
Dok: Femina
Selama kurang lebih satu jam, Jokowi menjawab pertanyaan dengan gayanya yang khas: kalimat-kalimat yang diucapkan lambat-lambat dan disertai candaan yang memancing tawa. Ia pun dengan senang hati ber-selfie dengan kami. Ia memang tak membentang jarak!
“LIHAT WAJAH SAYA”
“Sebetulnya wawancara saya itu gampang, tempel saja saya tiap hari ketika turun ke lapangan, pasti saya akan menjawab semua pertanyaan,” ujarnya, membuka percakapan. Turun ke lapangan, blusukan bertemu langsung dengan masyarakat, memang menjadi ciri khasnya, baik saat menjadi Wali Kota Solo (dua periode) maupun semasa menjadi Gubernur DKI Jakarta. Karena dia, blusukan menjadi kosakata yang populer saat ini.
Apa resep bapak untuk menjaga stamina?
Resepnya satu: enggak ada beban kepentingan. Saya tidak keinginan apa pun, bekerja saja. Dengan demikian, mau kerja dari pagi Sampai pagi, ya, kuat. Jam kerja saya memang tidak jelas. Pulang dari kantor pukul 4 sore, tapi saya ke mana-mana dulu. Ke kampung, perteuan dengan masyarakat, atau mengecek yang perlu dicek pada malam hari karena ketika dicek siang tidak ada.
Tidak lelah?
Lihat wajah saya, lelah tidak? Ha…ha…ha… Ya, capek. Saya kan manusia normal.
Seperti apa dukungan keluarga?
Anak-anak saya tinggal di Solo. Kadang-kadang mereka yang datang ke sini, kadang-kadang saya yang pulang ke Solo. Berangkat malam, lalu keesokan paginya balik ke Jakarta. Mereka sudah dewasa, jadi sudah mengerti kondisi ini.
Memang, dulu semasa saya masih menjadi wali kota, mereka sempat protes pada kesibukan bapak-ibunya. Makum, sebelum jad wali kota, ke sekolah diantar, pulang dijemput, mau liburan juga bebas bisa kapan saja. Awalnya memang sulit, tapi lama kelamaan mereka mengerti juga.
Kalau dengan ibu, bagaimana mengatur waktunya?
Kalau istri kan di sini dengan saya terus. Cuma ketemunya juga enggak jelas kapan ha…ha…Ketika saya pulang dan istri sudah tidur, ya, ketemu besok paginya. Tapi kami sering barengan hadir di suatu acara. Selama kampanye lalu, anak dan istri selalu ikut. Meskipun tidak ikut teriak-teriak di atas panggung, mereka hadir.
Ada komentar mereka tentang pilpres lalu?
Mereka bilang: “Ternyata Bapak kerjanya berat sekali.” Baru mengerti mereka…
Konser 2 Jari di GBK dulu dipenuhi massa. Perasaan Bapak waktu itu?
Saya tidak memperkirakan penonton sebanyak itu juga. Ketika masuk ke gerbang stadion, sempat terdiam sejenak, kaget!
Bapak mengantisipasi massa akan sebanyak itu?
Sebelumnya saya smapaikan ke Abdee SLANK (penggagas konser 2 Jari - Red) bahwa kalau tidak bisa memenuhi GBK, tidak usah diadakan saja. Karena, nantinya bisa menurunkan persepsi masyarakat, bahwa kita tidak ada yang mendukung. Tiga hari sebelumnya Abdee menyatakan sanggup karena setelah dicek banyak yang mau hadir. Kenyataannya yang datang melebihi kapasitas.
Dalam kampanye Bapak banyak melibatkan anak muda. Apa yang Bapak lihat dari mereka?
Saya pikir kampanye sekarang sudah berubah, dan itu belum banyak disadari (oleh politikus lain). Sekarang pendekatannya bukan lagi product centric atau customer centric, tapi human centric. Karena itu, sentuhannya bukan lagi orasi di panggung. Sekarang ini sentuhannya adalah dari hati ke hati.
Apakah ini akan menjadi ciri Bapak dalam memimpin?
