
Foto: Dok. Pesona.co.id & eliminatedengue.com
Kabar gembira menjelang Hari Ibu datang dari dunia internasional. Presiden Joko Widodo lewat cuitannya di media sosial menyebutkan dua nama wanita ilmuwan asal Indonesia yang baru saja meraih penghargaan dari dunia internasional.
Keduanya adalah Tri Mumpuni yang ikut mengembangkan kemandirian masyarakat di kawasan terpencil melalui pembangkit listrik tenaga mikro hidro (PLTMH) dan Prof dr Adi Utarini, MSc, MPH, PhD yang memimpin Uji coba perintis dari sebuah teknologi yang dapat membantu memberantas demam berdarah, penyakit yang menyerang hingga 400 juta orang di seluruh dunia setiap tahunnya.
"Saya ikut bangga dan sagat mengapresiasi prestasi serta sumbangsih Ibu Prof Adi Utarini dan Ibu Tri Mumpuni. Semoga menjadi teladan dan menginspirasi bagi geenrasi muda Indonesia untuk semakin Giat menekuni ilmu pengetahuan dan memberi kontribusi nyata bagi kemajuan kehidupan umat manusia,” tulis Joko Widodo.
Siapakah kedua sosok wanita membanggakan ini, berikut Femina rangkumkan sepak terjang mereka di dunia ilmu pengetahuan dan penelitian.
Baca Selanjutnya: 1/ Tri Mumpuni Raih The World’s 500 Most Influential Muslim 2021

Foto: Dok. Pesona.co.id
1/ Tri Mumpuni Raih The World’s 500 Most Influential Muslim 2021
Tri Mumpuni yang kembali diakui dunia atas keberhasilannya menghadirkan listrik di puluhan titik di daerah-daerah terpencil di Indonesia. Baru-baru ini, nama wanita kelahiran Semarang, 6 Agustus 1964 ini masuk ke dalam daftar The World's 500 Most Influential Muslim 2021. Dalam daftar tersebut, Tri Mumpuni menjadi salah satu tokoh Indonesia yang namanya tercantum bersama sejumlah tokoh Indonesia lainnya, termasuk Presiden Joko Widodo.
Keberhasilan Tri Mumpuni - akrab disapa Puni - ‘menerangi desa’ dengan menghadirkan listrik, sebenarnya sudah dilirik dunia internasional sejak lama. Berderet penghargaan pun pernah ia dapatkan, seperti Climate Hero 2005 dari World Wildlife for Nature, Ashden Awards 2012, dan Magsaysay Awards 2012.
Puni masuk tokoh muslim berpengaruh versi The Muslim 500 untuk kriteria Sains dan Teknologi bersama 21 tokoh muslim lainnya dari berbagai negara dunia. The Muslim 500 menuliskan Tri Mumpuni sebagai sosok yang sudah mendedikasikan waktunya dalam 15 tahun terakhir untuk meningkatkan kinerja masyarakat perdesaan di Indonesia melalui inisiatif inisiasi elektrifikasi dengan mengembangkan pembangkit tenaga listrik mikro-hidro. Karyanya telah diterapkan di 65 desa di seluruh Indonesia dan sebuah desa di Filipina.
Puni merupakan Direktur Eksekutif Ibeka (Inisiatif Bisnis dan Ekonomi Kerakyatan), sebuah organisasi nirlaba yang mempromosikan pengembangan komunitas melalui penyediaan energi lokal, terutama hydroelectricity dan air bersih.
Bersama sang suami, Iskandar Budiarso Kuntoadji, ia memelopori model kemitraan masyarakat untuk membangun pembangkit listrik kecil yang bisa dimiliki secara merata oleh masyarakat dan sektor swasta.
Hidup Tri Mumpuni memang tidak jauh dari ilmu pengetahuan dan pengabdian kepada masyarakat, terutama yang berada di desa-desa kecil. Sosok yang bersahaja, rendah hati, dan ramah ini punya ide besar membangun Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) sebagai sumber energi listrik bagi wilayah yang belum terjangkau atau sulit dijangkau oleh PT PLN dengan memanfaatkan potensi energi air yang terdapat di lokasi setempat untuk menggerakkan turbin.
Dalam pengembangannya, Puni besama Tim Ibeka tidak hanya sekadar membangun turbin dan fasilitas, lebih jauh mereka mengedukasi masyarakat setempat untuk dapat mandiri mengelola dan mengurus mesin turbin yang telah ada.
Termasuk juga mengembangkan kesadaran masyarakat setempat untuk menjaga alam, terutama sungai yang menjadi sumber air untuk menggerakkan turbin listrik. Karena, menurut Puni, agar pembangkit listrik tenaga air dapat menjalankan fungsinya terus-menerus maka daerah tangkapan air di hulu harus dipertahankan seluas 30 kilometer persegi, tidak boleh ada penebangan hutan dan vegetasi.
