ diterima.

Beberapa tahun lalu ia membuat skenario tentang empat pria berusia 40-an, semacam F4 versi usia matang. Saat itu Kim sangat ingin bekerja sama dengan Jang Dong-Gun, aktor kawakan yang sudah 12 tahun tidak mau bermain drama televisi.  Tapi, Kim tak menyerah dan terus membujuk, termasuk berjanji pada istri Jang bahwa tidak akan ada adegan ciuman yang panas dalam A Gentlemen’s Dignity. Berhasil mendapatkan Jang, ia masih harus meyakinkan aktor lainnya, Lee Jong-Hyuk, yang semula menolak. Kim sampai berjanji, ia bakal bisa membuat aktor ini mendapat kontrak iklan.

Sementara, demi mendapatkan Song Joong-Ki, ia meminta tim produksi untuk memundurkan jadwal syuting hingga Joong-Ki selesai menjalani wajib militer. Ia pun menunjukkan kesungguhannya dengan menunggu aktor yang dinobatkan sebagai Aktor Terbaik KBS 2016 itu di pintu gerbang tempat Joong-Ki resmi lulus wamil. Ia mengaku, sosok Joong-Ki sudah ada di kepalanya saat menulis skenario.

Sekali lagi ia membuktikan bahwa ia layak dijuluki prince maker. Semua pemeran utama dalam dramanya memang langsung meroket popularitasnya. Hyun-Bin yang berperan dalam Secret Garden kini termasuk salah satu aktor dengan honor tertinggi di industri film Korea Selatan. Bahkan, Kim Woobin, yang menjadi pemeran pembantu dalam Heirs, ikut melesat kariernya. Tak heran kalau dalam sebuah wawancara televisi, aktor Jo In-Sung yang sudah terkenal pun menunggu ‘love call’, istilah ajakan untuk berperan dalam drama Kim.

Baru saja Goblin selesai tayang, penggemar drama Korea sudah bertanya-tanya drama Kim selanjutnya. Menurut agensinya, Kim yang sudah sedikit mencicipi menulis cerita sageuk --istilah untuk genre bertema sejarah kerajaan Korea di masa lalu-- dalam Goblin, tertarik untuk menulis cerita drama kerajaan dan akan tayang tahun 2018. (f)

Baca Juga: