Foto: Dok. Pribadi
 
Dalam kehidupan sehari-hari, ia begitu bersahaja, sopan, sedikit pemalu, seorang istri sekaligus ibu yang begitu mencintai suami dan kedua  putrinya, juga puluhan anak didiknya di TK Kuncup Harapan, Jalan Karanganyar, Bandung.
 
Tapi, di atas panggung, Asri Yuniar (35) adalah icon. Dia magnet yang membuat ribuan pengikutnya melakukan moshing atau tarian khas untuk menikmati musik hardcore. Para pengikutnya akan saling menabrakkan tubuh, menggerak-gerakkan kepala ke atas dan ke bawah dengan liar (head banging), lalu melakukan wall of death atau kerumunan penonton yang membelah menjadi dua kelompok, kemudian berlari kencang sehingga bertumbukan secara keras.
 
Seperti apa sosoknya? Lanjutkan membaca ke halaman berikut.
 
 
 
Karakter Pejuang
 
Di atas panggung, Asri selalu tampil yang gahar dan ganas. Bersama bandnya, Gugat, tubuh langsingnya melompat dan berlari, secepat raungan lead guitar dan ketukan dinamis double bass drum. Sementara suaranya yang melengking dan serak mengaplikasikan teknik scream tipe yelling falsetto. Tak tersisa lagi kelembutan di sana.
 
“Ini pilihan saya,” kata Achie, panggilannya. Selain alasan bahwa ia memang tidak menyukai musik dan lagu  mainstream, Achie merasa bahwa hardcore adalah sesuatu yang membuatnya hidup.
 
Lewat YouTube, mari kita lihat bagaimana aksi Achie dalam lagu berjudul Bapakku Seorang Demonstran. Menurutnya, lagu ini adalah salah satu bentuk pengejawantahan dirinya. Lagu itu terinspirasi dari kisah nyata yang ia dan keluarganya alami, rasakan, dan harus dihadapi secara tabah. Achie memilih untuk menjadi seorang pemberontak, sebagaimana ayahnya yang berjuang bertahun-tahun untuk mendapatkan haknya setelah diberhentikan sepihak oleh PT Dirgantara Indonesia.
 
“Saya terinspirasi pada perjuangan Papi. Ia berangkat ke Jakarta untuk berdemo bersama ribuan karyawan PT DI lainnya. Begitu terus  dilakukan selama bertahun-tahun,” kata wanita kelahiran 19 Januari 1982 ini. ”Meski Papi dipanggil untuk bekerja lagi di PT DI, ia menolak. Papi memilih konsisten berjuang bersama teman-temannya, menyuarakan idealismenya, bersikap dan bertindak sesuai dengan hati nuraninya.”
 
Achie muda belajar bahwa ia boleh melawan ketika diperlakukan sewenang-wenang. Perjuangan sang papi, juga bagaimana sang mami berupaya keras memenuhi kebutuhan keluarga, menempa karakternya. Ia adalah wanita yang dibesarkan dalam ‘perjuangan’.

Genre hardcore yang menawarkan idealisme terhadap isu sosial, politik, ekonomi, bahkan anti kemapanan, seolah memberinya peluang untuk meneriakkan apa yang menggelegak dalam jiwa mudanya. Cintanya pada musik hardcore memang tumbuh sejak duduk di bangku SMP. Ia memulai kariernya sebagai vokalis band beraliran musik keras pada tahun 1997, melalui band Capability dan selanjutnya band Dining Out. Namanya makin berkibar tatkala bergabung dengan band Gugat, tahun 2003.
 
Sejak saat itu, Achie yang pemalu dalam kesehariannya, menjadi orang yang energik, tak kenal kata takut, meski ada 40.000 pasang mata yang menatapnya dari bawah panggung. Ya, itu adalah jumlah penonton musik hardcore di Bandung dalam satu konser besar. Melalui suaranya, Achie melempar pesan tentang perjuangan dan perlawanan. Pesan yang disuarakan secara ingar-bingar kemudian direspons secara agresif oleh fans fanatiknya.
 
