Foto: I Putu Surya, Dok. Jalaludidin Mannagalli, Kemensos
 
Rentang panjang karier politik Khofifah Indar Parawansa menemui babak baru yang lama diperjuangkannya. Sebagai wanita pertama yang menjabat gubernur di Jawa Timur, ia berhasil mendobrak tradisi kolot bahwa hanya laki-lakilah yang bisa menjadi kepala daerah. Tiga minggu setelah kemenangannya, femina bertandang ke kediamannya di Surabaya untuk berbicara dari hati ke hati tentang perjalanan karier politik dan sisi personalnya sebagai wanita dan seorang ibu.
 
 
MEMILIH PERSPEKTIF

Politik merupakan bagian integral dalam kehidupan demokrasi bernegara. Sayangnya, budaya patriarkat yang mengakar telah membangun sekat-sekat tak kasatmata yang membatasi ruang gerak wanita di ruang politik Indonesia. Politik yang akrab dengan kontestasi narasi yang saling serang dan menjatuhkan juga menciptakan stigma bahwa politik kotor dan kejam, tidak sesuai dengan jiwa feminin wanita. Benarkah? Bagi, Khofifah, ini hanyalah soal membangun perspektif.
 
“Saya tidak akan menyebut dunia politik itu kejam, penuh friksi atau gesekan, atau kotor. Saya menyebutnya sebagai dinamika. Dan dinamika ini terjadi tidak hanya di dunia politik, tapi juga di dunia usaha, di berbagai institusi, bahkan hingga lingkungan akademis kampus,” ungkap wanita kelahiran Surabaya, 19 Mei 1965, ini.
 
Hanya, menurut Khofifah, yang membedakan adalah publikasinya. Dunia politik itu ramai publikasi. Di dunia politik, tiap terjadi perbedaan dan friksi, maka masing-masing pihak akan saling menunjukkan eksistensinya melalui publikasi di berbagai media.
 
“Ini bagian dari dinamika. Bagi saya, dinamika itu adalah sebuah keniscayaan, karena hidup adalah perubahan. Betapa sepinya dunia kalau tidak ada dinamika,” ungkapnya, tersenyum. Perspektif ini meringankan langkah perjuangan Khofifah dan Emil Dardak, Bupati Trenggalek, hingga memenangkan pilkada dengan perolehan suara 53,55%, unggul dari pasangan Gus Ipul - Puti Guntur (46,45%).
 
Keberanian Khofifah untuk masuk ke arena kontestasi politik yang masih maskulin dan pekat dengan berbagai kepentingan ini tentu didukung oleh pengalaman panjangnya di dunia politik dan birokrasi. Ia pernah menjadi pemimpin fraksi Partai Persatuan Pembangunan DPR RI (1992-1997), Ketua Komisi VIII DPR RI (1995-1997), Wakil Ketua DPR RI (1999), dan Ketua Komisi VII DPR RI (2004-2006).
 
Rapor positifnya di dunia legislatif kemudian mengantarnya ke jajaran eksekutif, saat Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menunjuknya sebagai Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan (1999-2001) sekaligus Kepala BKKBN (1999-2001). Di era Presiden Joko Widodo, Khofifah dipercaya menjadi Menteri Sosial Kabinet Kerja (2014). Setelah empat tahun mengabdi, tahun 2018 ia memilih untuk melepaskan jabatan ini demi mengabdikan diri secara total bagi tanah kelahirannya di Jawa Timur.
 
 
Bagaimanapun, Khofifah mengakui bahwa ada karakter khusus yang harus ditempa oleh wanita yang hendak terjun ke jalur politik. Di antaranya, memiliki mental baja, yang membuat seseorang melentingkan diri ke atas, tiap kali diserang dan dijatuhkan. Bagi Khofifah, ajang pilkada 2018 merupakan pertarungannya yang ketiga.
 
Khofifah sempat terjegal, nyaris tidak masuk sebagai kandidat di pilkada sebelumnya. Kasus ini berakhir dengan pemecatan 3 komisioner KPU Jawa Timur yang menerima suap. Khofifah juga belajar bahwa di dunia politik, kelanggengan pertemanan bisa berlangsung sebatas misi kepentingan ini. Ia pernah merasakan pahitnya tertolak, saat meminta dukungan dari pihak yang awalnya ia sapa sebagai teman sevisi dan seperjalanan.
 
“Banyak teman saya yang mengambil posisi jangka pendek, hanya baik saat membutuhkan, tapi begitu selesai, lupa. Saya selalu mengingatkan bahwa sebaiknya kita niatkan persaudaraan di dunia dan akhirat, sehingga ada kelanggengan dalam membangun kepercayaan,” ujar Khofifah, tanpa menyebut nama pihak yang telah mengecewakannya itu.
 