Bagi alumni Institut Pertanian Bogor, Jurusan Sosial Ekonomi, Fakultas Pertanian ini listrik untuk desa terisolir bukanlah tujuan akhirnya, melainkan membangun pemberdayaan masyarakat khususnya secara ekonomi. Dengan adanya listrik diharapkan ekonomi masyarakat dapat terbangun dan sekaligus membantu pemerintah untuk melistriki desa-desa terpencil.
Baca Selanjutnya: 2/ Prof dr Adi Utarini, MSc, MPH, PhD Masuk dalam Daftar Nature’s 10: Ten People Who Helped Shape Science in 2020

Foto: Dok. Eliminatedengue.com
2/ Prof dr Adi Utarini, MSc, MPH, PhD Masuk dalam Daftar Nature’s 10: Ten People Who Helped Shape Science in 2020
Prof dr Adi Utarini, MSc, MPH, PhD - biasa disapa Uut - merupakan Guru Besar Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Dikutip dari situs resmi Universitas Gadjah Mada, lulusan tahun 1989 ini menyelesaikan Master of Science di bidang Maternal and Child Health dari University of College London pada 1994 sebagai penerima British Council Awards. Serta menyelesaikan Master of Public Health pada 1998 dan Doktor Philosophy dari Umea University Swedia pada 2002 (STINT dan TDR Awards).
Pada 2011, ia dikukuhkan sebagai profesor di Kesehatan Masyarakat. Dalam proses pembelajaran, wanita kelahiran Yogyakarta, 4 Juni 1965 ini mengampu mata kuliah Kebijakan dan Manajemen Mutu dan Metode Penelitian.
Di bidang mutu pelayanan, wanita yang memperoleh Tanda Kehormatan Satya Lencana Karya Satya XX pada tahun 2014 ini pernah memimpin kompartemen Mutu di organisasi Perhimpunan Rumah Sakit Indonesia dan Editor Utama The Journal of Hospital Accreditation yang diterbitkan oleh KARS bersama PKMK UGM.
Selain itu, ia pernah berperan sebagai Wakil Dekan untuk penelitian, pengabdian masyarakat, dan kolaborasi di Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (2012-2016). Dan di tahun 2015 - 2017 ia dipercaya menjabat sebagai Anggota Dewan Riset Nasional Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia
Adi Utarini masuk dalam daftar 10 orang berpengaruh dalam mengembangkan sains tahun 2020 yang dirilis jurnal internasional, Nature, jurnal ilmiah ternama dunia dari Inggris. Ia terpilih karena dinilai memberikan pengaruh dalam kiprahnya sebagai ilmuwan.
Dalam tulisannya, Nature menyebut Uut sebagai ‘komandan nyamuk’. Ini tentus aja berkaitan dengan peran yang ia jalani sebagai Ketua Peneliti World Mosquito Program Yogyakarta yang bersama timnya menemukan terobosan biologis dalam mencegah penyakit demam berdarah dengue dengan memasukkan bakteri Wolbachia ke tubuh nyamuk Aedes Aegypti.
Terobosan yang membuat Uut dan rekan-rekan peneliti berhasil memangkas 77 persen kasus demam berdarah di beberapa kota besar di Indonesia dengan melepas nyamuk yang telah dimodifikasi untuk menghentikan nyamuk menularkan virus. Risetnya ini dinilai membuka jalan bagi manusia untuk melawan penyakit demam berdarah dengue (DBD) yang setiap tahun menjangkiti lebih dari 400 juta orang di seluruh dunia.
Seperti dikutip dari Kompas terbit Senin (21/12/2020), sebagai peneliti Uut mengaku mimpinya kini bukan lagi di riset tapi bagaimana teknologi (hasil riset) ini bisa dinikmati masyarakat di tempat lain, bukan hanya di Yogyakarta.
“Sudah lebih dari 50 tahun negara (Indonesia) melawan DBD. Sudah berapa banyak nyawa, orang sakit, dan anggaran yang habis. Teknologi Wolbachia ini betul-betul harapan baru, bisa jadi jurus baru yang melengkapi dan menguatkan program pengendalian DBD yang sudah jalan,” tuturnya.
Wanita yang dikenal gemar bermain piano klasik, tenis meja, dan bersepeda ini mengaku bersyukur hasil penelitiannya disambut baik oleh dunia internasional. Bagi penerima penghargaan Habibie Award 2019 ini, pengakuan dari Nature merupakan penutup tahun yang indah di tahun yang terbilang berat baginya karena pada Maret lalu, ia baru saja kehilangan suaminya, Prof Iwan Dwiprahasto yang meninggal akibat COVID-19. “Ini pembelajaran kehidupan yang harus dijalani,” tutup Uut. (f)
Baca Juga:
Dewi Nur Aisyah, Pakar Epidemologi Moderen Wanita Satu-Satunya yang Dimiliki Indonesia
Prof. Dr-Eng. Eniya Listiani Dewi, B.Eng., M.Eng Profesor Energi yang Senang Lobbying
Arvila Delitriana, Kisah Sukses Bridge Engineer LRT Jabodebek Kuningan yang Memukau Presiden RI Joko Widodo