Dari dulu saya sudah seperti ini. Saya sudah melihat, saat ini eranya sudah horizontal, bukan vertikal lagi. Masyarakat sudah tidak ingin dijadikan objek. Mereka ingin diajak berperan, dijadikan teman, diajak diskusi, dijadikan partner. Ini yang tidak banyak disadari.
Apa yang membuat Bapak bisa membaca itu?
Karena tiap hari saya bergaul. Blusukan itu cara saya bergaul dan mendengarkan. Ke bantaran sungai saya mendengar, bertemu anak muda saya mendengar, ke kampung-kampung saya mendengar. Ooo..keinginan mereka itu seperti ini.
Bagaimana proses implementasi persoalan yang didapatkan dari blusukan?
Turun ke bawah itu kan ingin melihat dan mendengar fakta langsung. Dari situ dibuat sebuah perencanaan, design policy. Lalu design policy itu dilaksanakan. Babak selanjutnya, ketika kita turun lagi ke lapangan, itu sudah proses managemen pengawasan, pengontrolan apakah program berjalan, apakah uangnya betul-betul sampai ke bawah. Memang ada orang yang membacanya berbeda (ada kritik bahwa blusukan Jokowi tidak bermanfaat - Red). SYa, itu salahnya orang yang ‘salah baca’ itu. Karena ndak mungkin ada sebuah design policy bisa tepat sasaran kalau kita tidak pernah mendengar, dan tidak pernah datang ke lapangan.
Meski untuk itu butuh energi lebih?
Kalau saya pergi ke suatu tempat, itu pasti karena sudah ada informasi, bahwa di sana ada masalah yang tidak umum, menarik, dan berbeda. Itu kita datengi. Pasti sudah ada Tim advance yang datang terlebih dahulu. Ada orang yang senang keliahatan, ada yang senang tidak kelihatan. Kalau saya senang yang tidak kelihatan. Pengawalan saya juga ndak perlu berlebihan.
Akan tetap blusukan setelah jadi RI 1?
Sama saja, tidak ada yang berbeda. Hanya skalanya memang lebih luas. Ya, nanti ada beberapa yang pakai e-blusukan. Kenapa tidak? Misalnya pakai Skype. Tinggal dikombinasi dengan datang langsung. Karena sisi human-nya harus disentuh juga.
Baca Selanjutnya: MEMPERBAIKI SISTEM

Dok: Femina
MEMPERBAIKI SISTEM
Setelah presiden terpilih, proses pemilihan anggota kabinet seolah menjadi drama tersendiri. Banyak pihak berharap bisa menjadi pembantu presiden. Kontroversi muncul, apakah harus dari kalangan profesional atau dari orang partai politik. Kadangkala, topik ini justru lebih diminati ketimbang misalnya langkah-langkah yang akan diambil si pemimpin baru untuk mewujudkan janji kampanye: membawa seluruh rakyat Indonesia ke arah yang lebih baik.
Revolusi mental apa yang akan Bapak langsung terapkan?
Di birokrasi, saya ingin melakukan perbaikan sistem. Hal ini akan merevolusi sikap mental kita karena ini berkaitan dengan integritas dan kejujuran. Artinya, orangnya yang harus mengikuti sistem.
Konkretnya seperti apa?
Misalnya dengan penerapan e-budgeting, e-purchasing, e-catalog, e-audit, pajak online, IMB online dan lain sebagainya. Semua itu untuk mempersempit ruang penyalahgunaan. Bujet juga dibuka, dengan membuat poster atau dibuka di website sehingga semua orang bisa mengawasi, rakyat bisa mengawasi.
Hal ini juga untuk memberantas korupsi?
Persoalan korupsi memang harus dijawab dengan tindakan yang jelas. Kalau saya dibarengi dengan membangun sistem. Kepolisian, KPK, itu kan tindakan hukum, law enforcement. Tapi harus disadari, 70% (upaya pemberantasan korupsi) itu harus preventif, yaitu dengan pembangunan di sistemnya.
Apakah ada tendensi orang Indonesia susah mengikuti sistem?
Oh, tidak… itu karena sistemnya saja yang belum benar. Coba saja lihat orang Indonesia ke Singapura, maka dia akan bisa mengikuti sistem yang ada di sana. Selain itu, yang penting adalah harus diberi contoh konkret, lead by example.