 
 
Melawan ‘Tradisi’
 
Tapi Achie berani memberontak pada tradisi hardcore! Lupakan tampang wanita berwajah garang, rambut acak-acakan, celana belel, dan atribut lain yang umumnya menempel pada musikus hardcore. Di atas panggung, bungsu dari dua bersaudara ini selalu memakai hijab, kaus lengan panjang, dan celana jeans panjang.
 
Apakah ia takut menjadi berbeda? “Nekat saja! Memangnya apa salah saya? Saya tidak ada bedanya dengan wanita muslim lain yang menyanyi lagu pop. Jadi, kenapa saya harus menutupi jati diri saya?” tanya Achie.
 
Memang, ada pergulatan batin di awal ia memutuskan berhijab. “Jangankan berjilbab, wanita yang menjadi vokalis di genre musik ini saja jumlahnya sangat jarang,” katanya. Achie juga mengaku bahwa ia sempat ragu ketika manggung untuk pertama kalinya memakai hijab di GOR Saparua Bandung. Tapi, ia mengakalinya dengan memakai jaket hoodie.
 
Benar saja, banyak fans kaget. Bahkan, ada yang nyeletuk mengatakan bahwa sebaiknya Achie pergi mengaji saja. “Saya cuek dan tetap tampil seprofesional mungkin,” kata Achie. Ia juga mengabaikan kebingungan anggota band-nya ketika berlatih pertama kali dengan  penampilan barunya. Ada personel yang sempat bilang, ”Kumaha 'nya?” atau “Bagaimana, ya?” Toh, tak ada yang berani memintanya melepas hijab.
 
Achie jalan terus dengan pilihan hidupnya tersebut. Ungkapan yang lumayan justru datang dari pengajar agama ketika ia diundang dalam sebuah diskusi. “Beliau bilang, haram hukumnya bagi seorang wanita menyanyi. Saya menghargai pendapatnya, sebatas itu saja. Mindset-nya kan berbeda,” ujar Achie.
 
Istri Hari Gartika (38) dan ibu dari Runa (10) dan Rigar (4) ini membuktikan bahwa sikap gahar dan keras di atas panggung bukanlah jaminan bahwa ia antisosial, tak punya cinta atau kelembutan. “Saya adalah seorang ibu dan guru TK. Tiap pagi saya mengurus suami dan anak sampai mereka berangkat dari rumah, lalu pergi mengajar mulai dari pukul 07.30 hingga 14.00. Saya juga ikut arisan ibu-ibu perumahan dan ikut pengajian rutin,” kata Achie lagi.
 
Saat mengajar, ia adalah ibu guru yang gemar memakai baju warna-warni, bahkan baju berwarna pink! “Sebetulnya, saya justru lebih shock saat memakai warna pink, tapi inilah salah satu peran saya sebagai ibu guru. Setelah selama 12 tahun menjalani peran ini, saya makin terbisa menerima dan menikmatinya.”
 
Namun, belakangan fans Gugat tidak  menemukan Achie di atas panggung. Apakah ia berhenti? Achie mengatakan, ia sempat berniat mundur dari Gugat, tapi kawan-kawannya meminta agar ia rehat saja.
 
“Saya kena GERD (penyakit saluran pencernaan akibat asam lambung naik ke esofagus -Red) dan ternyata efek penyakit ini berpengaruh juga terhadap mental atau kejiwaan penderitanya, yaitu mudah cemas, takut keluar rumah,deg-degan saat melihat orang banyak, dan terlalu peka atau tidak senang pada suara bising,” kata Achie. Kondisi ini membuat Achie mengurangi banyak kegiatan, termasuk aktivitas bermusiknya.
 
Semoga Achie segera pulih dan kembali menggetarkan panggung. (f)

Baca Juga:

Nararya Soeprapto, Pria Adalah Sekutu Kesuksesan Wanita
Kartini dari Maumere: Menginisiasi PAUD untuk Anak Berkebutuhan Khusus
Mouly Surya, Film Adalah Panggilan Hidup