Pengalaman ini tidak mampu mengalihkan visi kuatnya untuk memulihkan kesejahteraan masyarakat Jawa Timur, yang ketimpangan ekonomi antara kota dan desanya begitu nyata. “Tingkat kemiskinan di desa mencapai 15,8 persen, sementara di kota 7,7 persen,” ujarnya. Semasa menjabat sebagai Menteri Sosial, ia memiliki program andalan, yaitu Program Keluarga Harapan (PKH). Program ini bertujuan mengentaskan kemiskinan kronis dengan memberikan akses cepat terhadap bantuan sosial.

Selanjutnya: Mengabdi Dengan Hati
 
 

 

MENGABDI DENGAN HATI
 
“Khofifah bukan anak pengusaha, bukan anak pejabat, bukan anak jenderal atau guru besar, bukan anak kiai besar. Ini harus dijadikan bagian dari perspektif perempuan untuk bisa berjuang, bekerja keras, dan tetap punya harapan terjun ke dunia politik,” ungkap Khofifah.
 
Usianya baru 27 tahun saat ia mengawali karier politiknya sebagai anggota DPR RI dari Partai Persatuan Pembangunan (1992-1997). Pada awal tahun ‘90-an, di usia yang masih muda, dan bergender wanita bukanlah sebuah preferensi yang menjanjikan perjalanan karier politik yang mulus. Namun, sejak awal, ini bukan menjadi sebuah penghalang baginya.
 
Khofifah merupakan bagian dari rintisan jejak karier politik wanita di parlemen, ketika upaya afirmasi 30 persen wanita di parlemen belum diterapkan. Bahkan, sejak upaya afirmasi ini ditetapkan melalui Undang-Undang No.10/2008, hingga saat ini persentase kehadiran wanita di parlemen belum juga terpenuhi. Sebaliknya, justru menurun! Bisa dibayangkan, betapa sepinya jalur perjuangan yang harus dilalui Khofifah waktu itu.
 
“Saat mengawali karier politik tahun 1992, Khofifah bukanlah siapa-siapa. Saya juga tidak memiliki jejaring strategis di Jakarta. Kita sendiri yang harus bergerak membangun jejaring, membangun komitmen, dan kepercayaan. Ini sangat penting,” lanjut wanita yang sempat berprofesi sebagai dosen di Universitas Wijaya Putra (1991-1992) dan Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Taruna (1989), di Surabaya, ini.
 
Selain membekali diri dengan ilmu politik, sarjana dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga ini juga mendalami ilmu komunikasi dan agama di Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah, di Surabaya. Sejak kelas 2 SMP ia punya tradisi melakukan salat Tahajud dan menghafal satu atau dua ayat Quran dan hadis.
 
 
“Siapa yang melayani manusia, maka Allah akan melayani dia. Siapa yang melayani masyarakat, Allah yang akan melayani kita. Kalau kita berbuat baik, dengan seikhlas-ikhlasnya, Allah akan membalasnya dengan kebaikan pula. Sebab, tidak ada yang luput dari catatan malaikat, entah kita berbuat baik atau tidak baik. Ini harus dipercaya betul,” kata Khofifah, mengungkapkan hadis dan ayat Quran yang menjadi pegangannya.
 
Ketulusan yang dibekali dengan niat kuatnya membela nasib rakyat ini pula yang membuatnya berani merombak naskah pidato di Sidang Umum MPR 1998. Dalam pidato tersebut ia melontarkan kritik terhadap pemilihan umum 1997 yang penuh kecurangan. Ia juga memakai waktu itu untuk mengungkapkan nilai-nilai demokrasi yang diyakininya. Sejak saat itu pula namanya makin dikenal dan mendapat respek di percaturan politik tanah air.
 
Mengikuti lengsernya jabatan Presiden Abdurrahman Wahid, berakhir pula jabatan Khofifah sebagai Menteri Pemberdayaan Perempuan. Usai menjabat sebagai menteri, ia langsung terjun sebagai aktivis di organisasi Muslimat, organisasi sayap perempuan Nahdlatul Ulama (NU). Empat kali berturut-turut ia dipercaya sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat Muslimat NU, yang masa jabatannya baru berakhir tahun 2021 nanti.
 
Khofifah mengaku bahwa bukan hal yang mudah untuk menjaga hati agar tetap ikhlas dan bersih. Untuk memberi, tanpa mengharapkan imbalan. “Lupakan kalau kita memberi. Ingat kalau kita diberi orang. Harus menjaga dan mengolah hati kita, karena dinamika internal dan eksternal kita relatif bisa memengaruhi. Oleh sebab itu, saya selalu mengajak hati saya berdialog dan berdiskusi agar selalu dimurnikan,” ungkap wanita yang pernah bercita-cita sebagai pembalap ini.