Apakah rencana spesifik Bapak untuk memperhatikan kebutuhan wanita?
Yang pasti adalah pendidikan dan kesehatan, terutama untuk kelas bawah. Kita lihat sendiri bagaimana para ibu pontang-panting bayar sekolah anaknya. Makanya, akan ada Kartu Indonesia Pintar. Atau betapa pusingnya ibu-ibu kalau anak sakit, tidak punya uang. Maka kita buatkan kartu sehat. Saya kira ini adalah jawaban yang konkret untuk mereka, pegang kartu bisa dipakai di mana-mana.
Apakah akan ada kementerian khusus untuk wanita?
Nanti ada yang minta menteri khusus laki-laki, ha...ha…ha…. Kita kurang apa, sih? Maksudnya, wanita presiden kita sudah punya. Bahkan Amerika saja belum punya. Gubernur sudah, bupati/wali kota sudah banyak. Apa lagi? Politikus banyak banget. Maksud saya, ini bukan lagi isu yang perlu dibesar-besarkan. Emansipasi sudah kita lihat sehari-hari.
Lalu, seperti apa konsep Bapak?
Kita harus mengemasnya dalam sebuah program dan melekat ke semua kementerian. Menurut saya, yang perlu diperhatikan itu adalah apakah programnya sudah ter-deliver kepada wanita dan anak-anak atau tidak. Bukan masalah ada dan tidaknya kementerian khusus itu.
Melihat pertumbuhan wirausaha yang terus meningkat, apa yang akan dilakukan agar pertumbuhan mereka bisa optimal?
Harus fokus. Coba cek ke semua kementerian, semua memiliki program pembinaan UMKM. Karena itu, sekarang harus difokuskan ke satu kementerian. Yang penting sekarang ini adalah mengidentifikasi masalah-masalah UMKM. Misalnya, mengidentifikasi produk-produk apa saja yang memiliki daya saing dan kompetitif untuk ekspor. Bila sudah, negara harus hadir untuk ikut membantu memasarkan. Dengan demikian, rakyatnya terus memproduksi, tugas negara adalah ikut memasarkan.
Siapa ‘negara’ dalam hal ini?
Menteri perdagangan harus seorang marketer, para duta besar harus bisa memasarkan produk daerah, produk kampung, produk desa, di mana pun dia ditempatkan. Misalnya di negara-negara yang sedang saja, Afrika misalnya, ya, cari produk yang sedang-sedang saja, yang marketable di sana. Tapi, kalau kita punya produk yang bagus, larikan ke negara yang sudah maju. Kenapa tidak?
Selain itu?
Menteri pariwisata juga harus orang marketing. Dia harus tahu bagaimana menjual produk pariwisata, tahu bagaimana mempromosikan destinasi wisata. Thailand yang saya lihat, promosinya dari kota ke kota, dari negara ke negara, ada yang muter terus berpromosi, dan kalau ada yang tertarik tinggal disodorkan ke pelaku pariwisata yang ikut bersama mereka. Jadi, pekerjaan mereka itu tidak hanya gini… (sambil tangannya memperagakan seolah menggunting sesuatu- Red).
Sudah menemukan calon-calonnya?
Ha…ha…ha….
Kriteria sebagai menteri Bapak itu apa?
Punya integritas yang baik dan punya kemampuan manajerial. Bisa dari kalangan parpol, bisa juga tidak. Saya tidak mempermasalahkan latar belakang, yang penting bisa kerja, mengerti masalah pekerjaannya, dan tahu lapangan. Kita ini butuh orang-orang lapangan, bukan konseptor.
Karena?
Sudah banyak rencana, tapi tidak ada yang dieksekusi dan diimplementasikan.
Bapak bersedia untuk tidak populis dengan rencana menaikkan harga BBM. Mengapa?
Kita ini mengalami double deficit, ya, defisit neraca perdagangan dan defisit anggaran. Kita harus memberikan penjelasan itu kepada masyarakat mengenai cash flow-nya. APBN kita, 433 triliun rupiah untuk subsidi BBM, 400-an triliun rupiah untuk bayar utang. Kemudian alokasi lain yang mengikat misalnya pendidikan sekian persen, untuk desa sekian. Jadi berapa yang untuk pembangunan?
