
Ursula Maria (berbaju hijau) menerima kenang-kenangan dari Ibu Wakil Presiden Mufidah Jusuf Kalla
Siang itu, matahari sangat terik dan udara terasa panas. Aplikasi weather di ponsel menunjukkan suhu 34 derajat celcius. Peluh pun mulai bercucuran, ketika femina menginjakkan kaki di sekolah PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) Karya Ilahi, di desa Sikka, Maumere, Nusa Tenggara Timur.
Bangunan PAUD berada di halaman rumah warga. Ada lima ruangan berukuran 1x2 meter yang saling berdampingan. Dengan satu pintu dan Jendela di bagian depan, ruangan yang merupakan tempat belajar mengajar ini terlihat sangat mungil. Sangat berbeda dengan bangunan Taman Kanak-Kanak pada umumnya yang luas sebagai tempat anak-anak usia balita bermain.
Melongok ke bagian kelas, hanya ada satu murid dengan satu orang pengajar. Tak ada papan tulis atau tumpukan mainan, hanya ada kipas angin sederhana sebagai pendingin ruangan yang menempel di dinding atas. Di kelas sebelahnya, tak jauh berbeda, hanya saja ruangan ini bersekat hingga terlihat semakin sempit.
Di kelas lainnya ada dua balita usia 4 dan 5 tahun yang sedang bermain bersama seorang guru. Kelas ini cukup nyaman, karena memiliki satu buah AC. Bukan karena kelas ini eksklusif, tapi karena anak-anak di kelas ini cenderung lebih mudah terganggu konsentrasinya jika melihat benda yang berputar, seperti kipas angin. Hingga akhirnya salah satu orang tua siswa menyumbangkan sebuah AC sebagai pendingin ruangan sekaligus membayarkan listriknya setiap bulan.
PAUD Karya Ilahi memang berbeda dengan sekolah pendidikan anak usia dini lainnya, karena murid di sekolah ini adalah anak-anak berkebutuhan khusus. Adalah Ursula Maria yang menginisiasi sekolah ini, di rumahnya. Di mana ia menjadikan tiga kamar yang ada sebagai kelas PAUD, sedangkan satu kamar lainnya dipakai untuk ia dan keluarganya.
Meski rumahnya menjadi lebih sempit, wanita yang akrab disapa Ursula ini tak berkeberatan. “Saya tergerak membangun PAUD ini karena yakin jika ditangani dengan baik, di usia dini maka kesempatan berkembang akan lebih maksimal menuju kemandirian. Usia emas adalah kesempatan untuk mengoptimalkan dan memaksimalkan perkembangan mereka,” kata Ursula.
Berdiri sejak tahun 2009, sekolah ini baru mendapat ijin operasional dari Dinas Pendidikkan pada tahun 2013. Menurut Ursula, tidak mudah mengurus soal perijinan tersebut, tapi ia sangat memakluminya. Ia juga tak putus semangat, karena menurutnya di Maumere hanya ada dua SLB (Sekolah Luar Biasa), dengan murid yang jumlahnya terus bertambah, tentu tidak akan cukup.
Belajar dari pengalamannya sebagai guru di SLB, sering kali out put kurang memuaskan, ia melihat hal ini karena tidak ada penanganan di usia dini. Selain itu, ia juga melihat kendala pada kurikulum yang menurutnya masih sangat klasik. Dan, kondisi ini tidak akan banyak menolong anak. “Menurut saya, pendekatan yang baik adalah kurikulum individu, karena lebih manusiawi dan bisa menjawab kebutuhan setiap anak yang berbeda,” jelasnya.
Dengan semangat itulah, Ursula kemudian membangun sebuah PAUD untuk anak berkebutuhan khusus dengan visi memberi harapan kepada yang tidak berpengharapan. Meski dalam keterbatasa, ia ingin Karya Ilahi dapat terus mengabdi. “Kami melayani yang bisa datang ke sekolah dan berusaha menjangkau yang tidak terjangkau, karena tidak ada akses jalan ke sekolah,” kata wanita yang menjalankan sekolah bersama suami dan enam guru lainnya.
Selanjutnya: Ketulusan Hati Menggerakkan Ursula, Meski Dalam Keterbatasan

Bangunan baru PAUD Karya Ilahi yang dibangun 2017, menggantikan bangunan sebelumnya yang terbuat dari bilik bambu.