Selajutnya: Bebaskan Diri Dari Penjara Mental
 
 
 

BEBASKAN DIRI DARI PENJARA MENTAL
 
Segelas besar air kelapa hijau dan jamu beras kencur terhidang di meja tamu menemani obrolan kami siang itu. Air kelapa hijau memang terkenal memiliki khasiat untuk memperkuat sistem pertahanan tubuh dari penyakit dan mencegah dehidrasi.
 
Sementara itu, dalam tradisi masyarakat Jawa, jamu beras kencur biasa digunakan untuk meningkatkan vitalitas dan menghilangkan pegal-pegal atau masuk angin. Namun, utamanya, dua minuman yang tak pernah absen tiap harinya adalah kopi tanpa gula dan air hangat. Kadang-kadang saja ia minum jus kurma di pagi hari.
 
Kampanye memang telah usai, mengikuti kemenangannya sebagai Gubernur Jawa Timur. Namun, ini tidak berarti Khofifah bisa bersantai atau istirahat. Aktivitasnya tetap penuh. Saat femina berkunjung, di ruang tengahnya yang digelari karpet telah duduk menanti beberapa rombongan tamu dari berbagai daerah untuk bertemu dengannya. Menurut salah satu stafnya, kunjungan tamu ini nyaris tak berhenti!
 
Khofifah melayani satu per satu tamunya. Duduk sebagai satu-satunya wanita di tengah kerumunan para pria, bukan menjadi hal baru baginya. Mengenakan busana muslim warna kuning gading, penampilan Khofifah hari itu tampak cerah. Aura wajah seorang pemimpin terpancar jelas dari wajah dan sikapnya.
 
 
Siang itu, kami membuka obrolan dengan membahas beberapa temuan menarik dalam “Survei Pemimpin Pilihan Wanita”. Survei daring yang merupakan kolaborasi antara femina dengan Accenture Indonesia dan Jurnal Perempuan ini mengambil momen Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2018 yang berlangsung serentak di Indonesia.
 
Salah satu temuan menarik yang menjadi bahasan kami adalah hasil yang mengatakan: hanya 6% saja wanita yang memilih sesama wanita sebagai pemimpin atau kepala daerah. Sebanyak 22% reponden wanita lebih memilih pemimpin laki-laki dengan tiga alasan utama, yaitu pemimpin pria lebih mobile, atau lebih leluasa bergerak daripada wanita (56%) yang masih dianggap terbatas ruang gerak karena masalah fisik dan tuntutan gendernya di ruang domestik. Pemimpin pria juga dianggap lebih rasional (52%) dan lebih berwibawa (45%).
 
Uniknya, apa yang terjadi di Jawa Timur bisa dibilang berbanding terbalik dengan hasil survei. Sebagai wanita pertama yang terpilih sebagai gubernur di Jawa Timur, Khofifah berhasil mendobrak tradisi bahwa hanya laki-lakilah yang bisa menjadi kepala daerah. Ia bahkan menang dengan suara terbanyak di ajang pilkada yang berjalan serentak di Indonesia, dengan jumlah suara di atas kemenangan Ganjar Pranowo (Gubernur Jawa Tengah) dan Ridwan Kamil (Gubernur Jawa Barat).
 
Soal mobilitas, Khofifah tak usah diragukan lagi! Tiga tahun menjabat sebagai Menteri Sosial, sudah 34 provinsi ia jalani. Di antara berbagai provinsi dan kabupaten tersebut, ia bahkan menjadi menteri atau pejabat negara pertama yang datang berkunjung. Ia mengunjungi Kabupaten Jaya Wijaya, Papua, lalu Kabupaten Gunung Mas, Kalimantan Tengah, dan di Kabupaten Padang Lawas di Sumatra Utara.
 
Dalam seminggu tayangan pemberitaan dari kegiatannya bisa 3-4 kali muncul live di TV. Ini belum menghitung kegiatannya mengunjungi anggota Muslimat NU di daerah-daerah yang jumlahnya sudah mencapai 35.000 di seluruh Indonesia.
 
Menurut Dwi Ari Kusuma, salah satu staf pribadi Khofifah, saat akhir pekan, Khofifah masih memakai 50% waktu istirahatnya itu untuk berkeliling ke daerah-daerah. Ia ingin memastikan bahwa bantuan sosial yang dikawalnya melalui berbagai program Kemensos benar-benar sampai ke sasaran.
 
Khofifah bukan anak pengusaha, bukan anak pejabat, bukan anak jenderal atau guru besar, dan bukan anak kiai besar. Ini harus dijadikan bagian dari perspektif perempuan untuk bisa berjuang, bekerja keras, dan tetap punya harapan terjun ke dunia politik.