Kalau harga minyak dinaikkan, subsidi itu dialihkan untuk usaha-usaha produktif di masyarakat. Misalnya, usaha mikro di kampung, UMKM ibu-ibu di desa-desa. Usaha petani yang berkaitan dengan benih, pupuk, irigasi. Usaha nelayan, untuk beli solar, untuk beli mesin-mesin kapal.
Sebenarnya subsidi ini dialihkan saja dari subsidi untuk kenikmatan ke subsidi untuk produktivitas. Kita ingin memindahkan perilaku kita dari perilaku konsumsi ke perilaku produksi. Itu saja.
Bagaimana memastikan pengalihan itu tepat sasaran?
Sistem kartu yang dihubungkan dengan bank. Itu yang paling mudah. Misalnya, membuat kartu petani, kartu wirausaha. Artinya, jangan memberikan orang uang tunai, karena mereka tidak mengerti itu untuk apa. Kalau diberikan cash, dua hari bisa langsung habis.
Dalam 5 tahun ke depan, apa yang ingin Bapak capai untuk rakyat?
Ya, yang tadi telah saya sebutkan. Selain itu, kalau sekarang beras masih impor, gula masih impor, jagung masih impor, ya, distop. Untuk itu, harus disiapkan strategi untuk mencapai swasembada pangan. Saya kira bukan sesuatu yang sulit. Ini berkaitan dengan niat dan kemauan.
Baca Selanjutnya: PENDERITAAN ITU BIASA

Dok: Femina
PENDERITAAN ITU BIASA
Ketika kampanye pilpres lalu, femina memberi kesempatan kepada pembaca untuk menyampaikan pertanyaan untuk Jokowi. Salah satu yang menjadi pertanyaan terbanyak adalah ketenangan Jokowi menghadapi kampanye hitam dan fitnah yang bertubi-tubi.
Bapak bisa tenang menghadapi hal itu?
Saya sudah latihan menghadapi hal ini. Sejak di pilkada wali kota, hal itu juga ada. Di pilkada gubernur, juga ada.
Tapi, bukankah tidak seberat ini?
Kalau yang ini panjang dan sadis, ya? Bukan hanya saya, tapi anak, istri, ibu saya juga kena, bahkan almarhum Bapak saja kena. Saya, sih, biasa saja, tidak sedih. Karena itu, mana pernah saya bales.
Mengapa tidak dibalas?
Apa gunanya? Lebih baik saya kasih penjelasan. Ketika saya dibilang orang Singapura, saya jelaskan saja, “Ndak, saya anaknya orang desa. Ibu saya dari desa ini, bapak saya dari desa ini.”
Siapa teman berbagi di kala masa berat?
Karena saya merasa biasa-biasa saja, saya tidak pakai curhat-curhatan. Justru anak-anak yang curhat ke saya. “Pak, kok, saya ditulis begini-begini.” Saya bilang, “Ah, enggak apa-apa. Paling sebulan juga hilang.” Ketika istri mengeluh, saya bilang, “Ah, paling seminggu juga akan rampung….”
Ketenangan itu, Bapak belajar dari mana?
Sejak dari lahir saya sudah biasa jatuh bangun. Namanya penderitaan, usaha jatuh bangun itu sudah biasa. Jadi, ya menghadapi hal seperti itu biasa saja, meski masif, sistematis dan terstruktur, ha… ha… ha….
Masih sempat mendengarkan lagu favorit?
Kalau ingin dengerin musik, ya, bisa di mobil. Masih suka mendengarkan Metalica, Gun n Roses, Megadeth. Jadul semua, ya? Sempat nonton Linkin Park, tapi kurang suka karena menurut saya terlalu bersih, kurang keras.
Kalau pulang ke Solo, apa kegiatan Bapak?
Tidur. Tapi kadang-kadang juga makan di luar. Karena saya kurus, saya harus banyak makan, ha…ha…ha…. (f)
Baca Juga:
Selain Presiden Joko Widodo, Ini Orang Terkenal Yang Lahir di Bulan Juni: Dari Mohamed Salah Hingga Ariana Grande.
Peringatan Hari Ibu 2017 di Papua Barat: Presiden Jokowi Puji Kinerja 9 Menteri Perempuan di Kabinet Kerja