Setulus Hati
Meski memiliki bangunan PAUD fisik, yang bangunannya baru direnovasi pada September lalu - sebelumnya bangunan kelas terbuat dari bilik-, Ursula tidak ingin misinya terkukung dalam satu tempat. Ia sadar, di luar lingkungan PAUD-nya masih banyak anak-anak berkebutuhan khusus yang tidak dapat datang ke tempatnya karena berbagai keterbatasan.
Untuk menyentuh lebih banyak anak, Ursula dan suami, menggalakan program ‘guru kunjung’. Awalnya, hanya ia dan suami yang bertugas keliling, menjadi guru kunjung dari satu kampung ke kampung lainnya. Kedatangan mereka bukan hanya untuk mengajar, tapi juga membuat kelompok ‘guru sebaya’ dari anak-anak kampung di sekitar rumah anak berkebutuhan khusus.
Tidak hanya itu, keterbatasan tenaga pengajar, membuat Ursula juga menggerakkan anak muda lulusan SMA, di sekitar tempat tinggalnya untuk belajar menjadi guru. Jadi, setiap Hari Sabtu, Ursula juga menjadi guru untuk guru-guru di PAUD-nya. Ia menggiring teman-teman guru untuk selalu menjalankan misi mengabdi dalam keterbatasan.
“Pasti ada Hellen Keller lain yang lahir dari Maumere. Kami rela memberi dari kekurangan. Kurang dari faktor kemampuan secara ilmu pengetahuan hingga ekonomi. Untungnya kami tak kurang cinta,” katanya, bangga.
Meski begitu, tak dipungkiri Ursula, tantangan terbesar memang datang dari biaya operasional. Selama ini, PAUD Karya Ilahi hanya mengandalkan sumbangan ala kadarnya dari orang tua murid yang mampu yang jumlahnya hanye segelintir saja.
Dana yang terkumpul inilah yang kemudian dipakai untuk uang saku guru, membeli ATK, hingga membantu perlengkapan pembelajaran anak yang berasal dari keluarga tidak.mampu. Baru tahun ini PAUD-nya mendapatkan bantuan dari pemerintah sebesar Rp3,5 juta. “Mudah-mudahan kami bisa dapat meubeler berupa 13 unit meja kursi,” harapnya.
Hingga saat ini PAUD Karya Ilahi memiliki kurang lebih 40 murid. Terdiri dari berbagai jenis kekhususan seperti autis, down syndrome, tuna rungu, rungu wicara, speech delay, dan lainnya. “Ada yang dini secara kalender (2-6 tahun). Ada pula yang dini secara mental (usia kalender sudah 14 tahun tapi usia mental 5 tahun),” ceritanya.
Menurut Ursula, tantangan lain yang ia rasakan justru datang diri orangtua anak berkebutuhan khusus dan lingkungannya. Tak sedikit orang yang pesimis terhadap masa depan anak berkebutuhan khusus. “Kondisi ini membuat kami tertantang untuk membangun rasa optimis orangtua, sehingga mereka memiliki harapan untuk anaknya,” kata Ursula.
Sampai saat ini biaya operasional yang hanya bergantung dari segelintir ortu yang mampu, menjadi kekhawatiran tersendiri. “Bagaimana biaya operasional bisa berlanjut jika sudah tidak ada lagi ortu yang mampu menyumbang?. Kami tidak punya donasi dari manapun,” ungkapnya.
Itu sebabnya, ketika Ibu Hj. Mufidah Jusuf Kalla dan rombongan istri Menteri kabinet kerja yang tergabung dalam OASE KK berkunjung ke PAUD Karya Ilahi pada awal April lalu, ia sangat berharap kunjungan tersebut bukan sekadar penjauan belaka.
“Kami berharap ini adalah bentuk perhatian. Karena ini berarti melihat dengan hati sehingga mampu melihat, mendengar, dan memahami yang tak sempat kami ungkapkan,” kata Ursula, yang mengaku masih sangat berharap dan merindukan kehadiran Ibu negara Iriana Joko Widodo, ke sekolahnya.
Ia pun berharap para orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus, tidak berputus asa. “Tak sedikit orang tua yang menganggap kondisi tersebut sebagai vonis mati, tak ada jalan, tak ada kehidupan, dan tak ada harapan. Saya yakin jika ditangani lebih dini dengan baik, maka ada HARAPAN untuk ‘membanggakan’ banyak orang,” katanya, penuh keyakinan. (f)
Baca Juga
Ratih Citra Sari, Menembus Belantara Demi Membantu Pasien Korban Bencana
6 Wanita Inspiratif Bicara Soal Perjuangan Mereka dalam Semangat Kartini
Heni Sri Sundani, Penggagas Gerakan Anak Petani Cerdas