Selama kampanye, hingga saat ini tiap harinya ada 5 hingga 6 titik ia kunjungi. Berawal di pagi hari dengan blusukan ke pasar-pasar, lalu siangnya ia mulai mengunjungi pelaku UKM. Kemudian, di sore hingga malam hari, ia berdiskusi dengan tokoh politik dan organisasi. Apabila calon pemimpin lain memilih naik helikopter atau pesawat untuk menghemat waktu saat berkunjung ke daerah-daerah, seperti Jember, Banyuwangi, dan Madiun, Khofifah justru memilih jalan darat atau naik mobil.

Dalam perjalanan darat inilah ia memiliki banyak waktu untuk saling berinteraksi dengan para stafnya, untuk saling bertukar pikiran sekadar bercanda, bernyanyi, atau makan durian bersama di pinggir jalan.
 
“Saat perjalanan jauh, saya selalu membawa grup pengamen jalanan Surabaya untuk ikut. Jadi, sepanjang jalan kami bisa bernyanyi bersama,” ungkap Khofifah, tentang caranya menikmati ‘me time’ di tengah kesibukan.
 

Apakah anak-anaknya tidak pernah protes? Kali ini ia sangat beruntung. Saat berkarier sebagai menteri, kelima anaknya sudah di usia mandiri. Bersama almarhum suaminya, Ir. H. Indar Parawansa, M.Si.. ia dikaruniai 4 anak, yaitu Ima Patimasang (25), Jalaluddin Mannagalli Parawansa (22), Yusuf Mannagalli (21), dan Ali Mannagalli (18).
 
Ima menyelesaikan kuliah di Manchester, Inggris. Jalal, adiknya, kuliah di Beijing, Cina, sementara Yusuf pernah mondok di salah satu pesantren di Mojokerto dan saat ini ia merampungkan kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya. Sementara si bungsu Ali, saat itu juga mondok di pesantren.
 
“Sejak awal yang saya tekankan adalah kualitas pertemuan, karena saya jarang di rumah. Jadi, saya agak heran jika ada keluarga yang secara kuantitatif pertemuannya terjaga, tapi saat bertemu sibuk bermain gadget,” ujar Khofifah, yang memaksimalkan gadget untuk membangun komunikasi saat saling berjauhan dengan anak-anaknya.
 
Anak-anaknya justru merasa bangga dengan sepak terjang dan visi kuat Khofifah dalam berkarier. Sejak ia menjabat di legislatif, menjadi menteri, hingga saat Khofifah memutuskan pulang kampung untuk membangun Jawa Timur. Jabatan prestisius di Dewan Perwakilan Rakyat, menteri, hingga kini sebagai gubernur terpilih juga tidak membuat gaya hidup mereka berubah secara esensi.
 
Teman-teman di lingkungan pergaulan ketiga putranya mendadak heboh, saat saluran TV menayangkan secara langsung momen pencoblosan pilkada, saat putranya, Jalaluddin, memberikan sambutan dalam bahasa Mandarin, dan dalam acara talkshow di mana Khofifah tampil bersama anak-anaknya. Mereka baru tahu bahwa selama ini mereka berteman dengan anak menteri dan calon Gubernur Jawa Timur!
 
“Saya merasa tidak ada yang harus berubah dari tradisi kehidupan kami di keluarga,” ucap Khofifah. Saat menjadi menteri pun ia tidak memakai jasa sopir. Dulu, almarhum suaminya, Indar Parawansa, yang mengantarnya ke kantor.

Di usia 53 tahun, setelah 22 tahun mengayuh bahtera rumah tangga, suaminya berpulang ke pangkuan Allah saat sedang menjalankan tugas di Palu, Sulawesi Tengah, Januari 2014. Ia memang diketahui tengah bertarung melawan diabetes, dan sempat mengeluhkan luka di jari kaki yang tidak sembuh-sembuh.
 
Kini, bersama keempat anaknya, mereka terus menjalankan warisan semangat hidup dari almarhum suami dan ayah mereka tercinta. “Anak-anak saya, ya, anak-anak saya. Be yourself. Ibu hanya bisa berdoa, anak-anak harus bekerja keras dan belajar dengan baik. Dan, saya sangat bersyukur doa ini dijaga betul oleh anak-anak saya,” ungkap Khofifah dengan kebanggaan seorang ibu. (f)
 
Baca Juga:

Rina Trisnawati, Lewat Tintin Chips Berdayakan Ibu-Ibu Yang Memiliki Anak Disabilitas

Potensi Wanita Asia di Mata Dr. Indigo

8 Perempuan Supreme: Sakdiyah Ma’ruf